Teknologi Bisnis Aviasi Pasca Pandemi

Pandemi Covid-19 telah mematisurikan industri penerbangan. Dengan kapasitas pesawat hanya 50 persen dari kapasitas tahun 2019, lebih dari 1400 unit pesawat telah dipensiunkan dini selama tahun 2020. Jadi, ketika kebutuhan akan aviasi meningkat kembali, bisa dipastikan pesawat-pesawat yang digunakan adalah yang model terbaru dan termodern.

Seperti apa teknologi aviasi yang akan mempengaruhi bisnis penerbangan pasca pandemi? Seperti apa masa depan dunia aviasi?

Satu, teknologi penghematan bahan bakar dan emisi bersih.

Boeing 787, Bombardier CSeries, dan Airbus A350 terbaru menghemat 20 hingga 25 persen bahan bakar dibandingkan tipe terdahulu. Penghematan dimungkinkan dengan sayap pesawat yang didesain khusus untuk ini.

Selain itu, dengan menggunakan sistem elektrikal, maka sistem hidroliks dapat ditekan penggunaannya sehingga berat badan pesawat juga lebih ringan. Dan ini berarti efisiensi bahan bakar signifikan.

Dua, teknologi perekaman data semakin mendetil.

Selain itu, dua tipe terbaru ini merekam 800 MB data dalam setiap perjalanan. Bandingkan dengan Airbus A380 yang beroperasi mulai 2007, yang hanya mampu merekam separuh dari jumlah data sekarang.

Dengan jumlah data terbaru sedemikian besar yaitu 800MB, direkamlah informasi emisi karbon dan komponen yang perlu diganti ketika mendarat nanti. Broadcast tracking signal juga sangat membantu dalam menyampaikan informasi navigasi udara dan perencanaan kedatangan (arrival) agar traffic flow di udara dapat dikelola dengan lebih baik dan keamanan lebih terjamin.

Sebagai contoh, Boeing 737 Max pernah di-grounded selama dua tahun setelah kecelakaan pesawat Ethiopia yang disebabkan anomali digital tracker. FAA memastikan bahwa di masa depan ini tidak terjadi lagi.

Tiga, teknologi radar cuaca semakin mendetil sehingga keamanan semakin baik.

Turbulensi kini dapat diprediksi dengan jauh lebih tepat dengan Flight Weather Viewer, sehingga kenyamanan dan keamanan penumpang dapat semakin ditingkatkan. Jika di tempo doeloe suatu ancaman badai saja telah mampu membatalkan penerbangan, kini aplikasi tersebut mampu memberikan ketepatan real-time.

Aplikasi Flight Weather Viewer telah digunakan Delta Airlines dengan komputer tablet sejak 2016. Beberapa versi terbaru telah menghiasi aplikasi tersebut sehingga mampu memberikan akurasi dan efisiensi lebih presisi.

Empat, teknologi komunikasi antar awak kapal sebagai sumber data.

Dengan Aplikasi Flight Family Communication yang mulai populer pada tahun 2018, para kru pesawat ground dan flight dapat berkomunikasi dengan sesama secara efisien dan prediktif. Bahkan data yang direkam dapat memprediksi kebutuhan perbaikan dan maintenance.

Deteksi dini ini sangat membantu penghematan biaya operasi jangka panjang. Dan perbaikan-perbaikan yang dibutuhkan sering kali tidak dapat diprediksi terdahulu, namun aplikasi ini memberi kemudahan dan informasi lebih awal.

Lima, implementasi AI (artificial intelligence) pada data yang telah direkam.

Teknologi ini crusial untuk merekam data akurat akan penghematan bahan bakar dan gaji para pegawai. Dari sedikit penghematan setiap kali penerbangan, maka pada akhir tahun, jumlahnya dapat mencapai jutaan dollar. Demikian menurut COO AirAsia Javed Malik.

Beberapa maskapai penerbangan lainnya, anehnya merasa berat mengolah dan menganalisa jumlah informasi yang masif tersebut. Data yang ada hanya dapat berguna apabila ada sumber daya manusia dan teknologi dalam jumlah dan versi yang memadai melalui proses pembersihan data.

Enam, implementasi teknologi berbasis cloud sebagai pengganti sistem reservasi komputer zaman 1960an.

Hingga kini, sistem ini masih digunakan oleh para travel biro dan administrator maskapai penerbangan. Padahal, setelah enam dekade berukitnya, maskapai-maskapai penerbangan telah banyak mengandalkan online selling via situs ecommerce mereka.

Tidak kompatibelnya sistem reservasi komputer tempo doeloe dengan sistem operating system dan software/aplikasi terbaru, menyebabkan “terkunci”-nya penggunaan dengan sistem lama. Head of data sharing platform bernama Skywise yang ditawarkan oleh Airbus menyebutkan kesulitan operasi lintas sistem sehingga data yang direkam oleh dua sistem tersebut tidak mampu untuk saling berkomunikasi.

Tujuh, penggunaan data sharing melalui cloud menjadi arus tengah.

Teknologi berbasis cloud menjadi arus tengah operasi maskapai penerbangan dengan dipelopori oleh Google dan AirAsia pada tahun 2018. Ini memungkinkan big data untuk berperan dalam industri ini secara komprehensif, tidak hanya dalam soal traffic flow, namun informasi yang berhubungan berbagai ekosistem yang terkoneksi.

Konklusinya, masa pandemi yang menghancurkan omzet industri penerbangan ini merupakan masa inkubasi perbaikan teknologi. Bisa dipastikan masa depan dunia maskapai penerbangan semakin kompatibel dengan teknologi terkini. Para penumpang pun semakin merasa aman. Semoga pandemi lekas selesai, sehingga perjalanan-perjalanan dapat segera dilakukan.