Pengalaman bukan segalanya

Hampir setiap iklan lowongan kerja menuliskan “berpengalaman x tahun” sebagai salah satu syaratnya, selain latar belakang pendidikan dan persyaratan lainnya. Padahal, pengalaman bukanlah segalanya.

Bisa saja, pengalaman kerja maupun pengalaman hidup yang dialami seseorang tidak memberi nilai plus. Kok bisa?

Satu, setiap individu punya kemampuan memproses informasi dan pengalaman secara berbeda. Ini menyebabkan persepsi setiap orang juga berbeda. Sehingga pelajaran yang ditangkap juga tidak pernah ada yang identik.

Ditambahkan dengan nilai-nilai hidup, pengalaman masa kecil, dan segala bentukan dari lingkungan, satu kejadian yang sama akan mempunyai makna berbeda di orang yang berbeda. Singkat kata, makna dari suatu pengalaman merupakan akumulasi dari interaksi berbagai faktor baik secara langsung maupun tidak langsung.

Dua, suatu pengalaman adalah sesuatu yang sangat personal. Konstruksi timbunan pengalaman tersebut merupakan referensi penting bagi kehidupan.

Tentu ini semua akan besar artinya apabila all other things remain constant (ceteris paribus). Sayangnya, derap dunia semakin hari semakin cepat, sehingga sering kali pengalaman kemarin bukanlah guru yang tepat untuk mengajari kita bagaimana menghadapi masa depan.

Tiga, subyektivitas kita tidak jarang mempengaruhi cara mengeneralisasi informasi dan menginterpretasi sesuatu. Ini dimungkinkan hanya berdasarkan pengalaman masa lampau yang sesungguhnya sangat terbatas.

Jadilah “makna baru” ini bukannya akurat, bisa jadi malah “ngawur.” Dengan paradigma dan logika yang salah, suatu “makna” bisa saja sangat terdeviasi dari yang sebenarnya.

Empat, memori alias ingatan manusia ternyata tidak setajam yang kita duga. Bahkan informasi yang tampaknya sangat mendetil dan diungkapkan dengan cara yang sangat meyakinkan baik secara verbal maupun tertulis, bisa saja memori yang mendasarinya tidak lagi sahih.

Psikolog Kognitif lulusan UCLA dan Stanford University Elizabeth Loftus yang dikenal dengan risetnya dalam memori manusia menambahkan bahwa berbagai ketidaksahihan memori disebabkan oleh keterbatasan pandangan mata dan indera lainnya. Otak manusia dikenal “menciptakan” garis penghubung antara titik-titik yang tidak begitu jelas diterima oleh sistem syaraf sehingga “gambaran mental” yang direkam di dalam otak cukup baik.

Lima, gambaran mental maupun persepsi akan suatu insiden yang terekam di dalam otak cukup mudah “tercemari” oleh berbagai persepsi baru akan hal-hal lainnya. Ini berarti detil-detil memori tersebut juga dapat berubah tanpa disadari sama sekali.

Perubahan akan berbagai paradigma dan perspektif akan hal-hal lain juga dapat mempengaruhi memori. Misalnya, kondisi eksternal dan pendapat orang lain yang berpengaruh dapat mengubah memori yang sangat dipengaruhi oleh kondisi bawah sadar.

Enam, sebagaimana fisik kita mempunyai tingkatan kesehatan, demikian pula kondisi psikis yang mempengaruhi memori. Pada saat fisik kita sangat fit, memori cenderung lebih baik dan lebih obyektif, atau bahkan dipersepsikan lebih positif.

Dalam kondisi fisik yang tidak fit, misalnya kelelahan atau sedang mengalami sakit, persepsi kita akan sesuatu bisa saja menjadi lebih buruk atau negatif. Jadi, kondisi fisik, psikis, dan emosi sangat erat satu sama lain dalam mempengaruhi memori yang kita rekam di dalam otak.

Lantas, apakah kita dapat mengabaikan “pengalaman”? Tentu tidak. Kita hanya perlu menyadari dan mengakui bahwa suatu insiden dan aktivitas dapat menciptakan memori yang berbeda. Jadi, memori bukanlah bersifat hitam atau putih, namun merupakan spektrum pelangi.

Dalam hidup, karir, dan bisnis, pengalaman perlu dianalisa secara obyektif. Makna-makna yang dihasilkan oleh memori juga perlu dipilah-pilah mengingat berbagai hal yang dapat mendistorsikannya.

Tahun 2020 jelas merupakan tahun yang unik, mengingat begitu banyak pengalaman baru berkat pandemi Covid-19. Semoga ke depannya, kita dapat menggunakan apa yang berguna dari pengalaman-pengalaman tersebut.

Happy New Year 2021. Salam Sehat n Sukses selalu.