Kekuatan Bahasa dalam Komunikasi Bisnis

“Bahasa” dalam bisnis tidak terbatas pada apa yang “menjual” belaka, selain yang tersurat dan tersirat. “Bahasa” dalam bisnis mencakup juga bagaimana mengkomunikasikan ide, fungsi, fitur, visi, dan image agar persepsi dan aksi yang diharapkan dapat dicapai. Ia juga merupakan komplemen design thinking yang berpengaruh.

Dan “bisnis” tidaklah terbatasi oleh aktivitas mencari profit belaka, baik langsung maupun tidak langsung. Aktivitas yang membawa nilai tambah bagi suatu produk atau servis sendiri merupakan “bisnis” yang bisa bermuara pada manfaat pembawa keuntungan nominal maupun aset intelektual dan kultural lainnya.

Salah satu bentuk penggunaan populer bahasa dalam bisnis adalah copywriting. Dalam konteks copywriting, bahasa mempunyai daya jual dengan daya tarik pemasaran komunikatif.

Copywriting sering dikonsepsikan secara sempit sebagai “bahasa pemasaran” alias marketing dan promosi secara tertulis. Misalnya, slogan-slogan dan kata-kata di dalam iklan adalah hasil kerja para copywriter.

Misalnya, tulisan yang “menjual” mengajak pembaca “membeli” baik secara terang-terangan maupun dengan soft approach dengan pendekatan informatif atau edukatif. Padahal, writing copy (menulis teks kopi) bisa untuk berbagai fungsi, tidak hanya untuk iklan.

Sebenarnya, suatu bahasa (termasuk wujud writing copy) sangat tergantung dengan para penggunanya karena obyektivitas suatu komunikasi terbatasi oleh persepsi subyektif setiap individu. Dan subyektivitas ini merupakan hasil dari perspektif alias viewpoint atau sudut pandang.

Idealnya, suatu bisnis atau gerakan mampu mengubah sudut pandang audiens target, terutama produk-produk blue ocean. Namun ini jelas membutuhkan usaha ekstra.

Beberapa kasus bisnis di mana produk-produk baru perlu dijadikan bahan edukasi konsumen pada saat penetrasi, seperti Pepsodent, Dove, dan Febreze. Bagaimana para produsen consumer products tersebut mempromosikan produk-produk tersebut ketika pasar masih belum siap sangat menentukan kesuksesan market share yang kini mereka nikmati.

Pepsodent, misalnya, diluncurkan pada tahun 1915 di AS oleh Pepsodent Company of Chicago. Pasta gigi ini yang pertama menggunakan formula pepsin, yaitu enzim digestif yang dapat meluluhkan deposit makanan di gigi. Saat itu, pasar masih belum paham tentang pepsin. Jadilah iklan edukatif yang mengajarkan pentingnya menggosok gigi secara teratur setiap hari merupakan bukti kuatnya “bahasa” yang mampu mengubah persepsi akan kesehatan oral.

Sabun mandi lembut berpelembab Dove dengan slogannya “real beauty” telah meluncurkan kultur mencintai diri yang unik apa adanya alias “body positivity” sebagai suatu gerakan. Tidak lagi bintang iklan sabun berwarna putih ini seorang perempuan blonda bermata biru nan langsing, namun menggunakan model yang berasal dari berbagai etnis dan bentuk tubuh.

Febreze produk penghilang bebauan mengganggu, sekaligus pengharum ruangan dan penyebar wangi di perabot rumah tangga, pada awalnya kesulitan bersaing dengan Glade. Akhirnya, “bahasa” yang digunakan Febreze berdasar pada ide bahwa produk ini merupakan penghilang bau-bau yang tidak mengenakkan, termasuk bau sampah, bau binatang piaraan, dan lainnya, daripada hanya “sekedar pengharum ruangan.” Bahasa aplikatif dan kasus nyata solusi masalah merupakan kuncinya.

Dari tiga contoh produk di atas, design thinking juga digunakan sebagai metode yang mengkomunikasikan ide yang ingin disampaikan.

Misalnya, Febreze digambarkan dengan iklan visual yang sangat menggigit seperti tumpukan sampah yang bau dapat dieliminasi dengan produk tersebut. Sabun mandi Dove, misalnya, selalu menggunakan model-model iklan yang di luar arus tengah (mainstream). Dan Pepsodent pernah menggunakan iklan yang diinspirasi oleh film Hollywood King Kong yang merupakan analogi kedahsyatan daya bersihnya.

Design thinking mempunyai posisi komplementer dengan kekuatan bahasa sebagai instrumen komunikasi. Gabungkan keduanya dengan cerdas, niscaya “bahasa” bisnis Anda mempunyai gigitan lebih dalam.