Resiko SubKontrak Ulang Boohoo.com

Boohoo.com digandrungi para Milenial dan Generasi Z di Inggris Raya. Situs-situs lainnya termasuk boohooMAN.com, PrettyLittleThing.com dan NastyGal.com. Dengan merek fashion sendiri, produk mereka mencapai 36.000 macam.

Uniknya, Boohoo.com merupakan online retailer murni dan mereka mensubkontrak produksi. Nah, pada suatu hari di musim panas 2020 lalu, Sunday Times melakukan investigasi jurnalistik yang mengungkap fakta bahwa fast-fashion Boohoo dibayar di bawah upah minimum dengan keamanan yang minim.

Argumen Boohoo adalah mereka tidak tahu-menahu tentang pabrik yang sesungguhnya memproduksi fashion mereka. Dengan kata lain, pabrik yang melanggar kemanusiaan tersebut bukanlah subkontraktor resmi. Jadi, mereka merupakan subkontraktor dari subkontraktor Boohoo.

Praktek subkontraktor melakukan subkontrak ulang berkali-kali merupakan salah satu rahasia bisnis yang sangat umum. Sayangnya, dengan pabrik yang “melakukan pelanggaran” alias tidak memenuhi syarat pertimbangan hak-hak dasar buruh dan HAM, retailer bernama besar macam Boohoo bisa sangat terancam.

Nilai bisnis Boohoo sendiri turun drastis USD 1,5 miliar Euro setelah diterbitkannya laporan dari The Times tersebut. Pengalaman pahit Boohoo tersebut semestinya dijadikan pelajaran bagi setiap retailer yang melakukan subkontrak produksi kepada pabrik lain.

Outsourcing seperti ini biasanya terjadi berlapis-lapis tanpa sepengetahuan buyer. Di dalam kontrak bisnis, ini umumnya ada klausul yang melarang. Jika sampai terjadi, ini membawa resiko melebihi dari buruknya kualitas keamanan, karena menyangkut nyawa pekerja selain reputasi yang menurunkan nilai pasar (market value).

Di Bangladesh pada tahun 2013, lebih dari 1.000 pekerja mati tertindih puing-puing bangunan Rana Plaza bertingkat delapan yang runtuh akibat overcrowded dan buruknya keamanan kerja. Bangunan tersebut merupakan workshop bagi merek-merek fashion papan atas seperti Benetton dan Primark.

Di era pandemi ini, supply chain visibility semakin urgen mengingat kondisi kerja sangat menentukan positivity ratio Covid-19. Di Jerman, misalnya 180 pekerja di salah satu tempat pemotongan hewan tercatat positif Covid mengingat kondisi kerja yang buruk.

Menurut beberapa profesor Manajemen Teknologi di UCLA, UC Irvine dan IESE Business School, ada beberapa hal tentang subkontrak yang mestinya dapat dijadikan pelajaran agar para buyer semakin berhati-hati.

Satu, tidak semua pabrik manufaktur melakukan subkontrak berlapis-lapis. Menurut riset para pakar di atas, hanya 11 persen yang selalu melakukan pelanggaran dengan melakukan subkontrak kembali. Mayoritas tidak melakukan hal tersebut. Jadi, dengan “teliti sebelum melakukan subkontrak” banyak hal negatif dapat dihindari.

Dua, harga bukan satu-satunya pertimbangan para subkontrak melakukan subkontrak kembali. Yang lebih sering menyebabkan mereka melakukan subkontrak ulang adalah kapasitas produksi yang sedang penuh orderan, sehingga tidak tertangani. Ini bisa diatasi dengan, misalnya, buyer mencari tahu masa-masa orderan tidak begitu penuh.

Tiga, buyer dapat bekerja sama dengan para aktivis konsumen. Karena, setiap produk bermuara di tangan konsumen. Jadi, bagaimana setiap unit yang diproduksi pasti mempunyai dampak bagi pengguna akhir.

Empat, buyer dapat bekerja sama dengan LSM-LSM seperti Sustainable Apparel Coalition untuk melakukan pressure. Mereka dapat memberikan standar yang dapat dijadikan titik referensi ketika melakukan survei ke pabrik produksi outsourcing.

Lima, buyer dapat melakukan training kepada tim subkontraktor sesuai dengan standar LSM dan industri yang beretika. Jadi, due diligence ini perlu dilakukan secara proaktif oleh tim buyer yang mewakili pihak merek pembeli. Dengan mengangkat isu tersebut, mestinya subkontraktor menjadi semakin aware akan pentingnya keterbukaan akan kondisi kerja mereka dan sukontraktor lanjutan.

Akhir kata, pandemi Covid-19 yang masih belum tuntas selesai ini membuat banyak pihak semakin paham akan pentingnya keterbukaan akan kondisi kerja dan mengutamakan keselamatan para pekerja. At the end of the day, we’re all humans, not merely consumers