Kita harus bisa lebih Impakful Pasca Pandemi

Era pandemi dan setelahnya merupakan masa baru peradaban manusia. Berbagai teknologi yang dianggap terlalu maju untuk zamannya akan segera menjadi bagian dari arus tengah.

Tahukah Anda bahwa mobil listrik ala mobil Tesla(tm) telah diciptakan oleh almarhum Nikola Tesla pada tahun 1886? Masih banyak lagi penemuan-penemuan insan jenius ini yang dicatat dengan rapi di situs MIT (http://web.mit.edu/most/Public/Tesla1/etradict2.htm).

Seandainya saja JP Morgan saat itu memberikan kredit bagi Tesla untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga frekuensi tinggi, bisa saja kita telah lama menikmati peradaban manusia tanpa minyak bumi. Lobi-lobi kapitalis pro-bensin inilah yang menyebabkan energi minyak bumi masih digunakan hingga kini. Berbagai sengketa dan perang telah banyak disebabkan oleh perebutan sumber minyak.

Nah, pandemi Covid-19 ini merupakan lonceng pembangun kita dari tidur pulas. Jangan menunggu 140 tahun lagi untuk mengoptimasikan penggunaan teknologi-teknologi yang telah ada demi kemaslahatan semua insan.

Peradaban berbasis minyak bumi sudah lama mestinya kita tinggalkan karena kekuatan cahaya, udara, dan frekuensi suara sendiri merupakan sumber daya terbarukan yang tidak akan pernah habis. Nikola Tesla pernah berkata bahwa segala sesuatu mempunyai vibrasi dan frekuensi. Berpikirlah dengan dasar tersebut.

Tentu saja yang mampu menerapkan teknologi ala Tesla hanyalah mereka yang memiliki akses teknologi dan SDM yang dibutuhkan kepakarannya, namun semangat berinovasi dengan memperhatikan unsur-unsur alam dan kebutuhan manusia sangat bisa kita terapkan bersama. Sebagai contoh, beberapa startup di bawah memberi solusi bagi bumi dan penghuninya pasca pandemi. Tidaklah kita perlu terikat oleh belenggu-belenggu mindset berbasis “minyak bumi” lagi.

Kekuatan Internet dan bioteknologi merupakan paradigma “ala Tesla” yang tidak terbelenggu oleh kabel, minyak bumi, dan tanah tempat bertumbuh. Berpikirlah dalam lingkup tersebut karena jauh lebih relevan dibandingkan satu abad lampau.

Perubahan perilaku konsumen yang kini lebih banyak berdiam di rumah untuk bekerja, belajar, bermain, dan berbelanja merupakan sumber ide bisnis yang tiada habis-habisnya. Dan ini jelas akan semakin meningkatkan teknologi non-bensin yang menyelamatkan ekologi bumi di masa depan.

Era pasca pandemi adalah era bisnis-bisnis impakful yang menyelamatkan peradaban manusia dari keborosan energi minyak dan keterpulasan akan berbagai bentuk keborosan.

Byju berbasis di India, misalnya, adalah aplikasi pembelajaran online yang memberi solusi bagi sekolah-sekolah dari tingkat SD hingga SMA dengan platform LMS (learning management system). Di bulan Maret dan April 2020, ketika pandemi Covid-19 masih masa awal lockdown nan panik, Byju menawarkan registrasi gratis yang ternyata melejitkan jumlah pengguna hingga 50 juta orang.

Ide online learning memang telah lama hadir, namun pergeseran paradigma belum pernah sederas sekarang di mana dalam waktu sangat singkat, pembelajaran daring menjadi arus tengah. Sedangkan pembelajaran luring alias tatap muka akan menjadi suatu kemewahan belaka.

Bayangkan impaknya bagi pemerataan informasi dan pengetahuan ke seluruh pelosok dunia. Luar biasa, bukan? Kuliah di sekolah-sekolah papan atas tidak lagi perlu memeras biaya hidup super tinggi di luar negeri. Cukup dengan berinteraksi secara online berkualitas dengan pengajar dan sesama siswa secara daring.

Sustenir Agriculture dengan CEO Benjamin Swan merupakan startup Singapura swadaya pangan organik dengan penanaman tanpa tanah dan vertikal. Saat ini,
Singapura 10 persen swadaya pangan, dengan 90 persen sisa kebutuhan diimpor dari negara-negara tetangga.

Angka ini diharapkan tumbuh menjadi 30 persen pada tahun 2030. Bahkan mereka berharap dapat mengekspor sayur-mayur organik segar mereka ke negara-negara tetangga suatu hari ini.

Shopback adalah cashback platform yaitu semacam shopping assistant yang membantu konsumen menghemat biaya dan waktu. Dengan berbelanja via aplikasi mereka, pengguna mendapatkan cashback yang dapat ditransfer ke akun bank mereka. Saat ini pengguna mencapai 20 juta orang dengan proses cashback mencapai USD 115 juta di Singapura, Filipina, Australia, Taiwan, Korea, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia.

Pada masa pandemi, Shopback menawarkan gaya belanja lebih ekonomis bagi konsumen. Uniknya, pandemi malah menyebabkan semakin banyak retailer yang bergabung.

Data di Asia menunjukkan 94 persen UKM melakukan proses digitalisasi agar dapat bertahan. Shopback kini telah digunakan oleh lebih dari 4,000 merek dan e-commerce retailer UKM maupun raksasa, termasuk Taobao, Amazon, dan Expedia. Total omzet merchant mencapai USD 1 miliar via kemitraan dengan Shopback.

Selamat memikirkan strategi untuk lebih impakful berinovasi di era pasca pandemi.