Fungsi UX bagi setiap bisnis

UX (user experience) bukan hanya ranahnya dunia desain produk dan desain web atau aplikasi. UX adalah kualitas yang dapat dirasakan dari penggunaan sesuatu. Yang dimaksud dengan “sesuatu” itu adalah apa saja, termasuk dan tidak terbatas pada produk barang, jasa, maupun pengalaman.

Pada dasarnya, setiap bisnis profit maupun non-profit memerlukan UX yang berkualitas tinggi. Bahkan untuk bisnis UKM sekalipun, seperti menjual nasi uduk di pinggir jalan maupun lapak online di dalam platform e-commerce marketplace.

Intinya, kenyamanan berinteraksi bagi konsumen merupakan kata kuncinya.

UX bukan hanya suatu kemewahan bagi bisnis-bisnis berkapital tinggi. Bisa saja, sesuatu yang sepele namun UX-nya luar biasa berkualitas mampu meroket setinggi langit sehingga bervaluasi jutaan USD. Mengapa tidak?

Mari kita bahas apa sih sebenarnya UX itu. Apa bedanya dengan UI. Dan bagaimana UX diaplikasikan dalam setiap langkah bisnis yang berhubungan langsung dengan konsumen dan pegawai yang menjalankannya. Dan apa itu UX writing yang menjadi kolaborator dan konektor.

Satu, people remember how you make them feel.

Kita mengingat apa perasaan yang ditimbulkan seseorang atau sesuatu. Bagaimana suatu bisnis atau produk meninggalkan suatu “rasa” alias “feeling” itulah yang akan diingat.

Ada rasa nyaman, sehingga terjadi repeat order. Ada rasa tidak suka, sehingga meninggalkan atau bahkan bad mouthing. UX dan UI sangat erat dengan what people feel alias apa yang konsumen rasakan, sehingga UX dan UI yang sesempurna mungkin merupakan salah satu kunci sukses.

Dua, UX dan UI mirip tapi tidak sama.

UX sering disalahartikan dengan UI (user interface), padahal mereka adalah dua hal berbeda. Serupa namun tidak sama.

UX adalah singkatan dari user experience alias pengalaman pengguna. Dengan kata lain, desain produk sangat menentukan bagaimana pengalaman konsumen. Yang dimaksudkan dengan “desain” tidak hanya yang berwujud dua atau tiga dimensi, namun juga apa yang dirasakan secara tidak kasat mata.

UI merupakan bagian dari pengalaman pengguna aplikasi, situs web, atau perangkat keras dan lunak alias apa saja yang berhubungan dengan dunia digital, elektronik, dan hasil cipta karya. UI sangat erat hubungannya dengan desain layout, seperti tombol, teks, gambar, dan berbagai bentuk interaksi lainnya. Bahkan berbagai interaksi mikro seperti animasi, transisi, dan elemen-elemen lainnya.

Tiga, UX dalam produk tangible, online, dan jasa.

Sebagai pengguna aplikasi di era modern, Anda pasti sering berinteraksi dengan elemen-elemen UI yang membawa Anda kepada pengalaman UX yang unik. Tidak diragukan lagi, user experience merupakan elemen penting yang menentukan kualitas penggunaan.

Bayangkan ketika Anda menggunakan sebuah aplikasi e-wallet namun tidak berhasil menemukan di mana scan QR code-nya. Ini hanya salah satu contoh buruknya UI yang mempengaruhi UX.

Empat, interaksi desain dan UX strategy.

Gabungan desain UX (UX design) dan penulisan UX (UX writing) dikenal sebagai desain interaksi (interaction design). Desain interaksi sendiri sangat menentukan bagaimana konsumen dan produk (termasuk aplikasi) dapat saling bersentuhan alias “berinteraksi.”

Payung dari desain interaksi adalah strategi UX yang perlu menjawab dari A sampai Z apa yang dibutuhkan oleh konsumen dan bagaimana solusi disampaikan dalam bentuk interaksi. Jadi, gol dan obyektif harus diterjemahkan dalam bentuk langkah-langkah yang akhirnya membentuk UI.

Lima, UX writing sebagai kolaborator dan konektor.

Nah, setelah strategi UX jelas, perlu ada instruksi-instruksi yang mengkoneksi antar titik-titik fungsi. Inilah fungsi UX writing alias penulisan UX sebagai kolaborator dan konektor. Setiap tombol (button), tip tools, dan tulisan-tulisan mikro (microcopy) bisa mempermudah atau mempersulit konsumen secara langsung.

Di era “setiap bisnis pasti ada aplikasinya” ini, UX dan UI sudah merupakan kebutuhan primer yang tidak bisa diabaikan. Apapun bisnis dan produk Anda, perhatikan UX-nya sehingga konsumen menjadi nyaman dan repeat order menjadi organik. Salam UX.