Mencari Pemimpin yang Tidak Karismatik

Dalam kultur dunia saat ini, termasuk di Indonesia, seseorang dianggap sebagai “pemimpin” apabila ia mempunyai “karisma.” Dengan kemampuan orasi dan kemampuan interpersonal memukau ala Soekarno dan Barack Obama, yang dipimpin merasa “layak dipimpin.”

Memang tidak ada salahnya mempunyai pemimpin yang karismatik, sepanjang mereka juga mempunyai kemampuan kepemimpinan mumpuni yang transformatif dan inspirasional. Sayangnya, tidak semua orang karismatik identik dengan kepemimpinan yang baik.

Kepemimpinan yang baik sesungguhnya tidak membutuhkan kekarismatikan sang pemimpin. Bisa saja seorang pemimpin itu termasuk kategori introvert (versi Myer Briggs Type of Personality) dan dipersepsikan sebagai seseorang yang “pendiam” dan “kurang hangat.”

Karena pada intinya, pemimpin yang baik adalah yang membawa perubahan positif, bukan yang tampak keren dan komunikatif. Tipe MBTI seseorang sendiri bukanlah jaminan ia adalah seorang pemimpin yang baik atau tidak.

Dari 16 tipe tersebut, tipe-tipe intuitif seperti INFJ, INTJ, ENTP, dan ENFP mempunyai nilai IQ tertinggi dan rasionalitas mereka bertipe strategis dan analitis. Mereka juga termasuk influensial, padahal gaya komunikasi mereka bisa saja jauh dari karismatik.

Tipe-tipe MBTI lainnya bukan berarti tidak punya potensi menjadi pemimpin yang baik. Karena kepemimpinan adalah skill alias ketrampilan, bukan sekedar talenta dari lahir.

Kunci kepemimpinan sendiri adalah bagaimana kita dapat mengoptimalkan pengaruh dan memberikan arahan baik dengan gaya coaching, mentoring, serving (melayani), maupun gaya-gaya komunikasi lainnya untuk pencapaian tujuan transformatif dalam suatu kelompok, baik besar maupun kecil. Apa yang sesuai dengan mentalitas para anggota tim, itulah yang tepat untuk digunakan. Minimal untuk jangka waktu tertentu.

Jadi, seorang pemimpin bisa saja karismatik maupun tidak, sepanjang gol-gol transformasional tercapai. Mencari “pemimpin karismatik” sendiri mengandung beberapa resiko.

Satu, kita terkadang memiliki bias yang “ngawur” kepada orang-orang yang “menarik” dan “karismatik” secara fisik dan verbal. Dan ini adalah sesuatu yang membahayakan karena sering kali kita tidak memiliki kemelekan memadai untuk membedakan seseorang yang karismatik tanpa patologi dan mereka yang memiliki patologi.

Seseorang yang karismatik tanpa patologi mempunyai rasa bela rasa, empati, dan kerendahan hati yang melebihi orang lain. Mereka juga tidak butuh dikagumi secara berlebihan, karena mereka tidak butuh untuk “memenangkan” kompetisi yang tidak sehat.

Dua, seseorang karismatik dengan patologi membawa resiko sangat besar bagi kelompok. Tiga patologi yang berpenampakan luar “karismatik” adalah para narsisistik (narcissistic disorder), para sosiopat (sociopath), dan para psikopat (psychopath).

Para narsissis adalah mereka yang mempunyai rasa kekaguman berlebihan kepada diri sendiri, manipulatif, dan tidak punya empati. Mereka harus selalu menang dan cenderung menyalahkan orang lain ketika mereka kalah.

Para sosiopat dan psikopat mempunyai suara hati yang buruk dan cenderung mencelakakan orang lain untuk keuntungan pribadi. Para psikopat berat bahkan dikenal sebagai pembunuh berantai tanpa rasa belas kasihan sama sekali.

Tiga, data patologi narsissistik dan patologi sosiopat cukup mengkawatirkan.
Nol koma lima persen dari populasi mempunyai patologi narsisistik dan 75 persen di antaranya adalah laki-laki.

Jadi, dari 100 orang, bisa dipastikan satu orang adalah narsissistik akut yang dapat didiagnosa dengan DSM-5 (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders) terbitan American Psychiatric Association. Sedangkan sosiopat dan psikopat mencakup satu sampai empat persen dari populasi. Bayangkan, dari 100 orang, bisa saja 5 dari mereka mempunyai kepribadian patologis yang dapat mencelakakan kita dan kelompok.

Empat, mayoritas narsissis, sosiopat, dan psikopat mempunyai karisma sebagai pemimpin yang komunikatif dan dapat dipercaya. Dengan kata lain, bisa saja para pemimpin karismatik ternyata adalah orang-orang berpatologi, sedangkan anggota kelompok hanya menuruti keinginan mereka secara buta karena kemampuan mereka dalam meyakinkan orang lain.

Penulis sendiri cukup kenyang dengan pengalaman hidup yang berhubungan dengan orang-orang karismatik berpatologi. Jadi, sebagai seorang anggota kelompok, penulis tidak lagi mencari pemimpin yang karismatik secara fisik dan komunikasi.

Yang lebih penting adalah kemampuan mencapai gol secara etis, suportif, dan inspiratif. Gaya komunikasi non-karismatik semestinya tidak menjadi masalah, sepanjang efektif dalam pencapaian gol dan pengaruh terhadap kultur organisasi yang menentangkan dan meningkatkan produktivitas.