Booming Pembangunan Villa dengan kelesuan Turisme di Bali

Pembangunan vila di Bali sedang booming di era pandemi ini. Kok bisa? Bukankah industri turisme sedang menukik tajam ke bawah? Bisa saja.

Industri properti dan industri pariwisata adalah dua hal yang berbeda dengan impak berjangka pendek dan panjang yang juga berbeda.

Secara garis besar, 60 persen dari GDP Bali bersumber dari turisme. Jadilah masa pandemi ini menurunkan GDP hingga -11 persen.

Data terakhir menunjukkan sektor akomodasi hanya terisi 3 persen dari 130.000 kamar hotel dan 15 persen dari 4.000 vila. PHK pekerja mencapai lebih dari 80.000 orang.

Yang menarik, bisnis arsitektur properti di Bali meningkat 20 hingga 30 persen dibandingkan dengan tahun lalu. Wah, kok bisa?

Ternyata, perubahan gaya kerja work from home (WFH) selama masa pandemi ini mengubah cara pandang “where to work.” Ini meningkatkan demand untuk tempat tinggal yang luks dan nyaman sebagai tempat kerja.

Menurut Booking.com, Agoda, dan beberapa platform tur dan travel, Bali termasuk salah satu lokasi yang paling diminati pasca pandemi nanti. Bisa dibayangkan mereka yang mempunyai skill memadai untuk memilih tempat kerja pasti akan memilih lokasi yang nyaman bagaikan tempat liburan. Ini menjawab mengapa booking vila dan working space semakin meningkat.

Pra pandemi, Bali populer di antara para “digital nomad” alias para pekerja independen yang mengandalkan sarana Internet dan co-working space. Di era pandemi ini, ternyata korporasi mulai melirik kemungkinan bermarkas di Pulau Dewata ini.

Alasannya? Ketersediaan para digital nomad yang telah membentuk komunitas tenaga IT dan pemasaran digital. Startup dapat menikmati rendahnya biaya hidup, ketersediaan tenaga kerja kreatif, dan gaya hidup leisure yang bebas stres.

Biaya hidup di Bali terhitung rendah yaitu ranking 370 dari 589 kota di dunia. Biaya hidup per individu hanya USD 600 per bulan atau USD 2000 per keluarga dengan 4 orang anggota.

Pembangunan vila sendiri sangat marak di Canggu dengan kenaikan harga tanah mencapai 50 kali lipat harga 10 tahun yang lalu. Dan harga tanah di tengah pandemi menurun hingga 15 persen.

So it’s a buyer’s market. Kapan lagi dapat properti harga diskon? Biaya materi bangunan dan para pekerja bangunan juga dapat dipastikan sedang rendah-rendahnya.

Tidaklah mengherankan jika para ekspat kini mempertimbangkan membangun properti sebagai tempat tinggal utama. Pulau Bali mempunyai potensi jangka panjang yang luar biasa. Dengan 16 juta turis di tahun 2019 lalu, diprediksikan angka ini dapat meningkat lagi segera setelah Covid berlalu.

Sebagai pebisnis, apa yang dapat Anda lakukan di Bali pada masa pandemi ini? Tentu saja apabila kapital memungkinkan, cobalah mengakuisisi atau membangun properti. Gunakan kesempatan rendahnya biaya-biaya sebelum naik kembali.

Selain itu, jadilah kontrarian dengan berani. Bisa saja Anda mengakuisisi bisnis-bisnis yang kini tengah kekurangan cash flow dengan harapan bisa cepat menaikkan omzet setelah Covid dapat diatasi.

Bali diprediksikan segera menjadi startup hub yang diperhitungkan di dunia. Dan kini adalah waktu yang tepat untuk masuk ke dalam pasar tanpa dibebani oleh kapital yang tinggi.

Dengan berbagai peraturan yang meringankan pendirian startup lokal dan asing, bisa dipastikan Bali akan semakin berjaya di antara para digital nomad dunia.

Siapa tahu Bali bisa menjadi “Silicon Island”? Mari masuk, sebelum masuk ke Bali semakin mahal.