kita yang mempunyai pengetahuan eksplisit, implisit, dan tasit

Banyak di antara kita yang memiliki pengetahuan mendalam akan suatu topik namun tidak diyakini oleh tim maupun atasannya sebagai seseorang yang kompeten. Dengan kata lain, mengapa di antara kita ada yang memiliki kesulitan untuk “tampak kompeten” padahal sesungguhnya kompeten dan dapat dibuktikan setelah cukup lama mengenalnya?

“Tidak tampak kompeten” ini sebenarnya cukup mengganggu, terutama ketika sedang berhadapan dengan lawan bicara yang menentukan masa depan kita, seperti dalam wawancara kerja, negosiasi bisnis, presentasi, magang, pelatihan, maupun probasi kerja. Ini sering kali menyebabkan seseorang yang kompeten malah kalah bersaing dengan mereka yang tidak kompeten namun tampak “meyakinkan” dengan gaya komunikasi yang “karismatik.”

Mengapa ini terjadi dan bagaimana cara mengatasinya?

Pertama-tama, kenali bahwa kita semua memiliki pengetahuan eksplisit, implisit, dan tasit. Dan kita semua memiliki emosi negatif seperti perasaan ketidakmampuan, keragu-raguan, dan tertekan baik oleh kondisi diri sendiri maupun perbandingan dengan faktor eksternal. Bahkan, sering kali kita mengalami burnt out alias “terlalu stres sehingga kehabisan stamina atau spirit positif.”

Psikolog Krista Regedanz di Palo Alto yang banyak memberi konseling kepada para pemimpin perusahaan dan organisasi mengamati bahwa mereka sesungguhnya adalah orang-orang luar biasa yang telah mempunyai rekam jejak hebat. Namun, karena satu dan lain hal, mereka merasa tidak mampu dan dipenuhi oleh pikiran-pikiran negatif yang mengerdilkan skill dan talenta mereka.

Regedanz mulai memperhatikan betapa pengetahuan eksplisit dan implisit tersebut mempengaruhi perasaan-perasaan kemampuan dan ketidakmampuan tersebut.

Satu, pengetahuan eksplisit (PE) adalah hard skills dan soft skills yang dapat diukur secara kualitas dan/atau kuantitas. Hard skills misalnya kemampuan matematis, komputing, bernegosiasi, berbahasa, akademik, saintifik, menulis, melukis, menyanyi, berbicara di muka publik, mengaji, menghafal Kitab Suci, dan sebagainya.

Dengan kata lain, PE merupakan kemampuan seseorang yang dapat dengan mudah diperlihatkan dan dipersepsikan oleh orang lain. PE seseorang dapat didokumentasikan baik secara tertulis maupun dengan berbagai cara rekam berbeda. Walaupun banyak PE yang hasil dari “book smart,” tidak semuanya merupakan hasil dari pembelajaran secara sadar.

Dua, pengetahuan implisit (PI) adalah sesuatu yang “dirasakan” bukan sesuatu yang rasional dan dapat diulang sebagai skill terukur. Nah, PI ini sering kali merupakan hasil dari pembelajaran yang menggabungkan alam sadar dan alam bawah sadar.

Misalnya, seseorang yang bisa berenang mempunyai rekaman ingatan tentang bagaimana mengapungkan diri di dalam air. Namun ia belum tentu bisa menjelaskan secara verbal bagaimana proses itu terjadi.

Ia hanya dapat mengajarkan orang lain dengan “metode belajar berenang” yang umum, tanpa dapat menjelaskan rekaman ingatannya. “Gimana sih berenang itu?” Jelasnya, “Gitu deh, kepak2 kaki dan berani saja intinya.” Berbeda dengan menjelaskan perkalian aritmatika, misalnya, yang dapat menggunakan berbagai model dan benda peraga.

Kualitas suatu PI sangat erat hubungannya dengan pengalaman emosional ketika mengalami proses pembelajarannya. Ini bisa jadi menyebabkan semakin sulitnya PI seseorang untuk muncul ketika dibutuhkan.

Tiga, pengetahuan tasit (PT) adalah pengetahuan yang kita peroleh secara personal dan dalam konteks tertentu. Jadi, ini merupakan pengetahuan yang paling sulit untuk diekspresikan dan artikulasikan dalam bentuk kasat mata.

Dalam konteks kegagalan dalam menunjukkan kompetensi, faktor emosi ketika terjadi proses pembelajaran PI menentukan bagaimana ia mampu memproyeksikannya ke luar. Dan jika ternyata PI-nya mempunyai konteks tertentu dan ada emosi negatif yang melekat, maka PT-nya tinggi dan ini mengganggun bagaimana kita mengekspresikan diri secara konfiden.

Membawakan diri secara percaya diri dalam setiap situasi memang tidak mudah karena manusia bukanlah robot. Kita semua mempunyai daya kognitif, afektif, dan ingatan masa lalu yang terekam di dalam alam bawah sadar. Apa yang telah menjadi bagian dari diri kita memang telah terjadi.

Yang dapat kita lakukan sekarang adalah menjalani hidup secara positif sehingga setiap pengetahuan dan pengalaman baru mempunyai muatan positif. Ini akan mempengaruhi bagaimana performance kita di masa depan. Salam positif.