•  

    Jln Walter Monginsidi No 15 Yogyakarta

Bertahan di Era Pandemi

Pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia. Ini berarti sangat banyak bisnis yang kena imbasnya. Dan ini bukan perkara gampang. Ketika semua orang berdiam di rumah agar tidak terkena penularan, maka bisa dipastikan bisnis yang berbasis fisik akan sangat sepi. Bisnis online dan berbasis aplikasi masih dapat diandalkan, sepanjang kurir dan ojol masih dapat berkeliaran. Bagi bisnis-bisnis yang belum masuk ke ranah online dan aplikasi, kini sudah merupakan keharusan. Biasakan untuk segala sesuatunya dijalankan secara virtual. Kebiasaan-kebiasaan perlu diubah secepatnya. Namun jelas ini punya keterbatasan akan jenis pekerjaan dan tugas-tugas yang dapat dijalankan dengan komputer dan telpon. Bagi bisnis-bisnis yang berbasis aktivitas dan tidak bisa diwakilkan secara virtual, apa daya? Kita bisa belajar dari General Motors (GM) yang telah mengubah pabrik manufaktur mereka dari produsen otomobil menjadi produsen ventilator dan respirator (alat-alat pernafasan). Jelas ini sangat memungkinkan, mengingat mesin-mesinnya dapat dialihfungsikan. Sinar Mas Group, misalnya, kini sedang memfokuskan diri pada produksi maskter, sehingga Indonesia tidak lagi tergantung pada impor. Di Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo menggalakkan produksi APD (alat pelindung diri) untuk digunakan oleh para dokter dan paramedis. Bagaimana dengan bisnis Anda? Pertimbangkan beberapa hal. Satu, pastikan lakukan pemangkasan pengeluaran dalam bentuk cash. Bisa dimengerti apabila penghematan ini juga membawa akibat terhadap penurunan produktivitas. PHK sedapat mungkin diminimalisir dengan menurunkan jam kerja, apabila dimungkinkan. Yang jelas, berbagai bentuk penghematan perlu dilakukan sementara. Dua, gunakan instrumen-instrumen online sedapat mungkin. ...

Tingkatkan Produktivitas dengan Work from Home

Wabah Covid-19 telah mengubah paradigma berpikir kita, minimal mengenai konektivitas, produktivitas, dan ketersediaan instrumen untuk bekerja dari rumah atau work from home (WFH). Jika dulu kita mungkin mengira bahwa WFH bukanlah suatu opsi menarik karena produktivitas bisa saja menurun, ternyata sekarang sebaliknya. Dengan WFH, seseorang telah menghemat waktu, biaya, dan energi untuk bolak-balik dari rumah ke tempat kerja. Padahal mayoritas aktivitas dapat dijalankan secara online. Dulu, dalih utama bekerja dari kantor adalah untuk mempermudah meeting dan pertemuan-pertemuan dengan kolega dan klien yang membangun konektivitas dan produktivitas. Sekarang, dalih utamanya adalah faktor kesehatan dengan social distancing dan opsi yang tidak kalah penting untuk produktivitas. Secara virtual, manajemen proyek semestinya tetap dapat dijalankan dengan efisien, mengingat berbagai instrumen online kini sangat memungkinkan untuk melihat dalam seketika berbagai aktivitas anggota tim sekaligus. Jadi, paradigm shift dari fokus offline ke fokus online sebenarnya merupakan hal yang sangat baik. Beberapa aplikasi online yang sangat membantu kerja tim virtual termasuk: Trello, ClickUp,Wrike, dan Asana. Project.co mempunyai fitur yang juga menggabungkan antara tim dengan klien, jadi tidak perlu update ke klien. Semua bisa transparan terbaca. Data di AS oleh Hubspot menunjukkan sebenarnya bekerja dari kantor mencakup 28 persen distraksi dan 13 jam dalam seminggu dihabiskan hanya untuk menjawab email baik yang berhubungan dengan pekerjaan maupun tidak. Jadilah WFH merupakan opsi yang sangat patut dipertimbangkan. Tentu dengan asumsi lingkungan rumah memungkinkan. Beberapa tip penting WFH yang produktif. Satu, tentukan tempat kerja yang tetap.Idealnya, ini adalah meja kerja dengan kursi memadai dengan senderan yang relatif ergonomis. Suasana kerja juga sebaiknya tanpa suara-suara mengganggu di latar belakang, seperti suara televisi atau orang mondar-mandir dan suara-suara lainnya. ...

Yang Bertahan Super Lama

Dunia semakin tidak stabil, baik secara lahiriah maupun finansial. Ancaman resesi selalu ada, baik karena masalah moneter maupun bencana, yang dari alam maupun buatan manusia. Mereka yang bekerja di kantor, ancaman PHK selalu mengintai. Sedangkan para pemilik bisnis juga terkadang tidak merasa aman karena kondisi ekonomi yang naik turun sangat mempengaruhi transaksi. Dengan kata lain, kita hidup di era yang semakin tidak menentu. Era “gonjang ganjing.” Untuk itu, kita sangat membutuhkan informasi mengenai “kelanggengan” sehingga ada sedikit pegangan untuk men-hedge masa depan. Sebenarnya, ada tidak sih perusahaan yang bertahan super lama sehingga dapat memberi rasa aman bagi pekerja, pemilik bisnis, dan para stakeholder? Jawabannya tentu saja ada. Namun semua itu relatif. Ada beberapa perusahaan yang bertahan sangat lama sehingga bisa disebut sebagai “bisnis super,” seperti GE, Disney, Boeing, Johnson & Johnson, dan sebagainya. Dalam buku berjudul Made to Last, para penulis Jim Collins dan Jerry Porras mengungkapkan bahawa bisnis-bisnis yang bisa bertahan super lama ternyata mampu mematahkan mitos-mitos berikut. Satu, mitos membutuhkan ide jenius untuk membangun perusahaan raksasa.Tidak selalu ide jenius menghasilkan omzet luar biasa. Sering kali, ide-ide biasa saja yang memberi solusi akan suatu kebutuhanlah yang mantap dijalankan. Bahkan ada juga produk-produk gagal seperti Post-It-nya 3M merupakan suatu contoh menarik. “Kegagalan” yang fungsional ini ternyata mempunyai pasar tersendiri. Ciamik bukan? Dua, mitos membutuhkan seorang pemimpin karismatik.Pemimpin karismatik memberi peluang untuk pengkultusan individu. Padahal ini bisa jadi berbahaya untuk kelangsungan bisnis secara jangka panjang. ...

Ekonomi Bertujuan Transendental

Pandemi Covid-19 merupakan alarm wakeup call bagi semua umat manusia. Alam sudah terlalu banyak dieksploitasi sehingga kerusakan planet telah cukup parah, maka terjadilah bentuk bencana alam, termasuk pandemi. Kapitalisme murni merupakan sistem yang tidak lagi relevan. Perlu diimbangi dengan kesadaran tinggi akan sesuatu yang lebih besar, yaitu purpose alias tujuan yang transendental. Tujuan suatu organisasi, termasuk yang bersifat mencari keuntungan seperti bisnis, sering kali mengabaikan “tujuan transendental”-nya, karena lebih mengejar omzet. Pada intinya, setiap stakeholder adalah manusia dan kita memiliki sisi spiritual. Bukan dalam arti relijius-agamis, namun manusia sebagai satu keutuhan holistik, bukan dipisah-pisahkan antara kebutuhan materi, mental, dan spiritualnya. Dalam buku groundbreaking The Economics of Higher Purpose yang ditulis oleh Robert E. Quinn dan Anjan Thakor, mereka punya premis bahwa setiap bisnis telah memiliki fungsi otentik inheren tanpa perlu diciptakan kembali. Inilah fungsi transendental. Kuncinya adalah bagaimana menggali kemampuan setiap individu yang terlibat secara otentik dan menjalankan setiap aktivitas bisnis dengan mengutamakan pemeliharaan Planet Bumi, kasih kemanusiaan, dan etika. Keuntungan pasti akan mengikutinya. Jadi, dalam bisnis bertujuan yang transedental, setiap pegawai dipandang sebagai satu kesatuan, bukan hanya dua belah tangan yang digunakan untuk menjual produk. Mereka mempunyai harapan, kelebihan, dan kekuatan tersendiri yang mestinya dapat disintesa dengan tujuan perusahaan. Dalam suatu wilayah, sintesa bisa menjadi lebih luas dan solid. Jika bisnis Anda masih belum mempunyai tujuan yang jelas, mulai rancang. Setiap organisasi yang mempunyai tujuan transendental yang jelas, ia akan mempunyai “jiwa” yang menjadi payung bagi kultur di dalamnya. Satu, para manajer adalah konektor komunikator.Dengan kesadaran bahwa setiap individu mempunyai ...

Mindset Traksi

    MeetBaru   Mulai rapat     Gabung ke rapat   Chat     ...

Mencari Keseimbangan di Era Pandemi

Di era pandemi Covid-19 ini, tingkat stres dan kecemasan semakin tinggi. Walaupun sudah work from home, setiap hal kecil menjadi termagnifikasi. Self-talk alias “berbicara dengan diri sendiri” semakin umum, apalagi ketika memang hanya sedang sendirian bekerja dari rumah. Tentu ini hal wajar dan tidak perlu dikhawatirkan karena kesehatan mental aja tetap prima. Namun, ketika kita berbicara dengan diri sendiri, sebenarnya kita sedang menanamkan imprint ke dalam bawah sadar. Bagi mereka yang relijius, mungkin begini, “Ucapan adalah doa.” Bagi para neurosains, kita memprogram alam bawah sadar dengan pikiran yang terucap dalam bentuk kata-kata (neuro linguistic). Neurosaintis dari University of North Carolina at Chapel Hill Dr. Barbara Fredrickson menekankan pentingnya untuk selalu berpikir, berucap, dan berbuat positif sebanyak mungkin setiap saat. Karena satu hal negatif membutuhkan tiga kali positivitas untuk menetralisirnya. Di era tidak menentu seperti sekarang ini, tentu self-talk positif sangat membantu. Self-talk negatif, seperti mengata-ngatai diri sendiri “tidak berguna,” “dasar bodoh” dan “saya tidak bisa apa-apa” tentu sangat merugikan karena dapat memprogram alam bawah sadar kita untuk percaya akan hal-hal tersebut padahal belum tentu benar. Self-talk negatif tentu sangat tidak menguntungkan sama sekali. Ketika lingkungan eksternal negatif, seperti di era pandemi atau resesi ekonomi, idealnya Anda tetap berpikir positif dan memberi semangat bagi diri sendiri. “Saya pasti bisa” dan “saya terberkati” adalah contohnya. Pada intinya, segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang abadi. Semua berbentuk roda dan siklus yang terus berputar. Ada kalanya siklus itu negatif, namun sering kali positif. Ketika kondisi positif, tetap berpikir positif. Ketika kondisi negatif, lebih penting lagi un...

Setiap Individu adalah Penjual

Mungkin Anda termasuk mereka yang punya mindset bahwa “saya tidak pandai menjual,” padahal faktanya sejak lahir kita telah “menjual.” Menjual di sini tidak selalu merupakan transaksi jual-beli. Bisa saja mengutarakan suatu ide atau informasi agar diikuti atau disetujui oleh orang lain. Ketika kita “menyarankan,” “meminta,” atau “mengharapkan” seseorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang kita utarakan, maka sesungguhnya kita sedang “menjual.” Ketika orang lain melakukan hal-hal yang kita harapkan atau inginkan, itulah tanda kesuksesan penjualan kita. Jadi, tidak ada kata “tidak bisa” atau “tidak suka” menjual dalam kamus Anda. Yang penting adalah menguasai konsep, mindset, dan prosesnya agar proses “menjual” dapat tercapai dengan seoptimal mungkin. Di tempat kerja, setiap pegawai dan anggota tim manajemen merupakan “penjual” dengan keunikan mereka sendiri-sendiri. Lantas, manajemen perlu mempunyai program yang menghargai setiap usaha mereka, apapun bentuk “penjualannya.” Pada dasarnya, proses “menjual” sendiri mempunyai enam langkah. Satu, proses menjual mungkin terasa instingtif, namun sesungguhnya Anda perlu punya perencanaan. Jawablah dengan jujur apa yang Anda targetkan, siapa yang dapat membantu pencapaian target itu, bagaimana dapat dicapai, kekurangan-kekurangan Anda yang berkenaan dengan proyek tersebut, dan seberapa konfiden Anda dalam memberi request. Strategi menjual merupakan fondasi awal setiap aktivitas individu. Bahkan ketika Anda masih kanak-kanak sekalipun, misalnya hendak pergi bermain ke rumah teman, Anda perlu “menjual” tujuan dan manfaatnya sehingga diberi izin oleh orang tua. Dua, mencari kesempatan-kesempatan penjualan dalam setiap celah yang tersedia. Bayangkan, dengan kemampuan ini, Anda akan semakin mudah mendapatkan hal-hal baru yang mendukung pencapaian. ...

Berbisnis di Era New Normal

Kita dihimbau untuk “berdamai” dengan virus Covid-19 alias virus Korona. Ini dapat diinterpretasikan macam-macam, dari yang paling ekstrim hingga yang paling rileks. Yang jelas, kemungkinan besar virus Korona akan terus ada dalam berbagai versi mutasinya. Dan tergantung para penderitanya, ada yang mengalami gejala ringan hingga parah. Sebagai individu, kita perlu membiasakan diri untuk selalu menggunakan masker dan disinfektan. Bagaimana dengan bisnis? Apa saja bentuk-bentuk penyesuaian yang perlu dilakukan agar tetap bertahan di era pandemi ini? Banyak teori mengenai tatanan dunia usaha baru dan bagaimana makro ekonomi seyogyanya diperbaharui demi kemanusiaan dan ekologi yang lebih dijunjung tinggi. Namun, bagaimana prakteknya? Pertama, remote working, remote learning, dan remote activities akan semakin “normal.”Jadi, bisa dipastikan e-commerce dan m-commerce semakin menjamur. Berbagai jenis jasa yang dapat disajikan dalam bentuk jarak jauh, pasti akan semakin dibutuhkan. Kedua, struktur organisasi yang berbentuk garis lurus akan semakin berkurang. Bentuk kerja sama yang berbentuk sinergistik lingkaran akan semakin umum. Kepakaran yang diaplikasikan secara praktek akan semakin dihargai dibandingkan birokrasi struktural komando. Ketiga, pengambilan keputusan semakin berdasarkan urgensi kekritisan kebutuhan.Kepentingan akan penanggulangan penyebaran virus Covid-19 akan menempatkan posisi tertinggi, sehingga budget dialokasikan seefisien mungkin. Dari seragam hingga handling produk perlu diperbaiki agar tidak membahayakan kesehatan konsumen. Keempat, akomodasi kebutuhan konsumen tergantung kekritisan kebutuhan.Sebagaimana pengambilan keputusan yang akan sangat dipengaruhi oleh urgensi kekritisan kebutuhan, akomodasi kebutuhan konsumen juga demikian. Jika dulu just-in-time merupakan salah satu pendekatan supply chain yang mengandalkan ketepatan prediksi demand, maka change-in-time merupakan pendekatan yang membutuhkan keberanian mengubah diri da...

Mengintip Bisnis Pasca Pandemi dengan 5 P

Henry Mintzberg memperkenalkan strategi 5P yaitu plan, ploy, pattern, position, dan perspective. Diadaptasikan dalam era pandemi oleh Carsten Lund Pedersen dan Thomas Ritter yang dua-duanya mengajar di Copenhagen School of Business di Denmark, 5 P termasuk position, plan, perspective, projects, dan preparedness. Mari kita kupas satu per satu. Position.Kenali posisi unik organisasi dan bisnis Anda sebelum, sepanjang, dan pasca era pandemi. Yang terpenting adalah posisi terkini yaitu selama masa pandemi. Peran apa yang bisnis Anda tawarkan di dalam ekosistem ceruk bisnis? Bagaimana posisi para kompetitor? Kenali juga arah tujuan di masa depan, selain bagaimana bisa bertahan di era pandemi, terutama ketika para konsumen berdiam di rumah dengan self-quarantine dan semi lockdown. Plan.Bagaimana rencana kembalinya bisnis seperti era sebelum pandemi? Posisi apa yang hendak dicapai? Orientasi sangat penting dengan memperhitungkan dan mempertimbangkan sumber daya yang ada dan kembali ke posisi pertumbuhan positif. Perspective.Bagaimana kultur dan “normal baru” mempengaruhi aktivitas-aktivitas bsinis? Krisis tentu mempertemukan kepentingan dan menggalang persatuan antar manusia, namun pandemi juga memperkenalkan “jaga jarak aman” yang dulu belum pernah dilakukan. Perusahaan Anda sendiri apakah siap dengan kondisi “normal baru”? Bagaimana SOP berbagai aktivitas di dalam perspektif ini? Apakah kultur organisasi saat ini memungkinan adaptabilitas dalam kondisi urgen pandemi? Bagaimana dengan sikap mental para pekerja dan tim manajemen? Bagaimana kerja sama yang terjalin? Dapatkah ditingkatkan lagi? Projects.Add-on projects alias proyek-proyek tambahan yang disebabkan oleh pandemi corona sering kali menjadi fokus baru. Fokus ini bisa menjadi pilihan jangka pendek maupun jangka panjang. ...

Prioritas Bagi Ekonomi Covid 19

Presiden Jokowi tampak kecewa dan berbicara dengan tegas di hadapan para menteri kabinetnya pada 18 Juni lalu. Beliau tampak gemas dan cukup emosional dengan kinerja para menteri yang biasa-biasa saja padahal negara sedang dalam kondisi krisis kesehatan dan ekonomi. Di awal pandemi pada Q1, para ekonom dan analis memprediksikan V-shaped recovery alias perbaikan ekonomi pasca-pandemi yang cepat dan menukik ke atas. Namun data-data terkini menunjukkan bahwa masa recovery bisa jadi panjang dan lama. IMF memprediksikan hingga akhir 2021, ekonomi global baru akan mencapai seperti di akhir 2019. PHK dan kepailitan masal terpaksa harus kita hadapi bersama di seluruh dunia. Perjalanan menuju recovery baik kesehatan maupun ekonomi tampaknya masih panjang dan berliku. Pandemi adalah “teritori baru.” Perbaikan ekonomi pasca pandemi malah merupakan teritori asing yang hanya terjadi setiap satu abad sekali. Bagaimana kita perlu menyikapi era pandemi dan pascanya, mari kita bahas. Stimulus dan pembelanjaan negara akan sangat mempengaruhi kelancaran perekonomian saat ini dan pasca pandemi. Jadi ini mirip dengan The New Deal-nya Franklin Roosevelt dengan berbagai program infrastruktur, perumahan, dan konversi industri. Satu alternatif lagi adalah UBI (Universal Basic Income) yang telah diujicobakan di beberapa negara, termasuk Kanada dan beberapa negara Eropa. Jika diaplikasikan di pasca pandemi, ini tentu merupakan bentuk stimulus langsung yang bisa jadi paling berperan dalam menggerakkan roda ekonomi akar rumput kembali. Di AS, capres Partai Demokrat Andrew Yang telah lama memasukkan UBI dalam platform kampanyenya. Presiden Trump sendiri telah menggelontorkan cek sebesar USD 1.200 bulan April lalu bagi setiap warga AS yang berpenghasilan menengah dan rendah. Sampai artikel ini ditulis, masih membutuhkan persetujuan Kongres AS untuk perpanjangan dan peningkatan santunan pekerja yang kena PHK. Apakah Indonesia perlu mempertimbangkan UBI? Berbagai bentuk bantuan cash telah diberikan oleh pemerintah, namun dalam nominal yang sesungguhnya masih jauh dari cukup untuk belanja kebutuhan hidup satu bulan. Pemberian UBI sebesar UMR setiap bulan sampai saat ini belum bisa dilaksanakan pemerintah Indonesia, namun bisa menjadi pertimbangan. Prioritas untuk menyelamatkan ekonomi di era Covid-19 dan pascanya semestinya menempati posisi tertinggi. Peran serta pebisnis tentu diharapkan semakin aktif dan tidak melulu menunggu sinyal hijau dari pemerintah. Ada beberapa rekomendasi dari US Small Business Administration agar bisnis-bisnis kecil dan menengah bisa bertahan dan terus berkembang di era pandemi ini dan pascanya. Satu, tingkatkan promosi berbayar dan tidak berbayar. Tetaplah diingat oleh konsumen dengan selalu hadir di berbagai media dan kesempatan. Di era digital ini, promosi dapat dilakukan secara gratis sela...

Heboh Tik Tok

TikTok. TikTok. Di mana-mana dan siapa saja bermain TikTok. Apa sih TikTok itu? Aplikasi lucu-lucuan untuk berjoget dan berdansa ria? No brainer benar ya. Well, hebatnya hampir semua influencer dan media maven punya akun TikTok. Bahkan para petinggi juga tidak ketinggalan bermain TikTok. Sebenarnya apa sih TikTok itu? TikTok adalah aplikasi media sosial berbasis video yang dirilis di tahun 2017. Yang telah didonlot lebih dari 2 miliar kali. (Bukan juta, tapi miliar.) TikTok ini dimiliki oleh perusahaan asal Tiongkok bernama Byte Dance. TikTok mengakuisisi Musical.ly di AS yang merupakan aplikasi video lipsyncing sebesar USD 1 miliar. Kini hanya nama TikTok yang eksis. Kekuatan utama TikTok adalah kemampuannya menjadi aplikasi asal China pertama yang berhasil menembus mainstream global. WeChat memang telah lebih lama populer di dunia, namun aplikasi itu terbatas pada diaspora Tiongkok. SoftBank termasuk salah satu penyuntik dana TikTok. TikTok mempunyai omzet USD 17 miliar di tahun 2019 lalu dengan keuntungan bersih USD 3 miliar. Populer di saat ini, namun TikTok sangat dihindari oleh pemerintah AS, para aktivis dunia cyber, dan CEO Reddit Steve Huffman. Huffman berpendapat dapat TikTok adalah spyware yang tidak pernah tidur. Menurutnya, TikTok selalu “on” mendengarkan dan mengambil data dari para pengguna. Pemerintah AS sendiri menganggap TikTok “seberbahaya” Huawei karena kemampuannya dalam menyerap dan merekam data pengguna. Mengingat aplikasi ini dimiliki oleh perusahaan Tirai Bambu yang secara geopolitis berseberangan, pantas saja Trump berniat untuk melarang penggunaannya di Negara Paman Sam. Di China sendiri, ByteDance bukannya tidak bermasalah. Di tahun 2018, mereka pernah dikritik oleh Pemerintah Komunis Tiongkok mengenai “konten vulgar” mereka yang dirilis di aplikasi Jinri Toutiao. Karena catatan buruk ini, TikTok hendak dipisahkan dari ByteDance. TikTok juga telah mengundurkan diri dari pasar Hong Kong, mengingat Pemerintah China semakin ketat dalam hukum soal data pengguna dalam proteksi sekuriti nasional. Jadilah TikTok memilih untuk tidak berada di dalam jurisdiksi tersebut. Di India, TikTok termasuk dalam 59 aplikasi asal China yang dilarang karena ancaman isyu keamanan nasional. Pelarangan ini bersifat sementara, karena Pemerintah India memberi kesempatan bagi aplikasi-aplikasi tersebut untuk membuktikan security and privacy compliance mereka yang sesuai dengan standar internasional. Padahal, TikTok sendiri mengakui bahwa India merupakan salah satu pasar terbesar di luar China yang sangat potensial untuk digarap. Diperkirakan kerugian akan mencapai USD 6 miliar apabila mereka keluar dari pasar dengan 1,3 miliar penduduk ini. Bagaimana TikTok dapat merebut lebih banyak pengguna di AS dan Eropa? Tampaknya salah satu s...

Zoom Merajalela

Era pandemi ini ditandai oleh merajalelanya penggunaan dan para pengguna Zoom. Rapat-rapat kantor dan proses belajar-mengajar banyak dilakukan dengan platform populer ini. Anda pasti pernah menggunakan atau, minimal, mendengar frasa “Zoom meeting.” Padahal, beberapa bulan sebelum pandemi, Zoom hanyalah startup aplikasi videoconferencing biasa yang sesekali digunakan oleh para manajer HR untuk mewawancarai kandidat pelamar dan beberapa fungsi rapat jarak jaruh yang tipikal. Di kala lockdown alias PSBB, aplikasi Zoom sangat membantu aktivitas-aktivitas WFH (work from home) dan SFH (schooling from home). Pengguna hariannya melonjak 20 kali lipat dari 10 juta di bulan Desember 2019 hingga lebih dari 200 juta di April 2020. Harga sahamnya pun telah meroket tajam dari USD 60an di akhir tahun lalu hingga mencapai USD 275 di bulan Juli 2020. Zoom didirikan di tahun 2011 oleh Eric Yuan, insinyur veteran dalam teknologi videoconferencing. Ia dilahirkan di Shandong, China pada tahun 1970. Pada akhir 1990an, ia hijrah ke Silicon Valley di California setelah mengalami penolakan aplikasi visa sebanyak delapan kali. Di sana, ia bekerja di Webex, salah satu perusahaan pelopor teknologi videoconferencing. Pada tahun 2007, Webex diakuisisi oleh Cisco. Yuan paham betul akan visi dan tren smartphone beserta aplikasi-aplikasi video conferencing yang kompatibel dengan gadget mobile seperti smartphone dan tablet. Namun Cisco tidak begitu tertarik dengan ide ini, sehingga ia pun mengundurkan diri. Jadilah Yuan dan mantan kolega-koleganya di Cisco/Webex mendirikan Zoom. Di bulan April 2019, Zoom (ticker: ZM) go public di Nasdaq AS. Pada hari pertama trading, harga sahamnya berhasil naik 72 persen dengan valuasi USD 16 miliar. Saat ini, konsumen dapat menggunakan aplikasi Zoom ini secara gratis untuk maksimal 100 peserta online meeting. Yang berbayar mencakup 1,000 peserta. Bayaran per bulan juga bertingkat tanpa memberatkan budget. Di era pandemi, jumlah pengguna Zoom yang 20 kali lipat dibandingkan dengan di masa-masa normal ternyata membuka beberapa isyu keamanan dan privasi. Salah satu masalahnya adalah konten video chat yang di-share kepada perusahaan-perusahaan ad-tracking. Fitur video recording dan video transcribing berjalan secara otomatis. Namun end-to-end encryption Zoom juga ternyata tidak berjalan sempurna, sehingga rawan penyadapan. Fitur attendee attention tracking tool memberi alert kepada organizer meeting mengenai perilaku peserta yang membuka browser lain ketika meeting berlangsung. Ini membuat privasi pengguna agak terusik. Internet trolls juga dikenal mentarget Zoom calls, kelas-kelas daring, dan ibadat-ibadat gereja dengan cara melakukan “zoombombering.” Didirikan oleh para insinyur teknologi asal negara China ternyata memperkeruh suasana selama era pandemi ini, mengingat...

Krisis dan Skandal Boeing 737

The Boeing Company didirikan pada tahun 1916 oleh William Boeing. Pada awalnya, nama yang dipakai adalah Aero Products Company yang memproduksi seaplane dengan satu mesin untuk armada U.S. Navy dalam Perang Dunia Pertama. Di tahun 1958, penerbangan komersial dengan penumpang manusia diluncurkan oleh maskapai Pan American (PanAm) dengan rute transatlantik. Pesawat yang digunakan adalah Boeing 707 yang ternyata hits dengan publik. Lebih dari 100 tahun, Boeing telah berhasil mengukir prestasi dipercaya sebagai perusahaan manufaktur pesawat udara penumpang berukuran besar. Sampai artikel ini ditulis, Boeing dan kompetitornya Airbus menguasai 99 persen pasar pesawat besar global. Airbus sendiri dimulai pada tahun 1967 atas kerja sama antara Jerman, Perancis, dan Inggris yang saling bersetuju bahwa sinergi di bidang aviasi akan meningkatkan interes teknologi dan pertumbuhan ekonomi di Eropa. Jadilah Airbus A300B ditargetkan sebagai pesawat jarak pendek dan menengah. Oktober 1972 ditandai dengan penerbangan pertamanya. Pada tahun 2018, pangsa pasar terbagi 50-50 antara Boeing dan Airbus. Pada tahun yang sama, Boeing mendeliver 806 pesawat dan Airbust 800. Saham keduanya outperform S&P 500 dalam 10 tahun terakhir. Dibalik nama besar Boeing, kepercayaan akan keamanan dan keselamatan penumpang telah terkikis sejak dua tahun lalu. Ada krisis apa sebenarnya di Boeing? Ini diawali dengan Lion Air yang berangkat dari Soekarno-Hatta Jakarta ke Pangkal Pinang jatuh di Laut Jawa pada tanggal 29 Oktober 2018. Ethiopian Airlines yang take off pada tanggal 10 Maret 2019 juga jatuh tidak lama kemudian. Total korban jiwa 346 dalam selang waktu 5 bulan. Kedua kecelakaan tersebut menggunakan pesawat Boeing 737 MAX yang masih tergolong baru. Jadilah FAA (Federal Aviation Administration) melakukan grounding terhadap 500 pesawat MAX 3 hari setelah kecelakaan kedua. Kini sekitar 800 Boeing 737 MAX milik berbagai maskapai dunia diparkir di hanggar bandara sebelum diizinkan terbang kembali dengan revisi. Benang merah kedua kecelakaan udara tersebut adalah kegagalan sistem MCAS (Maneuvering Characteristics Augmentation System) pada pesawat. Bahkan para pilot yang telah terbiasa membawa Boeing 737 versi lama tidak menyadari beberapa fitur baru yang memang tidak pernah disebut-sebut. Selain itu, terdapat beberapa unsur lain. Pertama, pergeseran kultur perusahaan yang dulunya mengutamakan keamanan penumpang ke mencetak profit sebesar-besarnya demi memuaskan Wall Street yang mendewakan dividend per share. Harga saham yang meningkat terus dalam 10 tahun terakhir merupakan pemicu semangat keserakahan yang tidak menempatkan keselamatan dan keamanan penumpang di tempat teratas. Ini disimbolkan dengan perpindahan kantor pusat dari Seattle ke Chicago. Di Seattle, kantor pusat bergabung dengan pabrik manufaktur,...

Crocs, Sandal Plastik Satu Miliar Dollar

Siapa yang tidak kenal sandal plastik warna-warni Crocs (Nasdaq: CROX) yang banyak menghiasi mal-mal kota-kota kosmopolitan? Digemari tua dan muda dari berbagai kalangan, Crocs merupakan alas kaki kerja, bermain, dan berbagai aktivitas kasual. Bahkan kini memasuki pentas fashion bergengsi dunia. Didirikan di Niwot, Colorado pada tahun 2002 oleh Scott Seamans, George Boedecker, Jr., dan Lyndon Hanson, Crocs yang berlogo buaya tersenyum ini diawali dengan produk sandal foam dan sandal untuk berperahu. Terbuat dari bahan closed-cell foam resin dengan model yang lebar sehingga super nyaman dikenakan, telah menjual lebih dari 300 juta pasang. Hebatnya, terlepas dari gayanya yang sederhana, cenderung “rada bloon” dan apa adanya, ada unsur-unsur jenius yang patut kita teladani. Satu, fashion statement penting bagi pecinta. Setiap produk unggulan punya pro dan kontra yang sangat kontras. Crocs merepresentasi individualitas di atas konformitas dan personalisasi di atas generik. Beberapa generasi telah menikmati keunikan produk-produk Crocs dari kakek-nenek Generasi Baby Boomer yang memakainya untuk berkebun hingga generasi cicit Generasi Z yang memakainya sebagai fashion statement. Para haters yang “benci” akan desain “buruk rupa” ternyata malah mendongkrak merek berlogo buaya ini. Di media-media sosial, dapat dijumpai para lovers dan haters yang bisa jadi sama banyaknya. Publisitas baik maupun buruk tetaplah publisitas. Dan ini bagi Crocs merupakan statement penting akan kekuatan merek mereka. Dua, keberanian restrukturisasi. Pada tahun 2007, Crocs mencapai puncak tertinggi dalam popularitas. Ia telah menggurita dengan berbagai kanal distribusi dan lini produk yang luar biasa banyaknya yaitu mencakup 5000 SKU. Lantas, ketika Great Recession melanda pada tahun 2008, jadilah inventaris yang berlebihan menjadi beban. Siapa lagi yang perduli akan fashion dan membuat statement individualitas di kala pekerjaan dan tabungan kandas? Pada tahun 2008 itu juga, Crocs merugi USD 185 juta. Sahamnya pun turun drastis hingga USD 1 saja. Kerajaan “Buaya” ini pun menanggung kebanjiran inventaris berlebih selama 2 tahun yang perlu segera mereka “singkirkan.” Delapan puluh persen toko retail Crocs di mancanegara yang underperforming pun ditutup untuk selamanya. Keberanian restrukturisasi menandakan change management yang mulai bergigi dan ini ternyata membuahkan hasil positif di masa depan. Tiga, refokus kembali ke desain dan kenyamanan pemakai. Sandal Crocs bertipe clog, seperti sandal tradisional Belanda yang terbuat dari kayu merupakan desain tradisional yang dikemas secara modern dengan bahan closed-cell foam resin bernama Croslite. Bahan ini mirip plastik namun mempunyai pori-pori sehingga nyaman dipakai untuk be...

Peloton, AWS dan Model Bisnis Pandemi

Pasar fitness di AS sebesar USD 28 miliar. Pemain utamanya adalah klab-klab fitness dan home gym konvensional. Kini, dengan maraknya The IoT (Internet of Things), Peloton menawarkan sesuatu yang berbeda. Produk ini adalah gabungan antara hardware yang berbentuk sepeda statis atau treadmill dengan software dan konten customized. Sedangkan cloud computing mereka dimotori oleh AWS yang dikenal dengan punya bandwith dan kapasitas hampir tak terbatas. Mereka menyebut diri sebagai FaaS (fitness-as-a-service). Bandingkan dengan SaaS (software-as-a-service). Produk smart exercise ini mengandalkan AWS (Amazon Web Services) dalam skalabilitasnya. Uniknya, bisnis model FaaS (fitness-as-a-service) ini merupakan jawaban untuk berolah raga di era 4.0 dan pandemi Covid-19. Jadi bisa dipastikan staying power-nya bakal lama. Sejak IPO-nya di tahun 2019 dengan valuasi awal USD 8 miliar, harga saham Peloton telah melonjak 50 persen berdasarkan data earning Q2. Retention rate para Connected Fitness Subscribers mereka mencapai 95 persen dan monthly churn rate hanya 0,65 persen. Koneksi Internet memungkinkan berbagai jenis latihan dijalankan secara virtual independen maupun dalam kelas dengan instruktur terlatih. Hingga akhir tahun lalu, keanggotaannya mencapai 1,4 juta orang. Apa saja strategi bisnis Peleton yang bisa dijadikan benchmark? Satu, membangun imaji hubungan dekat dengan para atlit profesional dan instruktur selebriti via virtual relationship. Kebersamaan ini merupakan sumber motivasi dan inspirasi yang membangun loyalitas konsumen. Bahkan selebriti papan atas seperti Hugh “Wolverine” Jackman dikenal sebagai pemakai setia. Virtual relationship yang dapat dibangun merupakan daya tarik tersendiri yang tidak didapatkan di tempat lain. Dua, revenue model dengan penjualan hardware dan aksesoris, serta subscription bulanan. Harga perangkat berkisar antara USD 2000an hingga USD 4000an per unit. Biaya keanggotaan dimulai per bulan dari USD 13. Secara terpisah, mereka juga menawarkan berbagai aksesoris dan perlengkapan berolah raga serta aparel dan sepatu. Kelas-kelas Peloton yang dapat diambil tidak terbatas bersepeda dan berlari di treadmil saja, namun termasuk strength training, yoga, meditasi, kardio, dan bootcamp. Tiga, konten super eksklusif yang dikerjakan sendiri oleh Peloton Film Studio menelurkan lebih dari 950 program original per bulan. Teknologi terkini dan produser pemenang Emmy Award merupakan penggerak pengisian konten. Peloton sendiri memandang streaming workout live dan on-demand ini sebagai servis utama yang mereka jual. Sedangkan perangkat kerasnya hanyalah kanal distribusi konten. Menarik bukan model bisnisnya? Disruptif betul. Empat, kerja sama erat dengan AWS untuk leaderboard on-demand dan live yang low latency dan elastis. A...

Iklan Purpose-Driven

Pandemi Covid-19 telah mengubah bagaimana kita menjalankan hidup dan bisnis sehari-hari. “New normal” istilahnya. Bagi dunia periklanan, ini sebenarnya membuka lembaran-lembaran baru yang memang tidak terpikirkan di masa pra-pandemi. Penjualan ritel global diperkirakan merugi USD 2,1 trilyun sepanjang pandemi 2020. Kerugian Google dan Facebook divisi advertising mencapai USD 44 miliar. Belanja iklan di Eropa menurut 10 hingga 15 persen. Sedangkan di AS, belanja iklan menurun 17 persen. Padahal, industri periklanan sendiri termasuk salah satu yang paling inovatif dan kreatif. Dengan dua hal ini, agensi-agensi semestinya masih dapat bertahan namun persaingan sangat ketat. Masa pandemi malah merupakan sumber inspirasi iklan-iklan purpose-driven alias “didorong oleh kebutuhan.” Tak perlu diragukan lagi bahwa yang tiga hal terpenting di era terkini ini adalah: kesehatan, kebersihan, dan portabilitas. Kesehatan jelas bermakna bebas dari virus Covid-19. Sedangkan kebersihan sangat dibutuhkan untuk menciptakan lingkungan yang steril dan bebas dari kuman apapun. Sedangkan portabilitas merupakan fleksibilitas sebagai desain dan pola pikir yang mendasari berbagai aktivitas dan keputusan. Sebagai contoh, tema-tema iklan berbagai merek mulai memasukkan kondisi pandemi. Misalnya, m-banking BCA menggunakan tema ini untuk memperkenalkan “belanja tanpa sentuh.” Misalnya, kebutuhan konsumen akan sterilisasi memberi kesempatan bagi merek-merek untuk menggunakan tempat cuci tangan portabel dan bilik sanitizer sebagai papan billboard iklan dengan impresi besar. Berbagai bentuk sinergi antara fungsi dan tujuan kesehatan, kebersihan, dan portabilitas bisa dijadikan kerangka berpikir multiguna. Fakta bahwa social distancing dan WFH (work from home) alias semi lockdown telah mengubah gaya berbelanja jelas tidak terhindarkan. Ini juga menurunkan belanja iklan baik yang konvensional maupun yang digital. Menarik bukan? Belanja iklan online ternyata juga mengalami penurunan padahal penggunaan sosmed meningkat pesat di masa pandemi. Menurut riset Smartly.io di AS, penggunaan sosmed meningkat namun interaksi dengan iklan online menurun disebabkan oleh kebutuhan berhubungan sosial yang meningkat selama masa-masa sulit. Namun konsumen di negara-negara lockdown sepenuhnya lebih reseptif terhadap iklan online. Sumber yang sama juga menunjukkan bahwa konsumen lebih menyukai kampanye-kampanye pemasaran yang mengedukasi daripada semata-mata “menjual.” Topik edukasi tidak perlu berhubungan langsung dengan Covid-19 dan pandemi, namun bagaimana produk dan bisnis yang dimaksud dapat mempermudah hidup mereka. Iklan penuh makna alias “purpose driven” yang diharapkan oleh konsumen di masa dan pasca pandemi tampaknya semakin “matang.” Sebagaimana digitalisasi, konsumsi media juga semakin di...

Ide Bisnis Era New Normal

Mungkin Anda atau seseorang yang Anda kenal kena PHK akibat pandemi atau baru lulus dari universitas. Mencari pekerjaan bisa jadi merupakan sesuatu yang sangat sulit untuk sementara waktu ini. Sedangkan modal yang dimiliki terbatas. Berikut ini adalah 10 ide bisnis yang dapat langsung diterapkan dengan kapital awal minimal. 1. Membantu proses belajar-mengajar. Learn-from-home cukup banyak membuat repot para orang tua dari anak-anak usia sekolah. Para guru privat independen semakin dibutuhkan agar beban mengajar orang tua dapat terbantu. Dijalankan secara profesional, tutorial privat akan dibutuhkan pasar dalam jangka panjang. 2. Membantu bisnis-bisnis online baru. Baik startup ataupun solo entrepreneur, termasuk para online influencer dan wannabe sangat membutuhkan eksekusi rencana-rencana bisnis yang rapi dan dapat diandalkan. Dari aktivitas pemasaran hingga produksi, Anda sebagai eksekutor jelas sangat membantu derap bisnis. 3. Membantu para profesional dan artis independen mendapatkan bisnis baru. Era pandemi ini jelas membuat banyak pekerja independen alias freelancer kehilangan bisnis. Padahal, banyak event hanya berubah skala dan penyajian dengan protokol-protokol new normal. Tawarkan jasa Anda kepada mereka untuk membantu menggolkan bisnis-bisnis baru. 4. Membantu mereka yang terkena masalah finansial. Memulai bisnis baru, mencarikan pekerjaan baru yang remote, dan membantu manajemen kredit macet bisa dijalankan sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama sambil mendapatkan bayaran. Di AS, konselor kredit macet bagi para debitor telah menjadi bagian dari masyarakat yang cukup populer. 5. Membantu bisnis yang berfokus pada keramaian. Industri pariwisata, perhotelan, restoran, dan EO, misalnya, sangat membutuhkan keramaian sebagai lead generation. Di era pandemi ini, jelas omzet mereka menurun drastis, bisa mencapai 90 persen. Berbagai bentuk bantuan peningkatan omzet sangat dibutuhkan, termasuk marketing dan cold calling. 6. Membantu para pasien dan konsumen dalam berolah tubuh dan tetap sehat. Kesehatan sangat tinggi nilainya, apalagi di era pandemi ini. Membantu mereka yang sedang mengalami sakit maupun yang sehat agar semakin sehat dapat dalam berbagai bentuk dan penyampaian. Anda bisa tawarkan dari produk-produk alami yang membantu imunitas tubuh sampai aktivitas berolah raga mandiri di rumah. 7. Memberi solusi bisnis untuk “go online” secara optimal. Tidak semua pebisnis mampu menciptakan sendiri situs dan konten berbentuk teks, gambar, audio, dan video. Padahal semua ini sangat penting dan perlu dikerjakan secara profesional. Digitalisasi dan “going online” membutuhkan sentuhan-sentuhan profesional editing dan penulisan yang b...

Delapan Startup Impactful

Kita sudah mengenal berbagai startup berbasis aplikasi yang sebenarnya hanyalah konsolidator, seperti operator ojek online, chatting dengan dokter, dan dompet online. Memang mereka sangat memudahkan hidup di era Revolusi Industri 4.0 ini, namun masih banyak startup impakful yang berpotensi mengubah kualitas hidup orang banyak. Kita bahas beberapa yang berbasis di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Singapura, Filipina, dan Kambodia. 1. Di tanah air, kita kenal Baran Energy dengan founder dan CEO Victor Wirawan. Baran adalah startup baterai listrik tenaga surya yang dapat digunakan untuk rumah dan mobil listrik. Teknologi penyimpanan energi surya ini memungkinkan pengguna swadaya listrik tanpa perlu mengandalkan PLN. Solar panel digunakan untuk “menangkap” energi surya sebelum dialirkan ke baterai penampungan. Produk mereka termasuk PowerWall berkapasitas 8,8 KWh, PowerPack 126 KWh, dan PowerCube 1,2 MWh. 2. EcoWorth Tech di Singapura dipimpin oleh CEO Andre Stolz. Mereka memproduksi karbon fiber aerogel yang merupakan serat penyerap berbagai elemen organik di alam. Spons ini dirancang untuk menyerap oli, minyak, lemak, dan cat. Namun tidak menyerap air. Salah satu fungsinya adalah untuk membersihkan tumpahan minyak di laut lepas. 3. ATEC Biodigesters International di Kambodia adalah startup yang memperkenalkan teknologi biodigester untuk memproses sampah pertanian menjadi biogas bebas untuk memasak dan pupuk organik yang sehat bagi tanah. Para petani pengguna teknologi ini dapat menggunakan Pay As You Go (PayGo) model dalam membayar setiap penggunaan. Jadilah produk ini selain ramah lingkungan, juga ramah finansial bagi para petani. 4. Dengan mempertimbangkan lebih dari 40 persen penduduk dunia bisa menjadi sasaran nyamuk penyebab demam berdarah (dengue fever), startup Orinno Technology yang didirikan oleh co-founder David Du dan rekannya ini terpanggil untuk memberikan solusi nyata. Dengan bantuan dari Singapore National Environment Agency, Mosquito Production Facility berhasil menternakkan nyamuk-nyamuk jantan yang diinjeksi dengan bakteria bernama Wolbachia. Nyamuk-nyamuk jantan ini disebarkan di ekosistem untuk mengawini nyamuk-nyamuk betina. Telur-telur yang dihasilkan tidak dapat menetas sehingga nyamuk berkurang dan menghilang. Teknik ini sebenarnya sudah lama dikenal, namun selama ini sulit diaplikasikan karena menyeleksi jenis kelamin nyamuk sangat memakan sumber daya. Namun Orinno punya teknologi yang memisahkan larva berdasarkan jenis kelamin mereka. 5. Roceso Technologies di Singapura dipimpin oleh CEO dan co-founder Jane Wang. Startup ini memproduksi sarung tangan robotik lembut untuk para konsumen yang punya kelainan syaraf tangan, seperti akibat dari stroke, kecelakaan dan sebagainya. 6. RAD...

Zilingo Unicorn baru Singapura

Di Singapura telah ada beberapa unicorn pemain lama yaitu Grab, Trax, Lazada, Razer, dan Sea. Di awal tahun 2020 ini, ada satu lagi calon unicorn yang berbasis di Singapura telah bervaluasi mendekati USD 1 miliar, yaitu USD 970 juta. Namanya Zilingo. Didirikan di tahun 2015 oleh Ankiti Bose dan Dhruv Kapoor, Zilingo melayani pasar Indonesia, Hong Kong, Thailand, Filipina, India, Australia, dan AS. Dengan lebih dari 7 juta pengguna, 800 pegawai dan 50.000 mitra, startup ini mempertemukan manufaktur, retailer, distributor, dan merek-merek fashion dalam satu mata rantai perdagangan fashion yang terbuka. Pasar fashion UKM Asia Tenggara sendiri mencapai USD 23 miliar di tahun 2018 dan diprediksi akan mencapai USD 100 miliar di tahun 2025. Angka ini dihitung sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Zilingo Shopping mempertemukan merek dengan konsumen langsung. Zilingo Trade mempertemukan penjual grosir ke pemilik bisnis fashion. Platform Zilingo sendiri memungkinkan pemain bisnis untuk membuka toko di sana secara gratis. Jadi, ia lebih dari sekedar marketplace. Kedua founder bekerja di Sequoia Capital sebagai investment analyst di India, sebelum mereka memutuskan untuk mendirikan Zilingo yang berbasis di Singapura. Ankiti mendapat ilham untuk mempertemukan produsen hingga pemakai fashion setelah mengunjungi pasar raksasa Chatuchak di Thailand. Para pedagang di Chatuchak yang terdiri dari lebih dari 10.000 toko dan desainer fashion tersebut mempunyai keterbatasan dalam “go online” karena mereka tidak memahami proses transfer dari offline ke online. Jadilah Ankiti melihat peluang yang dapat digarap dengan serius. Dengan valuasi mendekati USD 1 miliar, bisa jadi Zilingo malah telah memegang posisi unicorn pada saat ini. Uniknya, sebagai seorang CEO perempuan, Ankiti mengutamakan kultur yang tidak mengglamorkan status unicorn ini. Dari 239 startup dengan valuasi unicorn, hanya 23 orang yang ber-CEO perempuan. Ia tidak ingin Zilingo menjadi “unicorn takabur” dengan lebih besar egonya daripada peningkatan revenuenya. Ankiti sebagai co-founder dan CEO sebuah unicorn teknologi merupakan representasi penting bagi kaum perempuan yang masih sangat minim di dunia startup teknologi. Tampaknya, mereka sadar betul akan “godaan besar setelah menjadi unicorn” seperti WeWork dan Juul Labs. Profitability jangka panjang Zilingo jauh lebih penting daripada “gelar” unicorn. Kultur korporasi rendah hati dan bekerja dengan determinasi tinggi ini sangat patut ditiru. Model bisnis Zilingo sendiri sangat unik, karena ia lebih dari sekedar marketplace B2C dan B2B. Mereka memberi kesempatan bagi UKM fashion mikro dengan jasa distribusi, kataloging, dan peminjaman modal. Platform mereka juga mencakup manajemen stok barang dan tracking penjualan. Jadilah kini mereka juga mengembangkan software dan instrumen-i...

Kita harus bisa lebih Impakful Pasca Pandemi

Era pandemi dan setelahnya merupakan masa baru peradaban manusia. Berbagai teknologi yang dianggap terlalu maju untuk zamannya akan segera menjadi bagian dari arus tengah. Tahukah Anda bahwa mobil listrik ala mobil Tesla(tm) telah diciptakan oleh almarhum Nikola Tesla pada tahun 1886? Masih banyak lagi penemuan-penemuan insan jenius ini yang dicatat dengan rapi di situs MIT (http://web.mit.edu/most/Public/Tesla1/etradict2.htm). Seandainya saja JP Morgan saat itu memberikan kredit bagi Tesla untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga frekuensi tinggi, bisa saja kita telah lama menikmati peradaban manusia tanpa minyak bumi. Lobi-lobi kapitalis pro-bensin inilah yang menyebabkan energi minyak bumi masih digunakan hingga kini. Berbagai sengketa dan perang telah banyak disebabkan oleh perebutan sumber minyak. Nah, pandemi Covid-19 ini merupakan lonceng pembangun kita dari tidur pulas. Jangan menunggu 140 tahun lagi untuk mengoptimasikan penggunaan teknologi-teknologi yang telah ada demi kemaslahatan semua insan. Peradaban berbasis minyak bumi sudah lama mestinya kita tinggalkan karena kekuatan cahaya, udara, dan frekuensi suara sendiri merupakan sumber daya terbarukan yang tidak akan pernah habis. Nikola Tesla pernah berkata bahwa segala sesuatu mempunyai vibrasi dan frekuensi. Berpikirlah dengan dasar tersebut. Tentu saja yang mampu menerapkan teknologi ala Tesla hanyalah mereka yang memiliki akses teknologi dan SDM yang dibutuhkan kepakarannya, namun semangat berinovasi dengan memperhatikan unsur-unsur alam dan kebutuhan manusia sangat bisa kita terapkan bersama. Sebagai contoh, beberapa startup di bawah memberi solusi bagi bumi dan penghuninya pasca pandemi. Tidaklah kita perlu terikat oleh belenggu-belenggu mindset berbasis “minyak bumi” lagi. Kekuatan Internet dan bioteknologi merupakan paradigma “ala Tesla” yang tidak terbelenggu oleh kabel, minyak bumi, dan tanah tempat bertumbuh. Berpikirlah dalam lingkup tersebut karena jauh lebih relevan dibandingkan satu abad lampau. Perubahan perilaku konsumen yang kini lebih banyak berdiam di rumah untuk bekerja, belajar, bermain, dan berbelanja merupakan sumber ide bisnis yang tiada habis-habisnya. Dan ini jelas akan semakin meningkatkan teknologi non-bensin yang menyelamatkan ekologi bumi di masa depan. Era pasca pandemi adalah era bisnis-bisnis impakful yang menyelamatkan peradaban manusia dari keborosan energi minyak dan keterpulasan akan berbagai bentuk keborosan. Byju berbasis di India, misalnya, adalah aplikasi pembelajaran online yang memberi solusi bagi sekolah-sekolah dari tingkat SD hingga SMA dengan platform LMS (learning management system). Di bulan Maret dan April 2020, ketika pandemi Covid-19 masih masa awal lockdown nan panik...

Dunning-Kruger Effect (DKE)

Pernahkah Anda menjumpai seseorang yang inkompeten tapi kok percaya diri banget? Mirip dengan “tong kosong nyaring bunyinya” namun tidak semua orang inkompeten nyaring lho. Karena ada juga yang hanya merasa PD saja. Nah, mereka ini disebut memiliki Dunning-Kruger Effect (DKE), yaitu mempunyai ilusi tentang superioritas mereka. Mungkin mereka tidak punya maksud untuk jadi overkonfiden apalagi sombong. Mereka hanya memiliki keterbatasan dalam menilai kemampuan diri sendiri saja. Dalam wawancara-wawancara proses rekrutmen, DKE ini cukup “membahayakan” karena tidak hanya si pewawancara saja yang bakal kecewa akan timpangnya kemampuan si diwawancara. Semua stakeholder pada akhirnya akan sangat kecewa akan performance kandidat setelah diterima bekerja. Pada level pengambilan keputusan, DKE ini malah membahayakan arah strategi bisnis, karena efek ini juga dimiliki oleh mereka yang telah berposisi tinggi namun punya keterbatasan dalam memahami hal-hal tertentu. Ini sebenarnya merupakan fenomena umum karena studi menunjukkan lebih dari 88 persen individu mempunyai kecenderungan untuk overestimasi kemampuan diri sendiri. Yang mencengangkan, mereka yang mempunyai kemampuan rendah biasanya termasuk yang sangat overestimasi. Dengan kata lain, mereka yang “kurang punya kemampuan merasa diri super.” Bahkan, tidak jarang yang tidak mampu merasa diri sebagai “pakar.” Siapa yang paling rentan akan delusi ini? Ternyata kita semua tanpa kecuali, karena tidak ada orang yang serba bisa alias bisa segalanya. Kok bisa? Periset Dunning dan Kruger menemukan fakta bahwa mereka yang punya skill di bawah rata-rata ternyata tidak punya cukup skill untuk mendeteksi kekurangan mereka dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Dengan kata lain, mereka tidak tahu bahwa mereka tidak mampu dan punya banyak hal yang mereka tidak tahu. Sebaliknya, mereka yang punya kemampuan rata-rata dan cukup baik, biasanya tahu betul kekurangan mereka karena mereka punya cukup skill untuk mendeteksinya. Lantas, bagaimana caranya untuk obyektif akan kemampuan diri sendiri dan orang lain? Pertama, pastikan untuk mendapatkan feedback akan apa yang dapat Anda perbaiki. Tidak jarang seseorang mengharapkan input dari orang lain namun malah menyebabkan pertikaian jika masukannya kurang enak didengar. Belajarlah untuk menghargai setiap masukan sebagai sesuatu yang positif. Apabila penyampaiannya negatif, lakukan reframing pikiran agar negatifitas dapat berubah menjadi positif. Kedua, terus tingkatkan kemampuan di bidang tersebut, karena mereka yang mempunyai skill sedikit di atas rata-rata atau lebih biasanya punya kemampuan observasi diri cukup. Observasi cukup ini penting agar dapat belajar baik untuk mencapai kemampuan lebih mumpuni. Belajar untuk lebih obyektif akan kemampuan ...

Apakah Google masih "Do No Evil" ?

Pada awal pendiriannya, Google dikenal dengan slogan “Do no evil” alias “Jangan berbuat jahat.” Ini tentu merupakan angin segar di dunia Internet yang dikenal penuh dengan misteri dan segala taktik bisnis dagang terotomatisasi yang sarat dengan berbagai kesempatan salip-menyalip. Pada tanggal 20 Oktober 2020, US Department of Justice telah menggugat antitrust (anti-monopoli) kepada Google. Dan ini adalah gugatan bisnis terbesar yang pernah dialami raksasa Internet ini. Gugatannya adalah transaksi-transaksi bisnis eksklusif yang mematikan kompetitor-kompetitor kecil. Dalam prinsip Antitrust Law AS, Google telah melakukan monopoli sehingga menyebabkan unfair advantage dalam search dan online advertising. Sebelas negara bagian AS telah bergabung dalam gugatan federal tersebut. Tampaknya Google akan meladeni pertarungan hukum tersebut yang diprediksi akan berlangsung selama beberapa tahun. Jika Pemerintah AS memenangkan gugatan, maka Google harus merestrukturisasi bisnis mereka sehingga tidak merugikan kompetitor. Dari sudut Hukum Jurisprudensi, kasus ini akan menjadi preseden penting bagi para raksasa IT. Pemerintah federal AS juga akan mempunyai basis hukum dalam meregulasi perusahaan-perusahaan teknologi dengan lebih mendetil di masa depan. Menurut Kent Walker, SVP Global Affairs Google, sebenarnya konsumen sendirilah yang memilih menggunakan Google Search. Gugatan hukum ini bisa-bisa malah memicu tumbuhnya search engine abal-abal murahan yang tidak seberapa powerful, demikian ujarnya. Jaksa penuntut kasus ini berfokus kepada dugaan Google mencekik habis para kompetitor. Dan ini berbasis pada preseden antitrust tahun 1998 yang dialami oleh Microsoft atas dasar Hukum Antitrust Sherman Act tahun 1890. Para analis hukum cukup banyak yang berargumen bahwa Sherman Act bukanlah dasar hukum yang sesuai karena menempatkan konsumen sebagai korban monopoli dengan peningkatan harga yang tidak fair. Google tidak meningkatkan harga atas konsumen. Yang lebih tepat gugatan terhadap Google adalah efek negatif atas kualitas search engine secara umum. Karena tidak adanya lagi kompetisi yang seimbang dengan kompetitor-kompetitor lain, jadi konsumen tidak punya pilihan lain yang memadai. Inilah yang dipercaya sesungguhnya terjadi. Dalam dunia online search, Google menguasai 88 persen pangsa pasar. Market share ini bahkan lebih besar di antara pengguna smartphone yaitu 94 persen. Ini dimungkinkan karena banyak smartphone Android yang menempatkan aplikasi Google secara default dalam konfigurasi pre-install. Jadilah Google Search selalu hadir sebagai default bagi para pengguna smartphone tanpa kecuali, walaupun pilihan lain ada. Tampaknya, the big four perusahaan raksasa teknologi yaitu Google, Apple, Facebook dan Amazon akan terus diamati oleh Pemerintah Fe...

Pesanlah dari McDonald’s

Pada tanggal 4 November, Burger King Indonesia memasang pesan singkat yang ditujukan bagi konsumen untuk tidak hanya memesan Whopper BK namun juga Big Mac dari McD dan burger-burger lainnya baik dari resto cepat saji maupun lokal dan bahkan warteg. Pesan yang super unik dan menyentuh hati, karena baru pertama kali ini terjadi dalam sejarah bisnis fastfood Indonesia. Bahkan duania. Tampaknya, di era pandemi yang semakin berkepanjangan penuh ketidakpastian, nurani kemanusiaan semakin kuat. Bahkan di dalam dunia bisnis fastfood yang sangat kompetitif. Pesan dalam Bahasa Indonesia ini merupakan saduran bebas dari postingan media sosial Burger King UK. Kaptionnya, “Tidak pernah sebelumnya terpikirkan oleh kami untuk meminta Anda melakukan ini.” Sangat menyentuh, bukan? Netizen Indonesia sendiri juga sangat tersentuh dengan inisiatif BK Indonesia. Mereka berhasil menangkap spirit solidaritas di mana masa pandemi setiap kompetitor adalah sahabat yang dibutuhkan untuk bangkit kembali bersama-sama. Lantas, bukankah ini semata-mata gimmick pemasaran BK saja yang pandai memanfaatkan situasi pandemi? Bisa saja. Dan ini tidak ada salahnya sama sekali. Buatlah lemonade dari lemon. Jadikan pandemi sebagai suatu kesempatan untuk menjadi lebih kreatif dalam memasarkan produk termasuk dengan “mengusik” rasa kemanusiaan. Pemasaran dengan cara bela rasa kemanusiaan tinggi ini membutuhkan momentum tertentu. Bayangkan saja, apabila pesan BK tersebut ditulis ketika dunia sedang aman-aman saja tanpa pandemi global, tentu akan terasa mengada-ada dan “sok baik” yang berlebihan. Ini bisa saja jadi bumerang. Namun, dalam konteks pandemi, pesan ini merupakan angin segar yang sangat dibutuhkan agar kejenuhan, stres, and anxietas berlebihan dapat dilandaikan. After all, kemanusiaan mempunyai posisi jauh lebih tinggi dari sekedar menghasilkan profit seadanya. Argumen BK Inggris sendiri didasari oleh fakta lockdown pertama di bulan Maret dan kedua yang baru dimulai 5 November ini. Industri restoran dan perhotelan Inggris dan secara global sangat terpukul. Restoran-restoran sendiri tutup makan di tempat hingga Juli. Restoran-restoran makanan cepat saji sendiri mungkin berkarakter bisnis raksasa menggurita seperti BK dan McD. Padahal, pemilik setiap gerainya adalah franchisor yang bisa saja seorang wirausahawan kecil menengah dengan modal pas-pasan. Serba pas-pasan, maka sering kita jumpai restoran-restoran yang terpaksa mem-PHK-an para pekerja. Padahal, sektor restoran cepat saji mempekerjakan ribuan pegawai yang sangat riskan dampaknya terhadap kondisi ekonomi makro. Pembelajaran apa yang dapat kita peroleh dari studi kasus pesan pandemi BK? Satu, setiap situasi buruk apapun pasti mempunyai silver lining alias nilai-nilai positif. Dengan tempaan masa pandemi, bisn...

Coupang makin jaya di era pandemi

Coupang dikenal sebagai Amazon-nya Korea Selatan. Diawali di tahun 2010 sebagai situs ala Groupon, kini Coupang adalah online retailer unicorn besar yang sangat diperhitungkan dengan omzet lebih dari USD 10 miliar per tahun. Coupang berkantor pusat di Seoul dan cabang-cabangnya dapat dijumpai di Shanghai, Beijing, Los Angeles, Seattle dan Silicon Valley. Omzet di tahun 2018 telah mencapai 2,7 trilyun Won dengan pengguna aktif harian mencapai 3,5 juta orang di tahun 2019. Aplikasi Coupang telah diunduh lebih dari 25 juta kali yaitu separuh dari penduduk Korsel. Didirikan oleh CEO Bom Kim yang dropout dari Harvard Business School pada tahun 2010, Coupang telah divaluasi lebih dari USD 9 miliar. Para investornya pun tidak tanggung-tanggung termasuk Sequoia Capital, Softbank, dan BlackRock. Hebatnya, Coupang semakin berjaya di era pandemi dengan total pegawai baru lebih dari 12.000. Retailer daring ini kini adalah salah satu dari 4 perusahaan Korsel dengan jumlah pegawai terbanyak. Tiga yang terbesar adalah Samsung, Hyundai, dan LG. Pekerja deliveri yang dikenal sebagai Coufriends alias Coupang Friends saja telah mencapai 10.000. Mereka bukan pekerja freelance namun penuh waktu yang bekerja selama 5 hari dalam satu minggu dan mendapatkan benefit sebagai pegawai tetap. Armada pengiriman high-tech nan super rapi ini memungkinkan melayani pelosok Korsel dengan serentak. Sistem deliveri ini secepat roket sehingga dinamakan Rocket Delivery. Konsumen bisa pesan suatu produk secara daring pada malam hari dan sebelum jam 7 pagi akan telah diterima di destinasi. Uniknya, sebelum IPO di tahun 2013, model bisnis Coupang diubah lagi dari e-commerce marketplace menjadi end-to-end e-commerce platform yang didesain untuk melayani konsumen dari transaksi online hingga deliveri ke tujuan. Korsel sendiri adalah pasar e-commerce yang sangat besar, ranking 5 secara global setelah China, AS, Inggris, dan Jepang. Rahasia sukses Coupang? Satu, karakteristik pasar. Bagi kultur Korsel yang “pali-pali” alias “mau apa-apa cepat” servis ini jitu ke sasaran. Dikenal sebagai negara dengan jam kerja panjang, konsumen jelas membutuhkan jasa deliveri untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Selain itu, para single mencakup 30 persen dari konsumen. Mereka juga punya keterbatasan waktu dalam berbelanja. Dua, infrastruktur digital dan kecepatan Internet. Korsel dikenal dengan teknologi mobile-nya yang canggih, seperti Samsung dan LG. Selain itu, kecepatan koneksi Internetnya baik mobile maupun broadband termasuk yang tertinggi di dunia selain UAE, China, dan Singapura. Tiga, secara landskap geografis, Korsel termasuk kompak sehingga logistik lebih sederhana dibandingkan negara-negara lain, seperti Indonesia. Jadilah Rocket Delivery dan sistem fulfillment Coupang memungkinkan ...

Mengapa MLM tahan resesi pandemi

Sektor usaha penjualan langsung (direct selling) yang sering kali dioperasikan secara multi level alias MLM ternyata termasuk salah satu sektor yang bertahan dengan baik di era resesi pandemi ini. Ketika sektor-sektor bisnis lainnya kolaps karena menurunnya omzet secara drastis, sektor ini malah mengalami peningkatan. Berdasarkan informasi dari laporan kegiatan 147 perusahaan penjualan langsung pada tahun 2019, mereka mencatatkan transaksi penjualan sebesar Rp 14,7 triliun. Ini semua diraih oleh 5,3 juta anggota jaringan alias networker alias mitra usaha. Bahkan Menteri Perdagangan Agus Suparmanto sendiri pernah menyebut bahwa direct selling mampu menjaga roda ekonomi di era pandemi Covid-19 ini. Keunggulannya adalah cara kerjanya yang berbasis komunitas. Jadi, ada captive market yang merupakan pembeli berulang (repeat customer). Selain itu, sektor ini juga menjaga keberlangsungan usaha manufaktur di dalam negeri. Tahukah Anda bahwa 51,86 persen jenis produk yang dijual bisnis-bisnis MLM merupakan produk dalam negeri? Ini terlepas dari asal negara holding company-nya yang sering kali merupakan PMA (penanaman modal asing). Hebatnya, sering kali kita “terkecoh” bahwa suatu produk penjualan langsung ternyata “buatan Indonesia” setelah lama teryakini oleh kualitas internasionalnya. Di Indonesia sendiri, perusahaan-perusahaan manufaktur penerima outsource atau maklon suplemen kesehatan dan produk-produk skincare memang telah sejajar dengan kualitas negara-negara lain. Misalnya, telah ada teknologi nano yang digunakan dalam memproduksi makanan sehat berdaya serap tinggi oleh tubuh. Selain itu, kualitas produk yang dihasilkannya pun sangat halus dan mampu bersaing secara global. Sebagai contoh produk-produk peptida dengan berukuran nano asal Indonesia telah mampu menembus pasar internasional tanpa banyak gembar-gembor. Dalam artikel ini, mari kita bahas karakteristik MLM yang membuatnya tahan banting, menguji reputasi perusahaan MLM, mengenali bisnis MLM yang baik versus money game alias skema piramida uang. Satu, perusahaan MLM dengan reputasi baik pasti mempunyai izin-izin dan legalitas yang baik dan benar. Sebagai contoh, di Indonesia ada sekitar 60 perusahaan penjualan langsung, menurut AP2LI (Asosiasi Perusahaan Penjualan Langsung Indonesia). Entitas-entitas tersebut dapat dipastikan mempunyai bukti pendirian PT, keanggotaan AP2LI, keanggotaan standarisasi (seperti ISO), keanggotaan profesional, dan keanggotaan kemurnian konten produk. Mereka juga dapat menunjukkan hasil lab asli akan kandungan Dua, bisnis MLM yang bereputasi baik pastinya tidak menjanjikan keuntungan besar dalam sekejap tanpa berusaha apa-apa. Walaupun mungkin marketing plan mereka tampak sangat menjanjikan, perhatikan bahwa perusahaan bonafide tidak pernah menjanjikan penghasilan pasti per bulan. Bisa saja dijabarkan skenario...

Memilih memulai UKM atau Startup ?

Anda ingin memulai bisnis kecil-kecilan. Nah, apakah itu adalah UKM (usaha kecil menengah) atau startup? Bukankah semua bisnis yang baru dimulai disebut sebagai “startup” terlepas dari volume, jumlah pekerja, dan total asetnya? Apakah sebaiknya memulai “startup” yang mungil dulu alias “UKM”? Memulai startup yang UKM atau memulai UKM yang startup? Atau hanya memulai startup tanpa embel-embel UKM? Atau memulai UKM yang startup? Tidak perlu bingung. UKM dan startup memang banyak kemiripan namun kita dapat jernihkan posisi mereka masing-masing. Kejernihan ini sangat penting agar Anda dapat mengenali calon-calon penanam saham dan bagaimana mendekati mereka. Selain itu, Anda dapat mengidentifikasi dengan presisi seberapa cepat skalabilitas tertentu dapat dicapai sehingga valuasi dapat meningkat signifikan. “Startup” adalah terminologi yang pada awalnya secara umum digunakan untuk bisnis software, aplikasi maupun teknologi lainnya. Kini, istilah “startup” termasuk bisnis-bisnis konvensional yang dahulu tidak melibatkan teknologi, namun sekarang menggunakan aplikasi Apple dan Android sebagai pendukung distribusi dan penggunaannya. Sebagai contoh, SayurBox dan Fore adalah penjual sayur-mayur dan penjual kopi zaman now. Mereka termasuk startup berpotensi besar. Aplikasi mereka pun sangat convenient dan termasuk canggih. Para pendiri startup sendiri pada umumnya sangat aware dengan fase-fase pendirian (inception), pengembangan (growth), kematangan (maturity), dan penurunan (decline). Nah, di fase pendirian ini seed funding dan round funding memungkinkan untuk skalabilitas luar biasa. Intinya, sebuah “startup” zaman now punya visi skalabilitas yang doable. Jadi, golnya adalah suatu bisnis yang dapat dinikmati oleh jutaan pengguna (user) tanpa perlu ditangani oleh customer service dan pegawai adminstrasi dalam jumlah besar. Misalnya, dengan modal Rp 1 miliar, bisnis diproyeksikan akan menghasilkan Rp 10 miliar omzet dan divaluasi sebesar Rp 100 miliar. Para investor awal pada umumnya lebih senang menjual bisnis tersebut dengan valuasi minimal 10 kalinya daripada hanya mendapatkan dividen berdasarkan jumlah saham yang dimiliki. Dengan startup, quick growth dan quick money adalah inti permainannya. Tentu saja IPO merupakan gol berikutnya, namun ini umumnya yang telah mencapai valuasi USD 100 jutaan. Untuk startup dengan visi pencapaian IPO, tentu skalabilitas berkali-kali lipat dalam waktu secepat mungkin adalah harapannya. Nah, sebuah startup bisakah merupakan UKM (usaha kecil menengah)? Bisa saja. Pada tahap inception, setiap bisnis pernah dimulai sebagai sel bisnis. Bahkan Apple, Facebook, dan Google diawali di garasi rumah atau kamar asrama mahasiswa. Namun, sebuah UKM belum tentu merupakan startup yang punya potensi menjadi bisnis bervaluasi jutaa...

Kebutuhan Nikel untuk Tesla di Indonesia

Diprediksikan pada tahun 2025, kendaraan bertenaga baterai Li-on akan mencapai 10 persen. Dan nikel merupakan primadona yang sangat menentukan derap perubahan dari bahan bakar minyak ke sumber daya listrik yang terbarukan. Pada dasarnya Nikel mempunyai kemampuan menyimpan energi yang besar dan baterainya dapat di-charge kembali. Ini membuatnya sangat cocok digunakan sebagai bahan baku baterai, termasuk baterai untuk mobil listrik seperti buatan Tesla. Tesla, Inc. yang bernama Tesla Motors didirikan oleh dua pionir mobil listrik yaitu Martin Eberhard dan Marc Tarpenning. Elon Musk masuk setahun sesudah pendirian yaitu 2004 dengan menanamkan modal di Series A. Namun dunia lebih mengenal Musk sebagai pendiri Tesla. Saat ini, Musk adalah pemegang saham terbesar. Konsep mobil listrik sendiri telah lama diperkenalkan oleh Nikola Tesla sang pencipta maha jenius pada tahun 1931. (Referensi: https://www.lifehacker.com.au/2019/06/the-mystery-of-nikola-teslas-battery-free-electric-car/) Naasnya, Tesla gagal mendapatkan pinjaman uang dari JP Morgan untuk mewujudkan berbagai temuan-temuannya yang menggunakan tenaga terbarukan. Alasannya? Simpel, Morgan memilih untuk membiayai bisnis-bisnis yang ada repeat order alias pakai meteran. Bayangkan, seperti apa sejarah alternatif seandainya mobil listrik ciptaan Nikola Tesla telah diproduksi dan dipasarkan jauh sebelum Perang Dunia Kedua. Pada tahun 2008, Tesla Inc. merilis otomobil listrik pertamanya yaitu Roadster. Satu kali pengisian listrik dapat menghasilkan listrik cukup untuk perjalanan sejauh 394 km. Akselerasi Roadster dapat mencapai 96 km per jam rata-rata atau 200 km per jam. Jelas Tesla Inc. telah mendirikan bisnis yang tidak hanya disruptif produknya namun juga ekosistemnya. Dengan kebutuhannya yang luar biasa besar akan daya listrik dan baterai, Tesla Motors sangat membutuhkan pasokan nikel sebagai salah satu bahan dasar baterai lithium (Li-ion). Larangan ekspor nikel dari Indonesia terhitung 1 Januari 2020 ini merupakan salah satu pemicu Tesla Inc. memilih mendirikan pabrik baterai di Batang, Jawa Tengah. Indonesia sendiri merupakan pemasok 27 persen nikel dunia alias nomor 6 dari 10 besar produsen nikel global. Nickel Cobalt Aluminium (NCA) memakai 80 persen nikel dan dan Nickel Manganese Cobalt (NMC) menggunakan 33 persen nikel. Selain itu baterai Li-ion juga sangat mengandalkan nikel. Bisa dipahami mengapa harga nikel meningkat pesat dan nilai ekonomis nikel Indonesia menjadi 4-5 kali lipatnya. Kesediaan komoditas nikel nasional mencapai 698 juta ton cadangan. Bisa dibayangkan bagaimana strategi pelarangan ekspor nikel ini berakibat positif terhadap industri manufaktur nasional. Kawasan Industri Batang yang diwacanakan sebagai lokasi manufaktur baterai Tesla memang disiapkan sebagai relokasi pabrik dari luar negeri. Insentif yang diberikan adalah sewa lahan gratis sel...

Produk Selebriti Come and Go

Sejak zaman dahulu, para selebriti dijadikan brand ambassador produk untuk mengangkat citra dan meningkatkan daya jual. Namun akhir-akhir ini, cukup banyak produk yang tidak hanya menggunakan mereka sebagai duta, namun juga berperan sebagai founder alias pendiri perusahaan dan merek produk. Kenny Rogers, misalnya dikenal dengan pendiri restoran ayam goreng ala ranch Texas. Planet Hollywood pernah diidentikkan dengan para pemain film laga seperti Jackie Chan dan Sylvester Stallone yang juga merupakan co-founder dan pemegang saham. George Clooney dan Rande Gerber (suami dari mantan supermodel Cindy Crawford) meraup USD 1 miliar di tahun 2017 dari penjualan perusahaan minuman keras bernama Casamigos Tequila. Minuman keras tequila dikenal keras dan tajam, namun Casamigos terasa sangat smooth di mulut. Jadilah mereka diterima pasar global dengan sangat baik. Mengikuti jejak Clooney dan Gerber, Ryan Reynolds mengeruk USD 610 juta untuk penjualan perusahaan produk Aviation American Gin pada bulan Agustus 2020. Aviation Gin sendiri didirikan di Portland oleh Christian Krogstad dan Ryan Magarian. Ryan Reynolds sendiri baru masuk sebagai salah satu pemegang saham minoritas pada tahun 2018. Di era influencer selebriti ini, Reynolds dikenal sebagai pemasar ulung dengan tim agensinya di Maximum Effort Marketing. Kedua produk minuman alkohol selebriti Hollywood kondang tersebut diakuisisi oleh Diageo yang berbasis di Inggris Raya. Diageo ini dikenal sebagai pemilik merek Johnnie Walker, Smirnoff, dan Tanqueray. Diageo juga bekerja sama dengan David Beckham untuk produk Haig Club Whiskey dan P-Diddy dengan produk Ciroc Vodka. Lantas apa formula sukses Casamigo dan Aviation American? Passion, partnership, product, promotion, dan profit reinvestment. Passion alias spirit. Clooney dan Gerber tidak berniat untuk mendirikan bisnis yang super menguntungkan. Mereka “hanya” berusaha memberikan “solusi,” yaitu rasa tequila yang lembut dan dapat diminum sepanjang hari tanpa menyebabkan rasa mabuk berkepanjangan. Partnership alias kemitraan. Casamigos dalam bahasa Spanyol artinya “rumah para sahabat.” Dan memang Clooney bermitra dengan dua sohibnya yaitu Gerber yang mempunyai pengalaman menjalankan kelab malam selama dua dekade dan Michael Meldman sang mogul real estat. Jadilah tiga sekawan ini membangun fondasi kuat untuk bisnis minuman keras butik ini. Produk premium. Produk yang ditawarkan kepada pembeli adalah produk premium yang membutuhkan lebih dari dua tahun dan hasil dari bereksperimen dengan 700 merek tequila sebelum menghasilkan formula resep tequila yang jitu. Produk tequila mereka dapat diminum langsung maupun dengan es batu. Dan dapat dinikmati pagi, siang, atau malam tanpa menyebabkan rasa mabuk berkepanjangan. Promosi. Tentu saja merek yang personal ...

Booming Pembangunan Villa dengan kelesuan Turisme di Bali

Pembangunan vila di Bali sedang booming di era pandemi ini. Kok bisa? Bukankah industri turisme sedang menukik tajam ke bawah? Bisa saja. Industri properti dan industri pariwisata adalah dua hal yang berbeda dengan impak berjangka pendek dan panjang yang juga berbeda. Secara garis besar, 60 persen dari GDP Bali bersumber dari turisme. Jadilah masa pandemi ini menurunkan GDP hingga -11 persen. Data terakhir menunjukkan sektor akomodasi hanya terisi 3 persen dari 130.000 kamar hotel dan 15 persen dari 4.000 vila. PHK pekerja mencapai lebih dari 80.000 orang. Yang menarik, bisnis arsitektur properti di Bali meningkat 20 hingga 30 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Wah, kok bisa? Ternyata, perubahan gaya kerja work from home (WFH) selama masa pandemi ini mengubah cara pandang “where to work.” Ini meningkatkan demand untuk tempat tinggal yang luks dan nyaman sebagai tempat kerja. Menurut Booking.com, Agoda, dan beberapa platform tur dan travel, Bali termasuk salah satu lokasi yang paling diminati pasca pandemi nanti. Bisa dibayangkan mereka yang mempunyai skill memadai untuk memilih tempat kerja pasti akan memilih lokasi yang nyaman bagaikan tempat liburan. Ini menjawab mengapa booking vila dan working space semakin meningkat. Pra pandemi, Bali populer di antara para “digital nomad” alias para pekerja independen yang mengandalkan sarana Internet dan co-working space. Di era pandemi ini, ternyata korporasi mulai melirik kemungkinan bermarkas di Pulau Dewata ini. Alasannya? Ketersediaan para digital nomad yang telah membentuk komunitas tenaga IT dan pemasaran digital. Startup dapat menikmati rendahnya biaya hidup, ketersediaan tenaga kerja kreatif, dan gaya hidup leisure yang bebas stres. Biaya hidup di Bali terhitung rendah yaitu ranking 370 dari 589 kota di dunia. Biaya hidup per individu hanya USD 600 per bulan atau USD 2000 per keluarga dengan 4 orang anggota. Pembangunan vila sendiri sangat marak di Canggu dengan kenaikan harga tanah mencapai 50 kali lipat harga 10 tahun yang lalu. Dan harga tanah di tengah pandemi menurun hingga 15 persen. So it’s a buyer’s market. Kapan lagi dapat properti harga diskon? Biaya materi bangunan dan para pekerja bangunan juga dapat dipastikan sedang rendah-rendahnya. Tidaklah mengherankan jika para ekspat kini mempertimbangkan membangun properti sebagai tempat tinggal utama. Pulau Bali mempunyai potensi jangka panjang yang luar biasa. Dengan 16 juta turis di tahun 2019 lalu, diprediksikan angka ini dapat meningkat lagi segera setelah Covid berlalu. Sebagai pebisnis, apa yang dapat Anda lakukan di Bali pada masa pandemi ini? Tentu saja apabila kapital memungkinkan, cobalah mengakuisisi atau membangun properti. Gunakan kesempatan rendahnya biaya-biaya sebelum naik kembali. Selain itu, jadilah kontrarian dengan berani....

Pengalaman bukan segalanya

Hampir setiap iklan lowongan kerja menuliskan “berpengalaman x tahun” sebagai salah satu syaratnya, selain latar belakang pendidikan dan persyaratan lainnya. Padahal, pengalaman bukanlah segalanya. Bisa saja, pengalaman kerja maupun pengalaman hidup yang dialami seseorang tidak memberi nilai plus. Kok bisa? Satu, setiap individu punya kemampuan memproses informasi dan pengalaman secara berbeda. Ini menyebabkan persepsi setiap orang juga berbeda. Sehingga pelajaran yang ditangkap juga tidak pernah ada yang identik. Ditambahkan dengan nilai-nilai hidup, pengalaman masa kecil, dan segala bentukan dari lingkungan, satu kejadian yang sama akan mempunyai makna berbeda di orang yang berbeda. Singkat kata, makna dari suatu pengalaman merupakan akumulasi dari interaksi berbagai faktor baik secara langsung maupun tidak langsung. Dua, suatu pengalaman adalah sesuatu yang sangat personal. Konstruksi timbunan pengalaman tersebut merupakan referensi penting bagi kehidupan. Tentu ini semua akan besar artinya apabila all other things remain constant (ceteris paribus). Sayangnya, derap dunia semakin hari semakin cepat, sehingga sering kali pengalaman kemarin bukanlah guru yang tepat untuk mengajari kita bagaimana menghadapi masa depan. Tiga, subyektivitas kita tidak jarang mempengaruhi cara mengeneralisasi informasi dan menginterpretasi sesuatu. Ini dimungkinkan hanya berdasarkan pengalaman masa lampau yang sesungguhnya sangat terbatas. Jadilah “makna baru” ini bukannya akurat, bisa jadi malah “ngawur.” Dengan paradigma dan logika yang salah, suatu “makna” bisa saja sangat terdeviasi dari yang sebenarnya. Empat, memori alias ingatan manusia ternyata tidak setajam yang kita duga. Bahkan informasi yang tampaknya sangat mendetil dan diungkapkan dengan cara yang sangat meyakinkan baik secara verbal maupun tertulis, bisa saja memori yang mendasarinya tidak lagi sahih. Psikolog Kognitif lulusan UCLA dan Stanford University Elizabeth Loftus yang dikenal dengan risetnya dalam memori manusia menambahkan bahwa berbagai ketidaksahihan memori disebabkan oleh keterbatasan pandangan mata dan indera lainnya. Otak manusia dikenal “menciptakan” garis penghubung antara titik-titik yang tidak begitu jelas diterima oleh sistem syaraf sehingga “gambaran mental” yang direkam di dalam otak cukup baik. Lima, gambaran mental maupun persepsi akan suatu insiden yang terekam di dalam otak cukup mudah “tercemari” oleh berbagai persepsi baru akan hal-hal lainnya. Ini berarti detil-detil memori tersebut juga dapat berubah tanpa disadari sama sekali. Perubahan akan berbagai paradigma dan perspektif akan hal-hal lain juga dapat mempengaruhi memori. Misalnya, kondisi eksternal dan pendapat orang lain yang berpengaruh dapat mengubah memori yang sangat dipengaruhi oleh kondisi ...

Taco Bell mengguncang Lanskap Franchise

Taco Bell mengguncang Lanskap Franchise Di AS, negara asalnya, Taco Bell dimiliki oleh Yum! Brands, yang juga memiliki dan mengoperasikan KFC, Pizza Hut, The Habit Burger Grill, dan WingStreet. Sebelum 2011, Yum! juga memiliki A&W Restaurant. Yum! Brands sendiri berbasis di Louisville, negara bagian Kentucky. Mereka mengoperasikan 43.167 restoran di 135 negara. Dari jumlah tersebut, 40.758 adalah restoran yang dimiliki oleh franchisee. Konsumen yang dilayani per tahun mencapai 2 miliar orang. Taco Bell sendiri didirikan oleh Glen Bell dengan hot dog stand-nya di daerah gurun San Bernardino, California pada tahun 1946. Kemudian ia mendirikan Taco-Ria yang diganti dengan brand El Taco, kemudian Taco Bell. Sajian masakan cepat saji Meksiko ini sesungguhnya dikenal sebagi Tex-Mex alias cita rasa Meksiko yang telah disesuaikan dengan lidah Texas sebagai representasi budaya AS. Pada pertengahan Desember lalu, Taco Bell (TB) pertama telah dibuka di Jalan Senopati 96, Jakarta Selatan dibawah PT. Fast Food Indonesia. Mereka memposisikan diri sebagai restoran Meksiko cepat saji. Menu TB di Indonesia telah ditambah dengan cita rasa lokal yaitu Bell Rice. Menu lainnya, seperti Taco Supreme, Quesadilla, Grilled Stuffed Burrito, Cruncwrap dan Nachos tetap sebagaimana dikenal di manca negara. Menu inovatif lainnya termasuk Naked Chicken Taco yang banyak dinikmati oleh peminat kulit ayam garing. Selain menu adaptif mereka, tren open kitchen dan dine in yang transparan merupakan keterbukaan akan kebersihan khas restoran cepat saji di negara-negara barat. Strategi bisnis dapat dipelajari dari kesuksesan TB di mancanegara adalah kemampuannya dalam menggaet para Milenial dan Generasi Z. Satu, TB dikenal sangat playful di media sosial. Dengan berbagai komen dan konten lucu menggemaskan, copywriting posting-posting mereka sering menjadi viral. Bisa dipahami mengapa TB cabang Jakarta didesain interiornya sedemikian rupa sehingga Instagrammable dan sangat layak dijadikan background swafoto. Kejelian mereka dalam memposisikan bisnis dan merek mereka sebagai “sahabat kaum muda” dibarengi dengan titik harga penjualan (pricing point) yang affordable. Dua, kecerdasan dalam memikat hati para influencer dan selebritas sehingga menciptakan momen-momen viral dan layak viral. Ini menunjukkan betapa aktif dan kreatifnya tim pemasaran online mereka. Misalnya, dengan memberikan cincin dan surat ucapan selamat menjalankan hidup baru bagi Chrissy Teigen dan John Legend. Chrissy dikenal sebagai konsumen TB yang kerap kali memberikan kritik membangun. Tiga, kehadiran aplikasi Taco Bell di Apple App Store dalam kategori “Food and Drink” ternyata meledak. Taktik ini memungkinkan promosi dan loyalty building dapat dilakukan berasamaan dan dengan biaya yang rendah....

Kekuatan Bahasa dalam Komunikasi Bisnis

“Bahasa” dalam bisnis tidak terbatas pada apa yang “menjual” belaka, selain yang tersurat dan tersirat. “Bahasa” dalam bisnis mencakup juga bagaimana mengkomunikasikan ide, fungsi, fitur, visi, dan image agar persepsi dan aksi yang diharapkan dapat dicapai. Ia juga merupakan komplemen design thinking yang berpengaruh. Dan “bisnis” tidaklah terbatasi oleh aktivitas mencari profit belaka, baik langsung maupun tidak langsung. Aktivitas yang membawa nilai tambah bagi suatu produk atau servis sendiri merupakan “bisnis” yang bisa bermuara pada manfaat pembawa keuntungan nominal maupun aset intelektual dan kultural lainnya. Salah satu bentuk penggunaan populer bahasa dalam bisnis adalah copywriting. Dalam konteks copywriting, bahasa mempunyai daya jual dengan daya tarik pemasaran komunikatif. Copywriting sering dikonsepsikan secara sempit sebagai “bahasa pemasaran” alias marketing dan promosi secara tertulis. Misalnya, slogan-slogan dan kata-kata di dalam iklan adalah hasil kerja para copywriter. Misalnya, tulisan yang “menjual” mengajak pembaca “membeli” baik secara terang-terangan maupun dengan soft approach dengan pendekatan informatif atau edukatif. Padahal, writing copy (menulis teks kopi) bisa untuk berbagai fungsi, tidak hanya untuk iklan. Sebenarnya, suatu bahasa (termasuk wujud writing copy) sangat tergantung dengan para penggunanya karena obyektivitas suatu komunikasi terbatasi oleh persepsi subyektif setiap individu. Dan subyektivitas ini merupakan hasil dari perspektif alias viewpoint atau sudut pandang. Idealnya, suatu bisnis atau gerakan mampu mengubah sudut pandang audiens target, terutama produk-produk blue ocean. Namun ini jelas membutuhkan usaha ekstra. Beberapa kasus bisnis di mana produk-produk baru perlu dijadikan bahan edukasi konsumen pada saat penetrasi, seperti Pepsodent, Dove, dan Febreze. Bagaimana para produsen consumer products tersebut mempromosikan produk-produk tersebut ketika pasar masih belum siap sangat menentukan kesuksesan market share yang kini mereka nikmati. Pepsodent, misalnya, diluncurkan pada tahun 1915 di AS oleh Pepsodent Company of Chicago. Pasta gigi ini yang pertama menggunakan formula pepsin, yaitu enzim digestif yang dapat meluluhkan deposit makanan di gigi. Saat itu, pasar masih belum paham tentang pepsin. Jadilah iklan edukatif yang mengajarkan pentingnya menggosok gigi secara teratur setiap hari merupakan bukti kuatnya “bahasa” yang mampu mengubah persepsi akan kesehatan oral. Sabun mandi lembut berpelembab Dove dengan slogannya “real beauty” telah meluncurkan kultur mencintai diri yang unik apa adanya alias “body positivity” sebagai suatu gerakan. Tidak lagi bintang iklan sabun berwarna putih ini seorang perempuan blonda bermata biru nan langsing, namun menggunakan model yang berasal dari berbagai...

Wardah dan Kompetisi Merk GLobal

Indonesia, China, India, dan Brazil adalah emerging markets yang sangat diperhitungkan oleh perusahaan-perusahaan fast moving consumer goods (FMCG) global, seperti P&G, Unilever, Colgate-Palmolive, Kimberly-Clark, Nestle, Danone, Johnson & Johnson, dan lainnya. Tidak heran, mengingat industri raksasa ini mencakup USD 1,2 trilyun per tahun. Jadilah “kue besar” ini juga diincar oleh para pemain lokal. Di Indonesia sendiri, nama-nama Kino, Tempo Scan, Wings, Grup Orang Tua, dan lainnya sudah tidak asing lagi. Dalam kategori FMCG kosmetika dan toileteri, Paragon Technology and Innovation (PTI) dengan merek-merek lokalnya yang telah mulai melebarkan sayap ke manca negara semakin diperhitungkan. Salah satu mereknya adalah Wardah Beauty yang merupakan pelopor kosmetika halal, kini telah memegang 30 persen market share domestik. Pendiri Wardah Ibu Nurhayati Subakat pun diakui kepiawaiannya dalam dunia skincare dengan dianugerahinya gelar doktoral honoris causa dari alma mater ITB di mana ia lulus sebagai ahli farmasi. Subakat pernah bekerja sebagai apoteker di Padang sebelum pindah ke Jakarta sebagai staf quality control kosmetika Wella. Kemampuan Wardah dalam memenangkan pangsa pasar Indonesia patut diacungi jempol. Penggunaan label halal sangat membantu penetrasi pasar di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia dan Malaysia. Selain itu, formula-formula produk sangat sesuai dengan kondisi tropis. Bagaimana strategi bisnis Wardah yang mengguncangkan bisnis-bisnis FMCG global? Satu, menyebarkan nilai-nilai Islami dan kearifan lokal. Wardah selalu membawa simbol halal dan image Muslimah yang semerbak mewangi mengingat kata “wardah” mempunyai arti bunga atau mawar. Penggunaan warna hijau muda dan tagline dari “inspiring beauty” menjadi “feel the beauty” bermaksud memancarkan inspirasi positif akan cinta kasih, keindahan, dan kebaikan dari dalam hati. Jadi, ada kasih dalam produk Wardah yang dikemas sederhana dan simpel. Dua, komunikasi sosmed dan online dengan influencer senilai dan trending. Ayana Jihye Moon seorang influencer asal Korea Selatan yang lebih dulu dikenal di Malaysia telah dipilih menjadi salah satu brand ambassador Wardah yang unik. Nona Moon ini berwajah khas perempuan muda usia 20an asal Korea yang berkulit bening pualam dan bermata berbentuk almond memukau. Dan ia berhijab. Gabungan antara kekuatan kultur K-Pop yang dikenal dengan teknologi skincare yang piawai dengan kealiman seorang muslimah berhijab bertutur kata halus terpancar secara alami tanpa perlu banyak penjelasan. Follower Ayana yang telah mencapai 3,2 juta sendiri merupakan pool audiens yang sangat bernilai. Tiga, edukasi perawatan wajah dan tubuh yang halal. Wardah mendukung aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan perawatan w...

Faktor Relevansi menjadi tanda tanya besar

Faktor Relevansi menjadi tanda tanya besar Di era pandemi dan teknologi dalam Revolusi Industri 4.0 ini, derap perubahan sangat cepat. Ini membuat banyak hal, termasuk model bisnis dan produk menjadi tidak lagi relevan. Setiap bisnis dan individu perlu beradaptasi secepat mungkin agar segala sesuatunya dapat berjalan tanpa jeda yang tidak produktif. Mengapa? Karena hal-hal baru sangat cepat datang dan datang kembali dalam versi-versi teranyar sebagaimana barang-barang elektronik dan model bisnis e-commerce dan m-commerce. Selain itu, model bisnis yang melibatkan kerumunan akan semakin ditinggalkan. Fenomena ini telah menyudutkan industri pariwisata dan pameran-pameran perdagangan (trade shows). Namun sangat membangkitkan kebutuhan akan ruang-ruang virtual dan online yang digunakan untuk berbagai kepentingan, tidak hanya Zoom untuk meeting. Strategi bisnis sendiri bergeser dari mindset spesialis ke multi fokus alias generalis. Beberapa contoh perubahan seperti menyimpan stock (daripada just in time tanpa stok), diversifikasi (daripada core competency), menyekat penyampaian servis, layar sentuh (touch screen) akan diganti dengan touchless point atau via aplikasi, aktivitas jarak jauh dengan wifi, pembayaran cashless, penggunaan aplikasi-aplikasi pendukung kerja remote, dan kantor privat (bukan open plan). Tentu saja ini membuat faktor relevansi menjadi tanda tanya besar. Misalnya, mengunjungi dokter untuk konsultasi kini dianjurkan via telemedicine alias via aplikasi atau komputer. Berbagai peralatan satu kali pakai, pembersihan alat terus-menerus, dan peralatan proteksi menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Relevansi keberadaan seseorang di dalam satu tempat dan satu ruangan kini bukanlah sesuatu yang sangat diperlukan. Lokasi geografis menjadi tidak relevans dalam penyampaian informasi, edukasi, pelayanan, dan berbagai aktivitas lainnya, sepanjang dapat dilakukan secara virtual. Bahkan hal-hal yang pasca pandemi biasanya dilakukan secara tatap muka. Lantas bagaimana tentang mengakuisisi customer baru? Prospecting di tengah pandemi? Bagaimana yang relevan? Satu, cari tahu apa yang relevan bagi mereka. Pasti ada beberapa benang merah yang umum dan yang khusus. Catat dan pikirkan apa yang bisa dilakukan dalam kondisi terkini. Riset lapangan dan wawancara dengan mencari pain points dan harapan solusinya dapat sangat menentukan arah marketing dan keseluruhan bisnis. Dua, secara psikologis, pandemi semakin menyadarkan kita akan pentingnya menghargai jiwa dan keselamatan orang-orang terdekat kita dengan kesehatan kita yang prima. Jadi, produk atau jasa apapun yang ditawarkan perlu dipastikan kualitas dan perannya bagi kesehatan, termasuk distribusi dan packaging tidak menyebarkan virus atau bakteri. Tiga, bangun kerja sama dengan bisnis-bis...

AMDK mewah Fiji VS Equil

ika Anda sering nongkrong atau menghadiri rapat di hotel-hotel berbintang lima, pasti Anda temukan Fiji Water (FW) dan Equil. Dua merek ini dapat disandingkan bersama-sama mengingat mereka membidik pasar menengah atas. Dua-duanya adalah “air minum kemasan murni” yang cukup tinggi harganya per botol. FW dikemas dengan high-grade polyethylene terephthalate plastic transparan, yang telah dinyatakan aman oleh US FDA untuk makanan dan minuman. Sedangkan Equil dikemas dalam botol kaca berwarna hijau transparan yang selain aman untuk kesehatan juga menunjukkan bidikan pangsa pasar atas. Fiji Water sebagaimana namanya, bisa ditebak berasal dari negara pulau Fiji yang berada di Pasifik Selatan. Lokasinya yang jauh dari peradaban modern, menyebabkan air artesis yang berasal dari aquifer ini demikian jernih dan murni tanpa kontaminasi polusi dan berbagai elemen tanah dan air lainnya. Difilter secara alami oleh batu-batu alam, FW sangat menarik bagi mereka yang punya kantung tebal dan mendambakan kemurnian air. FW juga mengandung berbagai elektrolit alami seperti magnesium, potasium, dan sodium. Level PH-nya pun bersifat basa yaitu 7 hingga 7.7, sehingga sangat baik untuk kesehatan. Namun ada beberapa hal yang cukup kontroversial mengenai FW, yaitu jejak karbon negatif (negative carbon footprint) yang masih juga belum tercapai sejak komitmen mereka pada tahun 2008. Dan manajemennya yang agresif dalam meraup laba banyak diekspos media karena kontribusi terbatas bagi penduduk Fiji. Equil dengan botol kaca elegan dan logo bergambar sebuah vila berdesain klasik Eropa bernama Villa D’Equilibrium, ternyata diproduksi di Sukabumi, Jawa Barat sejak 1997. Diproduksi dalam jumlah terbatas, air minum berasal dari mata air alami tanpa proses pemompaan dan teknologi lainnya menjadi sangat eksklusif dan berharga tinggi. Bahkan telah lama diekspor ke Eropa. Didirikan oleh entrepreneur Indonesia Morgen Sutanto, PT Equilindo Lestari menjawab kebutuhan air kemasan yang representable dan eksklusif. Sebagai negeri yang penuh dengan sumber daya alam air, sangatlah ironis apabila Indonesia masih mengimpor air minum kemasan yang dikonsumsi oleh pangsa pasar atas. Equil termasuk kategori air mineral alami, di mana teknologi dan water treatment apapun tidak dipakai. Untuk memastikan layak konsumsi, air diperiksa setiap jam satu kali, setelah itu dikemas, dikarantina, dan dikultur selama 5 hari untuk mendeteksi mikroorganisme. Jadi, proses pengambilan dan pengemasan air minum alami sangat berbeda dengan yang mengalami proses penyaringan, distilasi, dan oksidasi. Kemurnian dan proses QC manual inilah yang menyebabkan tingginya harga Equil yang mencapai 20 kali harga air minum kemasan pada umumnya. Ada varian Equil Hydra Tera yang banyak dikonsumsi untuk terapi kesehatan mereka yang berpenyakit kronis. Satu keun...

Sovereign Wealth Fund Indonesia

Indonesia segera akan punya semacam Temasek yaitu berbentuk Sovereign Wealth Fund (SWF) yang merupakan kumpulan dana investasi yang dikelola oleh lembaga negara. Lembaga ini diberi nama Indonesia Investment Authority (INA) yang telah dilegalkan dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia no. 74/2020 tentang Lembaga Pengelola Investasi (LPI). SWF secara garis besar dapat berinvestasi di sektor riil maupun sektor finansial, bahkan termasuk private equity dan hedge fund. Dan salah satu tujuan pendirian SWF, termasuk LPI INA adalah stabilisasi ekonomi negara dan pemerataan pembangunan infrastruktur negara. Modal awal yang telah ditetapkan adalah USD 5 miliar atau sekitar IDR 75 triliun yang akan dipenuhi selama 2021. Saat ini, angka ini telah meningkat lebih dari dua kali lipatnya dengan kucuran dana tambahan dari SWF-SWF luar negerti, seperti ADIA (Abu Dhabi Investment Authority). Dan diharapkan akan segera mencapai USD 20 miliar. Dengan adanya LPI INA ini, diharapkan Indonesia tidak lagi perlu mengkhawatirkan sumber dana pembangunan negara yang selama ini banyak bersumber dari dana-dana pinjaman luar negeri. Dengan semakin stabilnya kondisi makro, maka diharapkan semakin banyak pula investasi asing yang berani masuk. Efek makronya, (GDP) PDB Indonesia juga dapat terdongkrak naik, mengingat komponen I (investasi) sama pentingnya dengan komponen C (konsumsi) dan G (pengeluaran pemerintah). Dua yang terakhir ini sudah mendominasi Indonesia sejak dulu. SWF Indonesia ini sedikit berbeda dengan SWF-SWF umumnya, termasuk lima besar ini: Norway Government Pension Fund Global (USD 1,2 triliun), China Investment Corporation (USD 1,04 trilyun), Abu Dhabi Investment Authority (USD 580 miliar), Hong Kong Monetary Authority Investment Portfolio (USD 576 miliar) dan Kuwait Investment Authority (USD 534 miliar). LPI INA terfokus pada influx dana-dana investasi (capital inflow) dan partisipasi JBIC (Japan Bank for International Cooperation), bukan berasal dari dana surplus. Sebagai contoh, ketersediaan dana pensiun seperti Norwegia, penjualan komoditas seperti di Brunei, dan surplus ekspor seperti Korsel, misalnya. Fakta bahwa LPI INA tidak menggunakan surplus dana namun recycling aset di mana aset-aset ditransfer serta mendapat bantuan dari JBIC, merupakan resiko tersendiri. Bernaung di bawah Menkeu dan Menteri BUMN, serta diaudit oleh auditor independen (seperti PwC, E&Y), maka SWF LPI INA diharapkan cukup independen dan kredibel. Tentu saja sepanjang rambu-rambu, transparansi, dan sistem check and balance-nya sanggup menutup pintu-pintu penyalahgunaan dana dan proses pencucian uang. Kekuasaan terpusat yang berlebihan selalu mengundang resiko, sehingga ini perlu pengawasan lebih intens dari publik. Selanjutnya, apa efek dari SWF Indonesia pertama ini bagi para pemain bisnis di Indonesia terutama UKM, selain...

Kolaborasi dengan K-Pop dan K-Culture untuk mendongkrak pemasaran zaman now

Beberapa tahun terakhir ini, drakor (drama Korea) dan para penyanyi K-Pop baik yang girl band, boy band maupun solois mempunyai pengaruh signifikan bagi kultur dunia. BTS, misalnya, telah memenangkan nominasi piala Grammy 2021 untuk lagu “Dynamite. Grup band para gadis Blackpink memenangkan MTV Video Music Award 2020. Di Indonesia, baik BTS maupun Blackpink merupakan brand ambassador platform e-commerce Tokopedia. Bandingkan dengan pada tempo doeloe, adakah toko serba ada (bukan e-commerce pastinya, karena Internet belum lahir) yang menggunakan jasa brand ambasador dari Korea? Silakan dijawab sendiri. Dalam dunia fashion dan beauty, artis-artis Korea juga sangat kuat influensinya. Cukup banyak merek kosmetika yang tidak hanya melibatkan mereka sebagai brand ambassador, namun juga sebagai pendiri perusahaan dan creative director. Satu kasus unik. Mantan anggota girl band legendaris Girls’ Generation (GG) Jessica Jung memulai merek luxury fashion Blanc & Eclare (B&E) di tahun 2014. Kini, B&E mencakup juga lini eyewear, ready-to-wear, kosmetika, dan asesoris. Jung juga dikenal sebagai aktris serba bisa dan penyanyi solo. Yang terakhir dimulainya pada tahun 2016 setelah keluar dari grup GG. Pada tahun 2017, Forbes memasukkan nama Jung ke dalam daftar “30 Under 30 Asia” yaitu mereka yang berusia di bawah 30 dan super berpengaruh di Asia. Bukan ini saja, perempuan kelahiran San Francisco (AS) yang sebenarnya adalah Asian-American ini telah merambah dunia pustaka dengan novel debutnya Shine yang diterbitkan September 2020. Di Indonesia, terjemahannya telah diterbitkan oleh Gramedia. Yang ingin penulis sampaikan di sini adalah kekuatan branding K-Pop dan posisi para artis Korea sebagai duta bagi kultur Korea sebenarnya telah membuka pintu dan membangun jembatan bagi siapapun, termasuk para solo entrepreneur. Bahkan, dengan kekuatan branding K-Culture alias “kultur Korea,” para artis dan influencer berembel-embel Korea pun berpengaruh kuat di Indonesia. Lee Jeong Hoon yang dulu pernah menggemparkan dunia musik Indonesia dengan boy band HITZ, kini adalah penyanyi, aktor dan presenter laris tanah air yang super fasih berbahasa Indonesia. Selain itu, influencer tenar Hansol Jang yang dikenal sebagai “Orang Korea yang Medok” dan beauty vlogger Sunny Dahye sama-sama dibesarkan di Indonesia sebelum mereka kembali ke Korsel untuk membangun kanal YouTube berfollower jutaan berbahasa Indonesia. Jang adalah brand ambassador kosmetika Nacific dan Tokopedia, sedangkan Dahye adalah founder dan creative director House of Hur dan salah satu vendor sukses Lazada bernama Sunny’s Market. Bisa diterka berapa penghasilan mereka. Yang jelas pasti cukup signifikan. Kembali ke Jessica Jung. Label B&E yang berhasil merambah pasar luxury fashion ini telah...

Kesuksesan Chick Fil A ( CFA )

Jika Anda pernah mengunjungi Negara Paman Biden, kemungkinan besar Anda pernah mencicipi sajian Chick-Fil-A (CFA) yang jadi favorit lokal. Resto ini selain tenar akan kelezatan ayam goreng dan chicken sandwich-nya, juga kontroversial karena donasi karitasnya kepada organisasi-organisasi anti LGBTQ. Hebatnya, di tengah-tengah pro dan kontra hebat ini, di tahun 2019, total revenue CFA mencapai USD 10,46 miliar. Ini menjadikannya peringkat ketiga untuk restoran cepat saji di bawah McDonald’s USD 38,52 miliar dan Starbucks USD 20,5 miliar. CFA mencapai omzet USD 1 miliar pada tahun 2000 yang membuatnya berada di posisi ke-3 dalam kategori fast food ayam goreng. Dua yang diatas adalah KFC dan Popeye’s. Selain pencapaian di atas, setiap outlet CFA menghasilkan omzet paling besar dibandingkan dengan outlet-outlet fast food restaurant lainnya di seluruh AS. Karena melejit secepat roket, ini menyebabkan McDonald’s dan Popeye’s jadi memperhatikan setiap langkah CFA. Pada pertengahan 2019, McD bahkan menambahkan sandwich ayam ala Southern AS untuk menandingi CFA. Dan Popeye’s mulai menyajikan menu serupa di waktu yang hampir bersamaan. Mereka yang menganut paham liberal dan pro LGBTQ cukup banyak yang menahan diri untuk berhenti menikmati ayam sajian CFA sebagai bentuk protes. Yang menarik, ternyata pandangan tersebut yang awalnya dianggap sebagai “blunder” bagi public relations CFA, ternyata tidak berbuah negatif. Bagaimana bisa? Satu, CFA mempertahankan kultur korporasi yang “saleh.” Didirikan di Atlanta, Georgia pada tahun 1946, oleh seorang Kristen taat Truett Cathy, CFA mulanya bernama Dwarf Grill. Menu sandwich ayam yang digoreng dalam minyak kacang tanah sebenarnya merupakan resep keluarga favorit ibunda. Semua outlet CFA tutup setiap hari Minggu, termasuk yang berlokasi di stadium-stadium olahraga yang penuh sesak di musim pertandingan. Alasannya klasik dan “saleh,” yaitu agar setiap pegawai dapat beribadat ke gereja dan beristirahat penuh di hari Minggu. Dua, bernilai kekeluargaan yang tinggi. Nilai kekeluargaan CFA didukung oleh kultur Southener yang dikenal sangat menjunjung tinggi rasa hormat kepada sesama, kesetiaan (termasuk kepada tempat kerja), dan keramah-tamahan “anak saleh.” Bisa dipahami ini menyebabkan baik konsumen maupun pegawai jadi merasa dihargai dan dihormati. Suasana “setiap konsumen adalah sahabat” terasa begitu menginjakkan kaki ke dalam outlet. Tiga, visi resto di dalam mall dan independen. Pada tahun 1967, CFA resmi dibuka di Greenbiar Mall, Atlanta. Di masa itu, resto fast food di dalam mall masih bisa dihitung dengan jari. Pada tahun 1993, telah ada 500 restoran independen (bukan dalam mall) yang telah beroperasi d...

Fungsi UX bagi setiap bisnis

UX (user experience) bukan hanya ranahnya dunia desain produk dan desain web atau aplikasi. UX adalah kualitas yang dapat dirasakan dari penggunaan sesuatu. Yang dimaksud dengan “sesuatu” itu adalah apa saja, termasuk dan tidak terbatas pada produk barang, jasa, maupun pengalaman. Pada dasarnya, setiap bisnis profit maupun non-profit memerlukan UX yang berkualitas tinggi. Bahkan untuk bisnis UKM sekalipun, seperti menjual nasi uduk di pinggir jalan maupun lapak online di dalam platform e-commerce marketplace. Intinya, kenyamanan berinteraksi bagi konsumen merupakan kata kuncinya. UX bukan hanya suatu kemewahan bagi bisnis-bisnis berkapital tinggi. Bisa saja, sesuatu yang sepele namun UX-nya luar biasa berkualitas mampu meroket setinggi langit sehingga bervaluasi jutaan USD. Mengapa tidak? Mari kita bahas apa sih sebenarnya UX itu. Apa bedanya dengan UI. Dan bagaimana UX diaplikasikan dalam setiap langkah bisnis yang berhubungan langsung dengan konsumen dan pegawai yang menjalankannya. Dan apa itu UX writing yang menjadi kolaborator dan konektor. Satu, people remember how you make them feel. Kita mengingat apa perasaan yang ditimbulkan seseorang atau sesuatu. Bagaimana suatu bisnis atau produk meninggalkan suatu “rasa” alias “feeling” itulah yang akan diingat. Ada rasa nyaman, sehingga terjadi repeat order. Ada rasa tidak suka, sehingga meninggalkan atau bahkan bad mouthing. UX dan UI sangat erat dengan what people feel alias apa yang konsumen rasakan, sehingga UX dan UI yang sesempurna mungkin merupakan salah satu kunci sukses. Dua, UX dan UI mirip tapi tidak sama. UX sering disalahartikan dengan UI (user interface), padahal mereka adalah dua hal berbeda. Serupa namun tidak sama. UX adalah singkatan dari user experience alias pengalaman pengguna. Dengan kata lain, desain produk sangat menentukan bagaimana pengalaman konsumen. Yang dimaksudkan dengan “desain” tidak hanya yang berwujud dua atau tiga dimensi, namun juga apa yang dirasakan secara tidak kasat mata. UI merupakan bagian dari pengalaman pengguna aplikasi, situs web, atau perangkat keras dan lunak alias apa saja yang berhubungan dengan dunia digital, elektronik, dan hasil cipta karya. UI sangat erat hubungannya dengan desain layout, seperti tombol, teks, gambar, dan berbagai bentuk interaksi lainnya. Bahkan berbagai interaksi mikro seperti animasi, transisi, dan elemen-elemen lainnya. Tiga, UX dalam produk tangible, online, dan jasa. Sebagai pengguna aplikasi di era modern, Anda pasti sering berinteraksi dengan elemen-elemen UI yang membawa Anda kepada pengalaman UX yang unik. Tidak diragukan lagi, user experience merupakan elemen penting yang menentukan kualitas penggunaan. Bayangkan ketika Anda menggunakan sebuah aplikasi e-wal...

BTS dan IPO Bintang K-Pop

BTS kembali menggemparkan dunia dengan nominasi American Music Award alias piala Grammy 2021 untuk kategori Best Pop Duo or Group Performance untuk lagu single Dynamite. Di penghujung 2020, mereka juga telah meluncurkan album berjudul BE. Selain prestasi seni, BTS juga memiliki impak luar biasa terhadap perekonomian makro dan dunia finansial Korsel, bahkan global. Para bintang K-Pop telah bermetamorfosis menjadi model bisnis berbasis intellectual property (HAKI) dengan daya serap super masif ke seantero jagad. Produk-produk pop culture Korea adalah 3rd largest export dan 2nd fastest growing industry dari Korsel. It’s safe to say that Hollywood saja tidak sedemikian sistematis dalam membangun kepopuleran merek bintang pop culture. K-Pop merupakan benchmark yang sangat patut diperhitungkan dalam kancah bisnis internasional. Dan IPO sudah merupakan path yang cukup umum bagi para bintang K-Pop. Ketujuh anggota BTS yaitu RM, Jim, Suga, J-Hope, Jimin, V dan Jung Kook tersebut merupakan anggota grup asal Korea dan bintang K-Pop pertama yang mendapatkan nominasi di ajang internasional tersebut. Single “Life Goes On” yang diluncurkan November 2020 lalu, merupakan katalis sehingga mereka berhasil memenangkan nominasi Piala Grammy. Single tersebut merupakan lagu yang bukan berbahasa Inggris namun berhasil menaklukkan hati para penggemar di berbagai negara dunia. Buktinya, lagu tersebut merupakan lagu non-Inggris pertama yang segera melesat cepat di Billboard Hot 100. Dalam 3 bulan, 3 lagu BTS berhasil menaklukkan anak tangga Billboard tersebut. Dan ini hanya bisa tersaingi oleh Bee Gees dan The Beatles 40an tahun yang lamapau. Ternyata, bukan hanya ketenaran dengan top chart di 120 negara yang membawa keuntungan finansial bagi record label dan grup. Namun ekonomi makro Korea Selatan sendiri sangat terbantu. Export pakaian jadi, kosmetik dan food/beverage naik secara cukup signifikan, baik yang didutabesari oleh BTS maupun tidak. Kenaikan ekspor pakaian dari Korsel telah naik 0,18 persen, kosmetika 0,72 persen, dan food and beverage 0,45 persen untuk setiap 1 index point peningkatan awareness tentang BTS. Demikian hebatnya, menurut Hyundai Research Institute. Terhitung 2017, satu dari setiap 13 turis yang berkunjung ke Korea Selatan adalah atas pengaruh BTS. Dan jumlah ini mencapai 800.000an pengunjung per tahun. Jadilah BTS ambassador kampanye turisme. Misalnya, Namsam Tower dan Banpo Bridge menjadi sangat populer sebagai efek dari keberhasilan kampanye tersebut. Dan setiap turism spot di Korsel tiba-tiba jadi “seksi” dan ngehit banget. Diprediksikan BTS akan membawa USD 48 miliar lagi bagi ekonomi Korea Selatan pada tahun 2023. Per tahun, BTS telah memasukkan USD 3,6 miliar plus USD 1 miliar consumer export Korea. Sedangkan PDB (pendapatan domestik bruto) Korea Selatan ha...

Afterpay di Era Pandemi

Tidak disangka, era pandemi Covid-19 ini malah membawa berkat luar biasa bagi Afterpay (AP) yang didirikan di Australia. AP adalah aplikasi yang mengatur fintech personal finance untuk transaksi pembelian dengan cicilan “buy now, pay later” alias “beli sekarang, bayarnya kemudian.” Cara kerjanya simple. Begitu konsumen membeli suatu produk, Afterpay akan bayarkan dulu sehingga konsumen berhutang kepada mereka daripada kepada retailer. Dan konsumen dapat memilih untuk membayar dalam bentuk cicilan. Saat artikel ini ditulis, pengguna aktif Afterpay mencapai 11,2 juta dan 63.800 merchant. Di tahun 2020, revenue AP mencapai USD 382 juta dan kerugian mencapai USD 16,8 juta. Ya, AP masih merugi. Namun ini bukan halangan berarti bagi salah satu unicorn termuda ini. Afterpay sendiri didirikan pada tahun 2015 oleh dua co-founder bernama Nicholas Molnar dan Anthony Eisen. Nick adalah lulusan commerce dari University of Sydney. Anthoney Eisen adalah investment officer yang usianya hampir 20 tahun lebih tua dari Nick. Juni 2017, AP merger dengan Touchcorp dan membentuk Afterpay Touch Group. Pada bulan November 2019, dinamakan ulang sebagai Afterpay Limited. Nick-lah yang mempunyai visi untuk meremajakan institusi finansial konvensional yang telah lama kadaluwarsa. Kaum Milenial tampaknya telah jenuh dengan beban bunga kartu kredit, mengingat mereka dan orang tua mereka pernah mengalami Krisis Ekonomi 2008 yang mencekam dan mengubah pola pikir tentang uang dan personal finance. Jadilah Afterpay bervisi mengubah landskap personal finance dengan mendefinisikan ulang institusi pemberian kredit dengan aplikasi dan aplikasi kredit yang simpel. Dengan lebih dari 10 juta pengguna, Afterpay juga telah dipilih oleh gerai-gerai favorit kaum Milenial, seperti Kylie Cosmetics, Adidas, Lululemon, Ray-ban, Urban Outfitters, dan sebagainya. Selama lockdown, penggunaan kartu kredit Visa menurun 30 persen dari tahun sebelumnya. Penggunaan kartu debit relatif lebih baik, mengingat konsumen semakin “kapok” untuk menggunakan kartu kredit yang menyandera credit score mereka. Pengguna Afterpay sendiri termasuk ber-credit score baik, mengingat 90 persen selalu tepat waktu dalam membayarkan cicilan bulanan. Afterpay mengeruk revenue dari late fees, yang mencakup 14 persen dari total income. Para merchant dikenakan 4-6 persen merchant fee, yang sebenarnya cukup tinggi dibandingkan dengan biaya merchant kartu kredit. Yang membedakan Afterpay dengan kartu kredit konvensional adalah dikuncinya akses berbelanja konsumen ketika ada pembayaran yang terlambat. Jadi, selama pembayaran belum on time, mereka tidak bisa berbelanja lagi. Ini membuat para pengguna Afterpay semakin berdisiplin dalam mengatur keuangan mereka dan tidak merasa “terjebak” bunga menggunung sebagaimana dalam kartu kredit. Dan pola pikir seper...

Pangeran Harry Influencer Silicon Valley

Di Silicon Valley, sesekali, kita bisa berpapasan dengan mobil hybrid yang dikendarai Mark Zuckerberg di lampu merah Palo Alto. Jika beruntung, pengemudi mobil di lampu merah di samping Anda bisa saja si rambut ginger Pangeran Harry. The Duke of Sussex suami dari Meghan Markle ini ternyata telah menerima posisi sebagai tech executive di startup unicorn BetterUp yang berkantor di downtown San Francisco. BetterUp Inc. divaluasi senilai USd 1,73 miliar setelah mendapatkan suntikan dana segar sebesar USD 125 juta di Series D financing roung. Jadi, ini bukan startup abal-abal yang tidak jelas masa depannya. Tepatnya, jabatan Pangeran Harry adalah Chief Impact Officer (CIO). Beda dengan CIO yang satunya lagi yaitu Chief Information Officer. Sebagai CIO, tugasnya adalah mengakselerasi ekspansi ke komunitas-komunitas global dengan menjangkau dan menginfluens berbagi organisasi dan perusahaan yang sinergistis. Selain itu, bersama istrinya, mereka telah menandatangani kontrak partnership distribusi podcast Archewell Audio via Spotify dan konten Archewell Production video dengan Netflix. Diduga, mereka mendapat bayaran USD 25 juta oleh Spotify dan USD 100 juta oleh Netflix. Spotify sendiri punya 144 juta pelanggan berbayar Premium dan 320 juta pengguna aktif setiap bulan. Netflix sendiri punya 203,67 juta pengguna di seluruh dunia dengan pengguna AS mencakup 73 persen. BetterUp adalah platform untuk professional coaching dengan tujuan membangkitkan personal growth dengan coaching yang dirancang khusus. Pangeran Harry ini dikenal sebagai seorang tokoh penerus berbagai aktivisme mendiang ibundanya Putri Diana Spencer, mantan Pricess of Wales. Sejak usia dini, Harry telah diperkenalkan dengan advokasi kesehatan mental (mental health) oleh almarhumah ibunya. Sebagai salah satu komandan dalam angkatan Royal Marine Inggris Raya, Harry tahu betul bahwa kesehatan dan resiliensi fisik harus sejalan dengan kesehatan dan resiliensi mental. Keduanya adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Diharapkan, keberadaan Pangeran Harry sebagai a true citizen of the world, berbagai isu kesehatan mental (mental health) dan isu-isu sosial lainnya dapat lebih banyak diangkat dan lebih dalam didiseminasikan kepada publik. Bagi semua perusahaan yang bekerja sama dengan pasangan Windsor ini, ekspektasinya adalah menjangkau miliaran orang. Walaupun sebagai PR influencer hanyalah “bonus,” menurut CEO BetterUp Alexi Robinchaux. Pangeran Harry memang punya peran besar di organisasi non-profit Heads Together dan Invictus Games. Dan hebatnya, ia akan dikenal sebagai COO Harry Windsor saja, bukan sebagai Pangeran Harry atau Duke of Sussex. Kepindahan Harry dan Meghan ke lokasi residensi Montecito, California yang merupakan bagian dari kota Metro Los Angeles adalah langkah berani mengingat gaya hidup yang super kompetitif. Yang menarik, kes...

Pengambilan Keputusan dengan Data

Di era Big Data ini, setiap titik aktivitas merupakan kesempatan untuk menambang dan ekstraksi data. Dan ini dapat dengan sangat mudah dilakukan, mengingat aktivitas apapun sudah melibatkan digitalisasi berbasis Internet. Banyak tools telah tersedia untuk mengumpulkan, membersihkan, dan menganalisa data, bahkan untuk fungsi-fungsi yang sangat spesifik. Menganalisa data pun relatif convenient sekarang, yaitu dengan menggunakan aplikasi analitiks, termasuk yang tidak memerlukan jasa data scientist atau data analyst. Lantas, bisalah dipahami mengapa seakan-akan data adalah satu-satunya hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan suatu keputusan. Padahal, data hanyalah salah satu elemen dalam pengambilan keputusan. Jadi, bagaimana sebaiknya menyikapi pengambilan keputusan dengan data? Satu, daripada mencari fungsi untuk suatu data, carilah data untuk suatu fungsi. Data pengguna sangatlah mudah ditambang, misalnya dari formulir registrasi yang mendetil, yang mencakup lebih dari sekedar alamat, jenis kelamin, interes, penggunaan aplikasi, dsbnya. Fakta ini membuat data-data dasar seperti ini seperti “murahan karena mudah diperoleh.” Sedangkan data analitiks perilaku pengguna aplikasi berdasarkan titik-titik penggunaannya merupakan data yang lebih berharga. Tentu saja, sepanjang data yang ditambang memberi nilai tambah bagi analisis function-based. Dan pastikan dulu bahwa datanya ada, bukan hanya dugaan. Keberadaannya itu harus bisa ditambang, diolah, dianalisa, dan disajikan. Dua, data-driven semata sering kali menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak semestinya. Aktivitas data-driven semata tidak selalu menjawab pertanyaan yang dibutuhkan dalam mengambil keputusan. Tentu saja, karena data yang berharga dan punya nilai bagi pengambil keputusan hanyalah yang mempunyai fungsi tertentu. Dan untuk mendesain fungsi tersebut dibutuhkan kemampuan yang mendalam dalam menganalisa dan memilah-milah kebutuhan. Bagilah suatu kebutuhan menjadi beberapa titik. Setiap titik diuraikan lagi menjadi beberapa kebutuhan dan titik pengumpulan data. Relevansi kata kuncinya. Tiga, data-driven semata bisa menekankan keyakinan-keyakinan yang salah (pre-existing misconception). Pre-existing misconception sering ditemui dalam setiap situasi, termasuk dalam proses penambangan data dan aktivitas-aktivitas yang data-driven. Untuk itu, dibutuhkan kejelian dalam mengenali dan membersihkan proses yang menambah unnecessary noise. Membersihkan data sendiri dapat dilakukan dengan mengeliminasi duplikat, mengenali error, menghapus formatting yang tidak perlu, validasi data, dan menghapus data-data kadaluwarsa.Namun, “proses membersihkan” sendiri tidak hanya diperlukan setelah data terkumpul, namun dari awalnya dibutuhkan kejernihan dengan meminimalisir miskonsepsi. Empat, satu kali pengambilan data ser...

kepercayaan membangun emosi positif dan repeat order

Trust is everything. Kepercayaan adalah segalanya dalam suatu hubungan, baik hubungan keluarga, percintaan, pekerjaan, kemitraan, maupun antara konsumen dan suatu produk atau bisnis. Terlepas dari manusia mempunyai aspek kognitif dan afektif, faktor emosi sangat menentukan sukses atau gagalnya suatu bisnis atau produk. Dalam bisnis multikanal (multichannel) seperti sekarang ini, konsumen bisa saja memulai buyer’s journey dari informasi online atau sosmed, namun berakhir di gerai offline atau sebaliknya. Pebisnis sudah tidak bisa lagi mengabaikan fakta bahwa suatu perjumpaan pertama belum tentu berakhir dengan closing dan suatu kepergian belum tentu merupakan pertemuan terakhir. Manusia adalah makhluk yang bernarasi. We’re storytelling creatures. Dan ini merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi psikis dan emosi seseorang. Bahkan sangat mempengaruhi. Coba perhatikan. Apa sih yang membuat Anda merasa marah atau menangis? Salah satunya karena mendengarkan narasi orang lain yang menggeramkan atau menyedihkan. Atau Anda sendiri mempunyai narasi tertentu di dalam pikiran yang mempunyai makna-makna tertentu, sehingga emosi terpancing untuk berbicara. Dalam konteks shopping, perjalanan konsumen (buyer’s journey) dapat dibuatkan suatu “narasi” dengan titik-titik aksi dari penjual dan pembeli. Tugas penjual adalah memastikan ketika pembeli sedang berinteraksi, misalnya di titik masuk, titik browsing, titik masuk ke keranjang, titik bayar, dan sebagainya, mereka mendapatkan kejelasan secara praktek dan mendapatkan kepuasan emosional. Kepuasan emosional yang dialami dalam jangka panjang atau berkali-kali dalam durasi pendek akan menumbuhkan kepercayaan emosional. Menurut Scott Magids, Alan Zorfas, dan Daniel Leemon yang merupakan advisor firma consumer intelligence Motista, tingkat emosi, kepuasan konsumen dapat dikategorikan dalam 10 motivator emosi. Satu, unik dan spesial sehingga membuat konsumen menonjol. Dua, membuat konsumen percaya akan masa depan dan bermental positif. Tiga, membuat konsumen menikmati hidup yang lebih baik (well-being) tanpa konflik. Empat, membuat konsumen merasa lebih mandiri tanpa restriksi. Lima, membuat konsumen merasa lebih nikmat dan exciting, seperti berpartisipasi dalam suatu aktivitas tertentu. Enam, membuat konsumen merasa memiliki dan berafiliasi dalam suatu komunitas. Tujuh, membuat konsumen merasa turut menjaga lingkungan. Delapan, membuat konsumen merasa telah mencapai image tertentu. Sembilan, membuat konsumen yakin akan hari ini dan yang akan datang, sehingga mereka mampu mencapai harapan dengan tenang. Sepuluh, membuat konsumen sukses dalam hidup, melampaui batas-batas finansial dan sosioekonomi. Sepuluh motivator emosi ini tampak sering digunakan dalam iklan-iklan yang memancing perasaan suka, gembira, am...

Bisakah ClubHouse bertahan ?

Sepanjang pandemi tahun 2020, salah satu aplikasi yang paling berhasil adalah Zoom. Bahkan, Zoom telah menjadi kata generik untuk”pertemuan maya” alias online meeting. “Yuk, kita Zoom aja.” Selain itu, aplikasi iOS iPhone bernama ClubHouse yang diluncurkan pada bulan Maret 2020, diawali dengan pengguna hanya berjumlah ratusan. Dua bulan sesudah launching, valuasinya telah mencapai USD 100 juta. Pada bulan April 2021 ini, ClubHouse telah divaluasi senilai USD 4 miliar. Kok bisa ya? Masih satu tahun usia aplikasi ini, tapi sudah menjadi Unicorn besar, sehingga pemain-pemain besar seperti Facebook, Twitter, Reddit, Spotify, dan Slack malam mengkloningnya dengan gaya masing-masing. Pada awal launchingnya, ClubHouse hanya dapat digunakan oleh mereka yang diundang secara invite-only. Jadilah invide codes ClubHouse diperjualbelikan di eBay seharga USD ratusan. Pada awal pandemi, ClubHouse memang sangat menjanjikan. Namun satu tahun setelah launching, install aplikasi ini turun dari 9,6 juta di bulan Februari 2021 menjadi hanya satu juta saja pada bulan April ini. Rankingnya pun telah turun dari salah satu top downloaded apps ke ranking 23 yang populer. Ada apa gerangan? Satu, fitur-fitur ClubHouse memang dibutuhkan di era pandemi, namun tampaknya dapat disubstitusi dengan kehadiran fisik tatap muka ketika aktivitas telah dizinkan. Pada akhir April 2021 ini, 140 juta orang telah berhasil divaksinasi Covid-19. Dan aktivitas pertemuan dan pariwisata seperti restoran-restoran telah kembali dibuka. Jadi, bisa diprediksi ClubHouse tidak lagi dibutuhkan, mengingat kumpul-kumpul bersama teman-teman dan handai taulan secara tatap muka merupakan salah satu cara melepas kejenuhan dan stres. Duduk di depan layar monitor di dalam “room” ClubHouse untuk mendengarkan obrolan-obrolan malas terasa menambah kejenuhan. Dua, ClubHouse hanya menyediakan “room” yang selama ini tidak diperbolehkan untuk acara konferensi atau konser musik. Room sendiri hanyalah ruangan untuk berbincang-bincang alias ngobrol dalam berbagai topik dengan sistem gantian. File audionya live dan tidak dapat direkam, sehingga kehadiran sangat dibutuhkan. Dua acara ini sesungguhnya dapat dikomersialkan secara masif. Jadi, mengapa ClubHouse belum menggarapnya, masih merupakan tanda tanya. Padahal, satu room bisa menampung 5000 pengguna. Tiga, dalam satu hari, ada 300.000 “room” baru yang dibentuk di dalam platform ClubHouse. Rata-rata, pemakai menghabiskan 60 menit per hari mendengarkan berbagai jenis obrolan bisnis maupun sekedar kesukaan. Namun sayangnya, dalam dua bulan terakhir, jumlah ini menurun drastis. Bahkan 6 juta orang yang katanya dalam daftar tunggu sebagai pengguna ClubHouse, masih dipertanyakan. Ini bisa jadi menjad...

Teknologi Bisnis Aviasi Pasca Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mematisurikan industri penerbangan. Dengan kapasitas pesawat hanya 50 persen dari kapasitas tahun 2019, lebih dari 1400 unit pesawat telah dipensiunkan dini selama tahun 2020. Jadi, ketika kebutuhan akan aviasi meningkat kembali, bisa dipastikan pesawat-pesawat yang digunakan adalah yang model terbaru dan termodern. Seperti apa teknologi aviasi yang akan mempengaruhi bisnis penerbangan pasca pandemi? Seperti apa masa depan dunia aviasi? Satu, teknologi penghematan bahan bakar dan emisi bersih. Boeing 787, Bombardier CSeries, dan Airbus A350 terbaru menghemat 20 hingga 25 persen bahan bakar dibandingkan tipe terdahulu. Penghematan dimungkinkan dengan sayap pesawat yang didesain khusus untuk ini. Selain itu, dengan menggunakan sistem elektrikal, maka sistem hidroliks dapat ditekan penggunaannya sehingga berat badan pesawat juga lebih ringan. Dan ini berarti efisiensi bahan bakar signifikan. Dua, teknologi perekaman data semakin mendetil. Selain itu, dua tipe terbaru ini merekam 800 MB data dalam setiap perjalanan. Bandingkan dengan Airbus A380 yang beroperasi mulai 2007, yang hanya mampu merekam separuh dari jumlah data sekarang. Dengan jumlah data terbaru sedemikian besar yaitu 800MB, direkamlah informasi emisi karbon dan komponen yang perlu diganti ketika mendarat nanti. Broadcast tracking signal juga sangat membantu dalam menyampaikan informasi navigasi udara dan perencanaan kedatangan (arrival) agar traffic flow di udara dapat dikelola dengan lebih baik dan keamanan lebih terjamin. Sebagai contoh, Boeing 737 Max pernah di-grounded selama dua tahun setelah kecelakaan pesawat Ethiopia yang disebabkan anomali digital tracker. FAA memastikan bahwa di masa depan ini tidak terjadi lagi. Tiga, teknologi radar cuaca semakin mendetil sehingga keamanan semakin baik. Turbulensi kini dapat diprediksi dengan jauh lebih tepat dengan Flight Weather Viewer, sehingga kenyamanan dan keamanan penumpang dapat semakin ditingkatkan. Jika di tempo doeloe suatu ancaman badai saja telah mampu membatalkan penerbangan, kini aplikasi tersebut mampu memberikan ketepatan real-time. Aplikasi Flight Weather Viewer telah digunakan Delta Airlines dengan komputer tablet sejak 2016. Beberapa versi terbaru telah menghiasi aplikasi tersebut sehingga mampu memberikan akurasi dan efisiensi lebih presisi. Empat, teknologi komunikasi antar awak kapal sebagai sumber data. Dengan Aplikasi Flight Family Communication yang mulai populer pada tahun 2018, para kru pesawat ground dan flight dapat berkomunikasi dengan sesama secara efisien dan prediktif. Bahkan data yang direkam dapat memprediksi kebutuhan perbaikan dan maintenance. Deteksi dini ini sangat membantu penghematan biaya operasi jangka panjang. Dan perbaikan-perbaikan yang dibutuh...

Ekonomi Kreatif karena Pandemi

  Di era pandemi dan pascanya, perusahaan-perusahaan semakin menyadari pentingya peran departemen kreatif. Tanpa mereka, hampir mustahil berbagai aktivitas sehari-hari dapat berjalan lancar. Misalnya saja, jika dulu kampanye pemasaran dengan publisitas hanya dijalankan beberapa kali setahun, kini dilakukan setiap hari melalui berbagai media sosial seperti Instagram, Twitter, YouTube, Tiktok, Facebook dan sebagainya. Dan ini membutuhkan tim kreatif yang luar biasa aktif dan prolifik. Kelihatannya mudah membuat posting dengan kata-kata mutiara, foto-foto kegiatan, dan video-video singkat. Namun semua itu membutuhkan tim terdedikasi sehingga pesan-pesan branding tersampaikan secara menyeluruh tanpa terasa menikam. Siap atau tidak, suka atau tidak, ekonomi kreatif telah masuk menjadi arus utama (mainstream). Jika Anda termasuk Generasi X yang agak sedikit “gaptek” dengan sosmed, biasakanlah dengan hidup dan bernafas dalam media-media sosial. Kalau Generasi Milenial dan Generasi Z tidak henti-hentinya mengecek IG mereka dan seakan-akan hidup hanya untuk berselfie ria, inilah saatnya Anda menyelami bagaimana mereka mengambil keputusan konsumtif. Jumpai mereka sebagai konsumen di sana. Kunci sukses branding via sosmed adalah memilih apa yang mau dimasukkan ke dalam ranah publik tersebut, karena tidak semua perlu disebarkan ke seantero jagad maya. Sebagai sosok yang tampil di sosmed, kita perlu tampak apa adanya, namun kita perlu memfilter dan meluruskan narasi versi kita sendiri. Demikian juga dengan produk Anda. Buatlah narasi akan produk dan perusahaan Anda. Kembangkan dalam bentuk konten yang kontinyu, saling mendukung antar platform, dan adiktif. Dengan kata lain, velositas kreativitas dunia bisnis kontemporer pasca kebenaran saat ini sangat dipengaruhi oleh kemampuan kita membentuk narasi secara virtual. Dan ini adalah inti dari perubahan ekonomi kreatif di dalam dan pasca era pandemi. Jadi, bagi para pekerja digital kreatif, ini adalah kesempatan emas untuk masuk ke arus tengah. Tidak lagi bekerja sebagai digital filmmaker, social media manager, Instagram copywriter, dan Facebook ad manager dipandang sebagai profesi kacangan dan sepele, karena sosmed dan Internet sudah merupakan cara paling jitu untuk bertahan di dunia bisnis. Sebagai media distribusi, Internet merupakan instrumen yang luar biasa. Internet memberi kesempatan satu planet untuk berkomunikasi pada saat yang sama dengan sangat efisien dan cost-effective. Bahkan informasi dalam bentuk video pun dapat diunduh dengan jeda sangat minimal. Ada beberapa strategi yang dapat Anda jalankan untuk bisnis Anda pasca pandemi dengan meningkatkan velositas kreativitas. Satu, ubah mindset bahwa designer hanyalah supporting unit. Steve Jobs pernah berkata bahwa desain itulah produk dan produk adal...

Perkembangan Masa Depan Big Tech untuk Ekonomi Global

Amazon, Apple, Facebook, Microsoft, and Google telah menunjukkan loncatan besar dalam penjualan di Q1 tahun 2021. Kini lima raksasa teknologi tersebut hanya membutuhkan satu minggu saja untuk mencapai omzet yang dibutuhkan oleh McDonald’s dalam satu tahun. Dua puluh satu dari 50 perusahaan terbesar dunia bergerak dalam sektor teknologi. Keuntungan (profit) mereka kini mencapai 800 miliar USD, yaitu satu persen dari GDP global. Dan hebatnya, angka ini adalah tiga kali lipat angka 30 tahun yang lalu. Delapan dari 50 perusahaan terbesar tersebut adalah perusahaan asal China. Dan 21 dari 50 tersebut adalah perusahaan teknologi, yang telah tumbuh dari hanya tiga pada tahun 1990. Walaupun angka-angka tersebut terlihat fantastis, sesungguhnya banyak hal tidak terlihat kasat mata. Sebagai contoh, jumlah pekerja yang dipekerjakan termasuk rendah dan rata-rata hanya membayar pajak dengan tax rate 17 persen dan profit margin 18 persen. Dibandingkan dengan tahun 1990, tax rate perusahaan mencapai 35 persen dan profit margin hanya 7 persen. Tumpukan uang cash perusahaan-perusahaan teknologi top tersebut hanya mencapai 1,3 persen dari GDP global pada tahun 1990. Namun pada 2020 telah mencapai 2,2 persen. Bayangkan seberapa besar kekuatan perusahaan-perusahaan teknologi tersebut. Dengan kekuatan cash mereka, tidak lagi diperlukan peminjaman uang (business loan), yang berarti dapat mematikan bank-bank dan bahkan mempengaruhi kinerja bank sentral. Mengapa? Karena serendah apapun suku bunga pinjaman, mereka memang tidak membutuhkannya. Angka-angka tersebut juga menunjukkan betapa mereka tidak begitu banyak melakukan investasi bagi perkembangan bisnis mereka. Jika ya, investasi di era digital ini pun jauh lebih sedikit, sehingga tidak memberatkan pembiayaan operasional. Jadi, dengan pengumpulan cash secara masif tersebut, tidak banyak efek trickle down yang dapat diharapkan. Dengan jumlah pegawai minimal, tanpa loan, dan capital spending yang juga tidak seberapa, ini mempengaruhi ekonomi makro tanpa terkecuali. Masa depan ekonomi global memang akan sangat dipengaruhi oleh bagaimana perusahaan-perusahaan teknologi merebut pasar dan bagaimana bisnis-bisnis lain menikmati riding the wave kemarakan mereka. Bisa saja produk Anda bergerak dalam bidang-bidang yang melengkapi mereka, seperti aksesoris dan jasa-jasa pelengkap. Di Silicon Valley sendiri, berbagai startup didirikan “to ride the wave” Google, Amazon, Facebook, Apple, dan Microsoft. Startup-startup tersebut ada yang mengandalkan fitur SaaS (software as a service) dan yang mengutamakan padat karya seperti berbagai agency digital marketing dan sebagainya. Sebagai pebisnis, Anda dapat memilih untuk mewujudkan strategi startup yang siap go public dengan ditunjang beberapa rounds of seed funding and venture capital funding. Dengan eksekusi yang tepat dan strat...

Bagaimana Arah Online Retail Pasca Pandemi

Xue Pandemi Covid-19 telah mengubah ekonomi makro, termasuk meningkatkan penjualan online retail business global sebesar 32 persen hingga mencapai USD 2,6 trilyun. Padahal, pasar retail lainnya sedang menyusut 2 persen. Menurut The Economist Intelligence Unit, dengan mengkombinasikan data dan perkiraan yang mencakup 58 pasar global, diprediksikan online retail sales akan meningkat 20 persen hingga 2025 dari 10,3 persen di 2019. Ini dimungkinkan oleh dua hal: pasar di negara-negara berkembang dan perkembangan penjualan retail secara online, termasuk food and beverage. Pandemi Covid-19 sendiri semakin mendekatkan Pasar Asia dan Pasar Amerika Utara. Dengan semakin gencarnya dropshipping dan pengiriman langsung dari pusat distribusi di Asia, batas antara produsen dan konsumen semakin menipis, sepanjang pengiriman via udara berjalan baik. Di luar Asia, pasar-pasar Timur Tengah dan Amerika Latin juga semakin marak dengan online retail, namun masih belum terorganisir dengan rapi. Perkembangan penjualan online F&B dan bahan-bahan makanan dengan sistem deliveri berbasis online atau aplikasi meroketkan penjualan online retail. Kebutuhan terdasar akan makanan dan minuman ini kini terbantukan oleh deliveri bermotor (di Indonesia umumnya) dan bermobil (di AS misalnya). Pertanyaannya, ke mana arah jangka panjang online retailer pasca pandemi? Segmen-segmen apa yang akan meningkat, stagnan, atau menurun? Apa yang perlu dipersiapkan seperti apapun masa depan itu? Satu, transformasi pasar akan membentuk para pemenang dan para pecundang baru. Ini dipengaruhi oleh kemampuan berkompetisi, strategi pemberian harga (pricing) produk, platform digital yang user-friendly, efisiensi manajemen inventoris dan proses fulfillment cepat dan efisien. Anda perlu berstrategi yang paling sesuai dengan implementasi agresif. Dua, berbagai strategi bisnis yang didasari oleh teknologi generasi terbaru (AI dan data analytics), real estat komersial, platform-platform pasar online (online marketplace) dan multi-brand retailers serta akun-akun sosmed (Instagram dan TikTok) sangat menentukan penjualan. Kombinasi semuanya bisa dipastikan sangat powerful. Tiga, yang mengalami penurunan akibat transisi pasca pandemi termasuk para operator franchise dan krisis SDM. Franchise-franchise yang masih bisa bertahan beradaptasi dengan keluar dari pasar-pasar yang sepi dan memperkecil penawaran produk. Empat, retailer yang bertahan adalah mereka yang berhasil membangun hubungan baik dengan customer melalui berbagai media sosial dan kanal-kanal digital. Online retailer berbentuk UKM mengalami kesulitan dalam mengembangkan flagship store mereka, namun mereka dapat berkompetisi dengan kecerdasan sosmed yang piawai. Lima, retailer makanan cepat saji akan terbentur dengan biaya operasional restoran berdomisili, namun dapat berkompetisi de...

Bentuk Transformasi Ikea di era digital

Pandemi telah menyebabkan retailer furnitur raksasa IKEA asal Swedia ini untuk menutup 75 persen gerai-gerai offline mereka di seluruh dunia dan mempercepat diri untuk berkembang dengan ecommerce online. Dalam waktu tiga tahun terakhir, omzet IKEA dari ecommerce sendiri telah menjadi tiga kali lipatnya. Keuntungan bersih IKEA global pada tahun 2020 lalu mencapai USD 1,9 miliar. Sedangkan revenue pada tahun yang sama mencapai Euro 39,6 miliar. Angka ini sebenarnya turun dari angka omzet 2019 yaitu Euro 41,3 miliar. CDO (Chief Digital Officer) Ikea Retail Barbara Martin Coppola yang berpengalaman 20 tahun total sebagai eksekutif di Google, Samsung, dan Texas Instruments, telah siap dalam mengatasi tantangan ini. Antara lain dengan strategi digital jitu serta memberikan kontrol kepada konsumen tentang bagaimana data mereka digunakan dalam ecommerce. Data analitiks sendiri kini telah menjadi unsur penting dalam pengambilan keputusan. Berikut adalah beberapa bentuk transformasi IKEA di era digital selama dan pasca pandemi Covid-19. Satu, gerai-gerai offline IKEA telah mengalami transformasi sebagai pusat pemenuhan dan pengiriman barang pesanan online. Toko-toko berfisik tersebut tidak lagi semata-mata sekedar lokasi shopping dan gudang produk. Ini berarti stok produk pesanan online dipasok dari gudang utama ke toko-toko tertentu atau di pusat-pusat pendistribusian untuk meringankan biaya dan mempercepat pengiriman ke konsumen. Dua, baik penjualan secara ecommerce maupun konvensional, sama-sama digerakkan dari gerai-gerai offline. Kesadaran akan kecepatan pemenuhan yang berbeda antara keduanya minimal punya peran penting dalam meningkatkan kualitas servis dan pemuasan konsumen. Algoritma digunakan untuk menunjukkan arah ke masa depan penjualan, pengambilan keputusan, dan pendistribusian produk. Tiga, pengalaman berbelanja setiap konsumen tidak lagi dikategorikan sebagai “belanja konvensional” dan “belanja online.” Batas keduanya semakin kabur, setiap konsumen bisa saja memulai buyer’s journey dari situs web lokal namun pada akhirnya memesan langsung ke gerai offline atau sebaliknya. Tidak jarang konsumen menyentuh dulu bendanya untuk meyakinkan, barulah memesannya secara online setelah melakukan berbagai komparasi harga dan fitur. Empat, penggunaan aplikasi HP bernama IKEA app yang tersedia di beberapa negara tertentu. Fitur “shop and go” ini memberikan kesempatan scan, bayar, dan skip antrian checkout yang bisa saja memakan waktu berjam-jam. Pengisian informasi pengiriman dapat dilakukan saat itu atau dengan pengambilan produk di gerai-gerai offline setempat. Lima, mengekspresikan nilai-nilai konvensional secara transformatif dalam lingkungan digital yang erat hubungannya dengan customer service....

INVASI ROBOT MANIKURIS

Bagi masyarakat urban menengah ke atas yang sangat memperhatikan hygiene tubuh dan kuku, pasti kenal yang disebut sebagai manikur (manicure) dan pedikur (pedicure). Pemeliharaan kuku tangan dan kaki ini memang tampak sangat fancy bagi mereka yang belum kenal gaya hidup metrosexual. Namun, sebenarnya manikur dan pedikur ini telah lama menjadi kebutuhan fashion banyak perempuan (dan beberapa laki-laki) bergaya hidup kosmopolitan di mancanegara. Termasuk di AS. Saat artikel ini ditulis, manikuris terkini yang bakal menjadi hits besar di tahun-tahun mendatang adalah robot manikuris. Tapi jauhkan pikiran Anda dari imaji robot-robot bergaya ala manusia dengan wajah dan tubuh gemulai sambil memegang jari jemari Anda untuk mengecatnya dengan kuteks warna-warni. Robot manikuris yang dimaksud adalah Nimble, Clockwork, dan Coral. Masing-masing menggunakan pendekatan berbeda dalam memanikur kuku. Dan ketiga masih dalam fase inkubasi teknologi setelah mendapatkan pembiayaan cukup besar dari private equity. Pasar nail care sendiri mencapai USD 10 miliar dan akan meningkat menjadi USD 11,6 miliar pada tahun 2027. Uniknya, ternyata hasil survei menunjukkan bahwa mayoritas konsumen tidak suka dilayani para manikuris manusia di salon kuku. Apalagi di era pandemi ini, betapa tinggi resiko ketularan Covid di salon-salon. Jadilah robot-robot manikuris merupakan kebutuhan non primer yang sangat menjanjikan untuk memudahkan kehidupan manusia modern. Robot manikuris sendiri bisa berupa alat portabel yang digunakan di rumah maupun yang berbentuk booth atau vending machine di mal-mal. Nimble dan Coral, misalnya, adalah robot portabel manikuris ukuran mini yang bisa diletakkan di atas meja. Ini ideal untuk digunakan di rumah-rumah atau salon-salong secara pribadi. Clockwork berbentuk seperti booth atau gubuk ala vending machine yang diletakkan di tempat-tempat publik seperti airport, mal, dan lokasi-lokasi dengan walking traffic yang tinggi lainnya. Jadi ini lebih bersifat sebagai “mesin pencetak uang” berskala industrial dengan biaya per penggunaan. Pada tahun 2019, Clorkwork di bawah co-founders Renuka Apte dan Aaron Feldstein telah berhasil mendapatkan dana investasi sebesar USD 3,2 juta di first round founding. Sedangkan Coral berhasil memperoleh USD 4,3 juta. Booth Clockwork sendiri telah mulai diujicobakan di Marina District San Francisco dan lokasi-lokasi pop-up akan segera dibuka dalam beberapa bulan di muka. Intinya, para customer dapat mencoba alat baru tersebut seharga USD 8. Sangat murah mengingat harga manikur di salon-salon sangat jauh melampaui itu. Bagaimana cara kerja robot manikuris yang semakin mendekatkan peradaban manusia ke era pasca industri ini? Satu, tangan-tangan robotik. Ini digunakan untuk mengecat kuku yang dijalankan dengan perangkat lunak cerdas...

Mencari Pemimpin yang Tidak Karismatik

Dalam kultur dunia saat ini, termasuk di Indonesia, seseorang dianggap sebagai “pemimpin” apabila ia mempunyai “karisma.” Dengan kemampuan orasi dan kemampuan interpersonal memukau ala Soekarno dan Barack Obama, yang dipimpin merasa “layak dipimpin.” Memang tidak ada salahnya mempunyai pemimpin yang karismatik, sepanjang mereka juga mempunyai kemampuan kepemimpinan mumpuni yang transformatif dan inspirasional. Sayangnya, tidak semua orang karismatik identik dengan kepemimpinan yang baik. Kepemimpinan yang baik sesungguhnya tidak membutuhkan kekarismatikan sang pemimpin. Bisa saja seorang pemimpin itu termasuk kategori introvert (versi Myer Briggs Type of Personality) dan dipersepsikan sebagai seseorang yang “pendiam” dan “kurang hangat.” Karena pada intinya, pemimpin yang baik adalah yang membawa perubahan positif, bukan yang tampak keren dan komunikatif. Tipe MBTI seseorang sendiri bukanlah jaminan ia adalah seorang pemimpin yang baik atau tidak. Dari 16 tipe tersebut, tipe-tipe intuitif seperti INFJ, INTJ, ENTP, dan ENFP mempunyai nilai IQ tertinggi dan rasionalitas mereka bertipe strategis dan analitis. Mereka juga termasuk influensial, padahal gaya komunikasi mereka bisa saja jauh dari karismatik. Tipe-tipe MBTI lainnya bukan berarti tidak punya potensi menjadi pemimpin yang baik. Karena kepemimpinan adalah skill alias ketrampilan, bukan sekedar talenta dari lahir. Kunci kepemimpinan sendiri adalah bagaimana kita dapat mengoptimalkan pengaruh dan memberikan arahan baik dengan gaya coaching, mentoring, serving (melayani), maupun gaya-gaya komunikasi lainnya untuk pencapaian tujuan transformatif dalam suatu kelompok, baik besar maupun kecil. Apa yang sesuai dengan mentalitas para anggota tim, itulah yang tepat untuk digunakan. Minimal untuk jangka waktu tertentu. Jadi, seorang pemimpin bisa saja karismatik maupun tidak, sepanjang gol-gol transformasional tercapai. Mencari “pemimpin karismatik” sendiri mengandung beberapa resiko. Satu, kita terkadang memiliki bias yang “ngawur” kepada orang-orang yang “menarik” dan “karismatik” secara fisik dan verbal. Dan ini adalah sesuatu yang membahayakan karena sering kali kita tidak memiliki kemelekan memadai untuk membedakan seseorang yang karismatik tanpa patologi dan mereka yang memiliki patologi. Seseorang yang karismatik tanpa patologi mempunyai rasa bela rasa, empati, dan kerendahan hati yang melebihi orang lain. Mereka juga tidak butuh dikagumi secara berlebihan, karena mereka tidak butuh untuk “memenangkan” kompetisi yang tidak sehat. Dua, seseorang karismatik dengan patologi membawa resiko sangat besar bagi kelompok. Tiga patologi yang berpenampakan luar “karismatik” adalah para narsisistik (narcissistic...

YouTube mengalahkan TV

YouTube, yang merupakan bagian dari Alphabet, adalah platform video sharing yang telah merambah menjadi salah satu penjual iklan digital terbesar di dunia. Bahkan siap melebihi pasar iklan televisi. Seandainya YouTube (YT) adalah entitas mandiri, maka ia adalah penjual iklan terbesar keempat di dunia, setelah Alphabet (yang membawahi Google), Facebook, dan Amazon. Revenue tahun 2020 tercatat USD 182,5 miliar dengan jumlah pegawai 135.301 orang dan keuntungan mencapai USD 40,3 miliar. Bagi dunia televisi, Super Bowl adalah acara tahunan paling elit tempat memasang iklan termahal. Berdekade-dekade, ajang ini adalah panggung terbesar bagi merek-merek paling ternama dengan jumlah pemirsa terbanyak di dunia. Setiap Februari, sekitar 96,4 juta pemirsa menonton di depan televisi tanpa kedip. Nah, ajang Super Bowl yang merupakan acara langsung pertandingan football teratas di Amerika Serikat ini ternyata sangat mudah dikalahkan oleh video YT keluarga Vashketov yang terdiri dari anak-anak berusia 8 tahun yaitu Vlad dan Niki yang berusia 5 tahun, sebagai perbandingan. Video ekspresif mereka telah ditonton 170 juta kali dengan pelanggan 68 juta orang (https://www.youtube.com/c/VladandNiki/videos). Pada saat yang kurang lebih bersamaan dengan acara Super Bowl. Bisa dibayangkan betapa besar bayaran iklan Google Adsense (sekarang disebut sebagai Google Ads) per bulan dan bayaran endorsemen serta sponsorship per produk yang mereka terima. Kanal-kanal top di YT sendiri sangat besar penghasilannya, bahkan mencapai USD 50 juta per tahun. Tentu angka masif ini tidak mudah dicapai mengingat kompetisi kreator konten mencapai 2 juta orang di YT. Revenue yang dinikmati YT sendiri pada tahun 2020 mencapai USD 20 miliar. Revenue YT pada tahun tersebut meningkat 31 persen dari tahun 2019. Bandingkan dengan biaya akuisisi YT oleh Google pada tahun 2005 yang hanya seharga USD 1,65 miliar. Tampak betapa angka ini hanya secuil dari besarnya profit berkesinambungan tanpa akhir yang bakal YT dan Alphabet nikmati selama berdekade-dekade ke depan. Dunia pertelevisian sendiri sangat terpukul dengan menurunnya pelanggan TV kabel dari 101 juta pada tahun 2012 ke 76 juta pada tahun 2020. Diprediksikan oleh Convergence Research bahwa akan terus menurun hingga kurang dari separuhnya pada tahun 2025. Iklan di TV sendiri menurun 12,5 persen. Sedangkan iklan video di YT meningkat lebih dari 30 persen. Pada tahun 2023, dipredikisikan iklan video akan jauh melampaui iklan-iklan di TV. Mudahnya mencerna video-video YT selain menghibur dan menginformasi, bisa dipahami mengapa netizen lebih memilih YT dibandingkan dengan Facebook. Menurut Pew Research, 81 persen warga AS adalah pengguna YT dan hanya 69 persen yang menggunakan Facebook (FB). Generasi Milenial dan Generasi Z merajai YT, tidak ketinggalan pula Generasi X dan Baby Boomer, mengingat p...

Strategi Qantas Berjaya di Era Pandemi

Total kerugian industri penerbangan mencapai USD 174 miliar di akhir 2020 berdasarkan data World Travel and Tourism Council. Ini bisa dipahami mengingat begitu banyaknya pembatalan penerbangan di era pandemi ini. Bahkan industri turisme nyaris lumpuh total. Nah, hebatnya ketika maskapai-maskapai penerbangan bertumbangan, stok Qantas malah meroket 120 persen sejak Maret 2020. Market value-nya pun membengkak hingga USD 6,7 miliar. Maskapai yang telah berusia satu abad ini tengah menduduki titik ternyaman dan terkuat saat ini. Market share Qantas kini menempati 74 persen, naik dari 69 persen di bulan Maret 2021. Sebelum pandemi, angkanya hanya 61 persen. Bandingkan dengan American Airlines, misalnya yang hanya menempati 20 persen market share di AS. Apa kiat sukses Qantas si logo kangguru merah? Satu, subsidi Pemerintah Australia. Pemerintah Australia mensubsidi 50 persen bagi 800,000 tiket pesawat domestik. Subsidi ini jelas memberi insentif besar bagi Qantas untuk mempromosikan rute-rutenya. Dan warga Australia juga semakin termotivasi untuk bepergian dengan harga murah meriah. Dua, aturan border closing. Warga negara Australia tidak diizinkan untuk keluar dan WNA tidak diizinkan masuk ke Negara Kangguru ini. Ini menutup perjalanan bagi warga yang terbiasa ke luar negeri, sehingga mereka bersubstitusi dengan mengunjungi tempat-tempat wisata domestik. Tiga, membuka 45 rute baru. Dengan meningkatnya wisatawan domestik sebagai dampak positif dari dua kebijakan di atas, dibukalah 45 rute baru penerbangan domestik Qantas. Salah satunya adalah Sydney-Ballina. Kapasitas pesawatnya pun mencapai 80 persen. Ballina berlokasi di dekat Byron Bay, kota pantai di New South Wales. Kota ini sangat dikenal di kalangan selebritas seperti Chris Hemsworth dan Matt Damon. Rute ini sekarang mengoperasikan 55 kali penerbangan setiap minggu. Bayangkan, ada 44 rute lainnya dengan jumlah penerbangan serupa. Empat, negara benua identik dengan penerbangan. Australia yang merupakan negara benua ini memang sangat mengandalkan transportasi penerbangan sejak dulu. Jadi, kebijakan self-containment alias “tidak boleh keluar (bagi warga Australia) dan tidak boleh masuk (bagi WNA)” semakin memperkuat kebutuhan bentuk transportasi ini untuk memobilisasi 26 juta penduduknya. Lima, kompetitor Virgin Australia yang kolaps. Virgin Australia tidak sekuat Qantas mengingat manajemennya yang berbeda gaya dan tidak sebaik Qantas. Jadilah ketika Virgin Australia nyaris kolaps, mereka mengajukan permohonan untuk menerima bantuan dari Pemerintah Australia. Pertolongan datang dari Bain Capital yang mengakuisisi maskapai terpuruk tersebut. Ketika Virgin Australia di-launching kembali oleh Bain, Qantas bekerja sama dengan menggabungkan frequent flier program mereka. Anggota frequent flier Virg...

Menyelamatkan Bisnis Musik dan Royalti Era Streaming dari dampak Pandemi Covid

Cara menikmati musik terkini bukan lagi dengan memutar CD atau mengunduh file lagu dari iTunes, namun dengan menikmatinya secara streaming via Spotify, Tidal, YouTube Music, Apple Music, Amazon Music, and Pandora. Bagi penikmat musik, ini merupakan kemajuan teknologi yang membawa convenience karena tidak perlu lagi menyimpan sejumlah CD atau memakan banyak memori di dalam hard drive. Streaming music merupakan bentuk distribusi musik dan lagu yang revolusioner. Bagaimana tidak, dengan menjadi anggota saja, Anda dapat mengunduh sepuasnya kapan saja dan di mana saja. Namun ada satu hal yang berbeda: status kepemilikan file musik atau lagu yang dimaksud. Dan ini sangat mempengaruhi sumber penghasilan pemilik copyright lagu atau musisinya. Di masa lalu, begitu Anda membeli CD lagu, Anda memiliki dan dapat menikmatinya sepanjang CD tersebut masih baik fungsinya. Anda hanya mengeluarkan uang satu kali dari dompet Anda. Layanan streaming memungkinkan Anda terus-menerus menikmati jutaan lagu tanpa perlu memilikinya. Bagi musisi yang memainkan atau menyanyikan lagu-lagu tersebut, setiap CD atau file MP4 yang diunduh, maka mereka mendapatkan satu unit royalti. Untuk penjualan CD, misalnya, musisi pemilik copyright mendapat US 1 hingga USD 1,50 per unit. Bisa dibayangkan apabila satu judul CD terjual 1 juta kopi. Musisi dipastikan akan mendapatkan royalti sebesar USD 1 juta hingga USD 1,5 juta minimal. Biasanya, mereka juga mendapatkan bonus sebagai best-selling artist dari produser yang harganya tidak sedikit. Nah, bagaimana dengan royalti musik di era streaming? Dengan 1 juta streaming, musisi mungkin hanya menerima USD 3.500 saja. Tampak ketidakadilan di sini, mengingat streaming music juga sangat berpotensi untuk menjadi viral dan mengglobal dalam sekejap. Sebagai musisi, tentu memiliki perjanjian yang ketat tentang penerimaan royalti dengan pemilik rumah musik (music house) atau produser akan sangat membantu di masa depan. Ini mengingat format pendistribusian musik masih terus berevolusi, alias berubah mengikuti perkembangan zaman. Jadi, jangan sekali-kali membatasi format distribusi lagu dengan bentuk-bentuk tertentu. Pastikan klausul perjanjian mencakup juga bentuk-bentuk di masa depan yang masih belum bisa dibayangkan sekarang. Di era pandemi ini, konser-konser tatap muka yang menjadi sumber penghasilan besar bagi para musisi, sedang mengalami hiatus hingga waktu yang tidak dapat ditentukan. Padahal, para musisi A-list bisa memperoleh jutaan USD dalam setiap tur konser keliling dunia. Nah, bagaimana para musisi dapat bertahan hidup, mengingat mereka pun butuh uang. Hak cipta merupakan salah satu bentuk aset yang dapat diperjualbelikan. Investor-investor yang mengincar royalti dapat mengakuisisi aset tersebut dari musisi pemegang hak cipta dengan nilai masa depan yang dikuantifikasikan....

Keunggulan indikasi geografis menjadi Branding

Apa yang membuat jeruk Sunkist Florida, Beras Basmati, Mexican Tequilla, Madu Sumbawa, Kopi Gayo, Garam Bali, Keju Swiss, Bandeng Asap Sidoarjo, French Champagne, dan Durian Montong sangat diminati dan mempunyai nilai jual yang tinggi? Indikasi geografis (IG) yang juga disebut geographical indication dalam Bahasa Inggris. Secara ekonomis, produk-produk ber-IG sangat menguntungkan ekonomi para agrarian. Misalnya, penjualan minuman wine di Perancis naik 230 persen dibandingkan sebelum menggunakan IG. Penjualan keju naik 150 hingga 230 persen. Penjualan jeruk Florida Sunkist mempekerjakan lebih dari 90.000 orang. IG ini mempunyai fungsi perlindungan hukum dan pemasaran penting yang tidak hanya menguntungkan produsen, namun juga memberi kepastian bagi konsumen. Pada tingkat internasional, IG pertama kali diatur dalam Konvensi Paris 1883. Konvensi ini mengatur kewajiban produsen atau eksportir untuk mencantumkan asal tempat produk. Selain itu, memalsukan IG produk atau menggunakannya secara tidak tepat dapat dituntut secara hukum karena mengelabui konsumen. Indonesia sendiri telah meratifikasi Konvensi Paris 1883 tersebut dengan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek. UU ini mengatur IG dalam Bab VII pasal 56-60. Selanjutnya, dalam UU Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis, IG akan mendapatkan perlindungan setelah didaftarkan kepada Menteri Hukum dan HAM melalui Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Artinya, perlindungan IG tidak terjadi secara otomatis. Namun, begitu didaftarkan, jangka waktu perlindungannya tidak terbatas sepanjang daerah produsen menjaga kualitas sebagaimana awalnya. Nah, siapa yang berhak mendaftarkan IG? Individu? Perusahaan? Tidak. Yang berhak adalah institusi yang mewakili masyarakat produsen di kawasan geografis yang menghasilkan produk yang dimaksud. Pemda atau pemerintah daerah juga berhak mendukung proses pendaftaran ini. Produk-produk yang diterima untuk didaftarkan adalah sumber daya alam, barang kerajinan tangan, atau hasil produksi olahan. Jadi, bisa 100 persen unsur alam maupun unsur alam yang dikombinasikan dengan unsur olahan manusia. Ada kasus hukum menarik yaitu mengenai Kopi Gayo. Kopi Arabika ini dipanen di dataran tinggi Gayo (Aceh) yang merupakan salah satu jenis kopi terbaik di dunia. Pada bulan Juli 1999, perusahaan Belanda bernama Holland Coffee mendaftarkan nama Gayo sebagai merek dagang kopi. Artinya, hanya mereka yang berhak menggunakan nama “Gayo” di Eropa untuk menjual kopi tipe Arabika tersebut. Pada tahun 2008, Holland Coffee menggugat eksportir Indonesia yang menggunakan nama Gayo. Pada tahun 2010, Pemda mendukung para produsen kopi di Gayo untuk mendaftarkan Kopi Gayo sebagai IG. Berbekal IG tersebut, Kopi Gayo kini diakui di Eropa sebagai kopi asal Indonesia dan t...

Strategi MercadoLibre ( ML ) di Amerika Selatan

MercadoLibre, Inc. (ML) dikenal sebagai e-commerce platform dominan di Amerika Latin. Diterjemahkan, frasa Bahasa Portugis “mercado libre” artinya “pasar bebas” alias “free market.” ML adalah perusahaan berbasis di Argentina yang dicatatkan sebagai badan hukum di AS pada tahun 1999 oleh founder dan CEO Marcos Galperin yang pada saat itu sedang berkuliah di Stanford University. Terhitung 2016, ML sendiri telah mempunyai 174,2 juta pengguna di seluruh pelosok Amerika Latin yaitu Argentina, Bolivia, Brazil, Chile, Colombia, Costa Rica, Dominican Republic, Mexico, Spain, Ecuador, Guatemala, Honduras, Peru, Panama, Uruguay, dan Venezuela. Pada bulan Agustus 2007, ML merupakan perusahaan teknologi asal Amerika Latin pertama yang listed di NASDAQ dengan ticker MELI. Setelah momen penting go public ini, ML mengakuisi beberapa perusahaan kompetitor seperti marketplace dan portal e-commerce. Di bulan Maret 2021, MercadoLibre memperoleh investasi masif sebesar USD 1,8 miliar bagi operasinya di Brazil. Yang menarik, revenue ML meningkat 90 persen di tahun 2020 semenjak Covid melanda dunia. Jumlah pengguna situs ML sendiri mengalami peningkatan 40 persen selama 12 bulan terakhir sejak akhir Maret tahun lalu. Selain mengubah bagaimana konsumen Amerika Latin berbelanja, ML juga telah mengubah cara membayar secara cashless via MercadoPago (MP). Volume pembayaran via MP mencapai USD 50 miliar pada tahun 2020 yang merupakan kenaikan 75 persen. Kenaikan ini dipengaruhi oleh penggunaan aplikasi telpon genggam dan kode QR. MP sendiri semakin gencar dalam bidang perbankan retail sebagai institusi kredit. Pada tahun 2018, Goldman Sachs Group memperkirakan 60 persen dari nilai ML berasal dari tangan finansial MP ini. Lantas, apa kehebatan ML ini? Satu, adaptabilitas dan pertumbuhan organik Pasar Amerika Selatan punya keunikan yang tidak dimiliki oleh pasar lain. Mengadaptasikan demand (keinginan/kebutuhan) dengan supply (suplai) berdasarkan kondisi-kondisi lokal merupakan kunci dasar penerimaan ML oleh pasar. Pertumbuhan organik ini didukung oleh proses otomatisasi yang dikenal sebagai supervised learning. Algoritma yang dibangun dengan neural network tersebut menggunakan deep learning dan instrumen seperti Gensim, Keras, dan NLTK. Berbagai hipotesis diuji dengan trial and error hingga mencapai suatu solusi yang diterima secara organik. Kemampuan tim manajemen yang bekerja sama dengan baik dengan tim data analysis, machine learning modeling, dan solusi frontend merupakan kunci jembatan adaptabilitas dengan pertumbuhan. Dua, agilitas dan presisi Beradaptasi membutuhkan agilitas dan presisi yang diimplementasikan menjadi unit-unit bisnis. MarketPlace adalah platform penjualan. Mercado Pago adalah platform pembayaran cashless untuk berbagai online sales. Mercado ...

Transformasi Rebranding Victoria’s Secret era #MeToo

  Victoria’s Secret (VS) identik dengan pakaian dalam (lingerie), pakaian rumah (loungewear), kosmetika, dan wewangian (perfumery) wanita modern kontemporer kosmopolitan. Di mal-mal internasional, butik VS telah lama menghiasi suasana dengan interior design toko yang mewah dan intim. VS identik dengan kecantikan tipikal wanita berkulit putih yaitu langsing, tinggi, berkaki jenjang, berambut lurus panjang, dan berdada berukuran medium. Singset namun langsing dan cenderung kurus. Setiap tahun, puncak kampanye pemesaran VS adalah The Annual Victoria’s Secret Fashion Show yang didukung oleh para supermodel dunia yang didandani ala malaikat bersayap bulu dan permata, seperti Heidi Klum, Kendall Jenner, Adrianna Lima, Gigi Hadid dan nama-nama besar lainnya. Fashion show ini diadakan di kota-kota besar dunia, seperti New York City, Los Angeles, Paris, London, dan Shanghai. Dengan image glamor dan super cantik, sejak 1977 tahun didirikannya, VS telah membuai wanita-wanita modern dunia. Tahun 1982, VS diakuisisi oleh Leslie H. Wexner yang berhasil meroketkannya menjadi merek kelas dunia. Tentu saja maskot mereka adalah para “malaikat” alias “angels” yang tidak lain adalah super model langsing, luwes, dan berambut panjang. Terhitung tahun 1995, fashion show-nya telah menjadi ajang pertarungan para supermodel dan rock star dunia. Bruno Mars, Katy Perry, Rihanna, Selena Gomez, dan Maroon Five termasuk para bintang yang memeriahkan acara. Diundang berkonser dalam fashion show tersebut telah menjadi prestasi tersendiri. Tampaknya, di tahun 1990an dan awal 2000an hingga 2010an, gaya branding VS masih mengena ke konsumen. Namun kampanye promosi terakhir mereka merupakan wujud rebranding yang sangat berani dan menonjolkan faktor kesetaraan dan respek terhadap berbagai bentuk tubuh dan heterogenitas perempuan modern. Beberapa perempuan unik dengan bentuk tubuh dan prestasi masing-masing telah menjadi simbol-simbol baru kecantikan universal versi VS. Mereka adalah Megan Rapinoe (35) seorang pemain sepak bola dengan rambut pink, Eileen Gu (17) seorang pemain ski dan calon Olympian, Paloma Elsesser (29) seorang model birasial dan advokat inklusivitas, dan Priyanka Chopra Jonas (38) seorang aktris asal India dan investor startup. Transformasi ini merupakan salah satu bentuk dukungan terhadap ekualitas perempuan ##MeToo di mana stereotip-stereotip kecantikan dihempaskan. Tidak lagi seorang perempuan barulah “cantik” apabila ia tinggi, langsing dan berambut panjang. Ia bisa saja berambut pendek, tomboi, gemuk, kekar, maupun kurus dan pendek. Kultur VS yang dulu (pra-rebranding) memperpetuasikan patriarki, misogini, seksisme, dan (mungkin juga) rasialisme (fokus ke standar kecantikan wanita kulit putih walaupun mereka juga menggunakan super model kulit berwarna d...

Tiga terminologi ; Growth, Adaptive Growth dan Degrowth

Dari tiga terminologi yang berhubungan dengan pertumbuhan (growth), mungkin hanya “growth” ini yang cukup populer. Ini disebut-sebut dalam setiap meeting dan menjadi basis dari hampir setiap keputusan bisnis. Karena, pada akhirnya, semua tindakan bisnis akan bermuara kepada “angka tingkat pertumbuhan” alias growth rate. Dari konteks UKM hingga konteks negara, dapat kita amati betapa setiap hari profit dan growth mendominasi pola pikir. Sayangnya, kapitalisme adalah zero-sum game. Apa itu “zero sum game”? Representasi matematis di mana suatu keuntungan dimenangkan oleh satu pihak merupakan kekalahan dari pihak lain yang berseberangan. Total keuntungan dikurangi total kekurangan hanya mendapatkan satu angka: nol. Jadi, secara matematis dalam skala hitung-hitungan makro, super mendetil dan komprehensif, pada hakekatnya, secara filosofis dan fundamental, growth yang positif sebenarnya zero growth. Alias pertumbuhan nol. Alam sedang membangunkan kita dari mimpi kapitalisme tanpa batas. Di era pandemi Covid-19 ini, growth positif alias pertumbuhan yang menukik ke atas bisa hampir dipastikan mustahil, kecuali untuk industri-industri tertentu, misalnya industri farmasi dan industri-industri lainnya yang berhubungan erat dengan pembasmian pandemi dan kelangsungan hidup mendasar. Terlepas dari pernyataan di paragraf sebelum ini. Lantas, apakah saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mencari alternatif dari “growth”? Dua pilihan yang ditawarkan oleh para pakar dari berbagai disiplin ilmu adalah adaptive growth dan degrowth. Seperti apa dua pilihan ini? Bagaimana dampaknya bagi para pebisnis dan pelaku ekonomi? Pertama-tama, mari kita analisa versi kapitalisme yang kita kenal saat ini, terlepas dari kategorisasinya (oligaristik, dikuasai pemerintah, dikuasai firma-firma raksasa, dan entrepreneurial yang dikuasai SME). Dan terlepas dari mazhab-mazhab yang telah lama mendominasi para ekonom pendukungnya. Apa saja pro dan kon kapitalisme sebagai sistem yang telah lama membuktikan dirinya? Pro-nya jelas telah kita nikmati selama berabad-abad, yaitu pembangunan peradaban manusia yang menakjubkan. Setiap ciptaan dan produk, baik kasat mata maupun tidak kasat mata merupakan efek positif dari kapitalisme ini. Kon-nya, kapitalisme banyak mengkonsumsi sumber daya, baik alam, manusia, buatan, berkesinambungan, dan lainnya. Dengan kata lain, kapitalisme menyedot sumber daya. Di sinilah zero-sum game menjadi suatu momok besar yang siap menelan setiap pertumbuhan. Syukurnya, sumber tenaga listrik terbarukan seperti tenaga surya, tenaga angin, dan tenaga ombak membawa sedikit angin segar, sehingga dampak negatif kapitalisme dapat sedikit dikurangi. Namun, tanpa mengerem pola hidup konsumtif dan keserakahan sistemik, angka kenihilan dari hasil “zero-sum game” ini se...

Strategi sederhana Supreme

Siapa yang tidak kenal Supreme? Apabila Anda atau anggota keluarga Anda ada yang anggota Generasi Z atau Milenial, pastilah merek Supreme merupakan dambaan. Logo streetwear fashion ini berlatar belakang warna merah darah dengan font italik kontemporer bertuliskan kata “Supreme.” Partnership Supreme dengan merek-merek luar biasa seperti Louis Vuitton, North Face, Champion, dan Nike serta para seleb dan fashion designer papan atas memungkinkan merek ini berkembang secara fantastis dan eksponensial. Hingga hari ini, Supreme hanya mempunyai 12 gerai di seluruh dunia, dengan 6 di Jepang. Salah satu indikator kehebatan Supreme adalah harga resale-nya di eBay yang bisa mencapai lebih dari 1.200 persen dari harga sebenarnya. Dan para Supreme flippers sukses berpenghasilan lebih dari USD 1 juta per tahun. Bagaimana perjalanannya? Founder Supreme bernama James Jebbia yang merupakan warga negara AS ini dilahirkan pada tahun 1963 dan dibesarkan di Inggris Raya oleh ayah anggota militer AS dan ibu seorang guru. Ia juga pernah bekerja sebagai aktor cilik televisi. Di masa remajanya, ia bekerja di pabrik baterai Duracell. Pada usia 19 pindah dari London ke New York dan bekerja di gerai fesyen minimalis dan futuristik bermerek Parachute yang dikenal sebagai favorit para selebriti di masanya, seperti Madonna, Michael Jackson, Mike Jagger, Jodie Foster, Bruce Willis, dan David Bowie. Di saat yang sama, James memulai bisnis ranselnya yang ternyata laris manis walaupun hanya dijual di flea market, alias “pasar kaget” musiman. Jadilah ia merekrut manajernya Eddie Cruz di Parachute sebagai salah satu anggota timnya. Dengan bisnis di NY yang dijalankan timnya, ia memperluas bisnis di kota tempat ia dibesarkan yaitu London. Di daerah pertokoan unik The Duffer of St. George inilah, ia menemukan ceruk untuk fesyen anak muda yang jarang ditemukan di tempat lain. Di tahun 1989, ia membuka toko bernama Union di lokasi ini dan mempopulerkan merek-merek Pantai Barat AS seperti Stussy di London. Satu tahun kemudian, James bertemu dengan pendiri Stussy yaitu Shawn Stussy dan bekerja sama dalam membuka gerai di Prince Street, New York pada tahun 1991. Ekspansi ke NYC ini ternyata meroketkan revenue Stussy hingga mencapai USD 45 juta di tahun pertama. Uniknya, Shawn menjual Stussy pada tahun 1984. Jadilah James Jebbia kini tanpa pekerjaan. Ternyata, kondisi ini melahirkan Supreme, streetwear termahal dan paling ternama saat ini. Unique value propositionnya benar-benar unik, yaitu fesyen jalanan spesifik untuk para pemain skateboard jalanan yang juga digemari mereka yang bukan skateboarders. Logo Supreme yang menggunakan font italik contemporer bold sendiri terinspirasi oleh karya-karya seni Barbara Kruger. Dan produk pertamanya adalah kaos oblong putih polos dengan logo merah Supreme di bagian dada....

Figma aplikasi. Google Doc-nya Desain

Penulis adalah salah satu dari ribuan pemegang sertifikasi software desain aplikasi Figma. Mungkin Anda belum begitu kenal dengannya, namun Figma sebenarnya salah satu aplikasi yang paling digunakan dalam dunia desain aplikasi. Pendirinya adalah Dylan Field. Ia memiliki visi jelas dengan menciptakan kanvas virtual tempat para desainer berkolaborasi secara real-time. Kedengarannya simpel, namun selama ini belum ada aplikasi serupa yang dispesialisasikan pada ilustrasi diagram dan flowchart. Pada awalnya, Field memperkenalkan FigJam, yang mirip dengan tembok putih dipenuhi dengan kertas nota Post-It. Jadilah setelah enam bulan, ia berhasil meluncurkan versi beta Figma. Apa kelebihannya dibandingkan dengan produk-produk desain kelas kakap seperti Adobe? Figma dapat diakses dari mana saja, mengingat ia menggunakan cloud computing. Diluncurkan pada tahun 2016, pada tahun kelimanya ia berhasil menghasilkan revenue sebesar USD 75 juta. Nah, siapa saya pengguna setia Figma? Presiden Joe Biden dan timnya termasuk salah satunya. Kimberly-Clark, Twitter, Slack, Twitter, LinkedIn, Flipboard dan banyak perusahaan raksasa lainnya juga menggunakan Figma bagi tim kreatif mereka. Saat ini, Figma divaluasi sebesar USD 10 miliar. Para co-founder Dave Field dan Evan Wallace memegang 10 persen sahamnya. Dan valuasi diprediksikan akan meningkat teruse mengingat pandemi Covid ini membuat banyak perusahaan konvensional menyadari pentingnya “go virtual.” Akhirnya Figma memperoleh funding tambahan sebesar USD 200 juta. Dengan pengguna 80 persen berada di luar AS, berbagai strategi segar termasuk mengakuisisi dua startup. Ini memungkinkan mereka membangun aplikasi Figma untuk pengguna mobile. Field sendiri dikenal sebagai founder konservatif yang berhasil menggunakan strateginya dengan jenial. Satu, berani mencari mentor dan mendengarkan advis-advisnya. Field percaya dengan kekuatan mentoring dan mentor. Ia tidak segan-segan belajar dari mereka mempunyai pengalaman mendirikan dan menjalankan startup hingga berhasil. Menjalankan advis secara cerdas telah menjadi suatu kebiasaan berharga. Dua, tidak berpikir terlalu jauh ke depan. Maksudnya, setiap hari, minggu, bulan, kwartal, dan tahun merupakan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dan menjadi lebih baik daripada seelumnya. Begitu banyak ide yang dilontarkan kepadanya dari para user, namun tidak semuanya dibutuhkan untuk menciptakan produk yang ideal. Tiga, selalu mencari keseimbangan (balance). Dari kantor pusat Figma di San Francisco, ia selalu mencari keseimbangan dengan dunia offline dan hibrida. Figma perlu untuk dikuasai secara online dan offline, sehingga kekuatan ekonominya berkeseimbangan tanpa perlu mengandalkan salah satu saja. Empat, kukuh dalam pricing. Tidak banyak startup langsung menawarkan produk SaaS berbayar, padahal masih berstatus startup. Figma menawarkan penggunaan nirbayar dan berbayar, tergantung kebutuhan. Namun mereka kukuh dengan...

Manusia Bersaing dengan AI secara Humanis

Di era serba kecerdasan artifisial alias AI (artificial intelligence) ini, manusia semakin merasakan ketersingkiran. Apalagi semasa pandemi ini, semakin sedikit penggunaan SDM, maka akan semakin “baik” karena mengurangi kemungkinan penularan Covid-19. AI sendiri telah bermetamorfosis dari kegunaan berbasis pengalaman hingga kepada otomatisasi berdasarkan data. Jadi, algoritma AI telah menjadi bagian peradaban manusia tanpa dapat kita pungkiri pagi. Rekomendasi-rekomendasi AI bisa jadi semakin dihargai dan langsung diaplikasi tanpa banyak dipertimbangkan lagi secara manusiawi. Dengan kata lain, “manusia versus mesin” yang dulu hanya dikenal di film-film fiksi sains, kini telah menjadi realita terkini. Dalam dunia bisnis, para eksekutifp perusahaan, dan para pakar Ilmu Manajemen, bagaimana sikapnya terhadap AI yang ultra kompetitif ini? Ketika keputusan-keputusan penting tidak lagi diambil oleh manusia, tentu kita perlu mempunyai persiapan mental. Logikanya, mampukah AI alias “mesin” menggantikan manusia secara total? Bisa jadi. Namun kita perlu tetap memiliki kepercayaan diri alias meyakini bahwa AI adalah ciptaan manusia, sehingga manusialah yang seharusnya menguasainya. Apa saja kuncinya? Adaptasi dan fleksibilitas dalam menganalisa, mengeksekusi, dan mendesain berbagai aplikasi dan algoritma versi-versi selanjutnya. Untuk ini, idealnya, setiap eksekutif pengambil keputusan mempunyai skill memadai dalam data analitiks dan data analisis. Berikut ini beberapa hal yang perlu dikuasai oleh pengambil keputusan dengan AI. Satu, menguasai analitiks secara komprehensif. Untuk ini, kerja sama dengan para pakar data, seperti statistician dan aktuaris bisa sangat berharga bagi keputusan akhir. Dua, menguasai strategi berdasarkan best practices dan use cases terdahulu. Ini memungkinkan tidak lagi perlu mengulangi kesalahan-kesalahan masa lalu. Tiga, kuantifikasi analitiks yang diaplikasikan dengan bottom line unit bisnis. Jadi, suatu metriks dapat dinilai secara kuantitatif. Empat, kualifikasi secara nilai-nilai kemanusiaan. Memang bisnis sangatlah mengandalkan perhitungan kuantifikasi dalam menghitung profit. Namun bagaimana impak yang diterima bagi setiap manusia, baik konsumen maupun stakeholder lainnya, merupakan kunci kualitas yang tidak dapat dikuantifikasikan. Lima, pastikan implikasi-implikasi sosial mempunyai nilai tambah di masa depan. Bisa saja ini dikuantifikasikan maupun tidak. Nilai tambah juga bisa saja berbentuk berbagai pintu dan kemungkinan yang terbuka, tidak hanya yang pasti membawa keuntungan secara finansial. Enam, pastikan insentif-insentif berbentuk kuantitatif finansial dan kualitatif secara moral maupun motivasi dan inspirasi. Uang memang penting, namun kesempatan dan positivitas jauh lebih penting. Dan ini hanya dap...

Mengendarai Ombak Ekonomi Ekosistem

Tampaknya, dalam ekonomi ekosistem, hanya dua peran yang dapat kita pilih: pencipta dan peserta. Kita sebagai salah satu yang berperan serta aktif maupun tidak langsung dalam dunia bisnis dan ekonomi global dan lokal, perlu mangambil sikap dan memanfaatkan kesempatan ini. Pencipta ekosistem jelas merupakan korporasi-korporasi super powerful yang menggetarkan dunia dengan ekosistem ciptaan mereka yang luar biasa impaknya. Contohnya adalah Tesla, Amazon, Apple, Kurig, Nespresso, Google, dan sebagainya. Peserta adalah pemain-pemain kecil, sedang, dan besar yang memanfaatkan ekosistem-ekosistem tersebut. Dengan kata lain, mereka “ride the wave” alias “mengendarai ombak besar ala para surfer.” Anda memilih untuk menjadi yang mana? Most likely, Anda dan saya masuk ke dalam kategori kedua. Kita mempunyai kesempatan emas untuk “mengendarai ombak” ekonomi ekosistem ini. Sejak zaman dahulu kala, “pengendara ombak” ini sering kali malah lebih diuntungkan daripada “pencipta ombak.” Sebagai contoh, di era Gold Rush alias Demam Emas di San Francisco pada tahun 1848 hingga 1855, siapa yang paling diuntungkan? Para pencari emas? Bukan. Yang paling diuntungkan adalah para penjual pacul, ember, dan peralatan penambangan emas. Selain itu, para penjaja makanan, minuman, dan penyedia transportasi dan akomodasi juga sangat diuntungkan. Belum lagi para penyedia kebutuhan hidup sehari-hari seperti sepatu, pakaian dan jasa pemotongan rambut. Jadi, jelaslah kita dapat mengais keuntungan lumayan dengan menjual jasa dan produk-produk pelengkap. Penjual asesoris HP dan laptop, misalnya, sangatlah diuntungkan dengan perkembangan gadget terkini. Sedangkan para pencipta ekosistem sendiri biasanya sudah “terlalu sibuk” dengan teknologi dan algoritma-algoritma yang berhubungan langsung dengannya. Bagaimana Anda dapat mengambil keuntungan dari ekonomi ekosistem? Satu, kolaborasi bermakna dengan pencipta ekosistem. Facebook dan berbagai aplikasi dan media sosial ekoistem lainnya, misalnya, membuka diri bagi para developer. Open source dan saling berkolaborasi merupakan mode kerja masa kini yang dapat dipastikan akan terus berjalan di masa depan. Dua, sebagai “peserta” ekosistem, berbagai produk yang secara langsung memberi nilai tambah bagi produk-produk induk merupakan pilihan terbaik. Ini idealnya. Namun jika kemampuan dan ketrampilan Anda terbatas, bisa saja Anda hanya menawarkan asesoris-asesoris ringan dan lucu, termasuk personalisasi produk secara unik. Tiga, Anda dapat memilih untuk menjadi spesialis yang memotong beberapa ekosistem. Misalnya, apabila firma Anda bergerak dalam bidang pembuatan aplikasi game mobile, bisa saja untuk beberapa ekosistem alias format. Ada yang bisa dijalankan di sosmed, ada...

Peluang dalam Smart Connected Products

Saat ini kita telah hidup di era fiksi sains. Ini bukan pernyataan bombastis. Ini berdasarkan fakta. Hampir semua yang dibayangkan di masa lalu, seperti mobil berjalan otomatis tanpa pengemudi, mobil yang mampu parkir sendiri dan dikemudikan secara remote, mobil terbang, berwisata ke luar angkasa, menjangkau planet lain, mengendarai kereta api kapsul yang melintasi ribuan mil hanya dalam hitungan menit atau jam, dan meremajakan kembali sel-sel manusia untuk kembali muda satu dekade hanya dalam satu tahun saja, kini telah menjadi kenyataan. Tentu saja, belum semuanya dipasarkan untuk umum. Beberapa yang disebutkan di atas masih berstatus prototip atau dalam riset tahap akhir. Yang dinikmati oleh kita semua sekarang, seperti kamera drone, drone robot pengantar paket, berbagai robot pembersih rumah tangga, termometer otomatis pengatur suhu ruangan panas/dingin/ventilasi, kunci pintu otomatis, dan alat-alat elektronik yang saling terkoneksi (smart connected products atau SCP) sudah bisa kita beli. Jelas sudah tidak asing lagi bagi kita para urban. Selain itu, wearable technologies, seperti berbagai smartwatch, fitness watch, personal air purifier, dan berbagai aplikasi yang sangat membuat hidup efisien telah menjadi kebutuhan sekunder yang sulit ditinggalkan. Smart refrigerator alias kulkas pintar dan alat sedot debu robot dengan AI dan UV ray juga sudah sangat umum digunakan para ibu rumah tangga. Dapat dipahami mengapa connected products, seperti the Internet of Things (IoT), wearable smart products, dan household electronics memungkinkan Big Data berkembang super pesat. Bahkan peradaban manusia telah bergelimangan data sedemikian rupa sehingga sulit untuk diuraikan. Signifikansi data-data tersebut tentu membutuhkan kecerdasan para data scientists dan data analysts yang mumpuni. Selain itu, berkompetisi di era smart connected products membutuhkan pemikiran ulang akan berbagai desain, termasuk desain sistem. Mengapa? Karena interkoneksi tersebut menciptakan nilai-nilai baru yang berhubungan erat dengan “banjir data.” Para inovator yang sadar akan ini dan memanfaatkannya dengan optimal bisa dipastikan menjadi pemenang. Mari kita pahami sekelumit hubungan antara SCP dengan data agar dapat membaca kesempatan produk atau servis inovasi baru. Pertama, ada tiga pemain dalam kolam SCP yaitu konsumen, bisnis (pencipta produk), dan partner. Dalam framework ini, konsumen adalah pengguna produk yang juga merupakan sumber data. Bisnis adalah pihak yang menciptakan produk dengan fokus desain produk, desain data mining, dan desain UX yang harmoni. Partner adalah penyedia elemen maupun jasa termasuk kecerdasan buatan dan software. Dua, kolam data yang berisi data kasar (raw data) tergantung pada software kontrol dan optimasi. Di sini letak pentingnya partner yang menguasai sistem,...

Produk anti aging di era fiksi sains

Para influencer sosmed dan beauty vlogger meroketkan bisnis kosmetik termasuk skincare dan anti-aging. Mereka berlomba-lomba tampil prima dengan dagu tirus, mata bulat, rambut mengkilau sempurna, dan selalu tampak muda bak vampire. Cukup banyak influencer sosmed yang berusia lebih dari 50 tahun yang masih tampak semuda dan sebugar mereka yang berusia 30an seperti Sophia Latjuba (51 tahun), Francine Martel (52 tahun), dan Cynthia Gouw (58 tahun). Sosmed berdampak sangat positif terhadap industri anti-aging dan sebaliknya. Dengan private label, kini siapa saja yang siap membangun merek dapat dengan simpel memiliki produk-produk lini yang siap dipasarkan. Industri anti-aging ini sendiri terbagi atas dua kelompok: kosmetik dan suplemen makanan. Pada tahun 2021, industri anti-aging dalam kelompok pertama mencapai USD 62,65 miliar. Dalam lima tahun, diprediksikan mencapai USD 88,3 miliar. Digabungkan, kedua kelompok ini bisa mencapai USD 421,4 miliar pada tahun 2030. Menurut para pakar biologi, ada tiga tingkat anti-aging. Level satu: tampak muda seperti kulit yang tetap kencang dan glowing. Level dua: tampak lebih muda dari usia kronologinya dan sehat secara umum namun proses penuaan tetap terjadi di dalam tubuh dan organ. Level tiga: tampak jauh lebih muda dari usia kronologinya, sehat secara umum, dan proses penuaan di dalam tubuh dan organ berhenti dan bahkan berbalik menjadi proses pemudaan. Profesor biologi pakar anti-aging Dr. David Sinclair yang merupakan salah satu dari 100 Most Influential People versi majalah Time pada tahun 2014 kini mempunyai reputasi luar biasa sebagai seseorang yang berhasil menemukan cara agar dalam satu tahun, usia biologis atau Epi Age seseorang bisa turun 10 tahun. Dan ini merupakan salah satu milestone penting dalam ilmu pengetahuan anti-aging level tiga. Dr. Sinclair menemukan bahwa molekul bernama SIRT1, SIRT3 dan SIRT4 dalam tubuh kita dapat dimanipulasi agar telomere tidak semakin pendek setiap kali ada pembentukan sel-sel baru. Ia juga menemukan bahwa sesungguhnya proses penuaan merupakan “penyakit” dan dapat dihentikan dengan perubahan gaya hidup dan mengkonsumsi beberapa suplemen yang mendorong reaksi kimia molekular NAD+. Definisi medis “anti aging” sendiri telah bergeser jauh sehingga mencakup pula berbagai proses transplantasi dan regenerasi sel-sel tubuh. Misalnya, kini telah ada teknologi yang membiakkan sel-sel organ pasien untuk ditransplantasikan ke dalam tubuhnya kembali. Di Indonesia, berbagai jasa dan produk anti-aging level satu telah menjamur dan sangat umum, seperti UV block, serum wajah, dermal filler, Botox, anti-selulit, laser treatment, microdermabrasion, micro needling, dan pelangsing wajah. Bisa dipahami mengapa klinik-klinik kecantikan yang dipimpin para dokter spesia...

Jadilah talenta teratas 3 % di dalam populasi Gig Economy

Pandemi Covid-19 mempercepat maturitas gig economy yang berarti pemakaian para top freelancer semakin umum. Bukan hanya para household cleaner dan handyman saja yang dapat dengan mudah dipekerjakan untuk beberapa jam, hari, minggu, atau bulan saja. Konsultan-konsultan bisnis top, termasuk para saintis data dan CEO dan CFO interim juga bisa dipekerjakan secara “ala carte” tanpa perlu di-hire secara penuh waktu lengkap dengan berbagai fasilitas. Bagi perusahaan, ini berarti fleksibiltas dalam expenses. Bagaimana lanskap gig economy terkini yang erat hubungannya dengan marketplace? Satu, platform marketplace bagi para freelance talents leveling the playing field. Kesetaraan antara para talenta penuh, paruh, dan fleksibel waktu kini menjadi kenyataan. Dengan manajemen waktu yang mumpuni, tidak mustahil seorang talenta dapat menikmati penghasilan yang melebihi seorang full-time employee sepanjang memungkinkan. Dua, ide-ide inovatif dapat di-crowdsource dengan simpel. Platform berbasis komunitas online InnoCentive dan Kaggle memungkinkan perusahaan-perusahaan untuk memposting masalah yang membutuhkan solusi. Salah satu yang paling lgendaris adalah yang diposting oleh U.S. Transportation Security Administration di Kaggle yang merupakan kompetisi untuk memperbaiki algritma yang dapat memprediksi ancaman di pelabuhan udara. Tiga, para freelance talents dapat memilih gaya kerja yang paling sesuai. Bisa saja mereka dibutuhkan di rumah, misalnya untuk merawat orang tua yang sedang sakit atau menemani anak berkebutuhan khusus. Atau, mereka dapat bekerja dari co-working space atau bahkan tempat belajar mereka. Fleksibilitas gig economy memungkinkan ini, yang memacu kompetisi sehat antar para talenta. Bagi yang memiliki kebutuhan tertentu, seperti mempunyai masalah kesehatan pun dapat bekerja dari lokasi yang dibutuhkan. Tentu saja tidak semua project dapat dikerjakan secara fleksibel dan adaptif secara remote, seperti yang membutuhkan penanganan di lapangan dan manajemen tim yang ketat. Namun berbagai aplikasi kini sangat memungkin gaya kerja variatif. Empat, kebutuhan akan freelance talents yang memahami gaya kerja hybrid semakin tinggi. Gaya kerja di era pandemi dan pascanya nanti dapat dipastikan berubah drastis, dari yang in-person menjadi remote seluruhnya maupun sebagian. Jadilah gaya kerja hybrid sebagai suatu tren yang akan bertahan lama. Di negara-negara maju seperti AS dan Eropa Barat, misalnya, gaya kerja hybrid telah memasuki arus tengah. Diprediksikan, Indonesia akan mengikuti gaya ini, mengingat orientasi hasil lebih menjanjikan daripada orientasi kehadiran belaka. Lima, para talents dapat mulai memasuki dunia kerja berdasarkan kualitas skill.Ini berarti playing field semakin setara karena dalam gig economy, skill merupakan currency paling berharga. Bukan usia, bukan senioritas, bukan konek...

Sukses Story Gudang Suplemen Kesehatan I-Herb

Para health conscious people yang menggemari suplemen kesehatan berkualitas dari luar negeri kini telah kenal dekat dengan iHerb. Didirikan tahun 1996 di Pasadena, California, situs e-commerce spesialis ini awalnya hanya menjual suplemen St. John’s Wort. Kini, 36.000 jenis produk mereka tawarkan dan distribusikan ke 180 negara di dunia, termasuk Indonesia. Dengan omzet pada tahun 2020 mencapai USD 1,3 miliar, iHerb Holdings Inc. sedang dalam proses review oleh U.S. Securities and Exchange Committee untuk rencana go public. Mereka mempekerjakan 1.600 pegawai yang memproses sekitar 50.000 order per hari. Kategori produk semakin banyak, termasuk personal care, baby and kids, beauty, dan sports nutrition. Sebenarnya apa sih kelebihan iHerb dibandingkan dengan situs-situs e-commerce lainnya? Selain kelengkapan jenis dan merek produk, mereka juga menjamin tibanya pesanan dalam hitungan hari dengan ongkir minimal atau bahkan gratis. Di era pandemi ini, servis cepat dan ongkir minimal sangat membantu konsumen. Banyaknya suplemen-suplemen palsu yang beredar di marketplace-marketplace domestik, juga menyebabkan keberadaan iHerb semakin diminati. Jadi, dengan kemudahan berbelanja, pilihan super banyak, dan kenyamanan keseluruhan, posisi iHerb sebagai situs e-commerce asal AS ini sangat kompetitif di Indonesia dan seratus lebih negara lainnya. Apa kunci suksesnya? Dengan warehouse distribusi di Korea Selatan dan Jepang, serta kerja sama yang baik dengan kurir lokal seperti JNE Express dan biaya bea cukai yang telah dibayarkan di muka, konsumen Indonesia dapat menikmati hassle-free penerimaan paket di rumah dalam hitungan hari. Bahkan dengan pembelian hanya USD 40, iHerb memberikan free ongkir dengan JNE Express. iHerb punya mekanisme fulfillment, handling, dan distribusi super efisien di back office. Sedangkan strategi consumer facing-nya juga jelas-jelas tidak dapat diragukan lagi. CMO Steve Cho yang pernah berkarya di Yahoo!, Samsung, dan Coupang, menggunakan strategi pemasaran yang khusus untuk setiap pasar (negara) yang ditargetkan. Misalnya, untuk Indonesia, situsnya adalah https://id.iherb.com/ yang di-redirect begitu visitor Indonesia mengetik iherb.com di browser. Selain itu, ru.iherb.com mentargetkan Rusia, ae.iherb.com untuk UAE, fr.iherb.com untuk Perancis, dan sa.iherb.com untuk Saudi Arabia. Bisa dibayangkan betapa besar effort yang digunakan untuk memastikan setiap situs berjalan dengan baik untuk target marketnya. Namun ini juga meraup keuntungan melimpah mengingat setiap konsumen merasa nyaman dengan lokalisasi tersebut, misalnya diskon-diskon spesifik untuk konsumen dari negara target. Free shipping ini sangat penting bagi para konsumen online karena 53 persennya memilih untuk meninggalkan keranjang belanja apabila ongkirnya terlalu tinggi. Dari segi UX, iHerb langsung memperlihatkan biaya shipping sejak ...