Bertahan di Era Pandemi

Pandemi Covid-19 melanda seluruh dunia. Ini berarti sangat banyak bisnis yang kena imbasnya. Dan ini bukan perkara gampang. Ketika semua orang berdiam di rumah agar tidak terkena penularan, maka bisa dipastikan bisnis yang berbasis fisik akan sangat sepi.

Bisnis online dan berbasis aplikasi masih dapat diandalkan, sepanjang kurir dan ojol masih dapat berkeliaran. Bagi bisnis-bisnis yang belum masuk ke ranah online dan aplikasi, kini sudah merupakan keharusan.

Biasakan untuk segala sesuatunya dijalankan secara virtual. Kebiasaan-kebiasaan perlu diubah secepatnya. Namun jelas ini punya keterbatasan akan jenis pekerjaan dan tugas-tugas yang dapat dijalankan dengan komputer dan telpon.

Bagi bisnis-bisnis yang berbasis aktivitas dan tidak bisa diwakilkan secara virtual, apa daya?

Kita bisa belajar dari General Motors (GM) yang telah mengubah pabrik manufaktur mereka dari produsen otomobil menjadi produsen ventilator dan respirator (alat-alat pernafasan). Jelas ini sangat memungkinkan, mengingat mesin-mesinnya dapat dialihfungsikan.

Sinar Mas Group, misalnya, kini sedang memfokuskan diri pada produksi maskter, sehingga Indonesia tidak lagi tergantung pada impor. Di Jawa Tengah, Gubernur Ganjar Pranowo menggalakkan produksi APD (alat pelindung diri) untuk digunakan oleh para dokter dan paramedis.

Bagaimana dengan bisnis Anda? Pertimbangkan beberapa hal.

Satu, pastikan lakukan pemangkasan pengeluaran dalam bentuk cash.

Bisa dimengerti apabila penghematan ini juga membawa akibat terhadap penurunan produktivitas. PHK sedapat mungkin diminimalisir dengan menurunkan jam kerja, apabila dimungkinkan. Yang jelas, berbagai bentuk penghematan perlu dilakukan sementara.

Dua, gunakan instrumen-instrumen online sedapat mungkin.

Situs online dan aplikasi online merupakan penolong penting di era genting ini. Sudah tidak ada lagi alasan untuk tetap bekerja secara analog dan dengan kertas. Kenali berbagai fungsi aplikasi yang selama ini diabaikan, karena bisa jadi mempunyai faktor penolong yang cukup besar.

Tiga, cari kesempatan jangka pendek sebanyak-banyaknya.

Berbagai jasa yang berhubungan dengan kesehatan, kebersihan, dan kesinambungan hidup, sekolah dan pekerjaan, pasti mempunyai tempat di era pasca-Korona. Pandemi ini telah menyentuh demikian banyak orang, sehingga kita semua semakin menyadari hal-hal terpenting dalam hidup.

Empat, buka pintu untuk berbagai kesempatan jangka panjang sebanyak mungkin.

Di Indonesia, pelayanan kesehatan memang belum sebaik di Singapura atau, bahkan, Malaysia sekalipun. Dan ini sesungguhnya merupakan kesempatan emas bagi siapapun yang perduli akan peningkatan pelayanan kesehatan umum.

Sudah saatnya Indonesia mempunyai instrumen-instrumen terkini yang mampu mendeteksi berbagai penyakit secepat kilat. Juga berbagai instrumen penolong nyawa sangat dibutuhkan untuk memperpanjang life expectancy penduduk.

Berbagai hal yang tidak menjadi prioritas yang selama ini dipandang remeh, seperti keberadaan APD telah membuka mata kita semua bahwa instrumen-instrumen perlindungan merupakan kunci keberhasilan pertolongan. Ini merupakan kesempatan bagi para social entrepreneur untuk berperan.

Selanjutnya, apakah kita perlu merasa kawatir yang berlebihan mengenai kemungkinan resesi ekonomi yang disebabkan oleh pandemi Covid-19 ini? Jawabannya: Tidak.

Mengapa? Karena resesi ini terjadi bukan karena ketidakadaannya demand ataupun supply. Namun ini merupakan imbas sementara atas gelombang pandemi yang datang dan pergi secara masif dan secepat kilat.

Resesi yang ditakutkan adalah adanya gejolak dan daya beli yang disebabkan oleh menurunnya kondisi finansial mayoritas seperti pada krisis 1998 dan 2008. Dalam kasus pandemi kali ini, begitu masalah selesai, bisa dipastikan setiap individu akan kembali giat bekerja dan menghasilkan penghasilan memadai untuk mengkonsumsi berbagai produk kembali.

Namun bisa dipastikan telah terjadi “paradigm shift” dalam benak setiap individu yang mengalami era ini. Kita semakin mengerti makna kesehatan, kebersihan, dan prioritas-prioritas utama. Kita diingatkan bahwa kita semua berada di dalam planet yang sama dan setiap aktivitas kita memberi dampak bagi orang lain.

Dengan paradigma baru ini, marilah kita semakin mencintai sesama dan Planet Bumi satu-satunya rumah kita. Setiap aktivitas dan keputusan bisnis hendaknya memperhatikan kesejahteraan Bumi dan seisinya.

Ekonomi tidak lagi berbentuk linear ke atas, namun merupakan suatu lingkaran yang saling mempengaruhi. Tetaplah sehat selalu. Stay safe.[