YouTube mengalahkan TV

YouTube, yang merupakan bagian dari Alphabet, adalah platform video sharing yang telah merambah menjadi salah satu penjual iklan digital terbesar di dunia. Bahkan siap melebihi pasar iklan televisi.

Seandainya YouTube (YT) adalah entitas mandiri, maka ia adalah penjual iklan terbesar keempat di dunia, setelah Alphabet (yang membawahi Google), Facebook, dan Amazon. Revenue tahun 2020 tercatat USD 182,5 miliar dengan jumlah pegawai 135.301 orang dan keuntungan mencapai USD 40,3 miliar.

Bagi dunia televisi, Super Bowl adalah acara tahunan paling elit tempat memasang iklan termahal. Berdekade-dekade, ajang ini adalah panggung terbesar bagi merek-merek paling ternama dengan jumlah pemirsa terbanyak di dunia. Setiap Februari, sekitar 96,4 juta pemirsa menonton di depan televisi tanpa kedip.

Nah, ajang Super Bowl yang merupakan acara langsung pertandingan football teratas di Amerika Serikat ini ternyata sangat mudah dikalahkan oleh video YT keluarga Vashketov yang terdiri dari anak-anak berusia 8 tahun yaitu Vlad dan Niki yang berusia 5 tahun, sebagai perbandingan. Video ekspresif mereka telah ditonton 170 juta kali dengan pelanggan 68 juta orang (https://www.youtube.com/c/VladandNiki/videos). Pada saat yang kurang lebih bersamaan dengan acara Super Bowl.

Bisa dibayangkan betapa besar bayaran iklan Google Adsense (sekarang disebut sebagai Google Ads) per bulan dan bayaran endorsemen serta sponsorship per produk yang mereka terima. Kanal-kanal top di YT sendiri sangat besar penghasilannya, bahkan mencapai USD 50 juta per tahun. Tentu angka masif ini tidak mudah dicapai mengingat kompetisi kreator konten mencapai 2 juta orang di YT.

Revenue yang dinikmati YT sendiri pada tahun 2020 mencapai USD 20 miliar. Revenue YT pada tahun tersebut meningkat 31 persen dari tahun 2019.

Bandingkan dengan biaya akuisisi YT oleh Google pada tahun 2005 yang hanya seharga USD 1,65 miliar. Tampak betapa angka ini hanya secuil dari besarnya profit berkesinambungan tanpa akhir yang bakal YT dan Alphabet nikmati selama berdekade-dekade ke depan.

Dunia pertelevisian sendiri sangat terpukul dengan menurunnya pelanggan TV kabel dari 101 juta pada tahun 2012 ke 76 juta pada tahun 2020. Diprediksikan oleh Convergence Research bahwa akan terus menurun hingga kurang dari separuhnya pada tahun 2025.

Iklan di TV sendiri menurun 12,5 persen. Sedangkan iklan video di YT meningkat lebih dari 30 persen. Pada tahun 2023, dipredikisikan iklan video akan jauh melampaui iklan-iklan di TV.

Mudahnya mencerna video-video YT selain menghibur dan menginformasi, bisa dipahami mengapa netizen lebih memilih YT dibandingkan dengan Facebook. Menurut Pew Research, 81 persen warga AS adalah pengguna YT dan hanya 69 persen yang menggunakan Facebook (FB). Generasi Milenial dan Generasi Z merajai YT, tidak ketinggalan pula Generasi X dan Baby Boomer, mengingat platform ini sangat mudah diakses dan dinikmati tanpa perlu banyak ketak ketik.

YouTube sendiri sangat mudah bermetamorfosis menjadi “acara televisi” dengan koneksi ke smart TV. Di AS sendiri, 120 juta orang menonton video-video YT melalui televisi hanya dalam bulan Desember 2020. Belum lagi yang menontonnya via berbagai gadget, seperti tablet dan smartphone.

Jadi, batas antara televisi konvensional dengan platform YT telah semakin kabur. Dan hanya YouTube dan Hulu yang menjual iklan, dibandingkan dengan Netflix, Amazon Prime, dan Disney+. Pilihan para pemasang iklan jelas terpaku pada dua platform ini, minimal pada saat ini.

Dengan semakin hebatnya pengaruh YouTube di dunia nyata, termasuk dalam bidang sosial, politik dan ekonomi, the Anti-Defamation League AS dan berbagai LSM dan think tank lainnya bertindak sebagai watchdog untuk memastikan konten-konten YT tidak menimbulkan masalah masif di masyarakat. Sebagai contoh, misinformasi tentang Covid-19, kebohongan politik dan voting politik berbagai level, dan ekstremisme dan radikalisme.

Satu kasus di mana gerakan sosial seperti BLM (Black Lives Matter) ternyata menggunakan platform YT untuk mencari dana, yaitu dengan mengajak pendukung untuk klik iklan-iklan Adsense di kanal-kanal tertentu milik pendukung kausa ini. Jadilah para pemasang iklan marah dan melakukan komplain.

Akhirnya, YT sebagai platform berdaya luar biasa ini mempunyai tanggung jawab moral dan sosial yang tidak lagi dapat dipungkiri dan diabaikan. Aturan main pun sudah semakin ketat, dari copyrights issues hingga konten toxic yang membutuhkan pencermatan manusia.

Era televisi memang sudah semakin memudar dan kadaluwarsa. Platform-platform video seperti Youtube, Vimeo, dan live streaming sudah memasuki arus tengah. Sebentar lagi, televisi akan mati total.

Sebagai pemasang iklan di YT, Anda punya kesempatan sama besar dengan mereka yang berasal dari perusahaan-perusahaan raksasa. Sepanjang Anda memiliki budget. Luar biasa, bukan?