•  

    Jln Walter Monginsidi No 15 Yogyakarta

Bertahan di Era Pandemi

Pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia. Ini berarti sangat banyak bisnis yang kena imbasnya. Dan ini bukan perkara gampang. Ketika semua orang berdiam di rumah agar tidak terkena penularan, maka bisa dipastikan bisnis yang berbasis fisik akan sangat sepi. Bisnis online dan berbasis aplikasi masih dapat diandalkan, sepanjang kurir dan ojol masih dapat berkeliaran. Bagi bisnis-bisnis yang belum masuk ke ranah online dan aplikasi, kini sudah merupakan keharusan. Biasakan untuk segala sesuatunya dijalankan secara virtual. Kebiasaan-kebiasaan perlu diubah secepatnya. Namun jelas ini punya keterbatasan akan jenis pekerjaan dan tugas-tugas yang dapat dijalankan dengan komputer dan telpon. Bagi bisnis-bisnis yang berbasis aktivitas dan tidak bisa diwakilkan secara virtual, apa daya? Kita bisa belajar dari General Motors (GM) yang telah mengubah pabrik manufaktur mereka dari produsen otomobil menjadi produsen ventilator dan respirator (alat-alat pernafasan). Jelas ini sangat memungkinkan, mengingat mesin-mesinnya dapat dialihfungsikan. Sinar Mas Group, misalnya, kini sedang memfokuskan diri pada produksi maskter, sehingga Indonesia tidak lagi tergantung pada impor. Di Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo menggalakkan produksi APD (alat pelindung diri) untuk digunakan oleh para dokter dan paramedis. Bagaimana dengan bisnis Anda? Pertimbangkan beberapa hal. Satu, pastikan lakukan pemangkasan pengeluaran dalam bentuk cash. Bisa dimengerti apabila penghematan ini juga membawa akibat terhadap penurunan produktivitas. PHK sedapat mungkin diminimalisir dengan menurunkan jam kerja, apabila dimungkinkan. Yang jelas, berbagai bentuk penghematan perlu dilakukan sementara. Dua, gunakan instrumen-instrumen online sedapat mungkin. ...

Tingkatkan Produktivitas dengan Work from Home

Wabah Covid-19 telah mengubah paradigma berpikir kita, minimal mengenai konektivitas, produktivitas, dan ketersediaan instrumen untuk bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Jika dulu kita mungkin mengira bahwa WFH bukanlah suatu opsi menarik karena produktivitas bisa saja menurun, ternyata sekarang sebaliknya. Dengan WFH, seseorang telah menghemat waktu, biaya, dan energi untuk bolak-balik dari rumah ke tempat kerja. Padahal mayoritas aktivitas dapat dijalankan secara online. Dulu, dalih utama bekerja dari kantor adalah untuk mempermudah meeting dan pertemuan-pertemuan dengan kolega dan klien yang membangun konektivitas dan produktivitas. Sekarang, dalih utamanya adalah faktor kesehatan dengan social distancing dan opsi yang tidak kalah penting untuk produktivitas. Secara virtual, manajemen proyek semestinya tetap dapat dijalankan dengan efisien, mengingat berbagai instrumen online kini sangat memungkinkan untuk melihat dalam seketika berbagai aktivitas anggota tim sekaligus. Jadi, paradigm shift dari fokus offline ke fokus online sebenarnya merupakan hal yang sangat baik. Beberapa aplikasi online yang sangat membantu kerja tim virtual termasuk: Trello, ClickUp,Wrike, dan Asana. Project.co mempunyai fitur yang juga menggabungkan antara tim dengan klien, jadi tidak perlu update ke klien. Semua bisa transparan terbaca. Data di AS oleh Hubspot menunjukkan sebenarnya bekerja dari kantor mencakup 28 persen distraksi dan 13 jam dalam seminggu dihabiskan hanya untuk menjawab email baik yang berhubungan dengan pekerjaan maupun tidak. Jadilah WFH merupakan opsi yang sangat patut dipertimbangkan. Tentu dengan asumsi lingkungan rumah memungkinkan. Beberapa tip penting WFH yang produktif. Satu, tentukan tempat kerja yang tetap.Idealnya, ini adalah meja kerja dengan kursi memadai dengan senderan yang relatif ergonomis. Suasana kerja juga sebaiknya tanpa suara-suara mengganggu di latar belakang, seperti suara televisi atau orang mondar-mandir dan suara-suara lainnya. ...

Yang Bertahan Super Lama

Dunia semakin tidak stabil, baik secara lahiriah maupun finansial. Ancaman resesi selalu ada, baik karena masalah moneter maupun bencana, yang dari alam maupun buatan manusia. Mereka yang bekerja di kantor, ancaman PHK selalu mengintai. Sedangkan para pemilik bisnis juga terkadang tidak merasa aman karena kondisi ekonomi yang naik turun sangat mempengaruhi transaksi. Dengan kata lain, kita hidup di era yang semakin tidak menentu. Era “gonjang ganjing.” Untuk itu, kita sangat membutuhkan informasi mengenai “kelanggengan” sehingga ada sedikit pegangan untuk men-hedge masa depan. Sebenarnya, ada tidak sih perusahaan yang bertahan super lama sehingga dapat memberi rasa aman bagi pekerja, pemilik bisnis, dan para stakeholder? Jawabannya tentu saja ada. Namun semua itu relatif. Ada beberapa perusahaan yang bertahan sangat lama sehingga bisa disebut sebagai “bisnis super,” seperti GE, Disney, Boeing, Johnson & Johnson, dan sebagainya. Dalam buku berjudul Made to Last, para penulis Jim Collins dan Jerry Porras mengungkapkan bahawa bisnis-bisnis yang bisa bertahan super lama ternyata mampu mematahkan mitos-mitos berikut. Satu, mitos membutuhkan ide jenius untuk membangun perusahaan raksasa.Tidak selalu ide jenius menghasilkan omzet luar biasa. Sering kali, ide-ide biasa saja yang memberi solusi akan suatu kebutuhanlah yang mantap dijalankan. Bahkan ada juga produk-produk gagal seperti Post-It-nya 3M merupakan suatu contoh menarik. “Kegagalan” yang fungsional ini ternyata mempunyai pasar tersendiri. Ciamik bukan? Dua, mitos membutuhkan seorang pemimpin karismatik.Pemimpin karismatik memberi peluang untuk pengkultusan individu. Padahal ini bisa jadi berbahaya untuk kelangsungan bisnis secara jangka panjang. ...

Ekonomi Bertujuan Transendental

Pandemi Covid-19 merupakan alarm wakeup call bagi semua umat manusia. Alam sudah terlalu banyak dieksploitasi sehingga kerusakan planet telah cukup parah, maka terjadilah bentuk bencana alam, termasuk pandemi. Kapitalisme murni merupakan sistem yang tidak lagi relevan. Perlu diimbangi dengan kesadaran tinggi akan sesuatu yang lebih besar, yaitu purpose alias tujuan yang transendental. Tujuan suatu organisasi, termasuk yang bersifat mencari keuntungan seperti bisnis, sering kali mengabaikan “tujuan transendental”-nya, karena lebih mengejar omzet. Pada intinya, setiap stakeholder adalah manusia dan kita memiliki sisi spiritual. Bukan dalam arti relijius-agamis, namun manusia sebagai satu keutuhan holistik, bukan dipisah-pisahkan antara kebutuhan materi, mental, dan spiritualnya. Dalam buku groundbreaking The Economics of Higher Purpose yang ditulis oleh Robert E. Quinn dan Anjan Thakor, mereka punya premis bahwa setiap bisnis telah memiliki fungsi otentik inheren tanpa perlu diciptakan kembali. Inilah fungsi transendental. Kuncinya adalah bagaimana menggali kemampuan setiap individu yang terlibat secara otentik dan menjalankan setiap aktivitas bisnis dengan mengutamakan pemeliharaan Planet Bumi, kasih kemanusiaan, dan etika. Keuntungan pasti akan mengikutinya. Jadi, dalam bisnis bertujuan yang transedental, setiap pegawai dipandang sebagai satu kesatuan, bukan hanya dua belah tangan yang digunakan untuk menjual produk. Mereka mempunyai harapan, kelebihan, dan kekuatan tersendiri yang mestinya dapat disintesa dengan tujuan perusahaan. Dalam suatu wilayah, sintesa bisa menjadi lebih luas dan solid. Jika bisnis Anda masih belum mempunyai tujuan yang jelas, mulai rancang. Setiap organisasi yang mempunyai tujuan transendental yang jelas, ia akan mempunyai “jiwa” yang menjadi payung bagi kultur di dalamnya. Satu, para manajer adalah konektor komunikator.Dengan kesadaran bahwa setiap individu mempunyai ...

Mindset Traksi

    MeetBaru   Mulai rapat     Gabung ke rapat   Chat     ...

Mencari Keseimbangan di Era Pandemi

Di era pandemi Covid-19 ini, tingkat stres dan kecemasan semakin tinggi. Walaupun sudah work from home, setiap hal kecil menjadi termagnifikasi. Self-talk alias “berbicara dengan diri sendiri” semakin umum, apalagi ketika memang hanya sedang sendirian bekerja dari rumah. Tentu ini hal wajar dan tidak perlu dikhawatirkan karena kesehatan mental aja tetap prima. Namun, ketika kita berbicara dengan diri sendiri, sebenarnya kita sedang menanamkan imprint ke dalam bawah sadar. Bagi mereka yang relijius, mungkin begini, “Ucapan adalah doa.” Bagi para neurosains, kita memprogram alam bawah sadar dengan pikiran yang terucap dalam bentuk kata-kata (neuro linguistic). Neurosaintis dari University of North Carolina at Chapel Hill Dr. Barbara Fredrickson menekankan pentingnya untuk selalu berpikir, berucap, dan berbuat positif sebanyak mungkin setiap saat. Karena satu hal negatif membutuhkan tiga kali positivitas untuk menetralisirnya. Di era tidak menentu seperti sekarang ini, tentu self-talk positif sangat membantu. Self-talk negatif, seperti mengata-ngatai diri sendiri “tidak berguna,” “dasar bodoh” dan “saya tidak bisa apa-apa” tentu sangat merugikan karena dapat memprogram alam bawah sadar kita untuk percaya akan hal-hal tersebut padahal belum tentu benar. Self-talk negatif tentu sangat tidak menguntungkan sama sekali. Ketika lingkungan eksternal negatif, seperti di era pandemi atau resesi ekonomi, idealnya Anda tetap berpikir positif dan memberi semangat bagi diri sendiri. “Saya pasti bisa” dan “saya terberkati” adalah contohnya. Pada intinya, segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Semua berbentuk roda dan siklus yang terus berputar. Ada kalanya siklus itu negatif, namun sering kali positif. Ketika kondisi positif, tetap berpikir positif. Ketika kondisi negatif, lebih penting lagi un...

Setiap Individu adalah Penjual

Mungkin Anda termasuk mereka yang punya mindset bahwa “saya tidak pandai menjual,” padahal faktanya sejak lahir kita telah “menjual.” Menjual di sini tidak selalu merupakan transaksi jual-beli. Bisa saja mengutarakan suatu ide atau informasi agar diikuti atau disetujui oleh orang lain. Ketika kita “menyarankan,” “meminta,” atau “mengharapkan” seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang kita utarakan, maka sesungguhnya kita sedang “menjual.” Ketika orang lain melakukan hal-hal yang kita harapkan atau inginkan, itulah tanda kesuksesan penjualan kita. Jadi, tidak ada kata “tidak bisa” atau “tidak suka” menjual dalam kamus Anda. Yang penting adalah menguasai konsep, mindset, dan prosesnya agar proses “menjual” dapat tercapai dengan seoptimal mungkin. Di tempat kerja, setiap pegawai dan anggota tim manajemen merupakan “penjual” dengan keunikan mereka sendiri-sendiri. Lantas, manajemen perlu mempunyai program yang menghargai setiap usaha mereka, apapun bentuk “penjualannya.” Pada dasarnya, proses “menjual” sendiri mempunyai enam langkah. Satu, proses menjual mungkin terasa instingtif, namun sesungguhnya Anda perlu punya perencanaan. Jawablah dengan jujur apa yang Anda targetkan, siapa yang dapat membantu pencapaian target itu, bagaimana dapat dicapai, kekurangan-kekurangan Anda yang berkenaan dengan proyek tersebut, dan seberapa konfiden Anda dalam memberi request. Strategi menjual merupakan fondasi awal setiap aktivitas individu. Bahkan ketika Anda masih kanak-kanak sekalipun, misalnya hendak pergi bermain ke rumah teman, Anda perlu “menjual” tujuan dan manfaatnya sehingga diberi izin oleh orang tua. Dua, mencari kesempatan-kesempatan penjualan dalam setiap celah yang tersedia. Bayangkan, dengan kemampuan ini, Anda akan semakin mudah mendapatkan hal-hal baru yang mendukung pencapaian. ...

Berbisnis di Era New Normal

Kita dihimbau untuk “berdamai” dengan virus Covid-19 alias virus Korona. Ini dapat diinterpretasikan macam-macam, dari yang paling ekstrim hingga yang paling rileks. Yang jelas, kemungkinan besar virus Korona akan terus ada dalam berbagai versi mutasinya. Dan tergantung para penderitanya, ada yang mengalami gejala ringan hingga parah. Sebagai individu, kita perlu membiasakan diri untuk selalu menggunakan masker dan disinfektan. Bagaimana dengan bisnis? Apa saja bentuk-bentuk penyesuaian yang perlu dilakukan agar tetap bertahan di era pandemi ini? Banyak teori mengenai tatanan dunia usaha baru dan bagaimana makro ekonomi seyogyanya diperbaharui demi kemanusiaan dan ekologi yang lebih dijunjung tinggi. Namun, bagaimana prakteknya? Pertama, remote working, remote learning, dan remote activities akan semakin “normal.”Jadi, bisa dipastikan e-commerce dan m-commerce semakin menjamur. Berbagai jenis jasa yang dapat disajikan dalam bentuk jarak jauh, pasti akan semakin dibutuhkan. Kedua, struktur organisasi yang berbentuk garis lurus akan semakin berkurang. Bentuk kerja sama yang berbentuk sinergistik lingkaran akan semakin umum. Kepakaran yang diaplikasikan secara praktek akan semakin dihargai dibandingkan birokrasi struktural komando. Ketiga, pengambilan keputusan semakin berdasarkan urgensi kekritisan kebutuhan.Kepentingan akan penanggulangan penyebaran virus Covid-19 akan menempatkan posisi tertinggi, sehingga budget dialokasikan seefisien mungkin. Dari seragam hingga handling produk perlu diperbaiki agar tidak membahayakan kesehatan konsumen. Keempat, akomodasi kebutuhan konsumen tergantung kekritisan kebutuhan.Sebagaimana pengambilan keputusan yang akan sangat dipengaruhi oleh urgensi kekritisan kebutuhan, akomodasi kebutuhan konsumen juga demikian. Jika dulu just-in-time merupakan salah satu pendekatan supply chain yang mengandalkan ketepatan prediksi demand, maka change-in-time merupakan pendekatan yang membutuhkan keberanian mengubah diri da...

Mengintip Bisnis Pasca Pandemi dengan 5 P

Henry Mintzberg memperkenalkan strategi 5P yaitu plan, ploy, pattern, position, dan perspective. Diadaptasikan dalam era pandemi oleh Carsten Lund Pedersen dan Thomas Ritter yang dua-duanya mengajar di Copenhagen School of Business di Denmark, 5 P termasuk position, plan, perspective, projects, dan preparedness. Mari kita kupas satu per satu. Position.Kenali posisi unik organisasi dan bisnis Anda sebelum, sepanjang, dan pasca era pandemi. Yang terpenting adalah posisi terkini yaitu selama masa pandemi. Peran apa yang bisnis Anda tawarkan di dalam ekosistem ceruk bisnis? Bagaimana posisi para kompetitor? Kenali juga arah tujuan di masa depan, selain bagaimana bisa bertahan di era pandemi, terutama ketika para konsumen berdiam di rumah dengan self-quarantine dan semi lockdown. Plan.Bagaimana rencana kembalinya bisnis seperti era sebelum pandemi? Posisi apa yang hendak dicapai? Orientasi sangat penting dengan memperhitungkan dan mempertimbangkan sumber daya yang ada dan kembali ke posisi pertumbuhan positif. Perspective.Bagaimana kultur dan “normal baru” mempengaruhi aktivitas-aktivitas bsinis? Krisis tentu mempertemukan kepentingan dan menggalang persatuan antar manusia, namun pandemi juga memperkenalkan “jaga jarak aman” yang dulu belum pernah dilakukan. Perusahaan Anda sendiri apakah siap dengan kondisi “normal baru”? Bagaimana SOP berbagai aktivitas di dalam perspektif ini? Apakah kultur organisasi saat ini memungkinan adaptabilitas dalam kondisi urgen pandemi? Bagaimana dengan sikap mental para pekerja dan tim manajemen? Bagaimana kerja sama yang terjalin? Dapatkah ditingkatkan lagi? Projects.Add-on projects alias proyek-proyek tambahan yang disebabkan oleh pandemi corona sering kali menjadi fokus baru. Fokus ini bisa menjadi pilihan jangka pendek maupun jangka panjang. ...

Prioritas Bagi Ekonomi Covid 19

Presiden Jokowi tampak kecewa dan berbicara dengan tegas di hadapan para menteri kabinetnya pada 18 Juni lalu. Beliau tampak gemas dan cukup emosional dengan kinerja para menteri yang biasa-biasa saja padahal negara sedang dalam kondisi krisis kesehatan dan ekonomi. Di awal pandemi pada Q1, para ekonom dan analis memprediksikan V-shaped recovery alias perbaikan ekonomi pasca-pandemi yang cepat dan menukik ke atas. Namun data-data terkini menunjukkan bahwa masa recovery bisa jadi panjang dan lama. IMF memprediksikan hingga akhir 2021, ekonomi global baru akan mencapai seperti di akhir 2019. PHK dan kepailitan masal terpaksa harus kita hadapi bersama di seluruh dunia. Perjalanan menuju recovery baik kesehatan maupun ekonomi tampaknya masih panjang dan berliku. Pandemi adalah “teritori baru.” Perbaikan ekonomi pasca pandemi malah merupakan teritori asing yang hanya terjadi setiap satu abad sekali. Bagaimana kita perlu menyikapi era pandemi dan pascanya, mari kita bahas. Stimulus dan pembelanjaan negara akan sangat mempengaruhi kelancaran perekonomian saat ini dan pasca pandemi. Jadi ini mirip dengan The New Deal-nya Franklin Roosevelt dengan berbagai program infrastruktur, perumahan, dan konversi industri. Satu alternatif lagi adalah UBI (Universal Basic Income) yang telah diujicobakan di beberapa negara, termasuk Kanada dan beberapa negara Eropa. Jika diaplikasikan di pasca pandemi, ini tentu merupakan bentuk stimulus langsung yang bisa jadi paling berperan dalam menggerakkan roda ekonomi akar rumput kembali. Di AS, capres Partai Demokrat Andrew Yang telah lama memasukkan UBI dalam platform kampanyenya. Presiden Trump sendiri telah menggelontorkan cek sebesar USD 1.200 bulan April lalu bagi setiap warga AS yang berpenghasilan menengah dan rendah. Sampai artikel ini ditulis, masih membutuhkan persetujuan Kongres AS untuk perpanjangan dan peningkatan santunan pekerja yang kena PHK. Apakah Indonesia perlu mempertimbangkan UBI? Berbagai bentuk bantuan cash telah diberikan oleh pemerintah, namun dalam nominal yang sesungguhnya masih jauh dari cukup untuk belanja kebutuhan hidup satu bulan. Pemberian UBI sebesar UMR setiap bulan sampai saat ini belum bisa dilaksanakan pemerintah Indonesia, namun bisa menjadi pertimbangan. Prioritas untuk menyelamatkan ekonomi di era Covid-19 dan pascanya semestinya menempati posisi tertinggi. Peran serta pebisnis tentu diharapkan semakin aktif dan tidak melulu menunggu sinyal hijau dari pemerintah. Ada beberapa rekomendasi dari US Small Business Administration agar bisnis-bisnis kecil dan menengah bisa bertahan dan terus berkembang di era pandemi ini dan pascanya. Satu, tingkatkan promosi berbayar dan tidak berbayar. Tetaplah diingat oleh konsumen dengan selalu hadir di berbagai media dan kesempatan. Di era digital ini, promosi dapat dilakukan secara gratis sela...

Heboh Tik Tok

TikTok. TikTok. Di mana-mana dan siapa saja bermain TikTok. Apa sih TikTok itu? Aplikasi lucu-lucuan untuk berjoget dan berdansa ria? No brainer benar ya. Well, hebatnya hampir semua influencer dan media maven punya akun TikTok. Bahkan para petinggi juga tidak ketinggalan bermain TikTok. Sebenarnya apa sih TikTok itu? TikTok adalah aplikasi media sosial berbasis video yang dirilis di tahun 2017. Yang telah didonlot lebih dari 2 miliar kali. (Bukan juta, tapi miliar.) TikTok ini dimiliki oleh perusahaan asal Tiongkok bernama Byte Dance. TikTok mengakuisisi Musical.ly di AS yang merupakan aplikasi video lipsyncing sebesar USD 1 miliar. Kini hanya nama TikTok yang eksis. Kekuatan utama TikTok adalah kemampuannya menjadi aplikasi asal China pertama yang berhasil menembus mainstream global. WeChat memang telah lebih lama populer di dunia, namun aplikasi itu terbatas pada diaspora Tiongkok. SoftBank termasuk salah satu penyuntik dana TikTok. TikTok mempunyai omzet USD 17 miliar di tahun 2019 lalu dengan keuntungan bersih USD 3 miliar. Populer di saat ini, namun TikTok sangat dihindari oleh pemerintah AS, para aktivis dunia cyber, dan CEO Reddit Steve Huffman. Huffman berpendapat dapat TikTok adalah spyware yang tidak pernah tidur. Menurutnya, TikTok selalu “on” mendengarkan dan mengambil data dari para pengguna. Pemerintah AS sendiri menganggap TikTok “seberbahaya” Huawei karena kemampuannya dalam menyerap dan merekam data pengguna. Mengingat aplikasi ini dimiliki oleh perusahaan Tirai Bambu yang secara geopolitis berseberangan, pantas saja Trump berniat untuk melarang penggunaannya di Negara Paman Sam. Di China sendiri, ByteDance bukannya tidak bermasalah. Di tahun 2018, mereka pernah dikritik oleh Pemerintah Komunis Tiongkok mengenai “konten vulgar” mereka yang dirilis di aplikasi Jinri Toutiao. Karena catatan buruk ini, TikTok hendak dipisahkan dari ByteDance. TikTok juga telah mengundurkan diri dari pasar Hong Kong, mengingat Pemerintah China semakin ketat dalam hukum soal data pengguna dalam proteksi sekuriti nasional. Jadilah TikTok memilih untuk tidak berada di dalam jurisdiksi tersebut. Di India, TikTok termasuk dalam 59 aplikasi asal China yang dilarang karena ancaman isyu keamanan nasional. Pelarangan ini bersifat sementara, karena Pemerintah India memberi kesempatan bagi aplikasi-aplikasi tersebut untuk membuktikan security and privacy compliance mereka yang sesuai dengan standar internasional. Padahal, TikTok sendiri mengakui bahwa India merupakan salah satu pasar terbesar di luar China yang sangat potensial untuk digarap. Diperkirakan kerugian akan mencapai USD 6 miliar apabila mereka keluar dari pasar dengan 1,3 miliar penduduk ini. Bagaimana TikTok dapat merebut lebih banyak pengguna di AS dan Eropa? Tampaknya salah satu s...

Zoom Merajalela

Era pandemi ini ditandai oleh merajalelanya penggunaan dan para pengguna Zoom. Rapat-rapat kantor dan proses belajar-mengajar banyak dilakukan dengan platform populer ini. Anda pasti pernah menggunakan atau, minimal, mendengar frasa “Zoom meeting.” Padahal, beberapa bulan sebelum pandemi, Zoom hanyalah startup aplikasi videoconferencing biasa yang sesekali digunakan oleh para manajer HR untuk mewawancarai kandidat pelamar dan beberapa fungsi rapat jarak jaruh yang tipikal. Di kala lockdown alias PSBB, aplikasi Zoom sangat membantu aktivitas-aktivitas WFH (work from home) dan SFH (schooling from home). Pengguna hariannya melonjak 20 kali lipat dari 10 juta di bulan Desember 2019 hingga lebih dari 200 juta di April 2020. Harga sahamnya pun telah meroket tajam dari USD 60an di akhir tahun lalu hingga mencapai USD 275 di bulan Juli 2020. Zoom didirikan di tahun 2011 oleh Eric Yuan, insinyur veteran dalam teknologi videoconferencing. Ia dilahirkan di Shandong, China pada tahun 1970. Pada akhir 1990an, ia hijrah ke Silicon Valley di California setelah mengalami penolakan aplikasi visa sebanyak delapan kali. Di sana, ia bekerja di Webex, salah satu perusahaan pelopor teknologi videoconferencing. Pada tahun 2007, Webex diakuisisi oleh Cisco. Yuan paham betul akan visi dan tren smartphone beserta aplikasi-aplikasi video conferencing yang kompatibel dengan gadget mobile seperti smartphone dan tablet. Namun Cisco tidak begitu tertarik dengan ide ini, sehingga ia pun mengundurkan diri. Jadilah Yuan dan mantan kolega-koleganya di Cisco/Webex mendirikan Zoom. Di bulan April 2019, Zoom (ticker: ZM) go public di Nasdaq AS. Pada hari pertama trading, harga sahamnya berhasil naik 72 persen dengan valuasi USD 16 miliar. Saat ini, konsumen dapat menggunakan aplikasi Zoom ini secara gratis untuk maksimal 100 peserta online meeting. Yang berbayar mencakup 1,000 peserta. Bayaran per bulan juga bertingkat tanpa memberatkan budget. Di era pandemi, jumlah pengguna Zoom yang 20 kali lipat dibandingkan dengan di masa-masa normal ternyata membuka beberapa isyu keamanan dan privasi. Salah satu masalahnya adalah konten video chat yang di-share kepada perusahaan-perusahaan ad-tracking. Fitur video recording dan video transcribing berjalan secara otomatis. Namun end-to-end encryption Zoom juga ternyata tidak berjalan sempurna, sehingga rawan penyadapan. Fitur attendee attention tracking tool memberi alert kepada organizer meeting mengenai perilaku peserta yang membuka browser lain ketika meeting berlangsung. Ini membuat privasi pengguna agak terusik. Internet trolls juga dikenal mentarget Zoom calls, kelas-kelas daring, dan ibadat-ibadat gereja dengan cara melakukan “zoombombering.” Didirikan oleh para insinyur teknologi asal negara China ternyata memperkeruh suasana selama era pandemi ini, mengingat...

Krisis dan Skandal Boeing 737

The Boeing Company didirikan pada tahun 1916 oleh William Boeing. Pada awalnya, nama yang dipakai adalah Aero Products Company yang memproduksi seaplane dengan satu mesin untuk armada U.S. Navy dalam Perang Dunia Pertama. Di tahun 1958, penerbangan komersial dengan penumpang manusia diluncurkan oleh maskapai Pan American (PanAm) dengan rute transatlantik. Pesawat yang digunakan adalah Boeing 707 yang ternyata hits dengan publik. Lebih dari 100 tahun, Boeing telah berhasil mengukir prestasi dipercaya sebagai perusahaan manufaktur pesawat udara penumpang berukuran besar. Sampai artikel ini ditulis, Boeing dan kompetitornya Airbus menguasai 99 persen pasar pesawat besar global. Airbus sendiri dimulai pada tahun 1967 atas kerja sama antara Jerman, Perancis, dan Inggris yang saling bersetuju bahwa sinergi di bidang aviasi akan meningkatkan interes teknologi dan pertumbuhan ekonomi di Eropa. Jadilah Airbus A300B ditargetkan sebagai pesawat jarak pendek dan menengah. Oktober 1972 ditandai dengan penerbangan pertamanya. Pada tahun 2018, pangsa pasar terbagi 50-50 antara Boeing dan Airbus. Pada tahun yang sama, Boeing mendeliver 806 pesawat dan Airbust 800. Saham keduanya outperform S&P 500 dalam 10 tahun terakhir. Dibalik nama besar Boeing, kepercayaan akan keamanan dan keselamatan penumpang telah terkikis sejak dua tahun lalu. Ada krisis apa sebenarnya di Boeing? Ini diawali dengan Lion Air yang berangkat dari Soekarno-Hatta Jakarta ke Pangkal Pinang jatuh di Laut Jawa pada tanggal 29 Oktober 2018. Ethiopian Airlines yang take off pada tanggal 10 Maret 2019 juga jatuh tidak lama kemudian. Total korban jiwa 346 dalam selang waktu 5 bulan. Kedua kecelakaan tersebut menggunakan pesawat Boeing 737 MAX yang masih tergolong baru. Jadilah FAA (Federal Aviation Administration) melakukan grounding terhadap 500 pesawat MAX 3 hari setelah kecelakaan kedua. Kini sekitar 800 Boeing 737 MAX milik berbagai maskapai dunia diparkir di hanggar bandara sebelum diizinkan terbang kembali dengan revisi. Benang merah kedua kecelakaan udara tersebut adalah kegagalan sistem MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) pada pesawat. Bahkan para pilot yang telah terbiasa membawa Boeing 737 versi lama tidak menyadari beberapa fitur baru yang memang tidak pernah disebut-sebut. Selain itu, terdapat beberapa unsur lain. Pertama, pergeseran kultur perusahaan yang dulunya mengutamakan keamanan penumpang ke mencetak profit sebesar-besarnya demi memuaskan Wall Street yang mendewakan dividend per share. Harga saham yang meningkat terus dalam 10 tahun terakhir merupakan pemicu semangat keserakahan yang tidak menempatkan keselamatan dan keamanan penumpang di tempat teratas. Ini disimbolkan dengan perpindahan kantor pusat dari Seattle ke Chicago. Di Seattle, kantor pusat bergabung dengan pabrik manufaktur,...

Crocs, Sandal Plastik Satu Miliar Dollar

Siapa yang tidak kenal sandal plastik warna-warni Crocs (Nasdaq: CROX) yang banyak menghiasi mal-mal kota-kota kosmopolitan? Digemari tua dan muda dari berbagai kalangan, Crocs merupakan alas kaki kerja, bermain, dan berbagai aktivitas kasual. Bahkan kini memasuki pentas fashion bergengsi dunia. Didirikan di Niwot, Colorado pada tahun 2002 oleh Scott Seamans, George Boedecker, Jr., dan Lyndon Hanson, Crocs yang berlogo buaya tersenyum ini diawali dengan produk sandal foam dan sandal untuk berperahu. Terbuat dari bahan closed-cell foam resin dengan model yang lebar sehingga super nyaman dikenakan, telah menjual lebih dari 300 juta pasang. Hebatnya, terlepas dari gayanya yang sederhana, cenderung “rada bloon” dan apa adanya, ada unsur-unsur jenius yang patut kita teladani. Satu, fashion statement penting bagi pecinta. Setiap produk unggulan punya pro dan kontra yang sangat kontras. Crocs merepresentasi individualitas di atas konformitas dan personalisasi di atas generik. Beberapa generasi telah menikmati keunikan produk-produk Crocs dari kakek-nenek Generasi Baby Boomer yang memakainya untuk berkebun hingga generasi cicit Generasi Z yang memakainya sebagai fashion statement. Para haters yang “benci” akan desain “buruk rupa” ternyata malah mendongkrak merek berlogo buaya ini. Di media-media sosial, dapat dijumpai para lovers dan haters yang bisa jadi sama banyaknya. Publisitas baik maupun buruk tetaplah publisitas. Dan ini bagi Crocs merupakan statement penting akan kekuatan merek mereka. Dua, keberanian restrukturisasi. Pada tahun 2007, Crocs mencapai puncak tertinggi dalam popularitas. Ia telah menggurita dengan berbagai kanal distribusi dan lini produk yang luar biasa banyaknya yaitu mencakup 5000 SKU. Lantas, ketika Great Recession melanda pada tahun 2008, jadilah inventaris yang berlebihan menjadi beban. Siapa lagi yang perduli akan fashion dan membuat statement individualitas di kala pekerjaan dan tabungan kandas? Pada tahun 2008 itu juga, Crocs merugi USD 185 juta. Sahamnya pun turun drastis hingga USD 1 saja. Kerajaan “Buaya” ini pun menanggung kebanjiran inventaris berlebih selama 2 tahun yang perlu segera mereka “singkirkan.” Delapan puluh persen toko retail Crocs di mancanegara yang underperforming pun ditutup untuk selamanya. Keberanian restrukturisasi menandakan change management yang mulai bergigi dan ini ternyata membuahkan hasil positif di masa depan. Tiga, refokus kembali ke desain dan kenyamanan pemakai. Sandal Crocs bertipe clog, seperti sandal tradisional Belanda yang terbuat dari kayu merupakan desain tradisional yang dikemas secara modern dengan bahan closed-cell foam resin bernama Croslite. Bahan ini mirip plastik namun mempunyai pori-pori sehingga nyaman dipakai untuk be...

Peloton, AWS dan Model Bisnis Pandemi

Pasar fitness di AS sebesar USD 28 miliar. Pemain utamanya adalah klab-klab fitness dan home gym konvensional. Kini, dengan maraknya The IoT (Internet of Things), Peloton menawarkan sesuatu yang berbeda. Produk ini adalah gabungan antara hardware yang berbentuk sepeda statis atau treadmill dengan software dan konten customized. Sedangkan cloud computing mereka dimotori oleh AWS yang dikenal dengan punya bandwith dan kapasitas hampir tak terbatas. Mereka menyebut diri sebagai FaaS (fitness-as-a-service). Bandingkan dengan SaaS (software-as-a-service). Produk smart exercise ini mengandalkan AWS (Amazon Web Services) dalam skalabilitasnya. Uniknya, bisnis model FaaS (fitness-as-a-service) ini merupakan jawaban untuk berolah raga di era 4.0 dan pandemi Covid-19. Jadi bisa dipastikan staying power-nya bakal lama. Sejak IPO-nya di tahun 2019 dengan valuasi awal USD 8 miliar, harga saham Peloton telah melonjak 50 persen berdasarkan data earning Q2. Retention rate para Connected Fitness Subscribers mereka mencapai 95 persen dan monthly churn rate hanya 0,65 persen. Koneksi Internet memungkinkan berbagai jenis latihan dijalankan secara virtual independen maupun dalam kelas dengan instruktur terlatih. Hingga akhir tahun lalu, keanggotaannya mencapai 1,4 juta orang. Apa saja strategi bisnis Peleton yang bisa dijadikan benchmark? Satu, membangun imaji hubungan dekat dengan para atlit profesional dan instruktur selebriti via virtual relationship. Kebersamaan ini merupakan sumber motivasi dan inspirasi yang membangun loyalitas konsumen. Bahkan selebriti papan atas seperti Hugh “Wolverine” Jackman dikenal sebagai pemakai setia. Virtual relationship yang dapat dibangun merupakan daya tarik tersendiri yang tidak didapatkan di tempat lain. Dua, revenue model dengan penjualan hardware dan aksesoris, serta subscription bulanan. Harga perangkat berkisar antara USD 2000an hingga USD 4000an per unit. Biaya keanggotaan dimulai per bulan dari USD 13. Secara terpisah, mereka juga menawarkan berbagai aksesoris dan perlengkapan berolah raga serta aparel dan sepatu. Kelas-kelas Peloton yang dapat diambil tidak terbatas bersepeda dan berlari di treadmil saja, namun termasuk strength training, yoga, meditasi, kardio, dan bootcamp. Tiga, konten super eksklusif yang dikerjakan sendiri oleh Peloton Film Studio menelurkan lebih dari 950 program original per bulan. Teknologi terkini dan produser pemenang Emmy Award merupakan penggerak pengisian konten. Peloton sendiri memandang streaming workout live dan on-demand ini sebagai servis utama yang mereka jual. Sedangkan perangkat kerasnya hanyalah kanal distribusi konten. Menarik bukan model bisnisnya? Disruptif betul. Empat, kerja sama erat dengan AWS untuk leaderboard on-demand dan live yang low latency dan elastis. A...

Iklan Purpose-Driven

Pandemi Covid-19 telah mengubah bagaimana kita menjalankan hidup dan bisnis sehari-hari. “New normal” istilahnya. Bagi dunia periklanan, ini sebenarnya membuka lembaran-lembaran baru yang memang tidak terpikirkan di masa pra-pandemi. Penjualan ritel global diperkirakan merugi USD 2,1 trilyun sepanjang pandemi 2020. Kerugian Google dan Facebook divisi advertising mencapai USD 44 miliar. Belanja iklan di Eropa menurut 10 hingga 15 persen. Sedangkan di AS, belanja iklan menurun 17 persen. Padahal, industri periklanan sendiri termasuk salah satu yang paling inovatif dan kreatif. Dengan dua hal ini, agensi-agensi semestinya masih dapat bertahan namun persaingan sangat ketat. Masa pandemi malah merupakan sumber inspirasi iklan-iklan purpose-driven alias “didorong oleh kebutuhan.” Tak perlu diragukan lagi bahwa yang tiga hal terpenting di era terkini ini adalah: kesehatan, kebersihan, dan portabilitas. Kesehatan jelas bermakna bebas dari virus Covid-19. Sedangkan kebersihan sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang steril dan bebas dari kuman apapun. Sedangkan portabilitas merupakan fleksibilitas sebagai desain dan pola pikir yang mendasari berbagai aktivitas dan keputusan. Sebagai contoh, tema-tema iklan berbagai merek mulai memasukkan kondisi pandemi. Misalnya, m-banking BCA menggunakan tema ini untuk memperkenalkan “belanja tanpa sentuh.” Misalnya, kebutuhan konsumen akan sterilisasi memberi kesempatan bagi merek-merek untuk menggunakan tempat cuci tangan portabel dan bilik sanitizer sebagai papan billboard iklan dengan impresi besar. Berbagai bentuk sinergi antara fungsi dan tujuan kesehatan, kebersihan, dan portabilitas bisa dijadikan kerangka berpikir multiguna. Fakta bahwa social distancing dan WFH (work from home) alias semi lockdown telah mengubah gaya berbelanja jelas tidak terhindarkan. Ini juga menurunkan belanja iklan baik yang konvensional maupun yang digital. Menarik bukan? Belanja iklan online ternyata juga mengalami penurunan padahal penggunaan sosmed meningkat pesat di masa pandemi. Menurut riset Smartly.io di AS, penggunaan sosmed meningkat namun interaksi dengan iklan online menurun disebabkan oleh kebutuhan berhubungan sosial yang meningkat selama masa-masa sulit. Namun konsumen di negara-negara lockdown sepenuhnya lebih reseptif terhadap iklan online. Sumber yang sama juga menunjukkan bahwa konsumen lebih menyukai kampanye-kampanye pemasaran yang mengedukasi daripada semata-mata “menjual.” Topik edukasi tidak perlu berhubungan langsung dengan Covid-19 dan pandemi, namun bagaimana produk dan bisnis yang dimaksud dapat mempermudah hidup mereka. Iklan penuh makna alias “purpose driven” yang diharapkan oleh konsumen di masa dan pasca pandemi tampaknya semakin “matang.” Sebagaimana digitalisasi, konsumsi media juga semakin di...

Ide Bisnis Era New Normal

Mungkin Anda atau seseorang yang Anda kenal kena PHK akibat pandemi atau baru lulus dari universitas. Mencari pekerjaan bisa jadi merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk sementara waktu ini. Sedangkan modal yang dimiliki terbatas. Berikut ini adalah 10 ide bisnis yang dapat langsung diterapkan dengan kapital awal minimal. 1. Membantu proses belajar-mengajar. Learn-from-home cukup banyak membuat repot para orang tua dari anak-anak usia sekolah. Para guru privat independen semakin dibutuhkan agar beban mengajar orang tua dapat terbantu. Dijalankan secara profesional, tutorial privat akan dibutuhkan pasar dalam jangka panjang. 2. Membantu bisnis-bisnis online baru. Baik startup ataupun solo entrepreneur, termasuk para online influencer dan wannabe sangat membutuhkan eksekusi rencana-rencana bisnis yang rapi dan dapat diandalkan. Dari aktivitas pemasaran hingga produksi, Anda sebagai eksekutor jelas sangat membantu derap bisnis. 3. Membantu para profesional dan artis independen mendapatkan bisnis baru. Era pandemi ini jelas membuat banyak pekerja independen alias freelancer kehilangan bisnis. Padahal, banyak event hanya berubah skala dan penyajian dengan protokol-protokol new normal. Tawarkan jasa Anda kepada mereka untuk membantu menggolkan bisnis-bisnis baru. 4. Membantu mereka yang terkena masalah finansial. Memulai bisnis baru, mencarikan pekerjaan baru yang remote, dan membantu manajemen kredit macet bisa dijalankan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama sambil mendapatkan bayaran. Di AS, konselor kredit macet bagi para debitor telah menjadi bagian dari masyarakat yang cukup populer. 5. Membantu bisnis yang berfokus pada keramaian. Industri pariwisata, perhotelan, restoran, dan EO, misalnya, sangat membutuhkan keramaian sebagai lead generation. Di era pandemi ini, jelas omzet mereka menurun drastis, bisa mencapai 90 persen. Berbagai bentuk bantuan peningkatan omzet sangat dibutuhkan, termasuk marketing dan cold calling. 6. Membantu para pasien dan konsumen dalam berolah tubuh dan tetap sehat. Kesehatan sangat tinggi nilainya, apalagi di era pandemi ini. Membantu mereka yang sedang mengalami sakit maupun yang sehat agar semakin sehat dapat dalam berbagai bentuk dan penyampaian. Anda bisa tawarkan dari produk-produk alami yang membantu imunitas tubuh sampai aktivitas berolah raga mandiri di rumah. 7. Memberi solusi bisnis untuk “go online” secara optimal. Tidak semua pebisnis mampu menciptakan sendiri situs dan konten berbentuk teks, gambar, audio, dan video. Padahal semua ini sangat penting dan perlu dikerjakan secara profesional. Digitalisasi dan “going online” membutuhkan sentuhan-sentuhan profesional editing dan penulisan yang b...

Delapan Startup Impactful

Kita sudah mengenal berbagai startup berbasis aplikasi yang sebenarnya hanyalah konsolidator, seperti operator ojek online, chatting dengan dokter, dan dompet online. Memang mereka sangat memudahkan hidup di era Revolusi Industri 4.0 ini, namun masih banyak startup impakful yang berpotensi mengubah kualitas hidup orang banyak. Kita bahas beberapa yang berbasis di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Singapura, Filipina, dan Kambodia. 1. Di tanah air, kita kenal Baran Energy dengan founder dan CEO Victor Wirawan. Baran adalah startup baterai listrik tenaga surya yang dapat digunakan untuk rumah dan mobil listrik. Teknologi penyimpanan energi surya ini memungkinkan pengguna swadaya listrik tanpa perlu mengandalkan PLN. Solar panel digunakan untuk “menangkap” energi surya sebelum dialirkan ke baterai penampungan. Produk mereka termasuk PowerWall berkapasitas 8,8 KWh, PowerPack 126 KWh, dan PowerCube 1,2 MWh. 2. EcoWorth Tech di Singapura dipimpin oleh CEO Andre Stolz. Mereka memproduksi karbon fiber aerogel yang merupakan serat penyerap berbagai elemen organik di alam. Spons ini dirancang untuk menyerap oli, minyak, lemak, dan cat. Namun tidak menyerap air. Salah satu fungsinya adalah untuk membersihkan tumpahan minyak di laut lepas. 3. ATEC Biodigesters International di Kambodia adalah startup yang memperkenalkan teknologi biodigester untuk memproses sampah pertanian menjadi biogas bebas untuk memasak dan pupuk organik yang sehat bagi tanah. Para petani pengguna teknologi ini dapat menggunakan Pay As You Go (PayGo) model dalam membayar setiap penggunaan. Jadilah produk ini selain ramah lingkungan, juga ramah finansial bagi para petani. 4. Dengan mempertimbangkan lebih dari 40 persen penduduk dunia bisa menjadi sasaran nyamuk penyebab demam berdarah (dengue fever), startup Orinno Technology yang didirikan oleh co-founder David Du dan rekannya ini terpanggil untuk memberikan solusi nyata. Dengan bantuan dari Singapore National Environment Agency, Mosquito Production Facility berhasil menternakkan nyamuk-nyamuk jantan yang diinjeksi dengan bakteria bernama Wolbachia. Nyamuk-nyamuk jantan ini disebarkan di ekosistem untuk mengawini nyamuk-nyamuk betina. Telur-telur yang dihasilkan tidak dapat menetas sehingga nyamuk berkurang dan menghilang. Teknik ini sebenarnya sudah lama dikenal, namun selama ini sulit diaplikasikan karena menyeleksi jenis kelamin nyamuk sangat memakan sumber daya. Namun Orinno punya teknologi yang memisahkan larva berdasarkan jenis kelamin mereka. 5. Roceso Technologies di Singapura dipimpin oleh CEO dan co-founder Jane Wang. Startup ini memproduksi sarung tangan robotik lembut untuk para konsumen yang punya kelainan syaraf tangan, seperti akibat dari stroke, kecelakaan dan sebagainya. 6. RAD...

Zilingo Unicorn baru Singapura

Di Singapura telah ada beberapa unicorn pemain lama yaitu Grab, Trax, Lazada, Razer, dan Sea. Di awal tahun 2020 ini, ada satu lagi calon unicorn yang berbasis di Singapura telah bervaluasi mendekati USD 1 miliar, yaitu USD 970 juta. Namanya Zilingo. Didirikan di tahun 2015 oleh Ankiti Bose dan Dhruv Kapoor, Zilingo melayani pasar Indonesia, Hong Kong, Thailand, Filipina, India, Australia, dan AS. Dengan lebih dari 7 juta pengguna, 800 pegawai dan 50.000 mitra, startup ini mempertemukan manufaktur, retailer, distributor, dan merek-merek fashion dalam satu mata rantai perdagangan fashion yang terbuka. Pasar fashion UKM Asia Tenggara sendiri mencapai USD 23 miliar di tahun 2018 dan diprediksi akan mencapai USD 100 miliar di tahun 2025. Angka ini dihitung sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Zilingo Shopping mempertemukan merek dengan konsumen langsung. Zilingo Trade mempertemukan penjual grosir ke pemilik bisnis fashion. Platform Zilingo sendiri memungkinkan pemain bisnis untuk membuka toko di sana secara gratis. Jadi, ia lebih dari sekedar marketplace. Kedua founder bekerja di Sequoia Capital sebagai investment analyst di India, sebelum mereka memutuskan untuk mendirikan Zilingo yang berbasis di Singapura. Ankiti mendapat ilham untuk mempertemukan produsen hingga pemakai fashion setelah mengunjungi pasar raksasa Chatuchak di Thailand. Para pedagang di Chatuchak yang terdiri dari lebih dari 10.000 toko dan desainer fashion tersebut mempunyai keterbatasan dalam “go online” karena mereka tidak memahami proses transfer dari offline ke online. Jadilah Ankiti melihat peluang yang dapat digarap dengan serius. Dengan valuasi mendekati USD 1 miliar, bisa jadi Zilingo malah telah memegang posisi unicorn pada saat ini. Uniknya, sebagai seorang CEO perempuan, Ankiti mengutamakan kultur yang tidak mengglamorkan status unicorn ini. Dari 239 startup dengan valuasi unicorn, hanya 23 orang yang ber-CEO perempuan. Ia tidak ingin Zilingo menjadi “unicorn takabur” dengan lebih besar egonya daripada peningkatan revenuenya. Ankiti sebagai co-founder dan CEO sebuah unicorn teknologi merupakan representasi penting bagi kaum perempuan yang masih sangat minim di dunia startup teknologi. Tampaknya, mereka sadar betul akan “godaan besar setelah menjadi unicorn” seperti WeWork dan Juul Labs. Profitability jangka panjang Zilingo jauh lebih penting daripada “gelar” unicorn. Kultur korporasi rendah hati dan bekerja dengan determinasi tinggi ini sangat patut ditiru. Model bisnis Zilingo sendiri sangat unik, karena ia lebih dari sekedar marketplace B2C dan B2B. Mereka memberi kesempatan bagi UKM fashion mikro dengan jasa distribusi, kataloging, dan peminjaman modal. Platform mereka juga mencakup manajemen stok barang dan tracking penjualan. Jadilah kini mereka juga mengembangkan software dan instrumen-i...

Kita harus bisa lebih Impakful Pasca Pandemi

Era pandemi dan setelahnya merupakan masa baru peradaban manusia. Berbagai teknologi yang dianggap terlalu maju untuk zamannya akan segera menjadi bagian dari arus tengah. Tahukah Anda bahwa mobil listrik ala mobil Tesla(tm) telah diciptakan oleh almarhum Nikola Tesla pada tahun 1886? Masih banyak lagi penemuan-penemuan insan jenius ini yang dicatat dengan rapi di situs MIT (http://web.mit.edu/most/Public/Tesla1/etradict2.htm). Seandainya saja JP Morgan saat itu memberikan kredit bagi Tesla untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga frekuensi tinggi, bisa saja kita telah lama menikmati peradaban manusia tanpa minyak bumi. Lobi-lobi kapitalis pro-bensin inilah yang menyebabkan energi minyak bumi masih digunakan hingga kini. Berbagai sengketa dan perang telah banyak disebabkan oleh perebutan sumber minyak. Nah, pandemi Covid-19 ini merupakan lonceng pembangun kita dari tidur pulas. Jangan menunggu 140 tahun lagi untuk mengoptimasikan penggunaan teknologi-teknologi yang telah ada demi kemaslahatan semua insan. Peradaban berbasis minyak bumi sudah lama mestinya kita tinggalkan karena kekuatan cahaya, udara, dan frekuensi suara sendiri merupakan sumber daya terbarukan yang tidak akan pernah habis. Nikola Tesla pernah berkata bahwa segala sesuatu mempunyai vibrasi dan frekuensi. Berpikirlah dengan dasar tersebut. Tentu saja yang mampu menerapkan teknologi ala Tesla hanyalah mereka yang memiliki akses teknologi dan SDM yang dibutuhkan kepakarannya, namun semangat berinovasi dengan memperhatikan unsur-unsur alam dan kebutuhan manusia sangat bisa kita terapkan bersama. Sebagai contoh, beberapa startup di bawah memberi solusi bagi bumi dan penghuninya pasca pandemi. Tidaklah kita perlu terikat oleh belenggu-belenggu mindset berbasis “minyak bumi” lagi. Kekuatan Internet dan bioteknologi merupakan paradigma “ala Tesla” yang tidak terbelenggu oleh kabel, minyak bumi, dan tanah tempat bertumbuh. Berpikirlah dalam lingkup tersebut karena jauh lebih relevan dibandingkan satu abad lampau. Perubahan perilaku konsumen yang kini lebih banyak berdiam di rumah untuk bekerja, belajar, bermain, dan berbelanja merupakan sumber ide bisnis yang tiada habis-habisnya. Dan ini jelas akan semakin meningkatkan teknologi non-bensin yang menyelamatkan ekologi bumi di masa depan. Era pasca pandemi adalah era bisnis-bisnis impakful yang menyelamatkan peradaban manusia dari keborosan energi minyak dan keterpulasan akan berbagai bentuk keborosan. Byju berbasis di India, misalnya, adalah aplikasi pembelajaran online yang memberi solusi bagi sekolah-sekolah dari tingkat SD hingga SMA dengan platform LMS (learning management system). Di bulan Maret dan April 2020, ketika pandemi Covid-19 masih masa awal lockdown nan panik...

Dunning-Kruger Effect (DKE)

Pernahkah Anda menjumpai seseorang yang inkompeten tapi kok percaya diri banget? Mirip dengan “tong kosong nyaring bunyinya” namun tidak semua orang inkompeten nyaring lho. Karena ada juga yang hanya merasa PD saja. Nah, mereka ini disebut memiliki Dunning-Kruger Effect (DKE), yaitu mempunyai ilusi tentang superioritas mereka. Mungkin mereka tidak punya maksud untuk jadi overkonfiden apalagi sombong. Mereka hanya memiliki keterbatasan dalam menilai kemampuan diri sendiri saja. Dalam wawancara-wawancara proses rekrutmen, DKE ini cukup “membahayakan” karena tidak hanya si pewawancara saja yang bakal kecewa akan timpangnya kemampuan si diwawancara. Semua stakeholder pada akhirnya akan sangat kecewa akan performance kandidat setelah diterima bekerja. Pada level pengambilan keputusan, DKE ini malah membahayakan arah strategi bisnis, karena efek ini juga dimiliki oleh mereka yang telah berposisi tinggi namun punya keterbatasan dalam memahami hal-hal tertentu. Ini sebenarnya merupakan fenomena umum karena studi menunjukkan lebih dari 88 persen individu mempunyai kecenderungan untuk overestimasi kemampuan diri sendiri. Yang mencengangkan, mereka yang mempunyai kemampuan rendah biasanya termasuk yang sangat overestimasi. Dengan kata lain, mereka yang “kurang punya kemampuan merasa diri super.” Bahkan, tidak jarang yang tidak mampu merasa diri sebagai “pakar.” Siapa yang paling rentan akan delusi ini? Ternyata kita semua tanpa kecuali, karena tidak ada orang yang serba bisa alias bisa segalanya. Kok bisa? Periset Dunning dan Kruger menemukan fakta bahwa mereka yang punya skill di bawah rata-rata ternyata tidak punya cukup skill untuk mendeteksi kekurangan mereka dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Dengan kata lain, mereka tidak tahu bahwa mereka tidak mampu dan punya banyak hal yang mereka tidak tahu. Sebaliknya, mereka yang punya kemampuan rata-rata dan cukup baik, biasanya tahu betul kekurangan mereka karena mereka punya cukup skill untuk mendeteksinya. Lantas, bagaimana caranya untuk obyektif akan kemampuan diri sendiri dan orang lain? Pertama, pastikan untuk mendapatkan feedback akan apa yang dapat Anda perbaiki. Tidak jarang seseorang mengharapkan input dari orang lain namun malah menyebabkan pertikaian jika masukannya kurang enak didengar. Belajarlah untuk menghargai setiap masukan sebagai sesuatu yang positif. Apabila penyampaiannya negatif, lakukan reframing pikiran agar negatifitas dapat berubah menjadi positif. Kedua, terus tingkatkan kemampuan di bidang tersebut, karena mereka yang mempunyai skill sedikit di atas rata-rata atau lebih biasanya punya kemampuan observasi diri cukup. Observasi cukup ini penting agar dapat belajar baik untuk mencapai kemampuan lebih mumpuni. Belajar untuk lebih obyektif akan kemampuan ...

Apakah Google masih "Do No Evil" ?

Pada awal pendiriannya, Google dikenal dengan slogan “Do no evil” alias “Jangan berbuat jahat.” Ini tentu merupakan angin segar di dunia Internet yang dikenal penuh dengan misteri dan segala taktik bisnis dagang terotomatisasi yang sarat dengan berbagai kesempatan salip-menyalip. Pada tanggal 20 Oktober 2020, US Department of Justice telah menggugat antitrust (anti-monopoli) kepada Google. Dan ini adalah gugatan bisnis terbesar yang pernah dialami raksasa Internet ini. Gugatannya adalah transaksi-transaksi bisnis eksklusif yang mematikan kompetitor-kompetitor kecil. Dalam prinsip Antitrust Law AS, Google telah melakukan monopoli sehingga menyebabkan unfair advantage dalam search dan online advertising. Sebelas negara bagian AS telah bergabung dalam gugatan federal tersebut. Tampaknya Google akan meladeni pertarungan hukum tersebut yang diprediksi akan berlangsung selama beberapa tahun. Jika Pemerintah AS memenangkan gugatan, maka Google harus merestrukturisasi bisnis mereka sehingga tidak merugikan kompetitor. Dari sudut Hukum Jurisprudensi, kasus ini akan menjadi preseden penting bagi para raksasa IT. Pemerintah federal AS juga akan mempunyai basis hukum dalam meregulasi perusahaan-perusahaan teknologi dengan lebih mendetil di masa depan. Menurut Kent Walker, SVP Global Affairs Google, sebenarnya konsumen sendirilah yang memilih menggunakan Google Search. Gugatan hukum ini bisa-bisa malah memicu tumbuhnya search engine abal-abal murahan yang tidak seberapa powerful, demikian ujarnya. Jaksa penuntut kasus ini berfokus kepada dugaan Google mencekik habis para kompetitor. Dan ini berbasis pada preseden antitrust tahun 1998 yang dialami oleh Microsoft atas dasar Hukum Antitrust Sherman Act tahun 1890. Para analis hukum cukup banyak yang berargumen bahwa Sherman Act bukanlah dasar hukum yang sesuai karena menempatkan konsumen sebagai korban monopoli dengan peningkatan harga yang tidak fair. Google tidak meningkatkan harga atas konsumen. Yang lebih tepat gugatan terhadap Google adalah efek negatif atas kualitas search engine secara umum. Karena tidak adanya lagi kompetisi yang seimbang dengan kompetitor-kompetitor lain, jadi konsumen tidak punya pilihan lain yang memadai. Inilah yang dipercaya sesungguhnya terjadi. Dalam dunia online search, Google menguasai 88 persen pangsa pasar. Market share ini bahkan lebih besar di antara pengguna smartphone yaitu 94 persen. Ini dimungkinkan karena banyak smartphone Android yang menempatkan aplikasi Google secara default dalam konfigurasi pre-install. Jadilah Google Search selalu hadir sebagai default bagi para pengguna smartphone tanpa kecuali, walaupun pilihan lain ada. Tampaknya, the big four perusahaan raksasa teknologi yaitu Google, Apple, Facebook dan Amazon akan terus diamati oleh Pemerintah Fe...

Pesanlah dari McDonald’s

Pada tanggal 4 November, Burger King Indonesia memasang pesan singkat yang ditujukan bagi konsumen untuk tidak hanya memesan Whopper BK namun juga Big Mac dari McD dan burger-burger lainnya baik dari resto cepat saji maupun lokal dan bahkan warteg. Pesan yang super unik dan menyentuh hati, karena baru pertama kali ini terjadi dalam sejarah bisnis fastfood Indonesia. Bahkan duania. Tampaknya, di era pandemi yang semakin berkepanjangan penuh ketidakpastian, nurani kemanusiaan semakin kuat. Bahkan di dalam dunia bisnis fastfood yang sangat kompetitif. Pesan dalam Bahasa Indonesia ini merupakan saduran bebas dari postingan media sosial Burger King UK. Kaptionnya, “Tidak pernah sebelumnya terpikirkan oleh kami untuk meminta Anda melakukan ini.” Sangat menyentuh, bukan? Netizen Indonesia sendiri juga sangat tersentuh dengan inisiatif BK Indonesia. Mereka berhasil menangkap spirit solidaritas di mana masa pandemi setiap kompetitor adalah sahabat yang dibutuhkan untuk bangkit kembali bersama-sama. Lantas, bukankah ini semata-mata gimmick pemasaran BK saja yang pandai memanfaatkan situasi pandemi? Bisa saja. Dan ini tidak ada salahnya sama sekali. Buatlah lemonade dari lemon. Jadikan pandemi sebagai suatu kesempatan untuk menjadi lebih kreatif dalam memasarkan produk termasuk dengan “mengusik” rasa kemanusiaan. Pemasaran dengan cara bela rasa kemanusiaan tinggi ini membutuhkan momentum tertentu. Bayangkan saja, apabila pesan BK tersebut ditulis ketika dunia sedang aman-aman saja tanpa pandemi global, tentu akan terasa mengada-ada dan “sok baik” yang berlebihan. Ini bisa saja jadi bumerang. Namun, dalam konteks pandemi, pesan ini merupakan angin segar yang sangat dibutuhkan agar kejenuhan, stres, and anxietas berlebihan dapat dilandaikan. After all, kemanusiaan mempunyai posisi jauh lebih tinggi dari sekedar menghasilkan profit seadanya. Argumen BK Inggris sendiri didasari oleh fakta lockdown pertama di bulan Maret dan kedua yang baru dimulai 5 November ini. Industri restoran dan perhotelan Inggris dan secara global sangat terpukul. Restoran-restoran sendiri tutup makan di tempat hingga Juli. Restoran-restoran makanan cepat saji sendiri mungkin berkarakter bisnis raksasa menggurita seperti BK dan McD. Padahal, pemilik setiap gerainya adalah franchisor yang bisa saja seorang wirausahawan kecil menengah dengan modal pas-pasan. Serba pas-pasan, maka sering kita jumpai restoran-restoran yang terpaksa mem-PHK-an para pekerja. Padahal, sektor restoran cepat saji mempekerjakan ribuan pegawai yang sangat riskan dampaknya terhadap kondisi ekonomi makro. Pembelajaran apa yang dapat kita peroleh dari studi kasus pesan pandemi BK? Satu, setiap situasi buruk apapun pasti mempunyai silver lining alias nilai-nilai positif. Dengan tempaan masa pandemi, bisn...

Coupang makin jaya di era pandemi

Coupang dikenal sebagai Amazon-nya Korea Selatan. Diawali di tahun 2010 sebagai situs ala Groupon, kini Coupang adalah online retailer unicorn besar yang sangat diperhitungkan dengan omzet lebih dari USD 10 miliar per tahun. Coupang berkantor pusat di Seoul dan cabang-cabangnya dapat dijumpai di Shanghai, Beijing, Los Angeles, Seattle dan Silicon Valley. Omzet di tahun 2018 telah mencapai 2,7 trilyun Won dengan pengguna aktif harian mencapai 3,5 juta orang di tahun 2019. Aplikasi Coupang telah diunduh lebih dari 25 juta kali yaitu separuh dari penduduk Korsel. Didirikan oleh CEO Bom Kim yang dropout dari Harvard Business School pada tahun 2010, Coupang telah divaluasi lebih dari USD 9 miliar. Para investornya pun tidak tanggung-tanggung termasuk Sequoia Capital, Softbank, dan BlackRock. Hebatnya, Coupang semakin berjaya di era pandemi dengan total pegawai baru lebih dari 12.000. Retailer daring ini kini adalah salah satu dari 4 perusahaan Korsel dengan jumlah pegawai terbanyak. Tiga yang terbesar adalah Samsung, Hyundai, dan LG. Pekerja deliveri yang dikenal sebagai Coufriends alias Coupang Friends saja telah mencapai 10.000. Mereka bukan pekerja freelance namun penuh waktu yang bekerja selama 5 hari dalam satu minggu dan mendapatkan benefit sebagai pegawai tetap. Armada pengiriman high-tech nan super rapi ini memungkinkan melayani pelosok Korsel dengan serentak. Sistem deliveri ini secepat roket sehingga dinamakan Rocket Delivery. Konsumen bisa pesan suatu produk secara daring pada malam hari dan sebelum jam 7 pagi akan telah diterima di destinasi. Uniknya, sebelum IPO di tahun 2013, model bisnis Coupang diubah lagi dari e-commerce marketplace menjadi end-to-end e-commerce platform yang didesain untuk melayani konsumen dari transaksi online hingga deliveri ke tujuan. Korsel sendiri adalah pasar e-commerce yang sangat besar, ranking 5 secara global setelah China, AS, Inggris, dan Jepang. Rahasia sukses Coupang? Satu, karakteristik pasar. Bagi kultur Korsel yang “pali-pali” alias “mau apa-apa cepat” servis ini jitu ke sasaran. Dikenal sebagai negara dengan jam kerja panjang, konsumen jelas membutuhkan jasa deliveri untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Selain itu, para single mencakup 30 persen dari konsumen. Mereka juga punya keterbatasan waktu dalam berbelanja. Dua, infrastruktur digital dan kecepatan Internet. Korsel dikenal dengan teknologi mobile-nya yang canggih, seperti Samsung dan LG. Selain itu, kecepatan koneksi Internetnya baik mobile maupun broadband termasuk yang tertinggi di dunia selain UAE, China, dan Singapura. Tiga, secara landskap geografis, Korsel termasuk kompak sehingga logistik lebih sederhana dibandingkan negara-negara lain, seperti Indonesia. Jadilah Rocket Delivery dan sistem fulfillment Coupang memungkinkan ...

Mengapa MLM tahan resesi pandemi

Sektor usaha penjualan langsung (direct selling) yang sering kali dioperasikan secara multi level alias MLM ternyata termasuk salah satu sektor yang bertahan dengan baik di era resesi pandemi ini. Ketika sektor-sektor bisnis lainnya kolaps karena menurunnya omzet secara drastis, sektor ini malah mengalami peningkatan. Berdasarkan informasi dari laporan kegiatan 147 perusahaan penjualan langsung pada tahun 2019, mereka mencatatkan transaksi penjualan sebesar Rp 14,7 triliun. Ini semua diraih oleh 5,3 juta anggota jaringan alias networker alias mitra usaha. Bahkan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto sendiri pernah menyebut bahwa direct selling mampu menjaga roda ekonomi di era pandemi Covid-19 ini. Keunggulannya adalah cara kerjanya yang berbasis komunitas. Jadi, ada captive market yang merupakan pembeli berulang (repeat customer). Selain itu, sektor ini juga menjaga keberlangsungan usaha manufaktur di dalam negeri. Tahukah Anda bahwa 51,86 persen jenis produk yang dijual bisnis-bisnis MLM merupakan produk dalam negeri? Ini terlepas dari asal negara holding company-nya yang sering kali merupakan PMA (penanaman modal asing). Hebatnya, sering kali kita “terkecoh” bahwa suatu produk penjualan langsung ternyata “buatan Indonesia” setelah lama teryakini oleh kualitas internasionalnya. Di Indonesia sendiri, perusahaan-perusahaan manufaktur penerima outsource atau maklon suplemen kesehatan dan produk-produk skincare memang telah sejajar dengan kualitas negara-negara lain. Misalnya, telah ada teknologi nano yang digunakan dalam memproduksi makanan sehat berdaya serap tinggi oleh tubuh. Selain itu, kualitas produk yang dihasilkannya pun sangat halus dan mampu bersaing secara global. Sebagai contoh produk-produk peptida dengan berukuran nano asal Indonesia telah mampu menembus pasar internasional tanpa banyak gembar-gembor. Dalam artikel ini, mari kita bahas karakteristik MLM yang membuatnya tahan banting, menguji reputasi perusahaan MLM, mengenali bisnis MLM yang baik versus money game alias skema piramida uang. Satu, perusahaan MLM dengan reputasi baik pasti mempunyai izin-izin dan legalitas yang baik dan benar. Sebagai contoh, di Indonesia ada sekitar 60 perusahaan penjualan langsung, menurut AP2LI (Asosiasi Perusahaan Penjualan Langsung Indonesia). Entitas-entitas tersebut dapat dipastikan mempunyai bukti pendirian PT, keanggotaan AP2LI, keanggotaan standarisasi (seperti ISO), keanggotaan profesional, dan keanggotaan kemurnian konten produk. Mereka juga dapat menunjukkan hasil lab asli akan kandungan Dua, bisnis MLM yang bereputasi baik pastinya tidak menjanjikan keuntungan besar dalam sekejap tanpa berusaha apa-apa. Walaupun mungkin marketing plan mereka tampak sangat menjanjikan, perhatikan bahwa perusahaan bonafide tidak pernah menjanjikan penghasilan pasti per bulan. Bisa saja dijabarkan skenario...

Memilih memulai UKM atau Startup ?

Anda ingin memulai bisnis kecil-kecilan. Nah, apakah itu adalah UKM (usaha kecil menengah) atau startup? Bukankah semua bisnis yang baru dimulai disebut sebagai “startup” terlepas dari volume, jumlah pekerja, dan total asetnya? Apakah sebaiknya memulai “startup” yang mungil dulu alias “UKM”? Memulai startup yang UKM atau memulai UKM yang startup? Atau hanya memulai startup tanpa embel-embel UKM? Atau memulai UKM yang startup? Tidak perlu bingung. UKM dan startup memang banyak kemiripan namun kita dapat jernihkan posisi mereka masing-masing. Kejernihan ini sangat penting agar Anda dapat mengenali calon-calon penanam saham dan bagaimana mendekati mereka. Selain itu, Anda dapat mengidentifikasi dengan presisi seberapa cepat skalabilitas tertentu dapat dicapai sehingga valuasi dapat meningkat signifikan. “Startup” adalah terminologi yang pada awalnya secara umum digunakan untuk bisnis software, aplikasi maupun teknologi lainnya. Kini, istilah “startup” termasuk bisnis-bisnis konvensional yang dahulu tidak melibatkan teknologi, namun sekarang menggunakan aplikasi Apple dan Android sebagai pendukung distribusi dan penggunaannya. Sebagai contoh, SayurBox dan Fore adalah penjual sayur-mayur dan penjual kopi zaman now. Mereka termasuk startup berpotensi besar. Aplikasi mereka pun sangat convenient dan termasuk canggih. Para pendiri startup sendiri pada umumnya sangat aware dengan fase-fase pendirian (inception), pengembangan (growth), kematangan (maturity), dan penurunan (decline). Nah, di fase pendirian ini seed funding dan round funding memungkinkan untuk skalabilitas luar biasa. Intinya, sebuah “startup” zaman now punya visi skalabilitas yang doable. Jadi, golnya adalah suatu bisnis yang dapat dinikmati oleh jutaan pengguna (user) tanpa perlu ditangani oleh customer service dan pegawai adminstrasi dalam jumlah besar. Misalnya, dengan modal Rp 1 miliar, bisnis diproyeksikan akan menghasilkan Rp 10 miliar omzet dan divaluasi sebesar Rp 100 miliar. Para investor awal pada umumnya lebih senang menjual bisnis tersebut dengan valuasi minimal 10 kalinya daripada hanya mendapatkan dividen berdasarkan jumlah saham yang dimiliki. Dengan startup, quick growth dan quick money adalah inti permainannya. Tentu saja IPO merupakan gol berikutnya, namun ini umumnya yang telah mencapai valuasi USD 100 jutaan. Untuk startup dengan visi pencapaian IPO, tentu skalabilitas berkali-kali lipat dalam waktu secepat mungkin adalah harapannya. Nah, sebuah startup bisakah merupakan UKM (usaha kecil menengah)? Bisa saja. Pada tahap inception, setiap bisnis pernah dimulai sebagai sel bisnis. Bahkan Apple, Facebook, dan Google diawali di garasi rumah atau kamar asrama mahasiswa. Namun, sebuah UKM belum tentu merupakan startup yang punya potensi menjadi bisnis bervaluasi jutaa...

Kebutuhan Nikel untuk Tesla di Indonesia

Diprediksikan pada tahun 2025, kendaraan bertenaga baterai Li-on akan mencapai 10 persen. Dan nikel merupakan primadona yang sangat menentukan derap perubahan dari bahan bakar minyak ke sumber daya listrik yang terbarukan. Pada dasarnya Nikel mempunyai kemampuan menyimpan energi yang besar dan baterainya dapat di-charge kembali. Ini membuatnya sangat cocok digunakan sebagai bahan baku baterai, termasuk baterai untuk mobil listrik seperti buatan Tesla. Tesla, Inc. yang bernama Tesla Motors didirikan oleh dua pionir mobil listrik yaitu Martin Eberhard dan Marc Tarpenning. Elon Musk masuk setahun sesudah pendirian yaitu 2004 dengan menanamkan modal di Series A. Namun dunia lebih mengenal Musk sebagai pendiri Tesla. Saat ini, Musk adalah pemegang saham terbesar. Konsep mobil listrik sendiri telah lama diperkenalkan oleh Nikola Tesla sang pencipta maha jenius pada tahun 1931. (Referensi: https://www.lifehacker.com.au/2019/06/the-mystery-of-nikola-teslas-battery-free-electric-car/) Naasnya, Tesla gagal mendapatkan pinjaman uang dari JP Morgan untuk mewujudkan berbagai temuan-temuannya yang menggunakan tenaga terbarukan. Alasannya? Simpel, Morgan memilih untuk membiayai bisnis-bisnis yang ada repeat order alias pakai meteran. Bayangkan, seperti apa sejarah alternatif seandainya mobil listrik ciptaan Nikola Tesla telah diproduksi dan dipasarkan jauh sebelum Perang Dunia Kedua. Pada tahun 2008, Tesla Inc. merilis otomobil listrik pertamanya yaitu Roadster. Satu kali pengisian listrik dapat menghasilkan listrik cukup untuk perjalanan sejauh 394 km. Akselerasi Roadster dapat mencapai 96 km per jam rata-rata atau 200 km per jam. Jelas Tesla Inc. telah mendirikan bisnis yang tidak hanya disruptif produknya namun juga ekosistemnya. Dengan kebutuhannya yang luar biasa besar akan daya listrik dan baterai, Tesla Motors sangat membutuhkan pasokan nikel sebagai salah satu bahan dasar baterai lithium (Li-ion). Larangan ekspor nikel dari Indonesia terhitung 1 Januari 2020 ini merupakan salah satu pemicu Tesla Inc. memilih mendirikan pabrik baterai di Batang, Jawa Tengah. Indonesia sendiri merupakan pemasok 27 persen nikel dunia alias nomor 6 dari 10 besar produsen nikel global. Nickel Cobalt Aluminium (NCA) memakai 80 persen nikel dan dan Nickel Manganese Cobalt (NMC) menggunakan 33 persen nikel. Selain itu baterai Li-ion juga sangat mengandalkan nikel. Bisa dipahami mengapa harga nikel meningkat pesat dan nilai ekonomis nikel Indonesia menjadi 4-5 kali lipatnya. Kesediaan komoditas nikel nasional mencapai 698 juta ton cadangan. Bisa dibayangkan bagaimana strategi pelarangan ekspor nikel ini berakibat positif terhadap industri manufaktur nasional. Kawasan Industri Batang yang diwacanakan sebagai lokasi manufaktur baterai Tesla memang disiapkan sebagai relokasi pabrik dari luar negeri. Insentif yang diberikan adalah sewa lahan gratis sel...

Produk Selebriti Come and Go

Sejak zaman dahulu, para selebriti dijadikan brand ambassador produk untuk mengangkat citra dan meningkatkan daya jual. Namun akhir-akhir ini, cukup banyak produk yang tidak hanya menggunakan mereka sebagai duta, namun juga berperan sebagai founder alias pendiri perusahaan dan merek produk. Kenny Rogers, misalnya dikenal dengan pendiri restoran ayam goreng ala ranch Texas. Planet Hollywood pernah diidentikkan dengan para pemain film laga seperti Jackie Chan dan Sylvester Stallone yang juga merupakan co-founder dan pemegang saham. George Clooney dan Rande Gerber (suami dari mantan supermodel Cindy Crawford) meraup USD 1 miliar di tahun 2017 dari penjualan perusahaan minuman keras bernama Casamigos Tequila. Minuman keras tequila dikenal keras dan tajam, namun Casamigos terasa sangat smooth di mulut. Jadilah mereka diterima pasar global dengan sangat baik. Mengikuti jejak Clooney dan Gerber, Ryan Reynolds mengeruk USD 610 juta untuk penjualan perusahaan produk Aviation American Gin pada bulan Agustus 2020. Aviation Gin sendiri didirikan di Portland oleh Christian Krogstad dan Ryan Magarian. Ryan Reynolds sendiri baru masuk sebagai salah satu pemegang saham minoritas pada tahun 2018. Di era influencer selebriti ini, Reynolds dikenal sebagai pemasar ulung dengan tim agensinya di Maximum Effort Marketing. Kedua produk minuman alkohol selebriti Hollywood kondang tersebut diakuisisi oleh Diageo yang berbasis di Inggris Raya. Diageo ini dikenal sebagai pemilik merek Johnnie Walker, Smirnoff, dan Tanqueray. Diageo juga bekerja sama dengan David Beckham untuk produk Haig Club Whiskey dan P-Diddy dengan produk Ciroc Vodka. Lantas apa formula sukses Casamigo dan Aviation American? Passion, partnership, product, promotion, dan profit reinvestment. Passion alias spirit. Clooney dan Gerber tidak berniat untuk mendirikan bisnis yang super menguntungkan. Mereka “hanya” berusaha memberikan “solusi,” yaitu rasa tequila yang lembut dan dapat diminum sepanjang hari tanpa menyebabkan rasa mabuk berkepanjangan. Partnership alias kemitraan. Casamigos dalam bahasa Spanyol artinya “rumah para sahabat.” Dan memang Clooney bermitra dengan dua sohibnya yaitu Gerber yang mempunyai pengalaman menjalankan kelab malam selama dua dekade dan Michael Meldman sang mogul real estat. Jadilah tiga sekawan ini membangun fondasi kuat untuk bisnis minuman keras butik ini. Produk premium. Produk yang ditawarkan kepada pembeli adalah produk premium yang membutuhkan lebih dari dua tahun dan hasil dari bereksperimen dengan 700 merek tequila sebelum menghasilkan formula resep tequila yang jitu. Produk tequila mereka dapat diminum langsung maupun dengan es batu. Dan dapat dinikmati pagi, siang, atau malam tanpa menyebabkan rasa mabuk berkepanjangan. Promosi. Tentu saja merek yang personal ...

Booming Pembangunan Villa dengan kelesuan Turisme di Bali

Pembangunan vila di Bali sedang booming di era pandemi ini. Kok bisa? Bukankah industri turisme sedang menukik tajam ke bawah? Bisa saja. Industri properti dan industri pariwisata adalah dua hal yang berbeda dengan impak berjangka pendek dan panjang yang juga berbeda. Secara garis besar, 60 persen dari GDP Bali bersumber dari turisme. Jadilah masa pandemi ini menurunkan GDP hingga -11 persen. Data terakhir menunjukkan sektor akomodasi hanya terisi 3 persen dari 130.000 kamar hotel dan 15 persen dari 4.000 vila. PHK pekerja mencapai lebih dari 80.000 orang. Yang menarik, bisnis arsitektur properti di Bali meningkat 20 hingga 30 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Wah, kok bisa? Ternyata, perubahan gaya kerja work from home (WFH) selama masa pandemi ini mengubah cara pandang “where to work.” Ini meningkatkan demand untuk tempat tinggal yang luks dan nyaman sebagai tempat kerja. Menurut Booking.com, Agoda, dan beberapa platform tur dan travel, Bali termasuk salah satu lokasi yang paling diminati pasca pandemi nanti. Bisa dibayangkan mereka yang mempunyai skill memadai untuk memilih tempat kerja pasti akan memilih lokasi yang nyaman bagaikan tempat liburan. Ini menjawab mengapa booking vila dan working space semakin meningkat. Pra pandemi, Bali populer di antara para “digital nomad” alias para pekerja independen yang mengandalkan sarana Internet dan co-working space. Di era pandemi ini, ternyata korporasi mulai melirik kemungkinan bermarkas di Pulau Dewata ini. Alasannya? Ketersediaan para digital nomad yang telah membentuk komunitas tenaga IT dan pemasaran digital. Startup dapat menikmati rendahnya biaya hidup, ketersediaan tenaga kerja kreatif, dan gaya hidup leisure yang bebas stres. Biaya hidup di Bali terhitung rendah yaitu ranking 370 dari 589 kota di dunia. Biaya hidup per individu hanya USD 600 per bulan atau USD 2000 per keluarga dengan 4 orang anggota. Pembangunan vila sendiri sangat marak di Canggu dengan kenaikan harga tanah mencapai 50 kali lipat harga 10 tahun yang lalu. Dan harga tanah di tengah pandemi menurun hingga 15 persen. So it’s a buyer’s market. Kapan lagi dapat properti harga diskon? Biaya materi bangunan dan para pekerja bangunan juga dapat dipastikan sedang rendah-rendahnya. Tidaklah mengherankan jika para ekspat kini mempertimbangkan membangun properti sebagai tempat tinggal utama. Pulau Bali mempunyai potensi jangka panjang yang luar biasa. Dengan 16 juta turis di tahun 2019 lalu, diprediksikan angka ini dapat meningkat lagi segera setelah Covid berlalu. Sebagai pebisnis, apa yang dapat Anda lakukan di Bali pada masa pandemi ini? Tentu saja apabila kapital memungkinkan, cobalah mengakuisisi atau membangun properti. Gunakan kesempatan rendahnya biaya-biaya sebelum naik kembali. Selain itu, jadilah kontrarian dengan berani....

Pengalaman bukan segalanya

Hampir setiap iklan lowongan kerja menuliskan “berpengalaman x tahun” sebagai salah satu syaratnya, selain latar belakang pendidikan dan persyaratan lainnya. Padahal, pengalaman bukanlah segalanya. Bisa saja, pengalaman kerja maupun pengalaman hidup yang dialami seseorang tidak memberi nilai plus. Kok bisa? Satu, setiap individu punya kemampuan memproses informasi dan pengalaman secara berbeda. Ini menyebabkan persepsi setiap orang juga berbeda. Sehingga pelajaran yang ditangkap juga tidak pernah ada yang identik. Ditambahkan dengan nilai-nilai hidup, pengalaman masa kecil, dan segala bentukan dari lingkungan, satu kejadian yang sama akan mempunyai makna berbeda di orang yang berbeda. Singkat kata, makna dari suatu pengalaman merupakan akumulasi dari interaksi berbagai faktor baik secara langsung maupun tidak langsung. Dua, suatu pengalaman adalah sesuatu yang sangat personal. Konstruksi timbunan pengalaman tersebut merupakan referensi penting bagi kehidupan. Tentu ini semua akan besar artinya apabila all other things remain constant (ceteris paribus). Sayangnya, derap dunia semakin hari semakin cepat, sehingga sering kali pengalaman kemarin bukanlah guru yang tepat untuk mengajari kita bagaimana menghadapi masa depan. Tiga, subyektivitas kita tidak jarang mempengaruhi cara mengeneralisasi informasi dan menginterpretasi sesuatu. Ini dimungkinkan hanya berdasarkan pengalaman masa lampau yang sesungguhnya sangat terbatas. Jadilah “makna baru” ini bukannya akurat, bisa jadi malah “ngawur.” Dengan paradigma dan logika yang salah, suatu “makna” bisa saja sangat terdeviasi dari yang sebenarnya. Empat, memori alias ingatan manusia ternyata tidak setajam yang kita duga. Bahkan informasi yang tampaknya sangat mendetil dan diungkapkan dengan cara yang sangat meyakinkan baik secara verbal maupun tertulis, bisa saja memori yang mendasarinya tidak lagi sahih. Psikolog Kognitif lulusan UCLA dan Stanford University Elizabeth Loftus yang dikenal dengan risetnya dalam memori manusia menambahkan bahwa berbagai ketidaksahihan memori disebabkan oleh keterbatasan pandangan mata dan indera lainnya. Otak manusia dikenal “menciptakan” garis penghubung antara titik-titik yang tidak begitu jelas diterima oleh sistem syaraf sehingga “gambaran mental” yang direkam di dalam otak cukup baik. Lima, gambaran mental maupun persepsi akan suatu insiden yang terekam di dalam otak cukup mudah “tercemari” oleh berbagai persepsi baru akan hal-hal lainnya. Ini berarti detil-detil memori tersebut juga dapat berubah tanpa disadari sama sekali. Perubahan akan berbagai paradigma dan perspektif akan hal-hal lain juga dapat mempengaruhi memori. Misalnya, kondisi eksternal dan pendapat orang lain yang berpengaruh dapat mengubah memori yang sangat dipengaruhi oleh kondisi ...

Taco Bell mengguncang Lanskap Franchise

Taco Bell mengguncang Lanskap Franchise Di AS, negara asalnya, Taco Bell dimiliki oleh Yum! Brands, yang juga memiliki dan mengoperasikan KFC, Pizza Hut, The Habit Burger Grill, dan WingStreet. Sebelum 2011, Yum! juga memiliki A&W Restaurant. Yum! Brands sendiri berbasis di Louisville, negara bagian Kentucky. Mereka mengoperasikan 43.167 restoran di 135 negara. Dari jumlah tersebut, 40.758 adalah restoran yang dimiliki oleh franchisee. Konsumen yang dilayani per tahun mencapai 2 miliar orang. Taco Bell sendiri didirikan oleh Glen Bell dengan hot dog stand-nya di daerah gurun San Bernardino, California pada tahun 1946. Kemudian ia mendirikan Taco-Ria yang diganti dengan brand El Taco, kemudian Taco Bell. Sajian masakan cepat saji Meksiko ini sesungguhnya dikenal sebagi Tex-Mex alias cita rasa Meksiko yang telah disesuaikan dengan lidah Texas sebagai representasi budaya AS. Pada pertengahan Desember lalu, Taco Bell (TB) pertama telah dibuka di Jalan Senopati 96, Jakarta Selatan dibawah PT. Fast Food Indonesia. Mereka memposisikan diri sebagai restoran Meksiko cepat saji. Menu TB di Indonesia telah ditambah dengan cita rasa lokal yaitu Bell Rice. Menu lainnya, seperti Taco Supreme, Quesadilla, Grilled Stuffed Burrito, Cruncwrap dan Nachos tetap sebagaimana dikenal di manca negara. Menu inovatif lainnya termasuk Naked Chicken Taco yang banyak dinikmati oleh peminat kulit ayam garing. Selain menu adaptif mereka, tren open kitchen dan dine in yang transparan merupakan keterbukaan akan kebersihan khas restoran cepat saji di negara-negara barat. Strategi bisnis dapat dipelajari dari kesuksesan TB di mancanegara adalah kemampuannya dalam menggaet para Milenial dan Generasi Z. Satu, TB dikenal sangat playful di media sosial. Dengan berbagai komen dan konten lucu menggemaskan, copywriting posting-posting mereka sering menjadi viral. Bisa dipahami mengapa TB cabang Jakarta didesain interiornya sedemikian rupa sehingga Instagrammable dan sangat layak dijadikan background swafoto. Kejelian mereka dalam memposisikan bisnis dan merek mereka sebagai “sahabat kaum muda” dibarengi dengan titik harga penjualan (pricing point) yang affordable. Dua, kecerdasan dalam memikat hati para influencer dan selebritas sehingga menciptakan momen-momen viral dan layak viral. Ini menunjukkan betapa aktif dan kreatifnya tim pemasaran online mereka. Misalnya, dengan memberikan cincin dan surat ucapan selamat menjalankan hidup baru bagi Chrissy Teigen dan John Legend. Chrissy dikenal sebagai konsumen TB yang kerap kali memberikan kritik membangun. Tiga, kehadiran aplikasi Taco Bell di Apple App Store dalam kategori “Food and Drink” ternyata meledak. Taktik ini memungkinkan promosi dan loyalty building dapat dilakukan berasamaan dan dengan biaya yang rendah....

Kekuatan Bahasa dalam Komunikasi Bisnis

“Bahasa” dalam bisnis tidak terbatas pada apa yang “menjual” belaka, selain yang tersurat dan tersirat. “Bahasa” dalam bisnis mencakup juga bagaimana mengkomunikasikan ide, fungsi, fitur, visi, dan image agar persepsi dan aksi yang diharapkan dapat dicapai. Ia juga merupakan komplemen design thinking yang berpengaruh. Dan “bisnis” tidaklah terbatasi oleh aktivitas mencari profit belaka, baik langsung maupun tidak langsung. Aktivitas yang membawa nilai tambah bagi suatu produk atau servis sendiri merupakan “bisnis” yang bisa bermuara pada manfaat pembawa keuntungan nominal maupun aset intelektual dan kultural lainnya. Salah satu bentuk penggunaan populer bahasa dalam bisnis adalah copywriting. Dalam konteks copywriting, bahasa mempunyai daya jual dengan daya tarik pemasaran komunikatif. Copywriting sering dikonsepsikan secara sempit sebagai “bahasa pemasaran” alias marketing dan promosi secara tertulis. Misalnya, slogan-slogan dan kata-kata di dalam iklan adalah hasil kerja para copywriter. Misalnya, tulisan yang “menjual” mengajak pembaca “membeli” baik secara terang-terangan maupun dengan soft approach dengan pendekatan informatif atau edukatif. Padahal, writing copy (menulis teks kopi) bisa untuk berbagai fungsi, tidak hanya untuk iklan. Sebenarnya, suatu bahasa (termasuk wujud writing copy) sangat tergantung dengan para penggunanya karena obyektivitas suatu komunikasi terbatasi oleh persepsi subyektif setiap individu. Dan subyektivitas ini merupakan hasil dari perspektif alias viewpoint atau sudut pandang. Idealnya, suatu bisnis atau gerakan mampu mengubah sudut pandang audiens target, terutama produk-produk blue ocean. Namun ini jelas membutuhkan usaha ekstra. Beberapa kasus bisnis di mana produk-produk baru perlu dijadikan bahan edukasi konsumen pada saat penetrasi, seperti Pepsodent, Dove, dan Febreze. Bagaimana para produsen consumer products tersebut mempromosikan produk-produk tersebut ketika pasar masih belum siap sangat menentukan kesuksesan market share yang kini mereka nikmati. Pepsodent, misalnya, diluncurkan pada tahun 1915 di AS oleh Pepsodent Company of Chicago. Pasta gigi ini yang pertama menggunakan formula pepsin, yaitu enzim digestif yang dapat meluluhkan deposit makanan di gigi. Saat itu, pasar masih belum paham tentang pepsin. Jadilah iklan edukatif yang mengajarkan pentingnya menggosok gigi secara teratur setiap hari merupakan bukti kuatnya “bahasa” yang mampu mengubah persepsi akan kesehatan oral. Sabun mandi lembut berpelembab Dove dengan slogannya “real beauty” telah meluncurkan kultur mencintai diri yang unik apa adanya alias “body positivity” sebagai suatu gerakan. Tidak lagi bintang iklan sabun berwarna putih ini seorang perempuan blonda bermata biru nan langsing, namun menggunakan model yang berasal dari berbagai...

Wardah dan Kompetisi Merk GLobal

Indonesia, China, India, dan Brazil adalah emerging markets yang sangat diperhitungkan oleh perusahaan-perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) global, seperti P&G, Unilever, Colgate-Palmolive, Kimberly-Clark, Nestle, Danone, Johnson & Johnson, dan lainnya. Tidak heran, mengingat industri raksasa ini mencakup USD 1,2 trilyun per tahun. Jadilah “kue besar” ini juga diincar oleh para pemain lokal. Di Indonesia sendiri, nama-nama Kino, Tempo Scan, Wings, Grup Orang Tua, dan lainnya sudah tidak asing lagi. Dalam kategori FMCG kosmetika dan toileteri, Paragon Technology and Innovation (PTI) dengan merek-merek lokalnya yang telah mulai melebarkan sayap ke manca negara semakin diperhitungkan. Salah satu mereknya adalah Wardah Beauty yang merupakan pelopor kosmetika halal, kini telah memegang 30 persen market share domestik. Pendiri Wardah Ibu Nurhayati Subakat pun diakui kepiawaiannya dalam dunia skincare dengan dianugerahinya gelar doktoral honoris causa dari alma mater ITB di mana ia lulus sebagai ahli farmasi. Subakat pernah bekerja sebagai apoteker di Padang sebelum pindah ke Jakarta sebagai staf quality control kosmetika Wella. Kemampuan Wardah dalam memenangkan pangsa pasar Indonesia patut diacungi jempol. Penggunaan label halal sangat membantu penetrasi pasar di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia dan Malaysia. Selain itu, formula-formula produk sangat sesuai dengan kondisi tropis. Bagaimana strategi bisnis Wardah yang mengguncangkan bisnis-bisnis FMCG global? Satu, menyebarkan nilai-nilai Islami dan kearifan lokal. Wardah selalu membawa simbol halal dan image Muslimah yang semerbak mewangi mengingat kata “wardah” mempunyai arti bunga atau mawar. Penggunaan warna hijau muda dan tagline dari “inspiring beauty” menjadi “feel the beauty” bermaksud memancarkan inspirasi positif akan cinta kasih, keindahan, dan kebaikan dari dalam hati. Jadi, ada kasih dalam produk Wardah yang dikemas sederhana dan simpel. Dua, komunikasi sosmed dan online dengan influencer senilai dan trending. Ayana Jihye Moon seorang influencer asal Korea Selatan yang lebih dulu dikenal di Malaysia telah dipilih menjadi salah satu brand ambassador Wardah yang unik. Nona Moon ini berwajah khas perempuan muda usia 20an asal Korea yang berkulit bening pualam dan bermata berbentuk almond memukau. Dan ia berhijab. Gabungan antara kekuatan kultur K-Pop yang dikenal dengan teknologi skincare yang piawai dengan kealiman seorang muslimah berhijab bertutur kata halus terpancar secara alami tanpa perlu banyak penjelasan. Follower Ayana yang telah mencapai 3,2 juta sendiri merupakan pool audiens yang sangat bernilai. Tiga, edukasi perawatan wajah dan tubuh yang halal. Wardah mendukung aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan perawatan w...

Faktor Relevansi menjadi tanda tanya besar

Faktor Relevansi menjadi tanda tanya besar Di era pandemi dan teknologi dalam Revolusi Industri 4.0 ini, derap perubahan sangat cepat. Ini membuat banyak hal, termasuk model bisnis dan produk menjadi tidak lagi relevan. Setiap bisnis dan individu perlu beradaptasi secepat mungkin agar segala sesuatunya dapat berjalan tanpa jeda yang tidak produktif. Mengapa? Karena hal-hal baru sangat cepat datang dan datang kembali dalam versi-versi teranyar sebagaimana barang-barang elektronik dan model bisnis e-commerce dan m-commerce. Selain itu, model bisnis yang melibatkan kerumunan akan semakin ditinggalkan. Fenomena ini telah menyudutkan industri pariwisata dan pameran-pameran perdagangan (trade shows). Namun sangat membangkitkan kebutuhan akan ruang-ruang virtual dan online yang digunakan untuk berbagai kepentingan, tidak hanya Zoom untuk meeting. Strategi bisnis sendiri bergeser dari mindset spesialis ke multi fokus alias generalis. Beberapa contoh perubahan seperti menyimpan stock (daripada just in time tanpa stok), diversifikasi (daripada core competency), menyekat penyampaian servis, layar sentuh (touch screen) akan diganti dengan touchless point atau via aplikasi, aktivitas jarak jauh dengan wifi, pembayaran cashless, penggunaan aplikasi-aplikasi pendukung kerja remote, dan kantor privat (bukan open plan). Tentu saja ini membuat faktor relevansi menjadi tanda tanya besar. Misalnya, mengunjungi dokter untuk konsultasi kini dianjurkan via telemedicine alias via aplikasi atau komputer. Berbagai peralatan satu kali pakai, pembersihan alat terus-menerus, dan peralatan proteksi menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Relevansi keberadaan seseorang di dalam satu tempat dan satu ruangan kini bukanlah sesuatu yang sangat diperlukan. Lokasi geografis menjadi tidak relevans dalam penyampaian informasi, edukasi, pelayanan, dan berbagai aktivitas lainnya, sepanjang dapat dilakukan secara virtual. Bahkan hal-hal yang pasca pandemi biasanya dilakukan secara tatap muka. Lantas bagaimana tentang mengakuisisi customer baru? Prospecting di tengah pandemi? Bagaimana yang relevan? Satu, cari tahu apa yang relevan bagi mereka. Pasti ada beberapa benang merah yang umum dan yang khusus. Catat dan pikirkan apa yang bisa dilakukan dalam kondisi terkini. Riset lapangan dan wawancara dengan mencari pain points dan harapan solusinya dapat sangat menentukan arah marketing dan keseluruhan bisnis. Dua, secara psikologis, pandemi semakin menyadarkan kita akan pentingnya menghargai jiwa dan keselamatan orang-orang terdekat kita dengan kesehatan kita yang prima. Jadi, produk atau jasa apapun yang ditawarkan perlu dipastikan kualitas dan perannya bagi kesehatan, termasuk distribusi dan packaging tidak menyebarkan virus atau bakteri. Tiga, bangun kerja sama dengan bisnis-bis...

AMDK mewah Fiji VS Equil

ika Anda sering nongkrong atau menghadiri rapat di hotel-hotel berbintang lima, pasti Anda temukan Fiji Water (FW) dan Equil. Dua merek ini dapat disandingkan bersama-sama mengingat mereka membidik pasar menengah atas. Dua-duanya adalah “air minum kemasan murni” yang cukup tinggi harganya per botol. FW dikemas dengan high-grade polyethylene terephthalate plastic transparan, yang telah dinyatakan aman oleh US FDA untuk makanan dan minuman. Sedangkan Equil dikemas dalam botol kaca berwarna hijau transparan yang selain aman untuk kesehatan juga menunjukkan bidikan pangsa pasar atas. Fiji Water sebagaimana namanya, bisa ditebak berasal dari negara pulau Fiji yang berada di Pasifik Selatan. Lokasinya yang jauh dari peradaban modern, menyebabkan air artesis yang berasal dari aquifer ini demikian jernih dan murni tanpa kontaminasi polusi dan berbagai elemen tanah dan air lainnya. Difilter secara alami oleh batu-batu alam, FW sangat menarik bagi mereka yang punya kantung tebal dan mendambakan kemurnian air. FW juga mengandung berbagai elektrolit alami seperti magnesium, potasium, dan sodium. Level PH-nya pun bersifat basa yaitu 7 hingga 7.7, sehingga sangat baik untuk kesehatan. Namun ada beberapa hal yang cukup kontroversial mengenai FW, yaitu jejak karbon negatif (negative carbon footprint) yang masih juga belum tercapai sejak komitmen mereka pada tahun 2008. Dan manajemennya yang agresif dalam meraup laba banyak diekspos media karena kontribusi terbatas bagi penduduk Fiji. Equil dengan botol kaca elegan dan logo bergambar sebuah vila berdesain klasik Eropa bernama Villa D’Equilibrium, ternyata diproduksi di Sukabumi, Jawa Barat sejak 1997. Diproduksi dalam jumlah terbatas, air minum berasal dari mata air alami tanpa proses pemompaan dan teknologi lainnya menjadi sangat eksklusif dan berharga tinggi. Bahkan telah lama diekspor ke Eropa. Didirikan oleh entrepreneur Indonesia Morgen Sutanto, PT Equilindo Lestari menjawab kebutuhan air kemasan yang representable dan eksklusif. Sebagai negeri yang penuh dengan sumber daya alam air, sangatlah ironis apabila Indonesia masih mengimpor air minum kemasan yang dikonsumsi oleh pangsa pasar atas. Equil termasuk kategori air mineral alami, di mana teknologi dan water treatment apapun tidak dipakai. Untuk memastikan layak konsumsi, air diperiksa setiap jam satu kali, setelah itu dikemas, dikarantina, dan dikultur selama 5 hari untuk mendeteksi mikroorganisme. Jadi, proses pengambilan dan pengemasan air minum alami sangat berbeda dengan yang mengalami proses penyaringan, distilasi, dan oksidasi. Kemurnian dan proses QC manual inilah yang menyebabkan tingginya harga Equil yang mencapai 20 kali harga air minum kemasan pada umumnya. Ada varian Equil Hydra Tera yang banyak dikonsumsi untuk terapi kesehatan mereka yang berpenyakit kronis. Satu keun...

Sovereign Wealth Fund Indonesia

Indonesia segera akan punya semacam Temasek yaitu berbentuk Sovereign Wealth Fund (SWF) yang merupakan kumpulan dana investasi yang dikelola oleh lembaga negara. Lembaga ini diberi nama Indonesia Investment Authority (INA) yang telah dilegalkan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. 74/2020 tentang Lembaga Pengelola Investasi (LPI). SWF secara garis besar dapat berinvestasi di sektor riil maupun sektor finansial, bahkan termasuk private equity dan hedge fund. Dan salah satu tujuan pendirian SWF, termasuk LPI INA adalah stabilisasi ekonomi negara dan pemerataan pembangunan infrastruktur negara. Modal awal yang telah ditetapkan adalah USD 5 miliar atau sekitar IDR 75 triliun yang akan dipenuhi selama 2021. Saat ini, angka ini telah meningkat lebih dari dua kali lipatnya dengan kucuran dana tambahan dari SWF-SWF luar negerti, seperti ADIA (Abu Dhabi Investment Authority). Dan diharapkan akan segera mencapai USD 20 miliar. Dengan adanya LPI INA ini, diharapkan Indonesia tidak lagi perlu mengkhawatirkan sumber dana pembangunan negara yang selama ini banyak bersumber dari dana-dana pinjaman luar negeri. Dengan semakin stabilnya kondisi makro, maka diharapkan semakin banyak pula investasi asing yang berani masuk. Efek makronya, (GDP) PDB Indonesia juga dapat terdongkrak naik, mengingat komponen I (investasi) sama pentingnya dengan komponen C (konsumsi) dan G (pengeluaran pemerintah). Dua yang terakhir ini sudah mendominasi Indonesia sejak dulu. SWF Indonesia ini sedikit berbeda dengan SWF-SWF umumnya, termasuk lima besar ini: Norway Government Pension Fund Global (USD 1,2 triliun), China Investment Corporation (USD 1,04 trilyun), Abu Dhabi Investment Authority (USD 580 miliar), Hong Kong Monetary Authority Investment Portfolio (USD 576 miliar) dan Kuwait Investment Authority (USD 534 miliar). LPI INA terfokus pada influx dana-dana investasi (capital inflow) dan partisipasi JBIC (Japan Bank for International Cooperation), bukan berasal dari dana surplus. Sebagai contoh, ketersediaan dana pensiun seperti Norwegia, penjualan komoditas seperti di Brunei, dan surplus ekspor seperti Korsel, misalnya. Fakta bahwa LPI INA tidak menggunakan surplus dana namun recycling aset di mana aset-aset ditransfer serta mendapat bantuan dari JBIC, merupakan resiko tersendiri. Bernaung di bawah Menkeu dan Menteri BUMN, serta diaudit oleh auditor independen (seperti PwC, E&Y), maka SWF LPI INA diharapkan cukup independen dan kredibel. Tentu saja sepanjang rambu-rambu, transparansi, dan sistem check and balance-nya sanggup menutup pintu-pintu penyalahgunaan dana dan proses pencucian uang. Kekuasaan terpusat yang berlebihan selalu mengundang resiko, sehingga ini perlu pengawasan lebih intens dari publik. Selanjutnya, apa efek dari SWF Indonesia pertama ini bagi para pemain bisnis di Indonesia terutama UKM, selain...

Kolaborasi dengan K-Pop dan K-Culture untuk mendongkrak pemasaran zaman now

Beberapa tahun terakhir ini, drakor (drama Korea) dan para penyanyi K-Pop baik yang girl band, boy band maupun solois mempunyai pengaruh signifikan bagi kultur dunia. BTS, misalnya, telah memenangkan nominasi piala Grammy 2021 untuk lagu “Dynamite. Grup band para gadis Blackpink memenangkan MTV Video Music Award 2020. Di Indonesia, baik BTS maupun Blackpink merupakan brand ambassador platform e-commerce Tokopedia. Bandingkan dengan pada tempo doeloe, adakah toko serba ada (bukan e-commerce pastinya, karena Internet belum lahir) yang menggunakan jasa brand ambasador dari Korea? Silakan dijawab sendiri. Dalam dunia fashion dan beauty, artis-artis Korea juga sangat kuat influensinya. Cukup banyak merek kosmetika yang tidak hanya melibatkan mereka sebagai brand ambassador, namun juga sebagai pendiri perusahaan dan creative director. Satu kasus unik. Mantan anggota girl band legendaris Girls’ Generation (GG) Jessica Jung memulai merek luxury fashion Blanc & Eclare (B&E) di tahun 2014. Kini, B&E mencakup juga lini eyewear, ready-to-wear, kosmetika, dan asesoris. Jung juga dikenal sebagai aktris serba bisa dan penyanyi solo. Yang terakhir dimulainya pada tahun 2016 setelah keluar dari grup GG. Pada tahun 2017, Forbes memasukkan nama Jung ke dalam daftar “30 Under 30 Asia” yaitu mereka yang berusia di bawah 30 dan super berpengaruh di Asia. Bukan ini saja, perempuan kelahiran San Francisco (AS) yang sebenarnya adalah Asian-American ini telah merambah dunia pustaka dengan novel debutnya Shine yang diterbitkan September 2020. Di Indonesia, terjemahannya telah diterbitkan oleh Gramedia. Yang ingin penulis sampaikan di sini adalah kekuatan branding K-Pop dan posisi para artis Korea sebagai duta bagi kultur Korea sebenarnya telah membuka pintu dan membangun jembatan bagi siapapun, termasuk para solo entrepreneur. Bahkan, dengan kekuatan branding K-Culture alias “kultur Korea,” para artis dan influencer berembel-embel Korea pun berpengaruh kuat di Indonesia. Lee Jeong Hoon yang dulu pernah menggemparkan dunia musik Indonesia dengan boy band HITZ, kini adalah penyanyi, aktor dan presenter laris tanah air yang super fasih berbahasa Indonesia. Selain itu, influencer tenar Hansol Jang yang dikenal sebagai “Orang Korea yang Medok” dan beauty vlogger Sunny Dahye sama-sama dibesarkan di Indonesia sebelum mereka kembali ke Korsel untuk membangun kanal YouTube berfollower jutaan berbahasa Indonesia. Jang adalah brand ambassador kosmetika Nacific dan Tokopedia, sedangkan Dahye adalah founder dan creative director House of Hur dan salah satu vendor sukses Lazada bernama Sunny’s Market. Bisa diterka berapa penghasilan mereka. Yang jelas pasti cukup signifikan. Kembali ke Jessica Jung. Label B&E yang berhasil merambah pasar luxury fashion ini telah...

Kesuksesan Chick Fil A ( CFA )

Jika Anda pernah mengunjungi Negara Paman Biden, kemungkinan besar Anda pernah mencicipi sajian Chick-Fil-A (CFA) yang jadi favorit lokal. Resto ini selain tenar akan kelezatan ayam goreng dan chicken sandwich-nya, juga kontroversial karena donasi karitasnya kepada organisasi-organisasi anti LGBTQ. Hebatnya, di tengah-tengah pro dan kontra hebat ini, di tahun 2019, total revenue CFA mencapai USD 10,46 miliar. Ini menjadikannya peringkat ketiga untuk restoran cepat saji di bawah McDonald’s USD 38,52 miliar dan Starbucks USD 20,5 miliar. CFA mencapai omzet USD 1 miliar pada tahun 2000 yang membuatnya berada di posisi ke-3 dalam kategori fast food ayam goreng. Dua yang diatas adalah KFC dan Popeye’s. Selain pencapaian di atas, setiap outlet CFA menghasilkan omzet paling besar dibandingkan dengan outlet-outlet fast food restaurant lainnya di seluruh AS. Karena melejit secepat roket, ini menyebabkan McDonald’s dan Popeye’s jadi memperhatikan setiap langkah CFA. Pada pertengahan 2019, McD bahkan menambahkan sandwich ayam ala Southern AS untuk menandingi CFA. Dan Popeye’s mulai menyajikan menu serupa di waktu yang hampir bersamaan. Mereka yang menganut paham liberal dan pro LGBTQ cukup banyak yang menahan diri untuk berhenti menikmati ayam sajian CFA sebagai bentuk protes. Yang menarik, ternyata pandangan tersebut yang awalnya dianggap sebagai “blunder” bagi public relations CFA, ternyata tidak berbuah negatif. Bagaimana bisa? Satu, CFA mempertahankan kultur korporasi yang “saleh.” Didirikan di Atlanta, Georgia pada tahun 1946, oleh seorang Kristen taat Truett Cathy, CFA mulanya bernama Dwarf Grill. Menu sandwich ayam yang digoreng dalam minyak kacang tanah sebenarnya merupakan resep keluarga favorit ibunda. Semua outlet CFA tutup setiap hari Minggu, termasuk yang berlokasi di stadium-stadium olahraga yang penuh sesak di musim pertandingan. Alasannya klasik dan “saleh,” yaitu agar setiap pegawai dapat beribadat ke gereja dan beristirahat penuh di hari Minggu. Dua, bernilai kekeluargaan yang tinggi. Nilai kekeluargaan CFA didukung oleh kultur Southener yang dikenal sangat menjunjung tinggi rasa hormat kepada sesama, kesetiaan (termasuk kepada tempat kerja), dan keramah-tamahan “anak saleh.” Bisa dipahami ini menyebabkan baik konsumen maupun pegawai jadi merasa dihargai dan dihormati. Suasana “setiap konsumen adalah sahabat” terasa begitu menginjakkan kaki ke dalam outlet. Tiga, visi resto di dalam mall dan independen. Pada tahun 1967, CFA resmi dibuka di Greenbiar Mall, Atlanta. Di masa itu, resto fast food di dalam mall masih bisa dihitung dengan jari. Pada tahun 1993, telah ada 500 restoran independen (bukan dalam mall) yang telah beroperasi d...

Fungsi UX bagi setiap bisnis

UX (user experience) bukan hanya ranahnya dunia desain produk dan desain web atau aplikasi. UX adalah kualitas yang dapat dirasakan dari penggunaan sesuatu. Yang dimaksud dengan “sesuatu” itu adalah apa saja, termasuk dan tidak terbatas pada produk barang, jasa, maupun pengalaman. Pada dasarnya, setiap bisnis profit maupun non-profit memerlukan UX yang berkualitas tinggi. Bahkan untuk bisnis UKM sekalipun, seperti menjual nasi uduk di pinggir jalan maupun lapak online di dalam platform e-commerce marketplace. Intinya, kenyamanan berinteraksi bagi konsumen merupakan kata kuncinya. UX bukan hanya suatu kemewahan bagi bisnis-bisnis berkapital tinggi. Bisa saja, sesuatu yang sepele namun UX-nya luar biasa berkualitas mampu meroket setinggi langit sehingga bervaluasi jutaan USD. Mengapa tidak? Mari kita bahas apa sih sebenarnya UX itu. Apa bedanya dengan UI. Dan bagaimana UX diaplikasikan dalam setiap langkah bisnis yang berhubungan langsung dengan konsumen dan pegawai yang menjalankannya. Dan apa itu UX writing yang menjadi kolaborator dan konektor. Satu, people remember how you make them feel. Kita mengingat apa perasaan yang ditimbulkan seseorang atau sesuatu. Bagaimana suatu bisnis atau produk meninggalkan suatu “rasa” alias “feeling” itulah yang akan diingat. Ada rasa nyaman, sehingga terjadi repeat order. Ada rasa tidak suka, sehingga meninggalkan atau bahkan bad mouthing. UX dan UI sangat erat dengan what people feel alias apa yang konsumen rasakan, sehingga UX dan UI yang sesempurna mungkin merupakan salah satu kunci sukses. Dua, UX dan UI mirip tapi tidak sama. UX sering disalahartikan dengan UI (user interface), padahal mereka adalah dua hal berbeda. Serupa namun tidak sama. UX adalah singkatan dari user experience alias pengalaman pengguna. Dengan kata lain, desain produk sangat menentukan bagaimana pengalaman konsumen. Yang dimaksudkan dengan “desain” tidak hanya yang berwujud dua atau tiga dimensi, namun juga apa yang dirasakan secara tidak kasat mata. UI merupakan bagian dari pengalaman pengguna aplikasi, situs web, atau perangkat keras dan lunak alias apa saja yang berhubungan dengan dunia digital, elektronik, dan hasil cipta karya. UI sangat erat hubungannya dengan desain layout, seperti tombol, teks, gambar, dan berbagai bentuk interaksi lainnya. Bahkan berbagai interaksi mikro seperti animasi, transisi, dan elemen-elemen lainnya. Tiga, UX dalam produk tangible, online, dan jasa. Sebagai pengguna aplikasi di era modern, Anda pasti sering berinteraksi dengan elemen-elemen UI yang membawa Anda kepada pengalaman UX yang unik. Tidak diragukan lagi, user experience merupakan elemen penting yang menentukan kualitas penggunaan. Bayangkan ketika Anda menggunakan sebuah aplikasi e-wal...

BTS dan IPO Bintang K-Pop

BTS kembali menggemparkan dunia dengan nominasi American Music Award alias piala Grammy 2021 untuk kategori Best Pop Duo or Group Performance untuk lagu single Dynamite. Di penghujung 2020, mereka juga telah meluncurkan album berjudul BE. Selain prestasi seni, BTS juga memiliki impak luar biasa terhadap perekonomian makro dan dunia finansial Korsel, bahkan global. Para bintang K-Pop telah bermetamorfosis menjadi model bisnis berbasis intellectual property (HAKI) dengan daya serap super masif ke seantero jagad. Produk-produk pop culture Korea adalah 3rd largest export dan 2nd fastest growing industry dari Korsel. It’s safe to say that Hollywood saja tidak sedemikian sistematis dalam membangun kepopuleran merek bintang pop culture. K-Pop merupakan benchmark yang sangat patut diperhitungkan dalam kancah bisnis internasional. Dan IPO sudah merupakan path yang cukup umum bagi para bintang K-Pop. Ketujuh anggota BTS yaitu RM, Jim, Suga, J-Hope, Jimin, V dan Jung Kook tersebut merupakan anggota grup asal Korea dan bintang K-Pop pertama yang mendapatkan nominasi di ajang internasional tersebut. Single “Life Goes On” yang diluncurkan November 2020 lalu, merupakan katalis sehingga mereka berhasil memenangkan nominasi Piala Grammy. Single tersebut merupakan lagu yang bukan berbahasa Inggris namun berhasil menaklukkan hati para penggemar di berbagai negara dunia. Buktinya, lagu tersebut merupakan lagu non-Inggris pertama yang segera melesat cepat di Billboard Hot 100. Dalam 3 bulan, 3 lagu BTS berhasil menaklukkan anak tangga Billboard tersebut. Dan ini hanya bisa tersaingi oleh Bee Gees dan The Beatles 40an tahun yang lamapau. Ternyata, bukan hanya ketenaran dengan top chart di 120 negara yang membawa keuntungan finansial bagi record label dan grup. Namun ekonomi makro Korea Selatan sendiri sangat terbantu. Export pakaian jadi, kosmetik dan food/beverage naik secara cukup signifikan, baik yang didutabesari oleh BTS maupun tidak. Kenaikan ekspor pakaian dari Korsel telah naik 0,18 persen, kosmetika 0,72 persen, dan food and beverage 0,45 persen untuk setiap 1 index point peningkatan awareness tentang BTS. Demikian hebatnya, menurut Hyundai Research Institute. Terhitung 2017, satu dari setiap 13 turis yang berkunjung ke Korea Selatan adalah atas pengaruh BTS. Dan jumlah ini mencapai 800.000an pengunjung per tahun. Jadilah BTS ambassador kampanye turisme. Misalnya, Namsam Tower dan Banpo Bridge menjadi sangat populer sebagai efek dari keberhasilan kampanye tersebut. Dan setiap turism spot di Korsel tiba-tiba jadi “seksi” dan ngehit banget. Diprediksikan BTS akan membawa USD 48 miliar lagi bagi ekonomi Korea Selatan pada tahun 2023. Per tahun, BTS telah memasukkan USD 3,6 miliar plus USD 1 miliar consumer export Korea. Sedangkan PDB (pendapatan domestik bruto) Korea Selatan ha...