•  

    Jln Walter Monginsidi No 15 Yogyakarta

Bertahan di Era Pandemi

Pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia. Ini berarti sangat banyak bisnis yang kena imbasnya. Dan ini bukan perkara gampang. Ketika semua orang berdiam di rumah agar tidak terkena penularan, maka bisa dipastikan bisnis yang berbasis fisik akan sangat sepi. Bisnis online dan berbasis aplikasi masih dapat diandalkan, sepanjang kurir dan ojol masih dapat berkeliaran. Bagi bisnis-bisnis yang belum masuk ke ranah online dan aplikasi, kini sudah merupakan keharusan. Biasakan untuk segala sesuatunya dijalankan secara virtual. Kebiasaan-kebiasaan perlu diubah secepatnya. Namun jelas ini punya keterbatasan akan jenis pekerjaan dan tugas-tugas yang dapat dijalankan dengan komputer dan telpon. Bagi bisnis-bisnis yang berbasis aktivitas dan tidak bisa diwakilkan secara virtual, apa daya? Kita bisa belajar dari General Motors (GM) yang telah mengubah pabrik manufaktur mereka dari produsen otomobil menjadi produsen ventilator dan respirator (alat-alat pernafasan). Jelas ini sangat memungkinkan, mengingat mesin-mesinnya dapat dialihfungsikan. Sinar Mas Group, misalnya, kini sedang memfokuskan diri pada produksi maskter, sehingga Indonesia tidak lagi tergantung pada impor. Di Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo menggalakkan produksi APD (alat pelindung diri) untuk digunakan oleh para dokter dan paramedis. Bagaimana dengan bisnis Anda? Pertimbangkan beberapa hal. Satu, pastikan lakukan pemangkasan pengeluaran dalam bentuk cash. Bisa dimengerti apabila penghematan ini juga membawa akibat terhadap penurunan produktivitas. PHK sedapat mungkin diminimalisir dengan menurunkan jam kerja, apabila dimungkinkan. Yang jelas, berbagai bentuk penghematan perlu dilakukan sementara. Dua, gunakan instrumen-instrumen online sedapat mungkin. ...

Tingkatkan Produktivitas dengan Work from Home

Wabah Covid-19 telah mengubah paradigma berpikir kita, minimal mengenai konektivitas, produktivitas, dan ketersediaan instrumen untuk bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Jika dulu kita mungkin mengira bahwa WFH bukanlah suatu opsi menarik karena produktivitas bisa saja menurun, ternyata sekarang sebaliknya. Dengan WFH, seseorang telah menghemat waktu, biaya, dan energi untuk bolak-balik dari rumah ke tempat kerja. Padahal mayoritas aktivitas dapat dijalankan secara online. Dulu, dalih utama bekerja dari kantor adalah untuk mempermudah meeting dan pertemuan-pertemuan dengan kolega dan klien yang membangun konektivitas dan produktivitas. Sekarang, dalih utamanya adalah faktor kesehatan dengan social distancing dan opsi yang tidak kalah penting untuk produktivitas. Secara virtual, manajemen proyek semestinya tetap dapat dijalankan dengan efisien, mengingat berbagai instrumen online kini sangat memungkinkan untuk melihat dalam seketika berbagai aktivitas anggota tim sekaligus. Jadi, paradigm shift dari fokus offline ke fokus online sebenarnya merupakan hal yang sangat baik. Beberapa aplikasi online yang sangat membantu kerja tim virtual termasuk: Trello, ClickUp,Wrike, dan Asana. Project.co mempunyai fitur yang juga menggabungkan antara tim dengan klien, jadi tidak perlu update ke klien. Semua bisa transparan terbaca. Data di AS oleh Hubspot menunjukkan sebenarnya bekerja dari kantor mencakup 28 persen distraksi dan 13 jam dalam seminggu dihabiskan hanya untuk menjawab email baik yang berhubungan dengan pekerjaan maupun tidak. Jadilah WFH merupakan opsi yang sangat patut dipertimbangkan. Tentu dengan asumsi lingkungan rumah memungkinkan. Beberapa tip penting WFH yang produktif. Satu, tentukan tempat kerja yang tetap.Idealnya, ini adalah meja kerja dengan kursi memadai dengan senderan yang relatif ergonomis. Suasana kerja juga sebaiknya tanpa suara-suara mengganggu di latar belakang, seperti suara televisi atau orang mondar-mandir dan suara-suara lainnya. ...

Yang Bertahan Super Lama

Dunia semakin tidak stabil, baik secara lahiriah maupun finansial. Ancaman resesi selalu ada, baik karena masalah moneter maupun bencana, yang dari alam maupun buatan manusia. Mereka yang bekerja di kantor, ancaman PHK selalu mengintai. Sedangkan para pemilik bisnis juga terkadang tidak merasa aman karena kondisi ekonomi yang naik turun sangat mempengaruhi transaksi. Dengan kata lain, kita hidup di era yang semakin tidak menentu. Era “gonjang ganjing.” Untuk itu, kita sangat membutuhkan informasi mengenai “kelanggengan” sehingga ada sedikit pegangan untuk men-hedge masa depan. Sebenarnya, ada tidak sih perusahaan yang bertahan super lama sehingga dapat memberi rasa aman bagi pekerja, pemilik bisnis, dan para stakeholder? Jawabannya tentu saja ada. Namun semua itu relatif. Ada beberapa perusahaan yang bertahan sangat lama sehingga bisa disebut sebagai “bisnis super,” seperti GE, Disney, Boeing, Johnson & Johnson, dan sebagainya. Dalam buku berjudul Made to Last, para penulis Jim Collins dan Jerry Porras mengungkapkan bahawa bisnis-bisnis yang bisa bertahan super lama ternyata mampu mematahkan mitos-mitos berikut. Satu, mitos membutuhkan ide jenius untuk membangun perusahaan raksasa.Tidak selalu ide jenius menghasilkan omzet luar biasa. Sering kali, ide-ide biasa saja yang memberi solusi akan suatu kebutuhanlah yang mantap dijalankan. Bahkan ada juga produk-produk gagal seperti Post-It-nya 3M merupakan suatu contoh menarik. “Kegagalan” yang fungsional ini ternyata mempunyai pasar tersendiri. Ciamik bukan? Dua, mitos membutuhkan seorang pemimpin karismatik.Pemimpin karismatik memberi peluang untuk pengkultusan individu. Padahal ini bisa jadi berbahaya untuk kelangsungan bisnis secara jangka panjang. ...

Ekonomi Bertujuan Transendental

Pandemi Covid-19 merupakan alarm wakeup call bagi semua umat manusia. Alam sudah terlalu banyak dieksploitasi sehingga kerusakan planet telah cukup parah, maka terjadilah bentuk bencana alam, termasuk pandemi. Kapitalisme murni merupakan sistem yang tidak lagi relevan. Perlu diimbangi dengan kesadaran tinggi akan sesuatu yang lebih besar, yaitu purpose alias tujuan yang transendental. Tujuan suatu organisasi, termasuk yang bersifat mencari keuntungan seperti bisnis, sering kali mengabaikan “tujuan transendental”-nya, karena lebih mengejar omzet. Pada intinya, setiap stakeholder adalah manusia dan kita memiliki sisi spiritual. Bukan dalam arti relijius-agamis, namun manusia sebagai satu keutuhan holistik, bukan dipisah-pisahkan antara kebutuhan materi, mental, dan spiritualnya. Dalam buku groundbreaking The Economics of Higher Purpose yang ditulis oleh Robert E. Quinn dan Anjan Thakor, mereka punya premis bahwa setiap bisnis telah memiliki fungsi otentik inheren tanpa perlu diciptakan kembali. Inilah fungsi transendental. Kuncinya adalah bagaimana menggali kemampuan setiap individu yang terlibat secara otentik dan menjalankan setiap aktivitas bisnis dengan mengutamakan pemeliharaan Planet Bumi, kasih kemanusiaan, dan etika. Keuntungan pasti akan mengikutinya. Jadi, dalam bisnis bertujuan yang transedental, setiap pegawai dipandang sebagai satu kesatuan, bukan hanya dua belah tangan yang digunakan untuk menjual produk. Mereka mempunyai harapan, kelebihan, dan kekuatan tersendiri yang mestinya dapat disintesa dengan tujuan perusahaan. Dalam suatu wilayah, sintesa bisa menjadi lebih luas dan solid. Jika bisnis Anda masih belum mempunyai tujuan yang jelas, mulai rancang. Setiap organisasi yang mempunyai tujuan transendental yang jelas, ia akan mempunyai “jiwa” yang menjadi payung bagi kultur di dalamnya. Satu, para manajer adalah konektor komunikator.Dengan kesadaran bahwa setiap individu mempunyai ...

Mindset Traksi

    MeetBaru   Mulai rapat     Gabung ke rapat   Chat     ...

Mencari Keseimbangan di Era Pandemi

Di era pandemi Covid-19 ini, tingkat stres dan kecemasan semakin tinggi. Walaupun sudah work from home, setiap hal kecil menjadi termagnifikasi. Self-talk alias “berbicara dengan diri sendiri” semakin umum, apalagi ketika memang hanya sedang sendirian bekerja dari rumah. Tentu ini hal wajar dan tidak perlu dikhawatirkan karena kesehatan mental aja tetap prima. Namun, ketika kita berbicara dengan diri sendiri, sebenarnya kita sedang menanamkan imprint ke dalam bawah sadar. Bagi mereka yang relijius, mungkin begini, “Ucapan adalah doa.” Bagi para neurosains, kita memprogram alam bawah sadar dengan pikiran yang terucap dalam bentuk kata-kata (neuro linguistic). Neurosaintis dari University of North Carolina at Chapel Hill Dr. Barbara Fredrickson menekankan pentingnya untuk selalu berpikir, berucap, dan berbuat positif sebanyak mungkin setiap saat. Karena satu hal negatif membutuhkan tiga kali positivitas untuk menetralisirnya. Di era tidak menentu seperti sekarang ini, tentu self-talk positif sangat membantu. Self-talk negatif, seperti mengata-ngatai diri sendiri “tidak berguna,” “dasar bodoh” dan “saya tidak bisa apa-apa” tentu sangat merugikan karena dapat memprogram alam bawah sadar kita untuk percaya akan hal-hal tersebut padahal belum tentu benar. Self-talk negatif tentu sangat tidak menguntungkan sama sekali. Ketika lingkungan eksternal negatif, seperti di era pandemi atau resesi ekonomi, idealnya Anda tetap berpikir positif dan memberi semangat bagi diri sendiri. “Saya pasti bisa” dan “saya terberkati” adalah contohnya. Pada intinya, segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Semua berbentuk roda dan siklus yang terus berputar. Ada kalanya siklus itu negatif, namun sering kali positif. Ketika kondisi positif, tetap berpikir positif. Ketika kondisi negatif, lebih penting lagi un...

Setiap Individu adalah Penjual

Mungkin Anda termasuk mereka yang punya mindset bahwa “saya tidak pandai menjual,” padahal faktanya sejak lahir kita telah “menjual.” Menjual di sini tidak selalu merupakan transaksi jual-beli. Bisa saja mengutarakan suatu ide atau informasi agar diikuti atau disetujui oleh orang lain. Ketika kita “menyarankan,” “meminta,” atau “mengharapkan” seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang kita utarakan, maka sesungguhnya kita sedang “menjual.” Ketika orang lain melakukan hal-hal yang kita harapkan atau inginkan, itulah tanda kesuksesan penjualan kita. Jadi, tidak ada kata “tidak bisa” atau “tidak suka” menjual dalam kamus Anda. Yang penting adalah menguasai konsep, mindset, dan prosesnya agar proses “menjual” dapat tercapai dengan seoptimal mungkin. Di tempat kerja, setiap pegawai dan anggota tim manajemen merupakan “penjual” dengan keunikan mereka sendiri-sendiri. Lantas, manajemen perlu mempunyai program yang menghargai setiap usaha mereka, apapun bentuk “penjualannya.” Pada dasarnya, proses “menjual” sendiri mempunyai enam langkah. Satu, proses menjual mungkin terasa instingtif, namun sesungguhnya Anda perlu punya perencanaan. Jawablah dengan jujur apa yang Anda targetkan, siapa yang dapat membantu pencapaian target itu, bagaimana dapat dicapai, kekurangan-kekurangan Anda yang berkenaan dengan proyek tersebut, dan seberapa konfiden Anda dalam memberi request. Strategi menjual merupakan fondasi awal setiap aktivitas individu. Bahkan ketika Anda masih kanak-kanak sekalipun, misalnya hendak pergi bermain ke rumah teman, Anda perlu “menjual” tujuan dan manfaatnya sehingga diberi izin oleh orang tua. Dua, mencari kesempatan-kesempatan penjualan dalam setiap celah yang tersedia. Bayangkan, dengan kemampuan ini, Anda akan semakin mudah mendapatkan hal-hal baru yang mendukung pencapaian. ...

Berbisnis di Era New Normal

Kita dihimbau untuk “berdamai” dengan virus Covid-19 alias virus Korona. Ini dapat diinterpretasikan macam-macam, dari yang paling ekstrim hingga yang paling rileks. Yang jelas, kemungkinan besar virus Korona akan terus ada dalam berbagai versi mutasinya. Dan tergantung para penderitanya, ada yang mengalami gejala ringan hingga parah. Sebagai individu, kita perlu membiasakan diri untuk selalu menggunakan masker dan disinfektan. Bagaimana dengan bisnis? Apa saja bentuk-bentuk penyesuaian yang perlu dilakukan agar tetap bertahan di era pandemi ini? Banyak teori mengenai tatanan dunia usaha baru dan bagaimana makro ekonomi seyogyanya diperbaharui demi kemanusiaan dan ekologi yang lebih dijunjung tinggi. Namun, bagaimana prakteknya? Pertama, remote working, remote learning, dan remote activities akan semakin “normal.”Jadi, bisa dipastikan e-commerce dan m-commerce semakin menjamur. Berbagai jenis jasa yang dapat disajikan dalam bentuk jarak jauh, pasti akan semakin dibutuhkan. Kedua, struktur organisasi yang berbentuk garis lurus akan semakin berkurang. Bentuk kerja sama yang berbentuk sinergistik lingkaran akan semakin umum. Kepakaran yang diaplikasikan secara praktek akan semakin dihargai dibandingkan birokrasi struktural komando. Ketiga, pengambilan keputusan semakin berdasarkan urgensi kekritisan kebutuhan.Kepentingan akan penanggulangan penyebaran virus Covid-19 akan menempatkan posisi tertinggi, sehingga budget dialokasikan seefisien mungkin. Dari seragam hingga handling produk perlu diperbaiki agar tidak membahayakan kesehatan konsumen. Keempat, akomodasi kebutuhan konsumen tergantung kekritisan kebutuhan.Sebagaimana pengambilan keputusan yang akan sangat dipengaruhi oleh urgensi kekritisan kebutuhan, akomodasi kebutuhan konsumen juga demikian. Jika dulu just-in-time merupakan salah satu pendekatan supply chain yang mengandalkan ketepatan prediksi demand, maka change-in-time merupakan pendekatan yang membutuhkan keberanian mengubah diri da...

Mengintip Bisnis Pasca Pandemi dengan 5 P

Henry Mintzberg memperkenalkan strategi 5P yaitu plan, ploy, pattern, position, dan perspective. Diadaptasikan dalam era pandemi oleh Carsten Lund Pedersen dan Thomas Ritter yang dua-duanya mengajar di Copenhagen School of Business di Denmark, 5 P termasuk position, plan, perspective, projects, dan preparedness. Mari kita kupas satu per satu. Position.Kenali posisi unik organisasi dan bisnis Anda sebelum, sepanjang, dan pasca era pandemi. Yang terpenting adalah posisi terkini yaitu selama masa pandemi. Peran apa yang bisnis Anda tawarkan di dalam ekosistem ceruk bisnis? Bagaimana posisi para kompetitor? Kenali juga arah tujuan di masa depan, selain bagaimana bisa bertahan di era pandemi, terutama ketika para konsumen berdiam di rumah dengan self-quarantine dan semi lockdown. Plan.Bagaimana rencana kembalinya bisnis seperti era sebelum pandemi? Posisi apa yang hendak dicapai? Orientasi sangat penting dengan memperhitungkan dan mempertimbangkan sumber daya yang ada dan kembali ke posisi pertumbuhan positif. Perspective.Bagaimana kultur dan “normal baru” mempengaruhi aktivitas-aktivitas bsinis? Krisis tentu mempertemukan kepentingan dan menggalang persatuan antar manusia, namun pandemi juga memperkenalkan “jaga jarak aman” yang dulu belum pernah dilakukan. Perusahaan Anda sendiri apakah siap dengan kondisi “normal baru”? Bagaimana SOP berbagai aktivitas di dalam perspektif ini? Apakah kultur organisasi saat ini memungkinan adaptabilitas dalam kondisi urgen pandemi? Bagaimana dengan sikap mental para pekerja dan tim manajemen? Bagaimana kerja sama yang terjalin? Dapatkah ditingkatkan lagi? Projects.Add-on projects alias proyek-proyek tambahan yang disebabkan oleh pandemi corona sering kali menjadi fokus baru. Fokus ini bisa menjadi pilihan jangka pendek maupun jangka panjang. ...

Prioritas Bagi Ekonomi Covid 19

Presiden Jokowi tampak kecewa dan berbicara dengan tegas di hadapan para menteri kabinetnya pada 18 Juni lalu. Beliau tampak gemas dan cukup emosional dengan kinerja para menteri yang biasa-biasa saja padahal negara sedang dalam kondisi krisis kesehatan dan ekonomi. Di awal pandemi pada Q1, para ekonom dan analis memprediksikan V-shaped recovery alias perbaikan ekonomi pasca-pandemi yang cepat dan menukik ke atas. Namun data-data terkini menunjukkan bahwa masa recovery bisa jadi panjang dan lama. IMF memprediksikan hingga akhir 2021, ekonomi global baru akan mencapai seperti di akhir 2019. PHK dan kepailitan masal terpaksa harus kita hadapi bersama di seluruh dunia. Perjalanan menuju recovery baik kesehatan maupun ekonomi tampaknya masih panjang dan berliku. Pandemi adalah “teritori baru.” Perbaikan ekonomi pasca pandemi malah merupakan teritori asing yang hanya terjadi setiap satu abad sekali. Bagaimana kita perlu menyikapi era pandemi dan pascanya, mari kita bahas. Stimulus dan pembelanjaan negara akan sangat mempengaruhi kelancaran perekonomian saat ini dan pasca pandemi. Jadi ini mirip dengan The New Deal-nya Franklin Roosevelt dengan berbagai program infrastruktur, perumahan, dan konversi industri. Satu alternatif lagi adalah UBI (Universal Basic Income) yang telah diujicobakan di beberapa negara, termasuk Kanada dan beberapa negara Eropa. Jika diaplikasikan di pasca pandemi, ini tentu merupakan bentuk stimulus langsung yang bisa jadi paling berperan dalam menggerakkan roda ekonomi akar rumput kembali. Di AS, capres Partai Demokrat Andrew Yang telah lama memasukkan UBI dalam platform kampanyenya. Presiden Trump sendiri telah menggelontorkan cek sebesar USD 1.200 bulan April lalu bagi setiap warga AS yang berpenghasilan menengah dan rendah. Sampai artikel ini ditulis, masih membutuhkan persetujuan Kongres AS untuk perpanjangan dan peningkatan santunan pekerja yang kena PHK. Apakah Indonesia perlu mempertimbangkan UBI? Berbagai bentuk bantuan cash telah diberikan oleh pemerintah, namun dalam nominal yang sesungguhnya masih jauh dari cukup untuk belanja kebutuhan hidup satu bulan. Pemberian UBI sebesar UMR setiap bulan sampai saat ini belum bisa dilaksanakan pemerintah Indonesia, namun bisa menjadi pertimbangan. Prioritas untuk menyelamatkan ekonomi di era Covid-19 dan pascanya semestinya menempati posisi tertinggi. Peran serta pebisnis tentu diharapkan semakin aktif dan tidak melulu menunggu sinyal hijau dari pemerintah. Ada beberapa rekomendasi dari US Small Business Administration agar bisnis-bisnis kecil dan menengah bisa bertahan dan terus berkembang di era pandemi ini dan pascanya. Satu, tingkatkan promosi berbayar dan tidak berbayar. Tetaplah diingat oleh konsumen dengan selalu hadir di berbagai media dan kesempatan. Di era digital ini, promosi dapat dilakukan secara gratis sela...

Heboh Tik Tok

TikTok. TikTok. Di mana-mana dan siapa saja bermain TikTok. Apa sih TikTok itu? Aplikasi lucu-lucuan untuk berjoget dan berdansa ria? No brainer benar ya. Well, hebatnya hampir semua influencer dan media maven punya akun TikTok. Bahkan para petinggi juga tidak ketinggalan bermain TikTok. Sebenarnya apa sih TikTok itu? TikTok adalah aplikasi media sosial berbasis video yang dirilis di tahun 2017. Yang telah didonlot lebih dari 2 miliar kali. (Bukan juta, tapi miliar.) TikTok ini dimiliki oleh perusahaan asal Tiongkok bernama Byte Dance. TikTok mengakuisisi Musical.ly di AS yang merupakan aplikasi video lipsyncing sebesar USD 1 miliar. Kini hanya nama TikTok yang eksis. Kekuatan utama TikTok adalah kemampuannya menjadi aplikasi asal China pertama yang berhasil menembus mainstream global. WeChat memang telah lebih lama populer di dunia, namun aplikasi itu terbatas pada diaspora Tiongkok. SoftBank termasuk salah satu penyuntik dana TikTok. TikTok mempunyai omzet USD 17 miliar di tahun 2019 lalu dengan keuntungan bersih USD 3 miliar. Populer di saat ini, namun TikTok sangat dihindari oleh pemerintah AS, para aktivis dunia cyber, dan CEO Reddit Steve Huffman. Huffman berpendapat dapat TikTok adalah spyware yang tidak pernah tidur. Menurutnya, TikTok selalu “on” mendengarkan dan mengambil data dari para pengguna. Pemerintah AS sendiri menganggap TikTok “seberbahaya” Huawei karena kemampuannya dalam menyerap dan merekam data pengguna. Mengingat aplikasi ini dimiliki oleh perusahaan Tirai Bambu yang secara geopolitis berseberangan, pantas saja Trump berniat untuk melarang penggunaannya di Negara Paman Sam. Di China sendiri, ByteDance bukannya tidak bermasalah. Di tahun 2018, mereka pernah dikritik oleh Pemerintah Komunis Tiongkok mengenai “konten vulgar” mereka yang dirilis di aplikasi Jinri Toutiao. Karena catatan buruk ini, TikTok hendak dipisahkan dari ByteDance. TikTok juga telah mengundurkan diri dari pasar Hong Kong, mengingat Pemerintah China semakin ketat dalam hukum soal data pengguna dalam proteksi sekuriti nasional. Jadilah TikTok memilih untuk tidak berada di dalam jurisdiksi tersebut. Di India, TikTok termasuk dalam 59 aplikasi asal China yang dilarang karena ancaman isyu keamanan nasional. Pelarangan ini bersifat sementara, karena Pemerintah India memberi kesempatan bagi aplikasi-aplikasi tersebut untuk membuktikan security and privacy compliance mereka yang sesuai dengan standar internasional. Padahal, TikTok sendiri mengakui bahwa India merupakan salah satu pasar terbesar di luar China yang sangat potensial untuk digarap. Diperkirakan kerugian akan mencapai USD 6 miliar apabila mereka keluar dari pasar dengan 1,3 miliar penduduk ini. Bagaimana TikTok dapat merebut lebih banyak pengguna di AS dan Eropa? Tampaknya salah satu s...

Zoom Merajalela

Era pandemi ini ditandai oleh merajalelanya penggunaan dan para pengguna Zoom. Rapat-rapat kantor dan proses belajar-mengajar banyak dilakukan dengan platform populer ini. Anda pasti pernah menggunakan atau, minimal, mendengar frasa “Zoom meeting.” Padahal, beberapa bulan sebelum pandemi, Zoom hanyalah startup aplikasi videoconferencing biasa yang sesekali digunakan oleh para manajer HR untuk mewawancarai kandidat pelamar dan beberapa fungsi rapat jarak jaruh yang tipikal. Di kala lockdown alias PSBB, aplikasi Zoom sangat membantu aktivitas-aktivitas WFH (work from home) dan SFH (schooling from home). Pengguna hariannya melonjak 20 kali lipat dari 10 juta di bulan Desember 2019 hingga lebih dari 200 juta di April 2020. Harga sahamnya pun telah meroket tajam dari USD 60an di akhir tahun lalu hingga mencapai USD 275 di bulan Juli 2020. Zoom didirikan di tahun 2011 oleh Eric Yuan, insinyur veteran dalam teknologi videoconferencing. Ia dilahirkan di Shandong, China pada tahun 1970. Pada akhir 1990an, ia hijrah ke Silicon Valley di California setelah mengalami penolakan aplikasi visa sebanyak delapan kali. Di sana, ia bekerja di Webex, salah satu perusahaan pelopor teknologi videoconferencing. Pada tahun 2007, Webex diakuisisi oleh Cisco. Yuan paham betul akan visi dan tren smartphone beserta aplikasi-aplikasi video conferencing yang kompatibel dengan gadget mobile seperti smartphone dan tablet. Namun Cisco tidak begitu tertarik dengan ide ini, sehingga ia pun mengundurkan diri. Jadilah Yuan dan mantan kolega-koleganya di Cisco/Webex mendirikan Zoom. Di bulan April 2019, Zoom (ticker: ZM) go public di Nasdaq AS. Pada hari pertama trading, harga sahamnya berhasil naik 72 persen dengan valuasi USD 16 miliar. Saat ini, konsumen dapat menggunakan aplikasi Zoom ini secara gratis untuk maksimal 100 peserta online meeting. Yang berbayar mencakup 1,000 peserta. Bayaran per bulan juga bertingkat tanpa memberatkan budget. Di era pandemi, jumlah pengguna Zoom yang 20 kali lipat dibandingkan dengan di masa-masa normal ternyata membuka beberapa isyu keamanan dan privasi. Salah satu masalahnya adalah konten video chat yang di-share kepada perusahaan-perusahaan ad-tracking. Fitur video recording dan video transcribing berjalan secara otomatis. Namun end-to-end encryption Zoom juga ternyata tidak berjalan sempurna, sehingga rawan penyadapan. Fitur attendee attention tracking tool memberi alert kepada organizer meeting mengenai perilaku peserta yang membuka browser lain ketika meeting berlangsung. Ini membuat privasi pengguna agak terusik. Internet trolls juga dikenal mentarget Zoom calls, kelas-kelas daring, dan ibadat-ibadat gereja dengan cara melakukan “zoombombering.” Didirikan oleh para insinyur teknologi asal negara China ternyata memperkeruh suasana selama era pandemi ini, mengingat...

Krisis dan Skandal Boeing 737

The Boeing Company didirikan pada tahun 1916 oleh William Boeing. Pada awalnya, nama yang dipakai adalah Aero Products Company yang memproduksi seaplane dengan satu mesin untuk armada U.S. Navy dalam Perang Dunia Pertama. Di tahun 1958, penerbangan komersial dengan penumpang manusia diluncurkan oleh maskapai Pan American (PanAm) dengan rute transatlantik. Pesawat yang digunakan adalah Boeing 707 yang ternyata hits dengan publik. Lebih dari 100 tahun, Boeing telah berhasil mengukir prestasi dipercaya sebagai perusahaan manufaktur pesawat udara penumpang berukuran besar. Sampai artikel ini ditulis, Boeing dan kompetitornya Airbus menguasai 99 persen pasar pesawat besar global. Airbus sendiri dimulai pada tahun 1967 atas kerja sama antara Jerman, Perancis, dan Inggris yang saling bersetuju bahwa sinergi di bidang aviasi akan meningkatkan interes teknologi dan pertumbuhan ekonomi di Eropa. Jadilah Airbus A300B ditargetkan sebagai pesawat jarak pendek dan menengah. Oktober 1972 ditandai dengan penerbangan pertamanya. Pada tahun 2018, pangsa pasar terbagi 50-50 antara Boeing dan Airbus. Pada tahun yang sama, Boeing mendeliver 806 pesawat dan Airbust 800. Saham keduanya outperform S&P 500 dalam 10 tahun terakhir. Dibalik nama besar Boeing, kepercayaan akan keamanan dan keselamatan penumpang telah terkikis sejak dua tahun lalu. Ada krisis apa sebenarnya di Boeing? Ini diawali dengan Lion Air yang berangkat dari Soekarno-Hatta Jakarta ke Pangkal Pinang jatuh di Laut Jawa pada tanggal 29 Oktober 2018. Ethiopian Airlines yang take off pada tanggal 10 Maret 2019 juga jatuh tidak lama kemudian. Total korban jiwa 346 dalam selang waktu 5 bulan. Kedua kecelakaan tersebut menggunakan pesawat Boeing 737 MAX yang masih tergolong baru. Jadilah FAA (Federal Aviation Administration) melakukan grounding terhadap 500 pesawat MAX 3 hari setelah kecelakaan kedua. Kini sekitar 800 Boeing 737 MAX milik berbagai maskapai dunia diparkir di hanggar bandara sebelum diizinkan terbang kembali dengan revisi. Benang merah kedua kecelakaan udara tersebut adalah kegagalan sistem MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) pada pesawat. Bahkan para pilot yang telah terbiasa membawa Boeing 737 versi lama tidak menyadari beberapa fitur baru yang memang tidak pernah disebut-sebut. Selain itu, terdapat beberapa unsur lain. Pertama, pergeseran kultur perusahaan yang dulunya mengutamakan keamanan penumpang ke mencetak profit sebesar-besarnya demi memuaskan Wall Street yang mendewakan dividend per share. Harga saham yang meningkat terus dalam 10 tahun terakhir merupakan pemicu semangat keserakahan yang tidak menempatkan keselamatan dan keamanan penumpang di tempat teratas. Ini disimbolkan dengan perpindahan kantor pusat dari Seattle ke Chicago. Di Seattle, kantor pusat bergabung dengan pabrik manufaktur,...

Crocs, Sandal Plastik Satu Miliar Dollar

Siapa yang tidak kenal sandal plastik warna-warni Crocs (Nasdaq: CROX) yang banyak menghiasi mal-mal kota-kota kosmopolitan? Digemari tua dan muda dari berbagai kalangan, Crocs merupakan alas kaki kerja, bermain, dan berbagai aktivitas kasual. Bahkan kini memasuki pentas fashion bergengsi dunia. Didirikan di Niwot, Colorado pada tahun 2002 oleh Scott Seamans, George Boedecker, Jr., dan Lyndon Hanson, Crocs yang berlogo buaya tersenyum ini diawali dengan produk sandal foam dan sandal untuk berperahu. Terbuat dari bahan closed-cell foam resin dengan model yang lebar sehingga super nyaman dikenakan, telah menjual lebih dari 300 juta pasang. Hebatnya, terlepas dari gayanya yang sederhana, cenderung “rada bloon” dan apa adanya, ada unsur-unsur jenius yang patut kita teladani. Satu, fashion statement penting bagi pecinta. Setiap produk unggulan punya pro dan kontra yang sangat kontras. Crocs merepresentasi individualitas di atas konformitas dan personalisasi di atas generik. Beberapa generasi telah menikmati keunikan produk-produk Crocs dari kakek-nenek Generasi Baby Boomer yang memakainya untuk berkebun hingga generasi cicit Generasi Z yang memakainya sebagai fashion statement. Para haters yang “benci” akan desain “buruk rupa” ternyata malah mendongkrak merek berlogo buaya ini. Di media-media sosial, dapat dijumpai para lovers dan haters yang bisa jadi sama banyaknya. Publisitas baik maupun buruk tetaplah publisitas. Dan ini bagi Crocs merupakan statement penting akan kekuatan merek mereka. Dua, keberanian restrukturisasi. Pada tahun 2007, Crocs mencapai puncak tertinggi dalam popularitas. Ia telah menggurita dengan berbagai kanal distribusi dan lini produk yang luar biasa banyaknya yaitu mencakup 5000 SKU. Lantas, ketika Great Recession melanda pada tahun 2008, jadilah inventaris yang berlebihan menjadi beban. Siapa lagi yang perduli akan fashion dan membuat statement individualitas di kala pekerjaan dan tabungan kandas? Pada tahun 2008 itu juga, Crocs merugi USD 185 juta. Sahamnya pun turun drastis hingga USD 1 saja. Kerajaan “Buaya” ini pun menanggung kebanjiran inventaris berlebih selama 2 tahun yang perlu segera mereka “singkirkan.” Delapan puluh persen toko retail Crocs di mancanegara yang underperforming pun ditutup untuk selamanya. Keberanian restrukturisasi menandakan change management yang mulai bergigi dan ini ternyata membuahkan hasil positif di masa depan. Tiga, refokus kembali ke desain dan kenyamanan pemakai. Sandal Crocs bertipe clog, seperti sandal tradisional Belanda yang terbuat dari kayu merupakan desain tradisional yang dikemas secara modern dengan bahan closed-cell foam resin bernama Croslite. Bahan ini mirip plastik namun mempunyai pori-pori sehingga nyaman dipakai untuk be...

Peloton, AWS dan Model Bisnis Pandemi

Pasar fitness di AS sebesar USD 28 miliar. Pemain utamanya adalah klab-klab fitness dan home gym konvensional. Kini, dengan maraknya The IoT (Internet of Things), Peloton menawarkan sesuatu yang berbeda. Produk ini adalah gabungan antara hardware yang berbentuk sepeda statis atau treadmill dengan software dan konten customized. Sedangkan cloud computing mereka dimotori oleh AWS yang dikenal dengan punya bandwith dan kapasitas hampir tak terbatas. Mereka menyebut diri sebagai FaaS (fitness-as-a-service). Bandingkan dengan SaaS (software-as-a-service). Produk smart exercise ini mengandalkan AWS (Amazon Web Services) dalam skalabilitasnya. Uniknya, bisnis model FaaS (fitness-as-a-service) ini merupakan jawaban untuk berolah raga di era 4.0 dan pandemi Covid-19. Jadi bisa dipastikan staying power-nya bakal lama. Sejak IPO-nya di tahun 2019 dengan valuasi awal USD 8 miliar, harga saham Peloton telah melonjak 50 persen berdasarkan data earning Q2. Retention rate para Connected Fitness Subscribers mereka mencapai 95 persen dan monthly churn rate hanya 0,65 persen. Koneksi Internet memungkinkan berbagai jenis latihan dijalankan secara virtual independen maupun dalam kelas dengan instruktur terlatih. Hingga akhir tahun lalu, keanggotaannya mencapai 1,4 juta orang. Apa saja strategi bisnis Peleton yang bisa dijadikan benchmark? Satu, membangun imaji hubungan dekat dengan para atlit profesional dan instruktur selebriti via virtual relationship. Kebersamaan ini merupakan sumber motivasi dan inspirasi yang membangun loyalitas konsumen. Bahkan selebriti papan atas seperti Hugh “Wolverine” Jackman dikenal sebagai pemakai setia. Virtual relationship yang dapat dibangun merupakan daya tarik tersendiri yang tidak didapatkan di tempat lain. Dua, revenue model dengan penjualan hardware dan aksesoris, serta subscription bulanan. Harga perangkat berkisar antara USD 2000an hingga USD 4000an per unit. Biaya keanggotaan dimulai per bulan dari USD 13. Secara terpisah, mereka juga menawarkan berbagai aksesoris dan perlengkapan berolah raga serta aparel dan sepatu. Kelas-kelas Peloton yang dapat diambil tidak terbatas bersepeda dan berlari di treadmil saja, namun termasuk strength training, yoga, meditasi, kardio, dan bootcamp. Tiga, konten super eksklusif yang dikerjakan sendiri oleh Peloton Film Studio menelurkan lebih dari 950 program original per bulan. Teknologi terkini dan produser pemenang Emmy Award merupakan penggerak pengisian konten. Peloton sendiri memandang streaming workout live dan on-demand ini sebagai servis utama yang mereka jual. Sedangkan perangkat kerasnya hanyalah kanal distribusi konten. Menarik bukan model bisnisnya? Disruptif betul. Empat, kerja sama erat dengan AWS untuk leaderboard on-demand dan live yang low latency dan elastis. A...

Iklan Purpose-Driven

Pandemi Covid-19 telah mengubah bagaimana kita menjalankan hidup dan bisnis sehari-hari. “New normal” istilahnya. Bagi dunia periklanan, ini sebenarnya membuka lembaran-lembaran baru yang memang tidak terpikirkan di masa pra-pandemi. Penjualan ritel global diperkirakan merugi USD 2,1 trilyun sepanjang pandemi 2020. Kerugian Google dan Facebook divisi advertising mencapai USD 44 miliar. Belanja iklan di Eropa menurut 10 hingga 15 persen. Sedangkan di AS, belanja iklan menurun 17 persen. Padahal, industri periklanan sendiri termasuk salah satu yang paling inovatif dan kreatif. Dengan dua hal ini, agensi-agensi semestinya masih dapat bertahan namun persaingan sangat ketat. Masa pandemi malah merupakan sumber inspirasi iklan-iklan purpose-driven alias “didorong oleh kebutuhan.” Tak perlu diragukan lagi bahwa yang tiga hal terpenting di era terkini ini adalah: kesehatan, kebersihan, dan portabilitas. Kesehatan jelas bermakna bebas dari virus Covid-19. Sedangkan kebersihan sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang steril dan bebas dari kuman apapun. Sedangkan portabilitas merupakan fleksibilitas sebagai desain dan pola pikir yang mendasari berbagai aktivitas dan keputusan. Sebagai contoh, tema-tema iklan berbagai merek mulai memasukkan kondisi pandemi. Misalnya, m-banking BCA menggunakan tema ini untuk memperkenalkan “belanja tanpa sentuh.” Misalnya, kebutuhan konsumen akan sterilisasi memberi kesempatan bagi merek-merek untuk menggunakan tempat cuci tangan portabel dan bilik sanitizer sebagai papan billboard iklan dengan impresi besar. Berbagai bentuk sinergi antara fungsi dan tujuan kesehatan, kebersihan, dan portabilitas bisa dijadikan kerangka berpikir multiguna. Fakta bahwa social distancing dan WFH (work from home) alias semi lockdown telah mengubah gaya berbelanja jelas tidak terhindarkan. Ini juga menurunkan belanja iklan baik yang konvensional maupun yang digital. Menarik bukan? Belanja iklan online ternyata juga mengalami penurunan padahal penggunaan sosmed meningkat pesat di masa pandemi. Menurut riset Smartly.io di AS, penggunaan sosmed meningkat namun interaksi dengan iklan online menurun disebabkan oleh kebutuhan berhubungan sosial yang meningkat selama masa-masa sulit. Namun konsumen di negara-negara lockdown sepenuhnya lebih reseptif terhadap iklan online. Sumber yang sama juga menunjukkan bahwa konsumen lebih menyukai kampanye-kampanye pemasaran yang mengedukasi daripada semata-mata “menjual.” Topik edukasi tidak perlu berhubungan langsung dengan Covid-19 dan pandemi, namun bagaimana produk dan bisnis yang dimaksud dapat mempermudah hidup mereka. Iklan penuh makna alias “purpose driven” yang diharapkan oleh konsumen di masa dan pasca pandemi tampaknya semakin “matang.” Sebagaimana digitalisasi, konsumsi media juga semakin di...

Ide Bisnis Era New Normal

Mungkin Anda atau seseorang yang Anda kenal kena PHK akibat pandemi atau baru lulus dari universitas. Mencari pekerjaan bisa jadi merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk sementara waktu ini. Sedangkan modal yang dimiliki terbatas. Berikut ini adalah 10 ide bisnis yang dapat langsung diterapkan dengan kapital awal minimal. 1. Membantu proses belajar-mengajar. Learn-from-home cukup banyak membuat repot para orang tua dari anak-anak usia sekolah. Para guru privat independen semakin dibutuhkan agar beban mengajar orang tua dapat terbantu. Dijalankan secara profesional, tutorial privat akan dibutuhkan pasar dalam jangka panjang. 2. Membantu bisnis-bisnis online baru. Baik startup ataupun solo entrepreneur, termasuk para online influencer dan wannabe sangat membutuhkan eksekusi rencana-rencana bisnis yang rapi dan dapat diandalkan. Dari aktivitas pemasaran hingga produksi, Anda sebagai eksekutor jelas sangat membantu derap bisnis. 3. Membantu para profesional dan artis independen mendapatkan bisnis baru. Era pandemi ini jelas membuat banyak pekerja independen alias freelancer kehilangan bisnis. Padahal, banyak event hanya berubah skala dan penyajian dengan protokol-protokol new normal. Tawarkan jasa Anda kepada mereka untuk membantu menggolkan bisnis-bisnis baru. 4. Membantu mereka yang terkena masalah finansial. Memulai bisnis baru, mencarikan pekerjaan baru yang remote, dan membantu manajemen kredit macet bisa dijalankan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama sambil mendapatkan bayaran. Di AS, konselor kredit macet bagi para debitor telah menjadi bagian dari masyarakat yang cukup populer. 5. Membantu bisnis yang berfokus pada keramaian. Industri pariwisata, perhotelan, restoran, dan EO, misalnya, sangat membutuhkan keramaian sebagai lead generation. Di era pandemi ini, jelas omzet mereka menurun drastis, bisa mencapai 90 persen. Berbagai bentuk bantuan peningkatan omzet sangat dibutuhkan, termasuk marketing dan cold calling. 6. Membantu para pasien dan konsumen dalam berolah tubuh dan tetap sehat. Kesehatan sangat tinggi nilainya, apalagi di era pandemi ini. Membantu mereka yang sedang mengalami sakit maupun yang sehat agar semakin sehat dapat dalam berbagai bentuk dan penyampaian. Anda bisa tawarkan dari produk-produk alami yang membantu imunitas tubuh sampai aktivitas berolah raga mandiri di rumah. 7. Memberi solusi bisnis untuk “go online” secara optimal. Tidak semua pebisnis mampu menciptakan sendiri situs dan konten berbentuk teks, gambar, audio, dan video. Padahal semua ini sangat penting dan perlu dikerjakan secara profesional. Digitalisasi dan “going online” membutuhkan sentuhan-sentuhan profesional editing dan penulisan yang b...

Delapan Startup Impactful

Kita sudah mengenal berbagai startup berbasis aplikasi yang sebenarnya hanyalah konsolidator, seperti operator ojek online, chatting dengan dokter, dan dompet online. Memang mereka sangat memudahkan hidup di era Revolusi Industri 4.0 ini, namun masih banyak startup impakful yang berpotensi mengubah kualitas hidup orang banyak. Kita bahas beberapa yang berbasis di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Singapura, Filipina, dan Kambodia. 1. Di tanah air, kita kenal Baran Energy dengan founder dan CEO Victor Wirawan. Baran adalah startup baterai listrik tenaga surya yang dapat digunakan untuk rumah dan mobil listrik. Teknologi penyimpanan energi surya ini memungkinkan pengguna swadaya listrik tanpa perlu mengandalkan PLN. Solar panel digunakan untuk “menangkap” energi surya sebelum dialirkan ke baterai penampungan. Produk mereka termasuk PowerWall berkapasitas 8,8 KWh, PowerPack 126 KWh, dan PowerCube 1,2 MWh. 2. EcoWorth Tech di Singapura dipimpin oleh CEO Andre Stolz. Mereka memproduksi karbon fiber aerogel yang merupakan serat penyerap berbagai elemen organik di alam. Spons ini dirancang untuk menyerap oli, minyak, lemak, dan cat. Namun tidak menyerap air. Salah satu fungsinya adalah untuk membersihkan tumpahan minyak di laut lepas. 3. ATEC Biodigesters International di Kambodia adalah startup yang memperkenalkan teknologi biodigester untuk memproses sampah pertanian menjadi biogas bebas untuk memasak dan pupuk organik yang sehat bagi tanah. Para petani pengguna teknologi ini dapat menggunakan Pay As You Go (PayGo) model dalam membayar setiap penggunaan. Jadilah produk ini selain ramah lingkungan, juga ramah finansial bagi para petani. 4. Dengan mempertimbangkan lebih dari 40 persen penduduk dunia bisa menjadi sasaran nyamuk penyebab demam berdarah (dengue fever), startup Orinno Technology yang didirikan oleh co-founder David Du dan rekannya ini terpanggil untuk memberikan solusi nyata. Dengan bantuan dari Singapore National Environment Agency, Mosquito Production Facility berhasil menternakkan nyamuk-nyamuk jantan yang diinjeksi dengan bakteria bernama Wolbachia. Nyamuk-nyamuk jantan ini disebarkan di ekosistem untuk mengawini nyamuk-nyamuk betina. Telur-telur yang dihasilkan tidak dapat menetas sehingga nyamuk berkurang dan menghilang. Teknik ini sebenarnya sudah lama dikenal, namun selama ini sulit diaplikasikan karena menyeleksi jenis kelamin nyamuk sangat memakan sumber daya. Namun Orinno punya teknologi yang memisahkan larva berdasarkan jenis kelamin mereka. 5. Roceso Technologies di Singapura dipimpin oleh CEO dan co-founder Jane Wang. Startup ini memproduksi sarung tangan robotik lembut untuk para konsumen yang punya kelainan syaraf tangan, seperti akibat dari stroke, kecelakaan dan sebagainya. 6. RAD...

Zilingo Unicorn baru Singapura

Di Singapura telah ada beberapa unicorn pemain lama yaitu Grab, Trax, Lazada, Razer, dan Sea. Di awal tahun 2020 ini, ada satu lagi calon unicorn yang berbasis di Singapura telah bervaluasi mendekati USD 1 miliar, yaitu USD 970 juta. Namanya Zilingo. Didirikan di tahun 2015 oleh Ankiti Bose dan Dhruv Kapoor, Zilingo melayani pasar Indonesia, Hong Kong, Thailand, Filipina, India, Australia, dan AS. Dengan lebih dari 7 juta pengguna, 800 pegawai dan 50.000 mitra, startup ini mempertemukan manufaktur, retailer, distributor, dan merek-merek fashion dalam satu mata rantai perdagangan fashion yang terbuka. Pasar fashion UKM Asia Tenggara sendiri mencapai USD 23 miliar di tahun 2018 dan diprediksi akan mencapai USD 100 miliar di tahun 2025. Angka ini dihitung sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Zilingo Shopping mempertemukan merek dengan konsumen langsung. Zilingo Trade mempertemukan penjual grosir ke pemilik bisnis fashion. Platform Zilingo sendiri memungkinkan pemain bisnis untuk membuka toko di sana secara gratis. Jadi, ia lebih dari sekedar marketplace. Kedua founder bekerja di Sequoia Capital sebagai investment analyst di India, sebelum mereka memutuskan untuk mendirikan Zilingo yang berbasis di Singapura. Ankiti mendapat ilham untuk mempertemukan produsen hingga pemakai fashion setelah mengunjungi pasar raksasa Chatuchak di Thailand. Para pedagang di Chatuchak yang terdiri dari lebih dari 10.000 toko dan desainer fashion tersebut mempunyai keterbatasan dalam “go online” karena mereka tidak memahami proses transfer dari offline ke online. Jadilah Ankiti melihat peluang yang dapat digarap dengan serius. Dengan valuasi mendekati USD 1 miliar, bisa jadi Zilingo malah telah memegang posisi unicorn pada saat ini. Uniknya, sebagai seorang CEO perempuan, Ankiti mengutamakan kultur yang tidak mengglamorkan status unicorn ini. Dari 239 startup dengan valuasi unicorn, hanya 23 orang yang ber-CEO perempuan. Ia tidak ingin Zilingo menjadi “unicorn takabur” dengan lebih besar egonya daripada peningkatan revenuenya. Ankiti sebagai co-founder dan CEO sebuah unicorn teknologi merupakan representasi penting bagi kaum perempuan yang masih sangat minim di dunia startup teknologi. Tampaknya, mereka sadar betul akan “godaan besar setelah menjadi unicorn” seperti WeWork dan Juul Labs. Profitability jangka panjang Zilingo jauh lebih penting daripada “gelar” unicorn. Kultur korporasi rendah hati dan bekerja dengan determinasi tinggi ini sangat patut ditiru. Model bisnis Zilingo sendiri sangat unik, karena ia lebih dari sekedar marketplace B2C dan B2B. Mereka memberi kesempatan bagi UKM fashion mikro dengan jasa distribusi, kataloging, dan peminjaman modal. Platform mereka juga mencakup manajemen stok barang dan tracking penjualan. Jadilah kini mereka juga mengembangkan software dan instrumen-i...

Kita harus bisa lebih Impakful Pasca Pandemi

Era pandemi dan setelahnya merupakan masa baru peradaban manusia. Berbagai teknologi yang dianggap terlalu maju untuk zamannya akan segera menjadi bagian dari arus tengah. Tahukah Anda bahwa mobil listrik ala mobil Tesla(tm) telah diciptakan oleh almarhum Nikola Tesla pada tahun 1886? Masih banyak lagi penemuan-penemuan insan jenius ini yang dicatat dengan rapi di situs MIT (http://web.mit.edu/most/Public/Tesla1/etradict2.htm). Seandainya saja JP Morgan saat itu memberikan kredit bagi Tesla untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga frekuensi tinggi, bisa saja kita telah lama menikmati peradaban manusia tanpa minyak bumi. Lobi-lobi kapitalis pro-bensin inilah yang menyebabkan energi minyak bumi masih digunakan hingga kini. Berbagai sengketa dan perang telah banyak disebabkan oleh perebutan sumber minyak. Nah, pandemi Covid-19 ini merupakan lonceng pembangun kita dari tidur pulas. Jangan menunggu 140 tahun lagi untuk mengoptimasikan penggunaan teknologi-teknologi yang telah ada demi kemaslahatan semua insan. Peradaban berbasis minyak bumi sudah lama mestinya kita tinggalkan karena kekuatan cahaya, udara, dan frekuensi suara sendiri merupakan sumber daya terbarukan yang tidak akan pernah habis. Nikola Tesla pernah berkata bahwa segala sesuatu mempunyai vibrasi dan frekuensi. Berpikirlah dengan dasar tersebut. Tentu saja yang mampu menerapkan teknologi ala Tesla hanyalah mereka yang memiliki akses teknologi dan SDM yang dibutuhkan kepakarannya, namun semangat berinovasi dengan memperhatikan unsur-unsur alam dan kebutuhan manusia sangat bisa kita terapkan bersama. Sebagai contoh, beberapa startup di bawah memberi solusi bagi bumi dan penghuninya pasca pandemi. Tidaklah kita perlu terikat oleh belenggu-belenggu mindset berbasis “minyak bumi” lagi. Kekuatan Internet dan bioteknologi merupakan paradigma “ala Tesla” yang tidak terbelenggu oleh kabel, minyak bumi, dan tanah tempat bertumbuh. Berpikirlah dalam lingkup tersebut karena jauh lebih relevan dibandingkan satu abad lampau. Perubahan perilaku konsumen yang kini lebih banyak berdiam di rumah untuk bekerja, belajar, bermain, dan berbelanja merupakan sumber ide bisnis yang tiada habis-habisnya. Dan ini jelas akan semakin meningkatkan teknologi non-bensin yang menyelamatkan ekologi bumi di masa depan. Era pasca pandemi adalah era bisnis-bisnis impakful yang menyelamatkan peradaban manusia dari keborosan energi minyak dan keterpulasan akan berbagai bentuk keborosan. Byju berbasis di India, misalnya, adalah aplikasi pembelajaran online yang memberi solusi bagi sekolah-sekolah dari tingkat SD hingga SMA dengan platform LMS (learning management system). Di bulan Maret dan April 2020, ketika pandemi Covid-19 masih masa awal lockdown nan panik...

Dunning-Kruger Effect (DKE)

Pernahkah Anda menjumpai seseorang yang inkompeten tapi kok percaya diri banget? Mirip dengan “tong kosong nyaring bunyinya” namun tidak semua orang inkompeten nyaring lho. Karena ada juga yang hanya merasa PD saja. Nah, mereka ini disebut memiliki Dunning-Kruger Effect (DKE), yaitu mempunyai ilusi tentang superioritas mereka. Mungkin mereka tidak punya maksud untuk jadi overkonfiden apalagi sombong. Mereka hanya memiliki keterbatasan dalam menilai kemampuan diri sendiri saja. Dalam wawancara-wawancara proses rekrutmen, DKE ini cukup “membahayakan” karena tidak hanya si pewawancara saja yang bakal kecewa akan timpangnya kemampuan si diwawancara. Semua stakeholder pada akhirnya akan sangat kecewa akan performance kandidat setelah diterima bekerja. Pada level pengambilan keputusan, DKE ini malah membahayakan arah strategi bisnis, karena efek ini juga dimiliki oleh mereka yang telah berposisi tinggi namun punya keterbatasan dalam memahami hal-hal tertentu. Ini sebenarnya merupakan fenomena umum karena studi menunjukkan lebih dari 88 persen individu mempunyai kecenderungan untuk overestimasi kemampuan diri sendiri. Yang mencengangkan, mereka yang mempunyai kemampuan rendah biasanya termasuk yang sangat overestimasi. Dengan kata lain, mereka yang “kurang punya kemampuan merasa diri super.” Bahkan, tidak jarang yang tidak mampu merasa diri sebagai “pakar.” Siapa yang paling rentan akan delusi ini? Ternyata kita semua tanpa kecuali, karena tidak ada orang yang serba bisa alias bisa segalanya. Kok bisa? Periset Dunning dan Kruger menemukan fakta bahwa mereka yang punya skill di bawah rata-rata ternyata tidak punya cukup skill untuk mendeteksi kekurangan mereka dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Dengan kata lain, mereka tidak tahu bahwa mereka tidak mampu dan punya banyak hal yang mereka tidak tahu. Sebaliknya, mereka yang punya kemampuan rata-rata dan cukup baik, biasanya tahu betul kekurangan mereka karena mereka punya cukup skill untuk mendeteksinya. Lantas, bagaimana caranya untuk obyektif akan kemampuan diri sendiri dan orang lain? Pertama, pastikan untuk mendapatkan feedback akan apa yang dapat Anda perbaiki. Tidak jarang seseorang mengharapkan input dari orang lain namun malah menyebabkan pertikaian jika masukannya kurang enak didengar. Belajarlah untuk menghargai setiap masukan sebagai sesuatu yang positif. Apabila penyampaiannya negatif, lakukan reframing pikiran agar negatifitas dapat berubah menjadi positif. Kedua, terus tingkatkan kemampuan di bidang tersebut, karena mereka yang mempunyai skill sedikit di atas rata-rata atau lebih biasanya punya kemampuan observasi diri cukup. Observasi cukup ini penting agar dapat belajar baik untuk mencapai kemampuan lebih mumpuni. Belajar untuk lebih obyektif akan kemampuan ...