Kebutuhan Nikel untuk Tesla di Indonesia

Diprediksikan pada tahun 2025, kendaraan bertenaga baterai Li-on akan mencapai 10 persen. Dan nikel merupakan primadona yang sangat menentukan derap perubahan dari bahan bakar minyak ke sumber daya listrik yang terbarukan.

Pada dasarnya Nikel mempunyai kemampuan menyimpan energi yang besar dan baterainya dapat di-charge kembali. Ini membuatnya sangat cocok digunakan sebagai bahan baku baterai, termasuk baterai untuk mobil listrik seperti buatan Tesla.

Tesla, Inc. yang bernama Tesla Motors didirikan oleh dua pionir mobil listrik yaitu Martin Eberhard dan Marc Tarpenning. Elon Musk masuk setahun sesudah pendirian yaitu 2004 dengan menanamkan modal di Series A. Namun dunia lebih mengenal Musk sebagai pendiri Tesla. Saat ini, Musk adalah pemegang saham terbesar.

Konsep mobil listrik sendiri telah lama diperkenalkan oleh Nikola Tesla sang pencipta maha jenius pada tahun 1931. (Referensi: https://www.lifehacker.com.au/2019/06/the-mystery-of-nikola-teslas-battery-free-electric-car/) Naasnya, Tesla gagal mendapatkan pinjaman uang dari JP Morgan untuk mewujudkan berbagai temuan-temuannya yang menggunakan tenaga terbarukan.

Alasannya? Simpel, Morgan memilih untuk membiayai bisnis-bisnis yang ada repeat order alias pakai meteran. Bayangkan, seperti apa sejarah alternatif seandainya mobil listrik ciptaan Nikola Tesla telah diproduksi dan dipasarkan jauh sebelum Perang Dunia Kedua.

Pada tahun 2008, Tesla Inc. merilis otomobil listrik pertamanya yaitu Roadster. Satu kali pengisian listrik dapat menghasilkan listrik cukup untuk perjalanan sejauh 394 km. Akselerasi Roadster dapat mencapai 96 km per jam rata-rata atau 200 km per jam.

Jelas Tesla Inc. telah mendirikan bisnis yang tidak hanya disruptif produknya namun juga ekosistemnya. Dengan kebutuhannya yang luar biasa besar akan daya listrik dan baterai, Tesla Motors sangat membutuhkan pasokan nikel sebagai salah satu bahan dasar baterai lithium (Li-ion).

Larangan ekspor nikel dari Indonesia terhitung 1 Januari 2020 ini merupakan salah satu pemicu Tesla Inc. memilih mendirikan pabrik baterai di Batang, Jawa Tengah. Indonesia sendiri merupakan pemasok 27 persen nikel dunia alias nomor 6 dari 10 besar produsen nikel global.

Nickel Cobalt Aluminium (NCA) memakai 80 persen nikel dan dan Nickel Manganese Cobalt (NMC) menggunakan 33 persen nikel. Selain itu baterai Li-ion juga sangat mengandalkan nikel.

Bisa dipahami mengapa harga nikel meningkat pesat dan nilai ekonomis nikel Indonesia menjadi 4-5 kali lipatnya. Kesediaan komoditas nikel nasional mencapai 698 juta ton cadangan.

Bisa dibayangkan bagaimana strategi pelarangan ekspor nikel ini berakibat positif terhadap industri manufaktur nasional. Kawasan Industri Batang yang diwacanakan sebagai lokasi manufaktur baterai Tesla memang disiapkan sebagai relokasi pabrik dari luar negeri. Insentif yang diberikan adalah sewa lahan gratis selama 10 tahun.

Tampaknya para investor besar asing semakin sadar akan keberadaan Indonesia dan potensi-potensinya yang luar biasa. Selain fenomena ini akan menambah lapangan kerja, transfer teknologi merupakan kewajiban PMA yang dapat dipastikan akan membawa efek positif dalam jangka panjang.

Sebagai seorang pebisnis atau pencari peluang, berbagai kesempatan semakin terbuka. Termasuk yang memberikan jasa-jasa pendukung kelancaran beroperasi.

Berbagai jasa outsourcing, misalnya, sudah dapat dipastikan sangat dibutuhkan. Berbagai servis yang menunjang keberhasilan proses pemasaran dan penjualan juga pasti dibutuhkan.

Akhir kata, kebutuhan nikel dan berbagai sumber daya alam lainnya yang mendukung tenaga terbarukan merupakan tren yang tidak akan pernah lenyap di era baru. Planet Bumi sedang berevolusi menuju Peradaban Kelas 1 yaitu planet mandiri dengan sumber daya terbarukan dan recyclable.

Demikian harapan Fisikawan String Theory Michio Kaku. Harapan kita semua juga.