AMDK mewah Fiji VS Equil

ika Anda sering nongkrong atau menghadiri rapat di hotel-hotel berbintang lima, pasti Anda temukan Fiji Water (FW) dan Equil. Dua merek ini dapat disandingkan bersama-sama mengingat mereka membidik pasar menengah atas. Dua-duanya adalah “air minum kemasan murni” yang cukup tinggi harganya per botol.

FW dikemas dengan high-grade polyethylene terephthalate plastic transparan, yang telah dinyatakan aman oleh US FDA untuk makanan dan minuman. Sedangkan Equil dikemas dalam botol kaca berwarna hijau transparan yang selain aman untuk kesehatan juga menunjukkan bidikan pangsa pasar atas.

Fiji Water sebagaimana namanya, bisa ditebak berasal dari negara pulau Fiji yang berada di Pasifik Selatan. Lokasinya yang jauh dari peradaban modern, menyebabkan air artesis yang berasal dari aquifer ini demikian jernih dan murni tanpa kontaminasi polusi dan berbagai elemen tanah dan air lainnya.

Difilter secara alami oleh batu-batu alam, FW sangat menarik bagi mereka yang punya kantung tebal dan mendambakan kemurnian air. FW juga mengandung berbagai elektrolit alami seperti magnesium, potasium, dan sodium. Level PH-nya pun bersifat basa yaitu 7 hingga 7.7, sehingga sangat baik untuk kesehatan.

Namun ada beberapa hal yang cukup kontroversial mengenai FW, yaitu jejak karbon negatif (negative carbon footprint) yang masih juga belum tercapai sejak komitmen mereka pada tahun 2008. Dan manajemennya yang agresif dalam meraup laba banyak diekspos media karena kontribusi terbatas bagi penduduk Fiji.

Equil dengan botol kaca elegan dan logo bergambar sebuah vila berdesain klasik Eropa bernama Villa D’Equilibrium, ternyata diproduksi di Sukabumi, Jawa Barat sejak 1997. Diproduksi dalam jumlah terbatas, air minum berasal dari mata air alami tanpa proses pemompaan dan teknologi lainnya menjadi sangat eksklusif dan berharga tinggi. Bahkan telah lama diekspor ke Eropa.

Didirikan oleh entrepreneur Indonesia Morgen Sutanto, PT Equilindo Lestari menjawab kebutuhan air kemasan yang representable dan eksklusif. Sebagai negeri yang penuh dengan sumber daya alam air, sangatlah ironis apabila Indonesia masih mengimpor air minum kemasan yang dikonsumsi oleh pangsa pasar atas.

Equil termasuk kategori air mineral alami, di mana teknologi dan water treatment apapun tidak dipakai. Untuk memastikan layak konsumsi, air diperiksa setiap jam satu kali, setelah itu dikemas, dikarantina, dan dikultur selama 5 hari untuk mendeteksi mikroorganisme.

Jadi, proses pengambilan dan pengemasan air minum alami sangat berbeda dengan yang mengalami proses penyaringan, distilasi, dan oksidasi. Kemurnian dan proses QC manual inilah yang menyebabkan tingginya harga Equil yang mencapai 20 kali harga air minum kemasan pada umumnya.

Ada varian Equil Hydra Tera yang banyak dikonsumsi untuk terapi kesehatan mereka yang berpenyakit kronis. Satu keunikan Equil lagi: mereka mengklaim diri adalah satu-satunya produsen air minum alami yang berasal dari mata air Gunung Salak.

Penekanan pada kata “alami” di sini, karena ada beberapa jenis air kemasan, yaitu air mineral yang diproses dengan distilasi, reverse osmosis, deionisasi, air beroksigen, dan air alkali. Setiap jenis mempunyai pro dan kon tersendiri, sehingga sangat dianjurkan untuk mempelajarinya sebelum mengkonsumsi.

Di era penuh polusi dan tingginya jejak karbon, menikmati air minum kemasan yang ditangani secara hati-hati dan alami bukan hanya terdengar eksklusif, namun membawa vibrasi alam yang dibutuhkan oleh setiap manusia. Sepanjang positioning produk dan merek dapat dipertanggungjawabkan dengan kualitas kemurnian dan rendahnya jejak karbon, mestinya produk-produk yang mengklaim dirinya “alami” semakin mendapat tempat.