Mengintip Bisnis Pasca Pandemi dengan 5 P

Henry Mintzberg memperkenalkan strategi 5P yaitu plan, ploy, pattern, position, dan perspective. Diadaptasikan dalam era pandemi oleh Carsten Lund Pedersen dan Thomas Ritter yang dua-duanya mengajar di Copenhagen School of Business di Denmark, 5 P termasuk position, plan, perspective, projects, dan preparedness.

Mari kita kupas satu per satu.

Position.
Kenali posisi unik organisasi dan bisnis Anda sebelum, sepanjang, dan pasca era pandemi. Yang terpenting adalah posisi terkini yaitu selama masa pandemi.

Peran apa yang bisnis Anda tawarkan di dalam ekosistem ceruk bisnis? Bagaimana posisi para kompetitor? Kenali juga arah tujuan di masa depan, selain bagaimana bisa bertahan di era pandemi, terutama ketika para konsumen berdiam di rumah dengan self-quarantine dan semi lockdown.

Plan.
Bagaimana rencana kembalinya bisnis seperti era sebelum pandemi? Posisi apa yang hendak dicapai? Orientasi sangat penting dengan memperhitungkan dan mempertimbangkan sumber daya yang ada dan kembali ke posisi pertumbuhan positif.

Perspective.
Bagaimana kultur dan “normal baru” mempengaruhi aktivitas-aktivitas bsinis? Krisis tentu mempertemukan kepentingan dan menggalang persatuan antar manusia, namun pandemi juga memperkenalkan “jaga jarak aman” yang dulu belum pernah dilakukan.

Perusahaan Anda sendiri apakah siap dengan kondisi “normal baru”? Bagaimana SOP berbagai aktivitas di dalam perspektif ini? Apakah kultur organisasi saat ini memungkinan adaptabilitas dalam kondisi urgen pandemi? Bagaimana dengan sikap mental para pekerja dan tim manajemen? Bagaimana kerja sama yang terjalin? Dapatkah ditingkatkan lagi?

Projects.
Add-on projects alias proyek-proyek tambahan yang disebabkan oleh pandemi corona sering kali menjadi fokus baru. Fokus ini bisa menjadi pilihan jangka pendek maupun jangka panjang.

Yang jelas, proyek-proyek yang mengutamakan kesehatan, kebersihan dan social distancing, termasuk digitalisasi dan web-based dapat dipastikan akan selalu dibutuhkan. Apalagi di era pandemi dan serba ketidakpastian. Pertemuan-pertemuan fisik yang dapat diwakilkan dengan video call, WA chat dan email jelas akan menjadi pilihan utama. Persiapkan teknologi, termasuk kecepatan broadband Internet sehingga tidak terjadi overload.

Preparedness.
Seperti apa tingkat kesiapan alias “preparedness” setiap individu, unit, dan tim yang terlibat dalam proyek-proyek selama dan pasca pandemi? Apakah mereka mempunyai kemampuan menduplikasi kembali apa yang telah mereka jalankan di masa lampau?

Selain itu, mampukah tim-tim Anda memodifikasi setiap proyek berdasarkan kebutuhan di masa mendatang? Ada unsur immediacy dan urgensi. Selain itu, di era tidak menentu, pasti dibutuhkan daya adaptasi fleksibel yang dapat diandalkan. Bagaimana dengan team leader? Apakah mempunyai kapasitas bergerak dalam kondisi krisis dan urgen?

Resesi bisa saja terjadi untuk jangka panjang, tergantung dari kondisi pandemi di suatu wilayah. Kepekaan akan kesempatan dalam mencari peluang alias entrepreneurship sangat menentukan kemampuan bertahan.

Idealisme awal berdirinya bisnis tetap dapat dipertahankan, namun kemanusiaan sudah seyogyanya berada di atas kepentingan mencari profit semata. Sebagai contoh, biaya tambahan seperti penyediaan disinfektan, hand sanitizer, maskter, dan APD sebaiknya tidak dimasukkan dalam pengeluaran yang dioffset oleh profit. Karena akan meningkatkan harga jual dan bisa saja membuat konsumen turn off untuk membeli.

Virus Covid-19 telah menyebabkan setiap pebisnis berpikir tentang Manajemen Krisis, Manajemen Pasca Krisis, dan Kemanusiaan. Yang terakhir ini merupakan kesempatan untuk berbuat baik bukan semata-mata demi publisitas dan CSR, namun karena memang ini merupakan bagian dari hidup sebagai manusia.

Bisnis pasca pandemi mempunyai satu elemen penting: kesigapan beradaptasi sebagai manusia, tidak semata-mata sebagai bisnis. Apa yang kira-kira akan bisnis Anda lakukan pasca pandemi nanti? Apa yang berbeda dengan masa-masa pra-pandemi?

Mari siapkan tim Anda untuk menyongsong hari baru pasca krisis Covid-19