Bisakah ClubHouse bertahan ?

Sepanjang pandemi tahun 2020, salah satu aplikasi yang paling berhasil adalah Zoom. Bahkan, Zoom telah menjadi kata generik untuk”pertemuan maya” alias online meeting. “Yuk, kita Zoom aja.”

Selain itu, aplikasi iOS iPhone bernama ClubHouse yang diluncurkan pada bulan Maret 2020, diawali dengan pengguna hanya berjumlah ratusan. Dua bulan sesudah launching, valuasinya telah mencapai USD 100 juta.

Pada bulan April 2021 ini, ClubHouse telah divaluasi senilai USD 4 miliar. Kok bisa ya? Masih satu tahun usia aplikasi ini, tapi sudah menjadi Unicorn besar, sehingga pemain-pemain besar seperti Facebook, Twitter, Reddit, Spotify, dan Slack malam mengkloningnya dengan gaya masing-masing.

Pada awal launchingnya, ClubHouse hanya dapat digunakan oleh mereka yang diundang secara invite-only. Jadilah invide codes ClubHouse diperjualbelikan di eBay seharga USD ratusan.

Pada awal pandemi, ClubHouse memang sangat menjanjikan. Namun satu tahun setelah launching, install aplikasi ini turun dari 9,6 juta di bulan Februari 2021 menjadi hanya satu juta saja pada bulan April ini. Rankingnya pun telah turun dari salah satu top downloaded apps ke ranking 23 yang populer.

Ada apa gerangan?

Satu, fitur-fitur ClubHouse memang dibutuhkan di era pandemi, namun tampaknya dapat disubstitusi dengan kehadiran fisik tatap muka ketika aktivitas telah dizinkan. Pada akhir April 2021 ini, 140 juta orang telah berhasil divaksinasi Covid-19. Dan aktivitas pertemuan dan pariwisata seperti restoran-restoran telah kembali dibuka.

Jadi, bisa diprediksi ClubHouse tidak lagi dibutuhkan, mengingat kumpul-kumpul bersama teman-teman dan handai taulan secara tatap muka merupakan salah satu cara melepas kejenuhan dan stres. Duduk di depan layar monitor di dalam “room” ClubHouse untuk mendengarkan obrolan-obrolan malas terasa menambah kejenuhan.

Dua, ClubHouse hanya menyediakan “room” yang selama ini tidak diperbolehkan untuk acara konferensi atau konser musik. Room sendiri hanyalah ruangan untuk berbincang-bincang alias ngobrol dalam berbagai topik dengan sistem gantian. File audionya live dan tidak dapat direkam, sehingga kehadiran sangat dibutuhkan.

Dua acara ini sesungguhnya dapat dikomersialkan secara masif. Jadi, mengapa ClubHouse belum menggarapnya, masih merupakan tanda tanya. Padahal, satu room bisa menampung 5000 pengguna.

Tiga, dalam satu hari, ada 300.000 “room” baru yang dibentuk di dalam platform ClubHouse. Rata-rata, pemakai menghabiskan 60 menit per hari mendengarkan berbagai jenis obrolan bisnis maupun sekedar kesukaan.

Namun sayangnya, dalam dua bulan terakhir, jumlah ini menurun drastis. Bahkan 6 juta orang yang katanya dalam daftar tunggu sebagai pengguna ClubHouse, masih dipertanyakan.

Ini bisa jadi menjadi pemicu ClubHouse untuk segera meluncurkan versi yang kompatibel dengan Android. Yang sayangnya masih belum juga rampung dan diluncurkan. Jumlah pegawai ClubHouse juga masih 75 orang, belum bertambah lagi.

Empat, lead investor Andreessen Horowitz tetap optimis dengan memimpin investasi baru sebesar USD 4 miliar dalam round berikut. Mereka punya track record baik dalam memajukan Box, Slack, dan Instagram.

Arguman Horowitz bertentangan dengan anggapan model bisnis ClubHouse hanya cocok untuk masa pandemi. Lihatlah Twitter yang pernah dicap juga hanyalah “fad” alias “musiman” yang ternyata berkembang pesat dan malah mampu berperan penting secara politik, termasuk mengangkat maupun menjatuhkan suatu demokrasi. Bahkan para politisi Thailand dikenal menggunakan ClubHouse untuk berbagai hal.

Bagi yang masih menggemari ClubHouse, ada perubahan perilaku konsumen yang nyata. Misalnya, dulu pengguna bisa menghabiskan 6 jam untuk mendengarkan berbagai celothan di dalam “room.” Kini setelah aktivitas lockdown pandemi telah dibuka bertahap, paling pengguna hanya menghabiskan satu dua jam saja.

Facebook sendiri telah siap-siap meluncurkan aplikasi audio mirip ClubHouse yang bernama Live Audio Rooms setelah enam tahun masa inkubasi desain dan pengembangan. Ruangan-ruangan celoteh mereka menggunakan AI (aritificial intelligence) sehingga pengguna dapa dengan mudah mencari topik-topik yang diminati dan berbagai file audio, termasuk Soundbites.

Era sosmed berbasis audio telah tiba. Mungkin telah tiba saatnya bukan hanya jempol yang bekerja keras, namun juga pita suara. Kita tunggu apakah ClubHouse masih berjaya pasca pandemi. Kemungkinan besar iya, mengingat pasar berbagai produk audio masih sangat diminati dalm berbagai produk.