Faktor Relevansi menjadi tanda tanya besar

Faktor Relevansi menjadi tanda tanya besar

Di era pandemi dan teknologi dalam Revolusi Industri 4.0 ini, derap perubahan sangat cepat. Ini membuat banyak hal, termasuk model bisnis dan produk menjadi tidak lagi relevan.

Setiap bisnis dan individu perlu beradaptasi secepat mungkin agar segala sesuatunya dapat berjalan tanpa jeda yang tidak produktif. Mengapa?

Karena hal-hal baru sangat cepat datang dan datang kembali dalam versi-versi teranyar sebagaimana barang-barang elektronik dan model bisnis e-commerce dan m-commerce. Selain itu, model bisnis yang melibatkan kerumunan akan semakin ditinggalkan.

Fenomena ini telah menyudutkan industri pariwisata dan pameran-pameran perdagangan (trade shows). Namun sangat membangkitkan kebutuhan akan ruang-ruang virtual dan online yang digunakan untuk berbagai kepentingan, tidak hanya Zoom untuk meeting.

Strategi bisnis sendiri bergeser dari mindset spesialis ke multi fokus alias generalis. Beberapa contoh perubahan seperti menyimpan stock (daripada just in time tanpa stok), diversifikasi (daripada core competency), menyekat penyampaian servis, layar sentuh (touch screen) akan diganti dengan touchless point atau via aplikasi, aktivitas jarak jauh dengan wifi, pembayaran cashless, penggunaan aplikasi-aplikasi pendukung kerja remote, dan kantor privat (bukan open plan).

Tentu saja ini membuat faktor relevansi menjadi tanda tanya besar. Misalnya, mengunjungi dokter untuk konsultasi kini dianjurkan via telemedicine alias via aplikasi atau komputer. Berbagai peralatan satu kali pakai, pembersihan alat terus-menerus, dan peralatan proteksi menjadi kebutuhan yang tidak dapat dihindari.

Relevansi keberadaan seseorang di dalam satu tempat dan satu ruangan kini bukanlah sesuatu yang sangat diperlukan. Lokasi geografis menjadi tidak relevans dalam penyampaian informasi, edukasi, pelayanan, dan berbagai aktivitas lainnya, sepanjang dapat dilakukan secara virtual. Bahkan hal-hal yang pasca pandemi biasanya dilakukan secara tatap muka.

Lantas bagaimana tentang mengakuisisi customer baru? Prospecting di tengah pandemi? Bagaimana yang relevan?

Satu, cari tahu apa yang relevan bagi mereka. Pasti ada beberapa benang merah yang umum dan yang khusus. Catat dan pikirkan apa yang bisa dilakukan dalam kondisi terkini. Riset lapangan dan wawancara dengan mencari pain points dan harapan solusinya dapat sangat menentukan arah marketing dan keseluruhan bisnis.

Dua, secara psikologis, pandemi semakin menyadarkan kita akan pentingnya menghargai jiwa dan keselamatan orang-orang terdekat kita dengan kesehatan kita yang prima. Jadi, produk atau jasa apapun yang ditawarkan perlu dipastikan kualitas dan perannya bagi kesehatan, termasuk distribusi dan packaging tidak menyebarkan virus atau bakteri.

Tiga, bangun kerja sama dengan bisnis-bisnis lain dengan audiens target sinergistis. Tentu sebaiknya bukan kompetitor langsung, namun yang produk-produknya komplemen dengan produk-produk yang kita tawarkan.

Kerja sama dengan konsumen dengan success story juga merupakan pilihan marketing yang inovatif selain menggunakan jasa para influencer. Penyajian success story dapat dengan testimoni langsung maupun narasi tertentu.

Empat, cara-cara lama offline, seperti telemarketing dan direct sale semakin relevan ketika walk-in tidak lagi memungkinkan. Kontak dengan konsumen tidak hanya dapat dilakukan via Whatsapp dan aplikasi-aplikasi online lainnya karena telpon, SMS, email, dan direct mail semakin relevan di era (pasca) pandemi.

Lima, tawarkan cara-cara baru yang relevan untuk meningkatkan omzet pengguna. Jadi, jika selama ini konsumen produk hanya sebagai pengguna pasif, ajukan ide sebagai reseller atau distributor.

Konsumen existing dengan case study yang sukses merupakan daya tarik organik tersendiri yang sangat menarik. Dengan status mereka sebagai partner bisnis, maka word-of-mouth dan evangelisasi organik dapat menjadi sumber income di era pandemi yang semakin sulit.

Akhir kata, ingatlah bahwa setiap masa sulit merupakan titik penaburan benih a long post-recession prosperity. Tetaplah optimis dan mencari relevansi dengan model bisnis dan strategi-strategi inovatif dan kreatif. Pasti jalan akan terbuka