Kota Telosa dengan model kapitalisme baru

Kini sudah tidak zamannya lagi memulai bisnis yang menghabiskan sumber daya alam. Mengapa? Logikanya, kalau SDA habis, manusia akan celaka besar dan bisa jadi peradaban musnah.

Lihat saja industri rokok di negara-negara maju, sudah hampir mustahil dapat berkembang lagi karena produknya “membunuh” konsumen mereka. Dengan kata lain, untuk apa menjual produk yang merugikan dan membunuh para konsumen baik secara langsung, tidak langsung, maupun pelan-pelan? Tidak masuk akal.

Nah, seorang Marc Lore yang pernah menjabat sebagai CEO Walmart e-commerce (2016-2021) dan founder Diapers.com dan Jet.com yang telah diakuisisi senilai USD 3,845 miliar oleh Amazon dan Walmart, punya ide realistis dengan cita rasa “utopia” yang diberi nama Telosa.

Orang kedua yang terlibat dalam proyek gigantis ini adalah Bjarke Ingels pendiri BIG Bjarke Ingels Group di tahun 2005, PLOT Architects di tahun 2001 yang juga berkarya di OMA in Rotterdam. Ia adalah one of 100 Most Influential People in the World menurut TIME Magazine pada tahun 2016 untuk karya-karya arsitekturnya yang adaptif dan kontemporer mengikuti kebutuhan kebutuhan peradaban manusia.

Telosa ini adalah sebuah kota futuristik yang dibangun dari nol besar, bahkan lokasinya pun masih sedang dicari. Beberapa lokasi di negara bagian AS yang sedang dipertimbangkan termasuk Nevada, Utah, Idaho, Arizona, Texas, dan Appalachian Region.

Lore sendiri membantah bahwa ini adalah “utopia” yang sempurna, karena Telosa dibangun atas kebutuhan zaman di mana peradaban manusia semakin terancam. Mengapa kota?

Karena 80 persen penduduk AS bermukim di kota, menurut data terkini. Dan menurut proyeksi tahun 2050, akan ada 66 persen penduduk dunia yang hidup urban. Mengingat “kota” adalah pilihan manusia kontemporer, mengapa kita membiarkan kota-kota global semakin terpuruk?

Telosa (cityoftelosa.com) merupakan kota yang menawarkan standar baru bagi perkembangan potensi manusia dan dapat dijadikan blueprint bagi generasi-generasi mendatang. Ekonomi kapitalisme yang diaplikasikan juga menggunakan model kapitalisme baru yang mengutamakan common good 100 persen.

Jadi, para kapitalis pemegang modal bukanlah satu-satunya stakeholder yang dikenyangkan secara puas luar biasa, sebagaimana model kapitalisme yang kita kenal selama berabad-abad. Ide dasar model kapitalisme ini diilhami oleh Henry George seorang ekonomi tahun 1879 dalam buku manifestonya Progress dan Poverty.

Manifesto ini berargumen bahwa kepemilikan tanah privat inilah penyebab ketimpangan ekualitas (rising wealth inequality). Maka, dengan mengakuisisi 150.000 are dalam 40 tahun secara ekuitisme (equitism), maka ketimpangan ini dapat dieradikasi. Tingkat densitasnya sendiri hanya 34 orang dalam satu are tanah.

Apa itu “ekuitisme” alias “equitism”? Ia adalah sistem ekonomi di mana setiap warga (penduduk) mempunyai andil dalam tanah kota, sehingga ketika kota berkembang positif, maka penduduk dapat menikmatinya juga.

Jadi, tidak ada pertentangan kepentingan antara pemerintah dengan penduduk, seperti yang sering kita jumpai di mana-mana dalam versi sistem ekonomi sekarang. Idealnya, setiap peningkatan nilai tanah harus dapat dinikmati oleh setiap penduduk, mengingat tanah merupakan SDA terbatas.

Dalam konteks ekuitisme, nilai tanah yang meningkat merupakan sumber kemaslahatan karena ini berarti semakin tingginya kepemilikan rumah, peningkatan kualitas kesehatan dan medis, penambahan lapangan kerja, dan kesempatan belajar. Di AS sendiri, sistem endowment telah dinikmati di Utah, Alaska, dan 20 kota di Pennsylvania.

Dengan kata lain, ekuitisme menawarkan pertumbuhan inklusif bagi setiap warga tanpa kecuali. Marc Lore dan Bjarke Ingels merupakan inspirasi bagi dunia dan Indonesia.

Sekarang tantangannya, bagaimana Indonesia meningkatkan ekualitas kekayaan (wealth equality)? Bisakah dengan ekuitisme yang merupakan model kapitalisme baru? Pertanyaan yang perlu kita jawab bersama.