Taco Bell mengguncang Lanskap Franchise

Taco Bell mengguncang Lanskap Franchise

Di AS, negara asalnya, Taco Bell dimiliki oleh Yum! Brands, yang juga memiliki dan mengoperasikan KFC, Pizza Hut, The Habit Burger Grill, dan WingStreet. Sebelum 2011, Yum! juga memiliki A&W Restaurant.

Yum! Brands sendiri berbasis di Louisville, negara bagian Kentucky. Mereka mengoperasikan 43.167 restoran di 135 negara. Dari jumlah tersebut, 40.758 adalah restoran yang dimiliki oleh franchisee. Konsumen yang dilayani per tahun mencapai 2 miliar orang.

Taco Bell sendiri didirikan oleh Glen Bell dengan hot dog stand-nya di daerah gurun San Bernardino, California pada tahun 1946. Kemudian ia mendirikan Taco-Ria yang diganti dengan brand El Taco, kemudian Taco Bell.

Sajian masakan cepat saji Meksiko ini sesungguhnya dikenal sebagi Tex-Mex alias cita rasa Meksiko yang telah disesuaikan dengan lidah Texas sebagai representasi budaya AS.

Pada pertengahan Desember lalu, Taco Bell (TB) pertama telah dibuka di Jalan Senopati 96, Jakarta Selatan dibawah PT. Fast Food Indonesia. Mereka memposisikan diri sebagai restoran Meksiko cepat saji.

Menu TB di Indonesia telah ditambah dengan cita rasa lokal yaitu Bell Rice. Menu lainnya, seperti Taco Supreme, Quesadilla, Grilled Stuffed Burrito, Cruncwrap dan Nachos tetap sebagaimana dikenal di manca negara.

Menu inovatif lainnya termasuk Naked Chicken Taco yang banyak dinikmati oleh peminat kulit ayam garing. Selain menu adaptif mereka, tren open kitchen dan dine in yang transparan merupakan keterbukaan akan kebersihan khas restoran cepat saji di negara-negara barat.

Strategi bisnis dapat dipelajari dari kesuksesan TB di mancanegara adalah kemampuannya dalam menggaet para Milenial dan Generasi Z.

Satu, TB dikenal sangat playful di media sosial. Dengan berbagai komen dan konten lucu menggemaskan, copywriting posting-posting mereka sering menjadi viral.

Bisa dipahami mengapa TB cabang Jakarta didesain interiornya sedemikian rupa sehingga Instagrammable dan sangat layak dijadikan background swafoto. Kejelian mereka dalam memposisikan bisnis dan merek mereka sebagai “sahabat kaum muda” dibarengi dengan titik harga penjualan (pricing point) yang affordable.

Dua, kecerdasan dalam memikat hati para influencer dan selebritas sehingga menciptakan momen-momen viral dan layak viral. Ini menunjukkan betapa aktif dan kreatifnya tim pemasaran online mereka.

Misalnya, dengan memberikan cincin dan surat ucapan selamat menjalankan hidup baru bagi Chrissy Teigen dan John Legend. Chrissy dikenal sebagai konsumen TB yang kerap kali memberikan kritik membangun.

Tiga, kehadiran aplikasi Taco Bell di Apple App Store dalam kategori “Food and Drink” ternyata meledak. Taktik ini memungkinkan promosi dan loyalty building dapat dilakukan berasamaan dan dengan biaya yang rendah.

Dengan target omzet USD 5 miliar pada tahun 2022, TB kini sedang membidik pasar global dengan populasi muda, seperti Indonesia, India, China, dan Brazil. Serta beberapa negara di Afrika.

Suasana komunitas dengan menu-menu khas lokal yang dipadukan dengan keunikan Tex-Mex, bisa dipastikan memberi angin segar akan makanan “relatif” sehat. Konsumen kini dapat memilih fast food burger yang telah lama tersaturasi atau sajian Tex-Mex TB yang relatif lebih sehat dengan komponen sayuran yang cukup besar.

Kawula muda Jakarta, misalnya, dikenalkan dengan menu yang sebelumnya hanya disajikan di resto-resto konvensional khas Meksiko dan klab-klab makan malam seperti HardRock dan diner di hotel-hotel berbintang. Sajian Tex-Mex sesungguhnya mempunyai citarasa sederhana, gairah muda, dan multikultural.

Di AS, TB merupakan restoran cepat saji yang memberikan keleluasaan para kawula muda berusia 18 hingga 35 dengan berbagai menu seharga satu dollar (One Dollar Menu). Di Jakarta, belum kita temukan promo super murah seperti ini. Namun bisa kita tunggu di tahun yang baru dan pasca pandemi ini