Yang Bertahan Super Lama

Dunia semakin tidak stabil, baik secara lahiriah maupun finansial. Ancaman resesi selalu ada, baik karena masalah moneter maupun bencana, yang dari alam maupun buatan manusia.

Mereka yang bekerja di kantor, ancaman PHK selalu mengintai. Sedangkan para pemilik bisnis juga terkadang tidak merasa aman karena kondisi ekonomi yang naik turun sangat mempengaruhi transaksi.

Dengan kata lain, kita hidup di era yang semakin tidak menentu. Era “gonjang ganjing.” Untuk itu, kita sangat membutuhkan informasi mengenai “kelanggengan” sehingga ada sedikit pegangan untuk men-hedge masa depan.

Sebenarnya, ada tidak sih perusahaan yang bertahan super lama sehingga dapat memberi rasa aman bagi pekerja, pemilik bisnis, dan para stakeholder?

Jawabannya tentu saja ada. Namun semua itu relatif. Ada beberapa perusahaan yang bertahan sangat lama sehingga bisa disebut sebagai “bisnis super,” seperti GE, Disney, Boeing, Johnson & Johnson, dan sebagainya.

Dalam buku berjudul Made to Last, para penulis Jim Collins dan Jerry Porras mengungkapkan bahawa bisnis-bisnis yang bisa bertahan super lama ternyata mampu mematahkan mitos-mitos berikut.

Satu, mitos membutuhkan ide jenius untuk membangun perusahaan raksasa.
Tidak selalu ide jenius menghasilkan omzet luar biasa. Sering kali, ide-ide biasa saja yang memberi solusi akan suatu kebutuhanlah yang mantap dijalankan.

Bahkan ada juga produk-produk gagal seperti Post-It-nya 3M merupakan suatu contoh menarik. “Kegagalan” yang fungsional ini ternyata mempunyai pasar tersendiri. Ciamik bukan?

Dua, mitos membutuhkan seorang pemimpin karismatik.
Pemimpin karismatik memberi peluang untuk pengkultusan individu. Padahal ini bisa jadi berbahaya untuk kelangsungan bisnis secara jangka panjang.

Jadi, seorang CEO mestinya memiliki nilai-nilai kerja yang positif dan mempunyai kemampuan yang adaptif. Ini jauh lebih penting daripada kemampuan mengkaptivasi perhatian secara karismatik.

Tiga, mitos memaksimalkan profit.
Keuntungan akan mengikuti nilai-nilai yang dianut oleh perusahaan. Jadi, setiap keputusan yang diambil perlu didasari oleh nilai yang dijunjung tinggi.

Misalnya, mengutamakan keamanan dan keselamatan konsumen. Bukan segala hal dihantam kromo asalkan dapat untung.

Empat, mitos membunuh kompetitor.
Kompetitor akan selalu ada. Jadi, tidak perlu tujuan utama suatu bisnis adalah “membunuh” kompetitor.

Yang penting adalah continuous improvements dengan diri sendiri. Tahun lalu pada hari ini, berapa target yang tercapai. Hari ini perlu lebih baik dari kemarin, seminggu lalu, sebulan lalu, setahun lalu. Dan ini tidak hanya dalam bentuk angka kuantitatif, namun juga perlu kualitas yang membaik.

Lima, mitos membajak CEO dari perusahaan lain untuk membantu proses evolusi.
CEO yang dibajak dari perusahaan lain bisa jadi membawa kultur organisasi dan arah yang sangat berbeda.

Walaupun sesekali angin segar dari kultur kompetitor bisa membawa efek positif, namun belum tentu ini merupakan sesuatu yang dibutuhkan. Jadi, tidak ada yang pasti di sini karena manajemen adalah suatu seni to get things done.

Idealnya, CEO suatu perusahaan adalah seseorang yang mempunyai perspektif komprehensif dari berbagai segi. Ini hanya dapat diperoleh dengan masa kerja yang panjang dan kemampuan mensintesa informasi dari berbagai sumber.

Enam, mitos satu-satunya yang tetap adalah perubahan.
Change is the only constant memang benar.

Namun yang konstan tidak hanya perubahan. Nilai-nilai dasar suatu bisnis harus konstan, misalnya Google adalah “don’t be evil” dan Wal-mart adalah “exceeding customer expectation.” Minimal, yang konstan adalah nilai-nilai fundamentalnya. Blue Bird taksi adalah pelayanan konsumen yang baik dan kejujuran.

Kita bergerak terus dan berinovasi namun sambil tetap mempertahankan nilai-nilai utama. In the end, kepercayaan konsumen tergantung dari nilai-nilai yang dipegangnya.

Memang dunia semakin tidak menentu sejak The Great Recession 2008. Banyak hal telah berubah sejak itu. Banyak industri berubah total sejak fase itu, termasuk sharing economy yang sangat menjamur saat ini.

Setelah pandemi Corona selesai, bisa jadi ada paradigm shift yang besar di dalam psikis umat manusia, sehingga bisnis-bisnis menjadi lebih peka akan kemanusiaan dan kebaikan. Ini harapan kita semua. Ayo saling bertahan dalam hidup dan bisnis.