BTS dan IPO Bintang K-Pop

BTS kembali menggemparkan dunia dengan nominasi American Music Award alias piala Grammy 2021 untuk kategori Best Pop Duo or Group Performance untuk lagu single Dynamite. Di penghujung 2020, mereka juga telah meluncurkan album berjudul BE.

Selain prestasi seni, BTS juga memiliki impak luar biasa terhadap perekonomian makro dan dunia finansial Korsel, bahkan global. Para bintang K-Pop telah bermetamorfosis menjadi model bisnis berbasis intellectual property (HAKI) dengan daya serap super masif ke seantero jagad.

Produk-produk pop culture Korea adalah 3rd largest export dan 2nd fastest growing industry dari Korsel. It’s safe to say that Hollywood saja tidak sedemikian sistematis dalam membangun kepopuleran merek bintang pop culture.

K-Pop merupakan benchmark yang sangat patut diperhitungkan dalam kancah bisnis internasional. Dan IPO sudah merupakan path yang cukup umum bagi para bintang K-Pop.

Ketujuh anggota BTS yaitu RM, Jim, Suga, J-Hope, Jimin, V dan Jung Kook tersebut merupakan anggota grup asal Korea dan bintang K-Pop pertama yang mendapatkan nominasi di ajang internasional tersebut. Single “Life Goes On” yang diluncurkan November 2020 lalu, merupakan katalis sehingga mereka berhasil memenangkan nominasi Piala Grammy.

Single tersebut merupakan lagu yang bukan berbahasa Inggris namun berhasil menaklukkan hati para penggemar di berbagai negara dunia. Buktinya, lagu tersebut merupakan lagu non-Inggris pertama yang segera melesat cepat di Billboard Hot 100. Dalam 3 bulan, 3 lagu BTS berhasil menaklukkan anak tangga Billboard tersebut. Dan ini hanya bisa tersaingi oleh Bee Gees dan The Beatles 40an tahun yang lamapau.

Ternyata, bukan hanya ketenaran dengan top chart di 120 negara yang membawa keuntungan finansial bagi record label dan grup. Namun ekonomi makro Korea Selatan sendiri sangat terbantu. Export pakaian jadi, kosmetik dan food/beverage naik secara cukup signifikan, baik yang didutabesari oleh BTS maupun tidak.

Kenaikan ekspor pakaian dari Korsel telah naik 0,18 persen, kosmetika 0,72 persen, dan food and beverage 0,45 persen untuk setiap 1 index point peningkatan awareness tentang BTS. Demikian hebatnya, menurut Hyundai Research Institute.

Terhitung 2017, satu dari setiap 13 turis yang berkunjung ke Korea Selatan adalah atas pengaruh BTS. Dan jumlah ini mencapai 800.000an pengunjung per tahun.

Jadilah BTS ambassador kampanye turisme. Misalnya, Namsam Tower dan Banpo Bridge menjadi sangat populer sebagai efek dari keberhasilan kampanye tersebut. Dan setiap turism spot di Korsel tiba-tiba jadi “seksi” dan ngehit banget.

Diprediksikan BTS akan membawa USD 48 miliar lagi bagi ekonomi Korea Selatan pada tahun 2023. Per tahun, BTS telah memasukkan USD 3,6 miliar plus USD 1 miliar consumer export Korea. Sedangkan PDB (pendapatan domestik bruto) Korea Selatan hanya mencapai USD 1,6 trilyun pada 2020.

Para anggota BTS sendiri merupakan pemegang saham Big Hit Entertainment yang telah IPO bulan Oktober 2020 lalu. Di Korea Exchange, IPO berhasil menggalang USD 840 juta, yang merupakan IPO terbesar dalam tiga tahun terakhir dengan IPO price USD 118 dan opening share USD 236.

Valuasi Big Hit sendiri mencapai USD 7,5 miliar atau 8,7 trilyun won. CEO Big Hit yaitu Bang Si-hyuk yang mengantongi 35 persen saham, kini diestimasikan memiliki net worth USD 3,2 miliar. Sedangkan masing-masing anggota BTS mengantongi 68.000 saham. Bisa dipahami mengingat BTS telah membawa setidaknya USD 500 billion revenue di tahun 2019.

Di era pandemi ini, ketika perusahaan-perusahaan entertainment mengalami kelesuan, BTS dan Big Hit malah meningkat tajam penerimaannya. Bahkan 75 persen dari total revenue berasal bukan dari penjualan musik, namun dari endorsements, merchandising, licensing dan auxiliary products.

Fenomena K-Pop dan K-Wave sangat menarik untuk dijadikan studi-studi kasus mengingat mereka sangat sophisticated dalam menggunakan sosmed untuk pemasaran efektif dan efisien. BTS Army yang terdiri dari 100 juta orang sendiri merupakan sekelompok fan fanatik yang sangat berperan dalam memviralkan dan memobilisasi apa pun yang dilakukan dan disebarkan oleh grup.

Jadi, kesimpulannya, setiap bentuk intellectual property dapat dijadikan produk utama dengan berbagai produk-produk auxiliary sebagai hybrid fullstack cash cow bagi entertainment companies. Modalnya adalah training keras para calon bintang dan disiplin ketat ala militer, penggunaan data analitiks untuk mengulangi setiap titik sukses, dan evangelisasi masif dalam jumlah duplikasi ratusan juta titik agar viralitas membawa profit yang infinite